Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Teman untuk Rhea


Rhea duduk di kursi Mall, napasnya tersengal dia lelah. Sudah dua jam Anna mengajaknya keliling mall dengan membeli berbagai macam barang "Anna sudah cukup" pekik Rhea menatap Anna yang sibuk memilih manik-manik.


Anna tersentak "duh, gawat kaka cantik tampak lelah" Anna bergegas menyudahi berbelanja.


"duh, maaf kaka cantik Anna lupa kaka tengah berbadan dua" Anna menggaruk kepalanya yang tak gatal "jika Theron tahu aku akan mati!!" benak Anna.


Rhea menghela napas "tak masalah. kamu anak yang bersemangat" Rhea tersenyum kecil.


Bayang lelaki menutupi lampu yang menyorot Rhea. Anna membelalak tak percaya ketakutannya akan terjadi. Anna tersenyum canggung bergegas meninggalkan mereka berdua, tak lupa Anna melambai.


Rhea menatap Anna heran, dia menoleh kebelakang mendapati Theron menatap nya lekat. Rhea mengalihkan pandangannya "Bibi Sati memberi izin keluar" ucapnya.


"aku tahu" jawab singkat Theron.


Theron duduk jongkok di depan Rhea "bolehkah aku menyentuhmu?" ucap pelan Theron sembari mengulurkan tangannya.


Rhea tak menatap Theron "bukankah tanpa meminta izin kau sudah menyentuhku seenaknya!!" Rhea mengeratkan giginya kuat.


Theron menunduk "tak apa jika menolak" Theron tersenyum canggung, dia mengepal jemarinya.


"nah, Mari pulang" ajak Theron sembari membawa semua belanjaan.


Rhea bangun dari duduk, namun tumitnya terasa sakit "aku akan menyusul" lirih Rhea memijat tumitnya.


"tak apa jika kau marah lagi" Theron mengendong Rhea ke dalam pelukannya.


"lepaskan!" Rhea meronta hebat.


Theron menghentikan langkahnya, mereka berdua saling menatap "kali ini tolong jangan berontak" tegas Theron "semua memandang" bisiknya.


Deg!!


"Bagaimana dengan pandangan orang-orang?, semua akan berburuk sangka padaku lagi" Benak Rhea gemetar, dia bersembunyi dalam pelukan Theron dengan mata terpejam, tak terasa air mata Rhea ikut menetes "aku takut" selingan tatapan menusuk dari orang-orang terdekat kembali menghantui, tatapan penuh cemooh yang menusuk kalbu. Rhea mencengkeram erat dada Theron.


Theron berusaha membuat Rhea nyaman, membuat Rhea tak takut lagi padanya.


Rhea perlahan membuka mata, sekarang dia berada di parkir. Bergegas Rhea memaksa lepas dari gendongan Theron. Rhea mengusap lengannya bergidik "Anna dimana dia?" Rhea sibuk mencari keberadaan Anna "Anna?" Rhea sedikit memekik.


"Sebentar lagi dia akan kemari" ucap Theron berusaha membuat Rhea tenang.


Anna mengintip dari kejauhan, jelas sekali Theron mengetahui keberadaan Anna sekarang "siapa yang memberi tahu bahwa aku Ada di mall ini?" Anna kesal, wajah nya cemberut "menganggu saja" gerutunya.


"Apa yang akan kau lakukan pada orang cepu itu?" Charles tiba-tiba berada tepat di belakang Anna.


"Kan ku remukan tubuhnya!!" Anna memukul kuat tembok di sampingnya. Anna tersentak menoleh kebelakang. Charles dengan gagah berdiri dengan kedua tangan terlipat.


"Benarkah, orang itu aku" tegas Charles.


Anna menggosok telapak tangannya "Bercanda" Anna terkekeh dengan mata menyipit.


"Ku lihat yang bersenang-senang, kesana kemari menyombongkan black card milik Theron, Kau" Charles menunjuk Anna "Kau membuat Nona lelah, jadi aku mengatakan pada Theron kau tak berguna dan malah menyakiti Istri Theron" bisik Charles menyeringai.


Dahi Anna mengkerut "Kau" tunjuk Anna "habislah, aku tidak akan di percayai lagi" Anna tampak murung.


Mata Anna dan Theron bertemu. Theron melambai tangan, memanggilnya.


"Kakak memanggil" bergegas Anna meninggalkan Charles tak lupa tersenyum hingga giginya tampak.


Charles Blanco 29 tahun, dia tangan kanan Theron, Lelaki kepercayaan melebihi apapun.


"Kak aku datang" Anna menunduk, berusaha agar Theron tak menandainya.


"kau tak pernah ku beri izin membawanya hingga dua jam lebih" bisik Theron menekan.


Anna sibuk memainkan jarinya "aku hanya senang dengan nya, dia sangat tenang, dan tak banyak mengeluh" jelas Anna.


"kinerjamu buruk" tegas Theron.


Anna murung, ucapan itu memiliki artian dia tak akan di percaya lagi.


"Anna!" Rhea dengan cepat memeluknya "kau kemana?" Rhea berusaha tampak tenang.


Anna mengusap pelan punggung Rhea "aku tadi ke kamar mandi" ucapnya yang tampak jujur.


"kita pulang yuk" ajak Anna.


Rhea mengangguk. Entah sejak kapan, Rhea merasa nyaman dan aman didekat Anna mungkin karena Anna seorang wanita.


Anna melirik Theron dengan sombong "lihat dia lebih memilih ku" ledeknya.


Rhea menoleh kebelakang, menatap kaki Theron, dia tak menatap mata Theron langsung. Bagai meminta izin untuk pulang lebih dulu. Rhea kembali meluruskan pandangannya berjalan mengikuti Anna yang menuntunnya.


Theron tersenyum kecil "tak salah memberikan nya seorang teman, nanti perlahan aku ingin menjadi bagian dari temanmu, dan menjadi tempat berkeluh kesah" lirih Theron menatap punggung Rhea yang mulai tak tampak.


>>>


"Payah sekali!" Anna menunggu dengan bosan. Pasalnya barang belanjaan ada pada Theron "kapan dia kembali, aku tak sabar membuka barang-barang itu" Anna greget.


"Duduklah dengan tenang Anna" ucap Rhea.


Anna mengedipkan matanya, tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Hanya dengan sepatah kalimat berhasil membuatnya menuruti ucapan Rhea "jodoh cerminan diri" spontan kalimat itu keluar. Theron dan Rhea sama-sama memiliki kemampuan leader, membuat bawahan dengan mudah menuruti ucapan nya.


"Aneh?" benak Rhea penuh tanya "aku tak pernah di beri izin keluar rumah, namun dengan Anna aku di beri sedikit kebebasan menghirup udara luar?" Rhea mengamati Anna dengan seksama "bahkan Bibi sati dengan mudahnya tak melarang"


"Anna aku ingin ke kamar sembari membersihkan tubuh" Rhea beranjak menuju kamarnya.


Anna mengangguk cepat.


Matahari senja mulai tumbang. Langit mulai memerah, namun Theron tak kunjung tampak. Anna begitu emosi menunggu kedatangan Theron yang entah kapan.


Suara mobil terhenti di bagasi, bergegas Anna keluar. Benar saja Theron datang dengan semua barang belanjaannya. Theron meletakan semua barang belanjaannya di sofa, Anna mengikuti Theron dengan berbinar.


"dimana Rhea?" Theron menatap Anna tajam.


Anna berhenti menghitung barang belanjaannya. Anna bersikap normal, dia menjadi serius "dia ada di kamar" tunjuk Anna ke lantai atas.


"sikapmu yang kurang kompeten kan ku maafkan kali ini" tegas Theron.


Anna mengangguk.


Theron menaiki anak tangga. Sekarang dia berada tepat di depan kamar Rhea. Tanpa pikir panjang Theron membuka pintu, Theron membelalak terkejut mendapati Rhea yang hanya di baluti dengan kain handuk selutut dengan dada yang tampak jelas.


Rhea mematung, membelalak "tidak!!" pekiknya lantang.


Theron tersentak menutup pintu cepat. Theron tertunduk dengan wajah merah padamnya. Buru-buru Theron menyadarkan diri, bukan saatnya terpesona di kondisi ini. Theron menghela napas "jika selesai turunlah" ucap Theron.


Rhea mematung, dia mengusap lengannya "tak apa Rhea, ini bukan malam itu" Rhea menguatkan diri "semuanya telah berlalu, tak apa!!" air mata Rhea menetes pelan, dengan kasar dia mengusap nya.