Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Album


Rhea menatap ke luar jendela, hari mulai gelap namun Theron tak kunjung datang "mungkinkah dia tak mencarikannya?" gumam Rhea. Rhea menunduk, menatap perutnya "kita tunggu nak, aku rasa dia tak sejahat itu" Rhea mengusap perutnya lembut.


Rhea meraih ponsel di kasur, ponsel yang di berikan Theron untuknya. Rhea merebahkan tubuh ke kasur, dia sibuk menekan layar ponsel. Rhea menjelajahi fitur-fitur yang ada di ponsel Theron. Tak ada yang menarik didalamnya, kontak hanya terdapat nomor Theron. Tak ada aplikasi sosial media didalamnya, music kosong, dan game juga tak ada di dalam nya.


Rhea menghela napas pelan, dia menggeser layarnya terdapat album yang belum dia lihat. Rhea menekan album tersebut, terdapat satu foto yang tersimpan di Sana. Seorang wanita berambut panjang, wanita cantik tengah tersenyum, tampak senyum pilu dengan air mata yang menetes, sembari mengendong seorang bayi. Bayi yang wajahnya tak tampak dengan jelas.


Rhea termangu, dia meletakan kembali ponsel itu ke kasur. Dia beranjak dari kamarnya, berjalan pelan menuruni anak tangga "harus nya aku tak membukanya" gumam nya.


Rhea tak tahu mau melakukan apa, dia duduk di sofa dengan pikiran yang kalut. Dia menggeleng cepat, menepis semua pikirannya dia menekan remote, menyalakan tivi. Dia memilih mengalihkan pikiran menyibukkannya dengan menonton.


>>>


Rupanya Warung seblak Ibu itu berada tak jauh dari kediamannya, hanya terpaut enam rumah dari kediaman Theron "kenapa Aku tak menyadarinya?" gumam Theron menyibak rambutnya.


Theron membuka pintu, dia mendapati Rhea yang tengah tertidur di sofa dengan televisi menyala "kenapa malah tivi yang menonton mu?" gumam Theron, dia tersenyum kecil.


Theron menuju dapur dengan membawa bungkusan yang berisi makanan. Theron membuka kantong yang berisi lima bungkusan seblak, di dalam nya terdapat kertas yang di tulis Ibu penjual "Karet gelang kuning tidak pedas (untuk istri), sisanya pedas" tertera di kertas. Theron mencuci tangannya bersih, setelahnya dia menuangkan seblak ke dalam mangkok.


Theron melirik Rhea yang masih tertidur, dia berjalan menghampiri Rhea sembari membawa mangkok yang berisi seblak.


"Rhea, bangun!!" Theron menggoyang pelan bahu Rhea.


Rhea menggeliat, dengan dahi mengkerut, dia kembali tertidur.


Theron menatap Rhea dalam, dia melirik jam didinding "rupanya pukul delapan, Aku kelamaan" gumam Theron.


Theron mendekatkan mangkuk seblak dekat hidung Rhea.


Rhea tersentak bangun dari tidurnya, untungnya Theron dengan cepat menarik tangan yang berisi mangkok seblak sehingga tak tersenggol Rhea.


"kau sudah datang?" Rhea menyipit, tangannya sibuk mengusap mata.


"Apa aku terlalu lama?" tanya Theron.


Rhea mengangguk "lama" jawabnya. Rhea bangun menggubah posisi tidurnya, dia duduk.


"Ini! " Theron memberikan mangkok berisi seblak pada Rhea.


Rhea menatap Theron lekat, dengan pelan dia menerima mangkok yang di berikan "Terima kasih" lirihnya.


"Bagaimana dengan mu, kau hanya membeli satu?" Rhea mencari-cari mangkuk Theron.


"Aku beli lima, jangan khawatir Aku makan nanti" tukasnya.


Rhea menatap mangkok nya, dia dengan pelan menyendok kuah "kau belum pernah mencobanya bukan?" Rhea mendongak.


Theron mengangguk, dia ikut bergabung di sofa duduk di samping Rhea.


"kalau begitu cobalah!" Rhea dengan ragu mengarahkan sendok yang berisi kuah dan berisi potongan sayur ke arah Theron, Rhea membuang muka.


Theron tersenyum kecil, dia membuka mulut pelan menerima suapan Rhea. Theron terdiam sejenak, dia mengecap kuah seblak "ini enak" ucap Theron.


Rhea menoleh, dia tersenyum kecil "Mau lagi?" tanyanya.


Theron menggeleng "itu untukmu, Aku akan makan yang di dalam. nikmati saja!" suara Theron sedikit menekan.


Rhea dengan pelan melahap seblak, mungkin karena dia menginginkannya. Seblak yang memang sudah enak terasa tambah enak.


"Ah, Aku baru ingat. Ada nasi goreng apa kau mau?" tanya Theron memecah keheningan.


Rhea sibuk menyeruput kuah seblak terakhir "tidak, Aku kenyang" jawabnya. Rasa seblak yang pas dan tak pedas begitu cocok dengannya, Rhea benar-benar menikmati seblak itu.


Rhea meletakan mangkok ke meja "Aku akan makan nanti, Aku rasa nanti Aku akan lapar"


"Baiklah" jawab Theron, dia menekan remote menganti Chanel.


"sebentar, bukankah kamu bilang membeli lima jadi masih tersisa empat. Itu tersisa banyak!" Rhea menunjukan 4 jarinya pada Theron.


"Itu akan Aku berikan teman, jadi tak akan terbuang" jawabnya. Theron mematikan televisi. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh, bagi Theron di jam itu Rhea harusnya sudah tertidur.


Rhea membawa mangkuknya ke dapur, tak lupa dia mencucinya, dia haus bergegas dia menuangkan air ke dalam gelas dan menegaknya.


"Hey, Theron" panggil Rhea ragu.


Theron menghampiri Rhea.


"Aku rasa nasi goreng itu berikan saja untuk temanmu, Aku kenyang seperti nya nanti Aku tak memakannya. Dari pada terbuang lebih baik kau berikan pada temanmu" pinta Rhea.


"Baiklah, kau tidur lah hari semakin malam" suruh Theron.


Rhea terdiam, dia ingin menanyakan siapa wanita dan bayi yang ada di ponsel Theron "anu-" Rhea menoleh ke arah Theron yang sibuk mengambil mangkok.


"kenapa?" Theron menaiki satu alisnya menunggu Rhea mengucapkan sesuatu.


Rhea mengurungkan niatnya "untuk apa Aku bertanya? itu urusannya, tak penting untukku" benaknya "bukan apa-apa" ucap nya sembari bergegas menuju kamarnya.


>>>


Theron membawa tiga kantong seblak dan nasi goreng keluar dari rumah, tak lupa dia membawa dua mangkok lengkap dengan sendoknya. Dia menyisakan satu kantong untuknya.


Theron berjalan cukup jauh dari rumah, dia mengangkat tangan kirinya dengan lima jari yang menguncup menjadi satu.


"kami datang tuan" ucap dua sniper bersamaan. Satu sniper dengan wajah yang tertutup masker hitam dan satunya tertutup dengan masker putih, masker yang memenuhi wajah, sungguh menakutkan. Mereka datang bagai angin yang bergerak dengan cepat. Keduanya menunduk hormat pada Theron.


Chris kyle dan Ivan Kyle, mereka saudara kembar berdarah dingin.


"ini untuk kalian" Theron memberikan Mereka makanan yang dia beli tadi.


"apa itu?" tanya Chris.


"Ambil saja" Theron menyerahkan mangkok dan kantong yang berisi makanan.


Chris menerima nya dengan bingung, begitu juga dengan Ivan menatap Theron yang kembali berjalan ke rumahnya.


Mereka berdua membuka bungkusan itu "wah, itu makanan" tukas Ivan.


Mereka duduk dengan santai, senapan di dekapan mereka tak di lepas. Mereka bahkan tak membuka masker yang menutupi wajah mereka saat hendak makan, bagi mereka wajah mereka harus tetap rahasia. Mereka dengan pelan melahap seblak itu, mereka berdua menutup mulut, mereka saling menatap "ini pedas" ucap mereka berdua bersamaan, mereka menjadi panik.


Theron sibuk membuka Seblak yang masih tersisa. Dia dengan santai menikmati seblak itu, dahi Theron mengernyit "ini pedas, berbeda dengan milik Rhea" gumam Theron, dia bergegas menegak minumannya.


~Kelemahan Theron adalah makanan pedas begitu juga dengan Dua sniper kembar.