
"kau diam di rumah" ucap Theron sembari menggenakan jaketnya.
Rhea mengangguk cepat, dia sendiri tak berniat untuk ikut. Apa lagi satu mobil dengan Theron, dia tak bisa membayangkannya. Jika nanti, sikap seenak Theron kembali muncul, itu sungguh menakutkan nya.
Theron menyerahkan ponsel pada Rhea "itu ponsel lama yang sudah lama tak Aku pakai untuk sekarang pakai itu, di kontak ada nomor ku. Jika ada hal aneh selama Aku pergi, jangan pernah ragu menekan nomorku" Theron tampak serius.
Rhea Mengangguk-angguk, dia menatap ponsel yang di berikan Theron "Dia bilang ini ponsel lama, namun ini ponsel bermerek yang harganya tak main-main" benak Rhea.
Theron bergegas menuruni anak tangga, berjalan keluar tak lupa mengunci nya. Theron melirik di dua titik, dia mengangkat telunjuk kananya. Mengatakan di rumah hanya ada Rhea sendiri, dengan begitu Theron meminta agar kedua sniper lebih waspada.
Theron melajukan mobilnya pelan, sembari melihat sekitar mencari orang yang menjual seblak, namun tak kunjung dia temukan. Theron menggeluarkan ponselnya, dia mencari warung seblak di map. Seblak Mbah Nur tertulis di map, dengan rute yang lumayan jauh. Theron menambah kecepatannya mengikuti rute yang di arahkan map.
Theron menyentuh kepala nya, dia tersenyum kecut. Pasalnya Seblak Mbah Nur tak beroperasi lagi sejak lama "kenapa di map tertera buka!!" gerutu Theron. Theron memutuskan turun dari mobilnya, di sekitaran warung Mbah Nur terdapat banyak warung-warung lain yang buka, Theron berpikir mereka mungkin menjualnya.
Theron menyibak Bener besar yang mengenai wajahnya, dia berjalan masuk ke warung nasi goreng. Semua tatapan tertuju pada Theron. Theron mengamati sekitar, Aura Theron yang menekan berhasil membuat orang-orang ciut melihat nya.
"Permisi, apa disini menjual seblak?" tanya Theron.
Semua orang tercengang termasuk penjual nasi goreng yang sibuk mengaduk masakannya ikut tercengang dengan pertanyaan Theron "ini warung nasi goreng, bukan seblak. Di luar sudah terpampang Banner besar yang menjelaskan ini warung nasi goreng dan sudah ada menunya di Sana!!" tegas Bapak itu.
Theron berkedip "apa kau tak bisa membuatkannya?" tanyanya lagi.
Bapak penjual nasi goreng menggeleng "Saya ahli membuat nasi goreng saja" bapak itu memindahkan nasi gorengnya ke wadah, memberikannya kepada pembeli yang tengah asyik menyeruput minumannya.
Theron melirik tajam ke arah pembeli itu, seketika pembeli itu tersedak. Pembeli itu menunduk, makan nasi gorengnya dengan buru-buru.
Theron menyibak rambutnya "Apa kau tahu orang yang menjual seblak di sini?" tanyanya lagi.
Penjual itu tampak berpikir "Saya hanya tahu Mbah Nur di sebelah tapi dia sudah lama tutup" tukasnya.
Bapak penjual itu memandang Theron seksama, tampilan rapi, wajah rupawan, dan mengendarai mobil mahal. Bapak itu mengernyit "kenapa mencari warung seblak?" tanya bapak itu, bapak penjual nasi goreng merasa orang seperti Theron tak mungkin hanya mencari seblak di warung-warung kecil.
"istriku tengah mengidam, dia ingin seblak" jawab cepat Theron.
"oh, mengidam ya!!" Bapak penjual yang semula datar, kini memberikan senyum hangat "anda pria baik, mencarikan hal yang istri anda mau" Bapak itu meraih tangan Theron "masalahnya disini tak ada lagi yang menjual seblak, kamu bisa mencari di tempat lain" Bapak itu tersenyum.
"Begitu" Theron berpikir ke mana lagi dia mencari seblak.
"tunggu sebentar" ucap Bapak penjual, dia buru-buru membungkus nasi goreng, setelahnya dia menyerahkan pada Theron "ini untuk istrimu" tukasnya.
Theron menatap bapak itu penuh tanya.
"Aku memberikannya padamu, lalu selamat sebentar lagi akan menjadi Ayah" lagi-lagi Bapak itu tersenyum.
Theron tampak canggung "terima kasih" Theron menerima bungkusan itu, sembari menggeluarkan dompetnya. Theron mengeluarkan uang "ini" dia mengulurkannya, memberikan pada penjual.
Penjual menggeleng "Aku memberikannya gratis" ucapnya, menolak uang pemberian Theron.
Theron mengernyit, menatap tajam penjual "Aku tak terima sesuatu dengan gratis" tekannya, mengulurkannya uangnya.
Penjual itu tersentak, dia bergidik dengan tatapan tajam Theron.
Theron menyelipkan uang seratus ribu di tangan penjual yang masih mematung "tak perlu di kembalikan, anggap saja itu rezeki mu" Theron keluar dari warung itu.
Theron menghentikan mobilnya di warung Seafood, dia masuk ke dalam "apa ada seblak disini?" tanyanya.
Ketika orang-orang terdiam, berkedip, dan saling memandang. Seorang pelayan datang mendekat "untuk saat ini tak ada tuan, mungkin nanti" jawabnya sopan.
Theron tampak berpikir "Aku butuhkan sekarang, terima kasih" Theron berbalik kembali ke mobilnya.
Tanggapan terkejut orang-orang tadi sama halnya di warung nasi goreng "jadi, di mana seblak adanya?" Theron berpikir keras.
Hari mulai gelap namun Theron tak kunjung menemukan warung Seblak. Theron memutuskan putar balik menuju rumahnya.
Theron menghentikan mobilnya mendadak. Dia membelalak menatap tulisan bener besar, tertera dengan jelas tertulis "Seblak Setan!!" Theron bergegas turun dari mobilnya.
"Saya mau seblak!!" ucap Theron semangat.
Penjual perempuan menoleh "mau berapa?" tanyanya.
Theron terdiam sejenak "Rhea tak mengatakan mau berapa" benaknya "Lima" ucap ragu Theron.
"baik, silahkan tunggu" ucap Ibu penjual sembari menunjuk kursi.
Theron duduk dengan tenang "akhirnya" Theron menghela napas. Theron mengamati sekitar, warung ini sepi pembeli hanya ada dia sendiri.
"Mau yang Biasa, sedang, pedas, atau yang luar biasa pedas?" tanya Ibu itu.
Theron melirik wajan yang berisi beraneka bahan makanan, dia terheran warna air makanan itu begitu merah pekat. Bau pedas begitu membuat hidung tertusuk "sebentar makanan apa itu?" tunjuk Theron terheran.
"tentu seblak " jawab Ibu itu.
"apa itu berbahaya?" tanya Theron memastikan.
"oh, jelas berbahaya. Ini akan membuat pemakan ketagihan dengan sensasi pedas yang membuat lidah menari-nari" Ibu itu terkekeh, dia sibuk menambah kan bumbu ke dalam masakan.
"jadi apa untuk Ibu hamil boleh?" tanya Theron.
Ibu itu menoleh "oh, untuk istri ya nak ganteng" Ibu itu mengaduk pelan "Boleh saja untuk Ibu hamil asalkan tak berlebih dan tak boleh sering" ucap nya.
"kalau begitu tak boleh terlalu pedas, Saya akan mengurangi tingkat kepedasannya" jawab Ibu itu.
Theron mengangguk mengiyakan ucapan Ibu itu.
Dengan cepat Ibu itu menyelesaikan masakannya, dia membungkusnya cepat. Dia tampak sibuk mencatat di kertas kosong, setelahnya dia memasukan kertas itu ke dalam kantong yang berisi bungkusan seblak.
"Ini, cah ganteng" ucap ramah Ibu itu menyerahkan.
"Terima kasih" Terima Theron. Theron mengeluarkan sejumlah uang, dia memberikan dua ratus pada Ibu itu.
"Eh, ini lebih cah ganteng" Ibu itu menatap Theron heran.
Theron tersenyum kecil "jumlah itu pantas untuk Ibu yang baik" ucap nya, sembari meninggalkan warung Ibu itu.
Ibu itu tersenyum haru, pasalnya dari tadi dia membuka warung belum ada yang mampir. Theron adalah pelanggan pertamanya "Terima kasih. Sukses terus nak ganteng" benak Ibu itu.