
Rasanya hawa menjadi panas membuat Rhea terbangun, rupanya Theron mendekapnya dengan satu selimut. Rhea menatap suaminya lekat, dia dengan pelan menarik selimut nya dia hendak turun dari kasur.
Theron mendekap Rhea erat "mau kemana?!" terdengar suara berat Theron.
Rhea terdiam tak bisa bergerak "aku ingin ke kamar ku. Di sini terlalu panas!!" jawab Rhea.
Theron membuka matanya pelan, menatap mata Rhea lekat-lekat. Theron tak melepas dekapannya, dia melempar selimut jauh. Tangannya mencari remote AC dia menyalakannya "sudah diam disini!!" tegas Theron.
Rhea menatap langit-langit kamar, dia menjadi canggung. Kenapa kondisi akhir-akhir ini menjadi seperti ini "Theron lebih manis. Tapi Theron memang seperti ini, entah lah" Rhea sibuk berargumen dengan pikirannya "mungkin karena dulu aku begitu menutup diri dan amat sangat membenci Theron, namun sekarang aku mencoba membuka sedikit hati ku untuk nya aku bisa melihat kebaikan dan Sisi hangatnya"
"apa yang kau pikirkan?" lirih Theron, dia menarik Rhea ke dalam dekapannya semakin erat. Theron mengelus pelan rambut Rhea, dia mengecup rambut panjang Rhea sembari melirik Rhea.
Sentuhan lembut dan hangatnya membuat Rhea sedikit berdebar takut. Rhea mematung tak tahu melakukan apa, membiarkan Theron atau memilih menepisnya.
" Aku!!" pekik lantang Rhea mendorong Theron. Rhea berusaha melepas dekapan Theron "aku lapar" tukas nya spontan. Dia gelagapan tanpa sadar dia malah menepis Theron lagi, padahal kali ini Rhea tak ingin lagi melukai hati suaminya.
Bergegas Theron bangun dari posisi tidur nya "Kau ingin makan apa?" tanyanya.
"Bibi sudah masak, aku akan makan itu" jawab Rhea beranjak dari kasurnya.
Theron menarik lengan Rhea yang hendak meninggalkannya, dia ikut beranjak dari kasur "akan ku temani"
Rhea mengangguk pelan.
Theron dan Rhea menuruni anak tangga, entah kenapa Theron tak lekang menatap Rhea. Itu membuat Rhea merasa tak nyaman "apa ada yang salah?" tanya nya.
Theron menggeleng, dia menggenggam erat tangan Rhea dengan pelan mengecup nya "entah lah, aku hanya merasa ini tak nyata"
"kau selalu mengatakan itu" Rhea menopang punggung nya menatap Theron kesal.
Theron memiringkan wajahnya "lalu beritahu aku bahwa benar ini kau!!" pinta Theron.
Rhea menyentuh kuat lengan Theron yang tertusuk belati.
"aww!!" desis Theron kesakitan.
"nah, itu bukti nya" jawab Rhea terkekeh.
"kau kan bisa pakai cara lain misal mencium ku" gumam Theron pelan.
"huh!!" Rhea mengernyit pura-pura tak mendengar.
"bukan apa-apa lupa kan" dengus Theron kesal.
Rhea menuruni anak tangga lebih dulu, dia menjadi lebih girang dari dirinya pertama kali ke rumah ini.
Rhea melihat lauk pauk yang penuh di meja, dia memenuhi piringnya dengan berbagai makanan.
Theron duduk di kursi yang berada tepat di depan Rhea, dia memandangi Rhea yang memakan dengan lahap.
"kau mau?!" tawar Rhea.
"kau makan saja" jawab nya menolak.
Rhea memberikan Theron satu suapan, Theron tak membuka mulut nya. Rhea tersenyum kecil "wiwi.. pesawat datang buka mulut" tukasnya menahan tawa.
Theron menatap Rhea tak mengerti, namun wajah Rhea yang begitu gembira membuat Theron ikut senang "aaa!!" Theron membuka mulutnya lebar, membuat Rhea menyuapinya.
Wajah Theron merah padam, demi sang istri dia akan melakukan apapun walaupun dia harus menahan sedikit malu.
Sepanjang Rhea makan dia sibuk menyuapi suaminya, tak hentinya dia tertawa puas mejaili suaminya "huh!!" Rhea sampai menghela napas.
Theron tersenyum kecil "aku kenyang, berhenti menyuapi ku lagi" Theron benar-benar tak kuat makan lagi "aku bagai bayi yang kau suapi, bukan kau yang makan tapi aku jadi nya!!" gerutu Theron.
"kau bayi besar ku" Rhea terkekeh. Dia bangun dari duduk nya, pergi ke dapur mencuci piringnya.
Theron menopang dagunya menatap punggung Rhea yang tengah sibuk mencuci piring, terbesit senyum kecil di bibir Theron.
Rasanya Rhea begitu gembira, dia mencuci piring sembari bersenandung. Rasanya dirinya yang dulu kembali, si Rhea yang periang.
Theron memeluk Rhea dari belakang "kau mencuci satu piring begitu lama!!" bisik Theron kesal.
"aku tengah menikmati nya, jika bibi datang aku tak akan bisa melakukan hal ini" tukas Rhea.
Tatapan Theron menjadi menusuk "kau bebas melakukan apapun sekarang, bibi tak akan pernah melarang mu lagi" jelas nya lembut, Theron mengendus pelan leher Rhea.
"geli, kau tahu!!" tegas Rhea. Bahkan kali ini Rhea membiarkan suaminya melakukan hal itu. Rhea mengepal kuat jemarinya "tak apa. apa yang kau takut kan!!" Benak Rhea.
Theron melirik Rhea yang berusaha tenang dia berdiri tegap, tangannya mengacak kasar rambut Rhea "cepat selesaikan, kita akan ke dokter" Ucapnya "bukan saat nya sekarang" benak Theron menahan diri.
Rhea mengangguk, dia meletakan piring yang di cuci ke tempat nya "haruskah kita ke dokter?!" rasanya Rhea begitu malas pergi ke dokter.
"jangan menolak. Kau yang berlarian melarikan diri dengan kondisi yang tengah mengandung, aku harus memastikan kau dan anak kita baik-baik saja" Theron mengusap perut Rhea pelan "ganti baju mu dulu" suruh Theron.
Rhea tak bergeming.
"kau ingin aku yang menganti kan baju mu?!" tekan Theron.
Rhea menyipitkan matanya, berjalan malas menaiki anak tangga "jangan mencoba masuk ke kamar ku sebelum aku keluar" tegas Rhea.
"apa tak boleh?!" ucap Theron genit.
"tak boleh!!" pekiknya lantang.
Rhea membuka lemari, dia memilih baju yang akan di kenakan, tentu nya baju yang nyaman. Dia mengikat rambut panjang nya, dia menatap diri di cermin sembari tersenyum kecil.
Rasanya dia Ragu, di hadapan Theron dia selau berusaha tampak baik-baik saja. Dia selalu mantapkan hati bahwa dia akan berakhir baik dengan pria yang bahkan baru dia kenal semua nya untuk anak yang ada di perutnya.
"Kamu hebat Rhea!!" ucapnya menyemangati diri. Rhea membuka pintu, dia menuruni anak tangga di bawah Theron tengah menunggu nya, Theron menganti baju nya dengan kaos oblong dan celana jeans.
"kapan kau ganti baju?!" tanya Rhea penasaran.
"barusan" jawabnya cepat.
"aku bahkan tak mendengar langkah kaki mu!!" Rhea terheran.
Theron mendekati Rhea "Yeah, kau terlalu sibuk berdandan sampai kau tak menghiraukan suara langkah kakiku. Jangan di pikirkan. Mari..." Theron mengulurkan tangannya lembut, dia berharap kali ini Rhea menggenggam uluran tangganya erat.
"kau benar sepertinya aku sibuk dengan diriku" Rhea menatap Theron tak lupa tersenyum lembut. Dia menerima uluran tangan Theron, dia memegang erat "yuk" ucapnya.
Tak di pungkiri, Theron lega. Beberapa waktu lalu Rhea selalu menolak uluran tangannya. Tapi bukan karena dia terus di tolak dia harus berhenti untuk mencoba bukan?!. Jika terus mencoba kau akan memetik buah manis di akhir.