Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Gusar


Terdengar suara gemuruh dengan kilatan-kilatan yang membuat bergidik, langit tampak gelap namun hujan tak kunjung turun.


Cuaca yang buruk membuat bibi Sati pulang lebih awal dari biasanya. Menambah kesan rumah yang sepi dan mencengkam. Rhea juga tak tahu dimana Theron sekarang.


Hawa dingin dan suasana gelap mengingat kan nya dengan kondisinya dulu. Rhea mendekap tubuhnya, mengusap pelan lengannya yang mulai bergidik "ini bukan hari itu" Rhea menguatkan diri.


Rhea menatap dari jendela kamarnya. Kamar Rhea menghadap taman belakang rumah. Taman luas yang tampak cantik. Rhea sendiri belum pernah menginjakan kakinya di taman selama tinggal di sini. Rhea tak pernah di beri izin berkeliling bahkan sebentar saja tak boleh, lalu Rhea sendiri engan bertemu banyak orang sekarang ini. Pengurus taman belakang, Rhea bahkan tak tahu namanya, dia tak tahu wajah pengurus taman dengan jelas, sekalipun tak pernah bercakap. Rhea hanya mengamati pengurus dari jendela kamarnya. Pengurus yang tampak tak jauh beda usianya dengan Bibi sati. Sesekali mata Rhea bertemu dengan pengurus taman dari jendela kamarnya. Pengurus taman selalu tersenyum lembut ke arah nya, walau Rhea tak pernah membalas senyum dari pengurus taman, tak hentinya pengurus taman memberi senyuman terbaiknya ketika tak sengaja bertatapan dengan Rhea.


Jeger!!!


Dentuman keras dengan kilatan menyambar tepat di depan matanya, Rhea membelalak terkejut. Dia dengan pelan melangkah mundur sedikit menjauh dari jendela. Tangannya bergetar hebat meraih gorden, dia hendak menutup jendela meminimalisir kemungkinan kilatan cahaya kembali tampak dari kamarnya.


Rhea menghentikan niat nya menutup jendela dengan gorden penuh, dia sedikit mengintip dari balik gorden. Rhea mengernyit, menatap serius ke luar jendela. Rhea sampai mendekat kan diri dekat jendela "Theron?" benak Rhea penasaran. Pasalnya di cuaca buruk Theron di luar dengan santainya. Dengan gelagar dentuman keras bahkan tak membuat Theron tergerak masuk ke dalam rumah "kenapa dia di luar?" gumam Rhea.


Theron tampak berbincang serius di luar.Tampak berbincang dengan seseorang berjubah hitam dengan wajah yang tak tampak dengan jelas, tertutup dengan tudung "pengurus taman?" pikir Rhea. Rhea menggeleng, tak pernah sekalipun dia melihat pengurus taman mengenakan jubah "jelas bukan pengurus taman" benaknya lagi.


Rhea memalingkan wajah, dia pikir untuk apa dia mengurusi urusan Theron. Namun, seseorang yang tengah berbincang dengan Theron dengan pelan melepas tudungnya membuat Rhea penasaran. Rhea memiringkan wajahnya menatap penasaran, seorang wanita dewasa dengan rambut terikat, wajah cantik di balik tudung itu. Theron dan wanita itu tampak berbincang serius "Harus nya aku tak penasaran, hal yang harusnya tak pernah kulihat!! " Rhea mencerca dirinya sendiri.


Seorang pria dengan wanita di cuaca seperti ini, diam-diam bertemu di taman belakang tanpa sepengetahuan sang istri. Istri mana yang akan berpikir positif jika melihat nya langsung. Sekalipun tak ada rasa cinta, namun rasa kepemilikan itu pasti ada bagi pasangan yang telah menikah. Sudah pasti pikiran buruk akan memenuhi sang istri, menganggap suami bermain serong di belakang, diam-diam bermain cinta dengan wanita lain.


Rasa penasaran sering kali mengarah pada hasil yang tidak menyenangkan. Meski demikian, perasaan tergoda untuk mencari informasi, apa pun konsekuensinya. Rasa ingin tahu sering sangat kuat hingga terus berusaha mengikutinya meskipun sebenarnya tahu tak bisa menghindari hasil yang buruk "aku tak tahu kenapa hatiku terasa sesak?" benak Rhea.


Rhea tersenyum getir "Pria seperti Theron di kelilingi banyak wanita harus nya aku tak kaget, mudah baginya memikat banyak gadis. Bahkan dengan mudah menarik ku paksa, bukankah dia pria yang seenaknya!?" Rhea mengigit bibir kuat. Rhea semakin yakin akan hadirnya yang hanya dijadikan peralat "sekarang dia terang-terangan membawa wanita ke rumah, setidaknya jangan memunculkan nya di hadapanku. Sungguh dia tak peduli dengan perasaan ku, semua perlakuannya bohong belaka!!" Rhea memalingkan wajahnya "Jadi, kenapa aku yang berada di posisi ini? posisi yang menghancurkan ku " lirih Rhea pilu. Selingan malam itu kembali teringat "harus nya bukan aku!!" gumamnya kosong.


Rhea terduduk di kasurnya, wajahnya pucat pasi.Tangan menyeka wajahnya, Rhea tampak cemas perasaan takut kembali menyelimuti nya "aku akan pergi kemana? aku tak memiliki tempat tujuan" Rhea tertunduk dengan kedua tangan yang menyeka wajahnya.


Deg!!


Deg!!


Rhea tak tahu siapa suaminya, masa lalu, teman, maupun kehidupannya. Pernikahan terjadi karena kesalahan, mereka hanya mengisi kehidupan tanpa makna maupun cinta "jadi kenapa aku tak terima?" benak Rhea menatap Theron yang tampak asyik dengan wanita itu "jika aku perusak hubungan mereka bagaimana? jika wanita itu datang untuk mengambil tempat nya bagaimana. Anak ini tak akan aman" dia khawatir jika kelak dia berpisah dengan Theron. Anak nya jatuh di tangan Theron dengan wanita yang dia cintai, maka keberadaan anak ini tak akan dianggap. Rhea tak peduli dengan dirinya nanti, toh dia tak berharap lebih dari pernikahan ini. Pikiran Rhea kalut, rasanya kepalanya akan pecah. Rhea tak tahu kemana? siapa yang akan membantu nya pergi dari Sisi Theron jika asumsinya benar, kemana dia pergi? dia bahkan tak memiliki siapa pun.


Rhea menggenggam erat jemarinya "ah" rintih Rhea kesakitan. Jemari yang tergores kembali mengeluarkan darah membuat kain yang mengikat lukanya terkena noda darah nya "lagi-lagi seperti ini" tanpa sadar air mata Rhea menetes dari pelupuk mata sayupnya.


>>>


"saya mengerti tuan!!" ucap wanita itu tegas. Wanita itu menyadari Istri tuannya yang tengah mengamati mereka dari kamarnya.


"tuan, nyonya melihat kita" wanita itu kembali menutup wajahnya dengan tudung.


"aku tahu" jawab Theron.


"Tuan wanita itu pencemburu, bisa saja dia akan mengartikan ini berbeda" tukas wanita itu.


"Tak mungkin sampai seperti itu" ucap Theron.


Wanita itu sedikit mendongak "Wanita berbeda tuan. Wanita mudah over thinking berlebih dengan asumsinya sendiri. Mereka tak akan menanyakan nya, kepekaan pasangan itu yang mereka ingin kan" jelas wanita itu.


Theron tampak berpikir "mungkin itu benar" pikir Theron. Theron menatap langit yang semakin gelap, rintik hujan mulai turun "aku harap kau melakukan hal yang aku minta dengan baik, sekarang pergi lah" ucapnya.


Wanita itu terdiam, dia menunduk. Dia tak berhak ikut campur masalah internal tuannya "Baik!! saya akan melakukan hal yang ada minta" ucapnya sopan.


Theron mengangguk pelan "pergi lah"


Dengan cepat wanita itu menghilang dari pandangan, bergerak dengan cepat melakukan hal yang di minta tuannya.