
Theron mengendong Rhea dengan hangat, dia berjalan hendak masuk ke dalam rumah. Perjalanan yang lumayan memakan waktu di Pedestrian hose tadi. Theron menatap wajah Rhea yang lelah. Dia mendekap erat istrinya, berjanji dalam benak akan menjaganya. Sebisa mungkin menatap membuat Rhea nyaman. Jika dia membuat istrinya terluka bukankah dia tak ada bedanya dengan Ayahnya yang memperlakukan Ibundanya bak permata yang tak berharga.
Dezing!!
Peluru tak bersuara melesat melewati Theron hampir mengenai wajahnya untung Theron dengan gesit menghindar. Dia melirik ke arah sumber peluru yang di tembakkan ke arahnya tadi, tampak seseorang yang mengarahkan senapannya ke arahnya. Theron menatapnya tajam tak peduli, dia kembali melangkah masuk kedalam rumah. Bagai terbiasa dengan kondisi seperti ini.
Ya, sekarang bukan waktu yang tepat mengurusi nya, di dekapannya Rhea tengah tertidur dengan pulas. Tak mungkin dia membuat Rhea terbangun dan membuatnya ketakutan mendapati kondisi menegangkan.
Jika dia sampai menembakan peluru ke arah Theron yang tengah berada di rumah berarti dia telah berhasil mengecoh dua sniper milik nya atau mungkin melakukan siasat sampai dua sniper milik nya tak sadar akan hadirnya seorang penyusup.
Theron menaiki anak tangga menatap Rhea yang rupanya terbangun menatap nya dengan dahi mengkerut.
"Tidurlah lagi?" ujar Theron terdengar menyuruh.
Rhea menelungkup di dalam dekapan Theron, jemarinya mencengkeram baju Theron. Dia berusaha agar tak tampak takut, rupanya Rhea sudah terbangun saat mobil terhenti dihalaman rumah. Namun karena Theron tiba-tiba mengendong nya dia tetap menutup matanya tak membukanya, dia takut jika dia terbangun membuat suasana menjadi canggung. Tapi siapa sangka peluru yang melesat mengejutkan Rhea membangunkannya dari pura-pura tertidurnya.
Theron membawa Rhea ke dalam kamarnya, meletakkannya dengan pelan ke kasur. Theron hendak keluar meninggalkan Rhea namun tangannya di pegang erat.
"kau mau kemana?" wajah Rhea tampak cemas. Dia sadar kondisi saat ini agak sedikit genting, seseorang tampak merencanakan pembunuhan suaminya. Walaupun dia sedikit membenci suaminya tapi dia juga tak ingin kehilangannya.
Theron mengusap lembut tangan Rhea yang memegangnya erat-erat, dia berusaha melepas pelan pegangan Rhea "aku ingin mencari angin sebentar!!" tukasnya.
Rhea menggeleng memeluk erat lengan Theron "kali ini aku meminta kau temani aku disini" tegas Rhea.
"Hey, tak pernah sekalipun kau meminta hal seperti ini ada apa?" Theron menatap dalam Rhea berusaha mencari maksud dari ucapan Rhea. Dia selalu saja tak dapat mengerti istrinya itu.
"Mungkin ini termasuk mengidam ha.. ha.." Rhea membuang muka terkekeh dengan tawa yang terdengar terpaksa jelas kebohongan terdeteksi di sini.
Rhea menelan ludah melirik perutnya "Maafkan Ibu, maaf Ibu menggunakan mu. Ibu hanya sedikit khawatir Ayahmu kenapa-napa jika keluar rumah siapa lagi yang akan melindungi mu nanti, Ibu tak memiliki siapa-siapa" Benak Rhea sibuk menggerutu pada dirinya, entah kenapa hari ini suasana terasa sedikit mencekam. Perasaan kalut dan ketakutan menyelimutinya, entah apa yang akan terjadi kedepannya.
Tanpa mengalah dia menuruti ucapan Rhea agar menemaninya "aku tak akan kemana-mana jadi lepaskan pegangan mu!!" pinta Theron.
Rhea tersentak semakin memegang erat lengan Theron. Takut jika Theron akan pergi keluar dan berurusan dengan hal yang berbahaya.
Theron menghela napas pelan "apa kau mau ikut ke kamar mandi?" Theron menyeringai.
"huh?!" Rhea menatap Theron penuh tanya, dia menelaah ucapan Theron setelahnya dia dengan cepat melepaskan pegangannya.
"Tidak!!" ucapnya lantang.
"Tidak!!" Rhea melempar bantalnya ke arah Theron.
Theron dengan wajah senang berhasil menggoda Rhea yang selalu menekuk wajahnya dengan tubuh bergetar. Theron bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Rhea tertunduk wajahnya merah padam. Dia menyeka wajahnya malu "apa-apaan dia berucap seperti itu?!" Rhea menolak keras bahwa dirinya mulai tertarik pada suaminya itu.
Suasana menjadi hening, sesekali terdengar keran dengan air terjatuh, suara bising Theron yang menggosok tubuhnya dengan sabun.
Dalam keheningan dan ke sendirian mengingatkan Rhea akan masa terpuruk nya dalam hidup. Rhea menutup mata pelan berusaha kuat memblokir ingatan itu yang terus menghantui dirinya.
Tawa hari ini tak ingin dia rusak dengan kembali mengingat-ingat kejadian yang tak mengenakan. Selingan ingatan yang berusaha dia tanam dalam, muncul dengan sendiri nya merusak suasana hatinya. Rhea turun dari kasurnya dia mengambil bantal yang dia lempar ke arah Theron tadi.
Ceklek!!
Pintu terbuka Theron berada tepat di depan Rhea yang tengah duduk jongkok dengan bantal di pegangan nya.
Rhea mendongak mendapati Theron yang hanya menggenakan seutas handuk pendek yang menutupi bagian bawahnya, dada bidang yang tampak jelas dan perut six pack yang begitu mengiurkan. Theron sibuk mengusap-usap rambutnya yang basah.
Rhea bergegas bangun dari duduk nya hendak kembali ke kasurnya, dia mengalihkan pandangannya.
Theron baru menyadari bahwa Rhea berada di depannya bersiap melarikan diri. Theron menjatuhkan handuk yang dia kenakan untuk mengusap rambut ke lantai, dia dengan cepat meraih tangan Rhea "kenapa lari?" bisiknya menarik cepat Rhea ke dalam dekapan nya. Air menetes dari ujung-ujung rambut Theron mengenai Rhea, tangan Theron yang mendekap nya terasa dingin mungkin karena dia baru saja selesai mandi.
"ah, aku hanya mengambil ini" Rhea gelagapan, buru-buru menunjukan bantal yang ada di dekapannya pada Theron.
"benarkah?!" ucapnya dengan nada tak percaya, dia memeluk Rhea semakin erat "ku pikir kau berniat masuk ke kamar mandi, jika kau ingin mandi bersama aku bisa masuk bersama denganmu dan kembali mandi, tak masalah untukku" tukas Theron dia mengigit pelan daun telinga Rhea.
Bantal di pegangan Rhea terjatuh, sekujur tubuh Rhea rasanya mematung. Dia di buat takut oleh Theron.
"Aku hanya bercanda, jika kau tak ingin aku tak akan memaksa" ujarnya, namun tak melepas Rhea dari pelukan nya.
Air mata Rhea memenuhi pelupuk matanya, dia sibuk memainkan jemarinya. Terbesit dalam benak sebagai seorang istri apakah hal semacam ini termasuk tugasnya?.
Rhea mendorong Theron pelan "Kau cepat pakai baju" suruhnya.
Dorongan Rhea tak membuat Theron bergerak saking pelan nya, bagai tak terasa. Mereka saling bergelut, dimana Theron tak ingin melepas dekapan nya dan Rhea ingin agar Theron bergegas berganti baju. Sibuk bergelut membuat Theron tak menyadari handuk yang melingkar di pinggangnya melorot terjatuh kelantai.
Rhea membelalak mengamati handuk yang ada di lantai "Theron apa itu handuk milikmu?" tunjuk nya ke arah handuk yang tergeletak di lantai.