Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Berusaha menenangkan


Kamar dengan nuansa simpel namun elegan, di penuhi warna hitam yang mendominasi "sungguh mencerminkan pemiliknya" gumam Rhea jemarinya mengusap air mata yang masih menetes.


Rhea ragu masuk ke dalam kamar Theron, namun dia sudah terlanjur membuka pintu kamar tak mungkin dia tak jadi masuk. Di tambah Theron sedang mengamatinya tajam, jika pun dia tak masuk Theron akan terus mengajaknya ribut, menunjukan drama pertengkaran hebat padanya, dan Rhea sangat tak mungkin menenangkan perdebatan dengan pria yang selalu mengancamnya itu.


Rhea memberanikan diri melangkah masuk ke kamar Theron, perasaan mencengkam menyelimutinya. Rasanya dia masuk ke kandang serigala, bau Theron yang menyeruak memenuhi ruangan "aku tak boleh terus takut, Rhea kau bukan wanita pengecut" tekan Rhea pada dirinya sendiri. Jujur saja aroma kamar Theron begitu menenangkan untuknya mungkin karena dia Ayah dari anak yang dia kandung.


Rhea sendiri tak begitu mengerti pada Theron hanya karena retakan kecil, dia memaksanya untuk pindah kamar "benar dia khawatir bukan padaku, tapi anak nya. benarkah dia menghawatirkan mu nak?" Rhea mengusap perutnya lembut. Di rumah besar ini banyak hal yang Rhea tak ketahui, bahkan jumlah kamar dan ruangan apa saja di rumah ini dia tak tahu. Semua ruangan selalu terkunci rapat tanpa satupun hal yang dia ketahui.


Rhea menatap datar kasur yang tampak empuk, dengan pelan menaiki nya. Saking besar kasur itu Rhea tampak tenggelam ke dalam nya. Rhea pikir dia akan kesulitan tidur malam ini, namun nyatanya dia tertidur dengan cepat.


"Pergilah Anna, jangan membuatku menghilangkan matamu dengan brutal!!" Theron berada tepat di belakang Anna.


Anna yang tengah asyik melihat dua pasangan yang tengah bertengkar begitu terkejut. Anna mengintip dari jendela lagi, benar dia tak salah Theron benar-benar berada di belakang nya "aku bahkan tak mendengar suara langkah mu kakak" Anna bersikap awas "kapan kau membuka pintu?"


Theron menatap Anna tajam "kemampuanmu sungguh buruk, konon mata-mata elite tak sesuai dengan julukan mu" Ucapnya tajam.


"nanti dengan mulut mu itu, kau sendiri akan mengakui ku kakak!!" Anna menatap Theron dengan menggebu "namun untuk saat ini, jika di hadapkan denganmu jelas aku masih jauh" Anna berucap fakta "Mafia kejam, pemimpin dari Oleander, sesuai dengan namanya kau begitu indah namun bagai racun yang mematikan" Anna memiringkan wajahnya "Theron pria yang sangat di hindari, siapa yang tak tahu itu" Anna menaiki bahunya, dia terkekeh "maka dari itu sampai jumpa, aku ingin hidup kakak" Anna berlari menjauh cepat dari jangkauan Theron.


Theron menatap datar Anna yang tak tampak lagi. Sejauh apapun jika Theron sudah menargetkan dia akan mudah membunuh, namun Theron memilih melepaskan nya, dia tahu Anna akan berguna nanti.


Di luar Theron merenung, wajahnya tampak lesu. Dengan kasar dia mengusap wajahnya. Jarum jam terus berputar, detiknya berubah-ubah dengan cepat. Theron tak berani bertemu Rhea, dia takut jika dia berakhir di tolak lagi.


Malam semakin larut, tak pernah sekali pun Theron gelisah seperti ini "sulit sekali memahami wanita" benaknya. Theron duduk di lantai teras, pikirannya kalut. Kedua tangan menopang dagu, dia di temani dengan berisik nya jangkrik "ini lebih sulit dari pada membunuh" Theron menatap langit berbintang. Theron menatap langit lekat, dia merasa bagai awan gelap dan Rhea bintang yang terang, Dia awan yang menutupi cahaya terang Rhea membuat Rhea tak menunjukan cahaya nya lagi. Theron tertunduk, dia semakin bingung.


Theron masuk dengan hati-hati, dia masuk ke kamar mandi. Seharian dia berkeringat, berurusan dengan darah dan pengejaran musuhnya, kesehatan sekitar sangat penting untuk Ibu hamil. Theron mandi dengan pelan, hati-hati agar tak bersuara dan membangunkan Rhea.


Theron mandi dengan cepat, dia keluar dengan piyamanya. Dada bidang nya tampak sangat jelas, siapapun yang melihat nya tak akan kuat menahan godaan di tambah wajahnya yang begitu rupawan. Theron menarik kursi, dia duduk menghadap Rhea. Dia menatap Rhea begitu lekat "wajah mu begitu lelah" Theron mengusap lembut wajah Rhea.


Rambut basah Theron mengenai wajah Rhea, Rhea mengernyit, matanya terbuka pelan, dia tersenyum, kedua tangannya dengan pelan menyentuh wajah Theron, dia menarik nya membuat wajah mereka begitu dekat "dalam mimpiku kau selalu muncul namun dengan versi terbaik" Rhea mengecup pelan pipi Theron.


Theron mematung matanya membelalak, dia tak percaya dengan apa yang Rhea lakukan.


"namun faktanya kau begitu jahat dan aku membencimu!!" lirihnya. Rhea kembali terlelap begitu saja.


Perasaan senang dengan cepat dia tepis "tak mungkin aku di maafkan dengan mudah" Theron murung.


"tidak!! ku mohon lepaskan!! jangan sentuh!!" Rhea meronta, air matanya menetes. Di saat terlelap pun Rhea tak mampu menepis rasa traumanya.


Rasanya Theron tertampar menyaksikan kenyataan ini "setiap malam, apa kau tersiksa seperti ini?" Theron menatap pilu Rhea. Dia mengusap air mata Rhea yang terus mengalir "maaf, bahkan maaf ku tak akan pernah menyembuhkan mu" Theron bergetar, dia mencengkeram kuat seprei.


Sepanjang malam Rhea tertidur dengan tak hentinya menangis dan meronta, tubuhnya bahkan bergetar hebat. Theron dengan pelan mengusap pucuk kepala Rhea berusaha membuat Rhea tertidur lebih nyaman.


Theron melirik perut Rhea, ini suatu kesempatan yang mungkin tak bisa dia lakukan nanti. Theron mengusap perut Rhea lembut "nak, ini Ayah apa kau dengar?. Ayah tahu kau bahkan belum terbentuk dengan sempurna tapi Ayah sangat yakin kau akan tumbuh dengan baik. Jangan pernah menganggap dirimu buruk nanti, semua kesalahan terjadi karena Ayah mu ini" Theron berkaca-kaca menahan tangis "jadi tumbuhlah dengan sehat agar kau bisa menemani ibu mu dan menjaganya bersama Ayah" Theron tersenyum kecil, dia mencium pelan perut datar Rhea "jika nanti kau mengetahui cerita ibu mu yang tersiksa karena Ayah, kau bebas memukuliku saat itu" perlahan air mata Theron terjatuh.


Pandangan Theron tertuju pada Rhea yang tertidur pulas, dia tak meronta lagi, dia tampak sedikit tenang. Theron menggenggam tangan Rhea, dia mengecup nya "aku tak tahu soal cinta, atau apapun mengenai perasaan menyayangi namun aku akan berusaha membuat mu merasa di hargai disini, tempramen ku sangat buruk aku akan berusaha melatih tempramen ku agar kau tak merasa terancam"