
Rhea membelalak tak percaya, Theron berada di belakang nya. Dia tak menyadari kedatangan Theron.
"Bukankah kau berada di luar kota?" ucap Rhea memecah keheningan.
Pandangan Theron lurus mengarah pada Rhea, sesekali dia melirik Eza "Jadi, karena Aku di luar kota kau bermain melarikan diri?" tekan Theron.
Rhea memalingkan muka, dia tak bisa menjawabnya.
Theron mengernyit kesal, dia mengeratkan giginya. Dia berjalan pelan, melewati Eza yang tampak bingung, dia menghampiri Rhea. Sekarang Theron berada tepat di depan Rhea. Rhea menutup mata, takut Theron akan memukul nya.
Theron jongkok dengan pelan menyentuh kaki Rhea "bagaimana bisa kau berlarian tanpa menggenakan alas kaki? ini melukai kaki mu!" Theron mendongak meminta penjelasan Rhea.
Rhea menunduk menatap Theron yang tak segan menyentuh kaki nya yang kotor.
Eza mengamati kondisi saat ini, di benaknya terbesit beribu pertanyaan mengenai pria yang seenaknya menyentuh dan berbicara dengan kasar pada Rhea.
"kau bahkan tak membawa apapun, sungguh pelarian yang buruk" tekan Theron.
"kau siapa? bicaramu begitu kasar pada Rhea! " ucap Eza yang tak tahan dengan sikap Theron.
"Jadi katakan padaku Rhea alasan kau melarikan diri?" Lantas Theron berdiri menatap Rhea dengan tajam, dia mengabaikan ucapan Eza yang tak penting baginya.
"Aku-" Rhea tertunduk.
Eza mencengkeram erat pundak Theron, dia benar-benar tak tahan melihat Rhea yang terus di sudutkan Theron.
Theron melirik tangan Eza yang mencengkeram pundaknya "kau jangan ikut campur" tukas Theron rasanya dia sudah tak tahan menahan emosinya.
Eza semakin mencengkeram kuat "kenapa kau terus menganggu Rhea?"
Lengang!! angin bertiup di sela-sela kesunyian menambah kesan serius.
"Kau teman Rhea yang datang ingin menyampaikan cinta pada seorang wanita? jadi jangan menganggu Aku dan istri ku. Pergilah temui wanita yang menjadi tujuanmu" Theron menepis kasar tangan Eza. Theron mendengar semua percakapan Eza dan Rhea saat Eza mengatakan bahwa dia teman lama Rhea, saat itu Theron sudah berada tepat di belakang mereka. Mereka yang serius begitu tak menyadari kedatangan Theron.
Eza mematung "ku pikir Aku salah dengar?!" ucap pelan Eza memastikan, dia melirik Rhea.
Mata Rhea dan Eza bertemu.
Rhea tersentak dia tertunduk dengan menyentuh lengannya "apa yang akan Eza pikirkan jika tahu alasan aku menikah?" Rhea tampak gusar.
Theron berbalik, dia tersenyum menatap Eza yang bingung "Yang kau dengar itu benar" Theron menyeringai "Jadi jangan menganggu ku!!" tegas Theron dengan lantang.
Eza terdiam, rasanya petir menyambarnya. Dia benar-benar tak percaya, dia melewati Theron mendekati Rhea "apa itu benar?" tanyanya memastikan.
Rhea terdiam, tak menjawab.
"Rhea tolong katakan iya atau tidak!!" Eza menatap Rhea lekat, dia menyentuh pelan wajah Rhea, jelas sekali Eza tampak pilu.
"jangan sentuh Aku Eza" Rhea bergidik takut, ketakutannya akan seorang lelaki masih menyelimutinya.
Eza tak mendengarkannya.
"Sungguh kau tak sopan. Tangan ini menyentuh wajah istriku!!" Theron menarik lengan Eza kasar.
Eza tertunduk, dia menggeleng tak percaya "kau tak mengabari ku?" ucapnya lirih "bukankah kau tengah menempuh Pendidikan di kota ini Rhea?" Eza mendongak menatap Rhea sungguh Eza tampak kacau "bukankah kau bilang kau ingin menjadi orang hebat usai menyelesaikan semua Pendidikan mu? aku ke sini khusus menjumpai mu!!" lirih nya.
"Lalu apa?" Eza tak bisa berkata-kata, dia mengusap kasar wajahnya. Dia marah tapi dia tak berhak marah, dia kesal tapi dia siapa Rhea sekarang.
Theron mengamati Eza yang berkata dia teman lama Rhea, jelas Theron merasa Eza memiliki niat lain terhadap Rhea.
"Mari pulang Rhea" ajak Theron dia mengulurkan tangannya.
Rhea mengepal kuat jemarinya, dia sudah sejauh ini melarikan diri dari rumah itu. Dia tak ingin kembali ke tempat itu, bersama dengan orang-orang aneh misterius. Rhea menggeleng pelan "aku menolak" ucapnya.
Theron mengernyit, dia mengepal kan uluran tangannya "kau ingin aku memaksa agar kau ikut?" Theron mengendong Rhea paksa.
Rhea memberontak "aku tak ingin ikut dengan mu!!"
Eza menghadang Theron "jelas kau pria kasar sampai-sampai istri mu melarikan diri!!" Eza menatap Theron lekat.
"Kau benar" Theron melewati Eza begitu saja, dia bahkan tak mengelak ucapan Eza.
Eza lagi-lagi mencengkeram pundak Theron "lepaskan dia, kau sangat kasar apa kau terus melakukan hal itu pada Rhea? . Pantas dia melarikan diri karena tak sanggup seatap dengan mu!!"
Theron menatap Rhea yang semakin berontak dalam pelukannya dengan air mata yang mulai menetes "apa kau benar tak ingin pulang?" ucapnya pelan.
"Sejak awal aku merasa tempat itu bukan rumah ku" Jawab Rhea.
Theron menurunkan Rhea dari gendongannya "Jadi kau ingin pergi?" Theron mengepal kuat tangannya, uratnya tampak dengan jelas.
Rhea mengangguk "ku mohon jangan paksa aku" ucapnya memohon.
Theron tersenyum kecut "kemana kau akan pergi. Katakan dengan jelas!!" tekan Theron dengan mengusap wajah Rhea lembut, bagian wajah yang di sentuh Eza.
Rhea terdiam, dia tak tahu kemana tujuan nya.
"kau bisa pergi dengan ku" timpal Eza "kau akan aman" tukasnya.
Theron terkekeh "kau lucu menawarkannya tepat di depan suaminya" Theron melirik Eza kesal, sorot mata Theron begitu tajam.
Rhea bingung, sekarang ini dia berstatus sebagai istri Theron. namun di lain Sisi dia ingin melarikan diri dari Sisi Theron.
Rhea dengan pelan menjauh dari Theron dia berjalan mendekati Eza "bantu aku kali ini" bisiknya pada Eza.
Theron terdiam sejenak, dia memukul jidatnya dia tertawa cukup kencang "apa yang aku harapkan" Theron tertawa semakin keras. Dia berbalik menatap Rhea "aku sudah mengatakan padamu sejak awal aku pemaksa dan tak akan segan "Aku berikan kau waktu tiga hari untuk memikirkannya, jika kau tak kembali lihat lah orang yang kau sayangi tak akan hidup tenang. Aku tak pernah bercanda dengan ucapan ku!!" Theron berbalik, sungguh dia kecewa "jika kau tak datang saat itu juga Aku akan memaksa, bagaimanapun anak di perutmu milikku" tekan Theron.
"anak?" Eza tersentak.
"kenapa kau selalu mengancam ku dengan kalimat itu?!" lirih Rhea, dia kesal Theron terus mengancamnya.
"kau keras kepala!! sudah cukup Aku berbaik hati padamu!!" Theron menghela napas dia berusaha bersabar.
"Hubungan kalian tampak tak sehat. Cerai, lebih baik cerai!!" Eza memberikan masukan.
Theron menatap Eza begitu lekat, dia mendekati nya sorot mata Theron begitu tajam "mulut mu itu melebihi wanita, jangan menganggu jika kau sayang dengan nyawamu. Ku beritahu Aku mudah dalam melenyapkan nyawa" Bisik Theron, dia menunjuk ke arah Dua sniper milik nya "peluru dengan mudah menancap di jantung ini!!" Theron menunjuk bagian dada Eza.
"Rupanya sniper itu milik nya" gumam Eza dengan keringat dingin.