Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Puas


Kartel tampak puas hari ini, bagaimana tidak Theron berhasil kecolongan. Awalnya pengintai milik Kartel hendak menganggu dua sniper milik Theron namun dua sniper itu tak berada di tempatnya. Benar-benar keberuntungan telak bagi Kartel, Yeah Kartel datang hanya untuk menghancurkan lukisan Maria Sandra yang selalu membuatnya tak tenang.


Kartel Yadies dan Maria Sandra kisah cinta yang bisa di katakan tragis. Mereka berdua menikah tak lain karena kecelakaan yang tak jauh berbeda dengan Theron, bedanya di sini Maria adalah pelakunya yang membuat Kartel dendam padanya. Bahkan kematian Maria tak membuat dia tenang kebencian itu di turunkan pada Putranya sendiri, Theron yang dianggap kemalangan hidupnya, melihat Theron membuatnya terus mengingat Maria wanita iblis.


“Tuanku, kenapa anda tak membawa menantu anda bersama bukankah itu kesempatan yang tak akan datang dua kali?!” Tanya pengintai yang bersama Kartel, Reza namanya dia sibuk mengemudikan kendaraannya.


Lamunan Kartel buyar, dia menatap lurus ke depan kaca mobil “Aku lebih senang seperti ini, melihat perlahan kehancurannya. Perlahan menunjukan kesombongan Maria dulu, di neraka dia pasti menangis melihat putranya hidup seperti ini dan aku sangat puas” Kartel terkekeh kebahagiaannya tak terbendung.


“Tuanku memang hebat..” timpal Reza ikut terkekeh.


‘’’


Rhea jauh lebih tenang dari sebelumnya, dia menatap Theron yang terdapat luka lebam di sekujur wajahnya “Apa dia memukul dirimu?” tanyanya khawatir.


“Ah, bukan hal penting” Jawab Theron cepat.


“Bagaimana bisa kau menganggap ini hal biasa?”   


“Wajah penuh lebam, siapa yang memukulmu?”


“Apa itu orang suruhan Ayahmu?”


“Kenapa dia tampak memiliki dendam padamu, kesalahan apa yang kau buat padanya?”


“Ayahmu tampak begitu membencimu dia bahkan dengan jujur tak mengakui kau anaknya. Tapi seakan kau harus berbakti padanya, dia Ayah yang tak jelas dan apa hubungannya begitu buruk dengan mendiang Ibumu?”


“dia sangat jahat!!!” Rhea tak hentinya mengomel panjang, dia kesal dan juga tak menyukai Ayah mertuanya yang bersikap seperti itu.


“dia mengatakan semua itu padamu?, hal apa lagi yang dia katakan?” Theron mencengkeram pundak Rhea kuat.


“hanya itu kurasa-“ jawabnya ragu, Rhea agak takut suaminya tampak gusar. Rhea memilih tak mengatakan ajakan Ayah mertuanya untuk ikut bersamanya, takut mendengar itu Theron semakin tersulut emosi.


Theron tampak lebih lega mendengarnya. Namun hal yang disesalinya, Kartel lebih dulu meninggalkan kediamannya. Harusnya dia bergerak lebih cepat dan menyelesaikan segala urusannya dengan Kartel. Maka Kartel seterusnya tak akan menganggu Rhea. Keberadaan Kartel yang sulit di lacak menyulitkan Theron selama ini, siapa sangka akhirnya dia muncul. Theron mengeratkan giginya kuat “Kemunculan awalnya membuat naik pitam!!” benaknya, Theron menahan diri tak memukul tembok di depannya. 


“Apa yang kau pikirkan?”


Rhea menyentuh pelan pipi Theron membuat buyar lamunannya.


“Hey, aku serius” Tegas Rhea, dia tertunduk mengepal kuat jemarinya “Apa kau baik-baik saja?” lirihnya menatap Theron sendu.


Seketika Theron terdiam, bola matanya membesar menatap Rhea lekat. Pertanyaan itu tak pernah sekalipun di lontarkan seseorang padanya. Jadi dia bingung harus merespon pertanyaan itu seperti apa. Entahlah, baginya ketidak hadiran Ayahnya dalam hidup hal yang biasa.


“Tentu, kau lihat aku baik-baik saja” jawabnya sembari tersenyum kecut.


Tatapan mata yang tak bisa di sembunyikan, perasaan yang tertuang jelas di ekspresi wajahnya, berusaha keras di tutupi “Bohong!!” pekik Rhea “Kau berbohong!!”


“Bagi anak orang tua yang tak harmonis itu sangat menyakitkan” Mata Rhea berkaca-kaca menahan tangis “Kau tak perlu menyembunyikannya, kau tak harus berpura-pura tuk tampak baik-baik saja” Rhea tersenyum kecil.


Theron membuang muka “Yeah, tapi sungguh aku baik-baik saja” Theron mengigit kuat bibirnya, baginya masalahnya tak harus Rhea ikut merasakan sakitnya.


“lagi, lagi-lagi dia tak berniat menceritakannya” Rhea berbalik kesal.


“Kau mau kemana?” buru-buru Theron menarik lengan Rhea.


“Ke kamarku” Ketusnya menarik kuat lengannya.


“Sudah ku katakan hari ini dan seterusnya kita berbagi kamar yang sama” Jelas Theron.


“Tak mau!!” Rhea semakin kesal.


“Kau tak pernah menceritakan masalahmu padaku!! Kau selalu membuat diriku berpikir bahwa aku tak penting. Sudahlah!!” Rhea lelah, percuma mengkhawatirkannya.


“Aku tak pernah berkata kau tak penting, kau sendiri yang berpikir macam-macam” tekan Theron.


Rhea menoleh, dia benar-benar tak tahan lagi “TINDAKANMU ITU MEMBUATKU YAKIN!!” gerutu Rhea.


Theron menghela napas menuntun Rhea ke kasur “duduk!!” tegasnya.


Rhea melipat kedua tangannya, tak tahu kenapa dia tak bisa menolak Theron. Dia duduk dengan tenang sembari menunggu kata yang akan Theron lontarkan.


Theron terdiam sejenak rasanya tengah  mengumpulkan keberanian tuk menceritakan kisahnya, bibirnya terasa kalut tak mudah menceritakan kenangan yang ingin dilupakan. Theron mendekap Rhea erat dalam pelukannya, seraya merebahkan tubuhnya ke kasur. Rasanya untuk saat ini Rhea tak perlu tahu ceritanya. Menceritakan masalah beratnya hanya akan membuat Rhea kepikiran bukankah dokter berkata tak baik membuat wanita hamil lelah. Masalahnya yang tak mudah berhubungan dengan dunia gelap, senjata mematikan, dan pembunuh yang mengintainya dan juga Rhea hal itu  akan membuat Rhea semakin ketakutan nantinya.


“Eh..?” Rhea bertanya-tanya dalam benak, harusnya tak seperti ini harusnya Theron berucap sesuatu.


“nanti kan ku ceritakan!!” bisik Theron.


Rhea terdiam tak menjawab, dia murung.


“Kau tak percaya? Sekarang sudah pukul tiga” ucap Theron sembari melirik jam dinding “kau harus istirahat”


Lagi-lagi Rhea tak bergeming.


Rupanya Rhea sudah tertidur pulas, pantas saja tak terdengar celotehnya. Hal ini jauh lebih baik dari pada harus menjawab pertanyaan Rhea, jika Rhea sudah berucap dia tak mau kalah. Dia sangat keras kepala, menghadapi Rhea membutuhkan kesabaran yang sangat ekstra.


Theron mengecup pipi Rhea lembut sembari mendekapnya “kenapa kau tampak tenang padahal Kondisimu yang berhadapan dengan Kartel menghawatirkan, nyawamu kapan saja bisa melayang. Apa kau belum menyadarinya? Aku semakin merasa bersalah menyeret dirimu dalam hidupku. Maafkan aku..”


Theron tak bisa membayangkan jika Kartel melakukan tindakan tak manusia pada Rhea, maka dia tak akan memaafkan dirinya. Kesalahan hari ini akan menjadi pelajaran baginya memperketat penjagaan demi keselamatan Rhea sampai dia berhasil menggulingkan Kartel.


Saat ini dia harus berjumpa dengan dua sniper miliknya yang meninggalkan tugasnya begitu saja. Membuat celah bagi musuh dan hampir membahayakan Rhea.


“Awas saja kalian” benak Theron, dia perlahan melepas dekapannya pada Rhea. Dia harus mengurus pintu yang terbobol tak ada lagi penundaan.


‘’’


“Banyak mayat yang tergeletak disini!!” Ivan menelan ludahnya, dia bergidik.


Chris menelaah keadaan “rupanya kita kecolongan” tukasnya. Dia duduk jongkok menyentuh darah yang mulai mengering yang bercecer di tanah dekat mayat beberapa pria.


“Hey, lepaskan aku..” tukas seseorang pria yang terikat kuat dengan tali digeletakkan begitu saja di tanah.


Dua sniper kembar tak berada di tempatnya karena sibuk menangkap anak tikus yang bermain-main dengannya tadi. Tapi hal buruk malah terjadi, benar-benar sial.