Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Melarikan diri


Theron dengan pakaian serba hitam melekat di tubuhnya. Pagi-pagi buta dia bersiap untuk pergi ke luar kota, menuju tempat pelelangan itu. Theron menatap Rhea yang masih tertidur, dia dengan pelan menyentuh wajah Rhea "Aku pergi" ucapnya sembari berjalan keluar dari kamar Rhea.


Theron berpapasan dengan Bibi Sati di anak tangga. Bibi Sati terhenti, menunduk sopan.


"Jaga dia dengan baik" tukas Theron, melirik Bibi Sati.


"Apa anda akan langsung pergi tuan, tanpa mengatakan apapun pada Nyonya?" tanya Bibi Sati pelan.


Theron menatap jam di lengannya "Aku tak punya waktu lagi" Theron kembali berjalan menuruni anak tangga.


Bibi Sati mengangguk "saya akan menjaga Nyonya" ucapnya sembari menatap Theron yang mulai menjauh.


>>>


Drak!!!


Terdengar suara gorden yang di sibak. Perlahan cahaya memasuki ruangan menyorot tepat di wajah Rhea, membuatnya terpaksa membuka mata. Rhea mengernyit, perlahan bangun.


"Nyonya, ini sudah siang" ucap lembut Bibi Sati.


Rhea menoleh cepat "Bibi kapan datang?" Rhea sedikit terkejut.


"Saat Nyonya tengah tertidur tentunya" Bibi tersenyum kecil, dia sibuk membuka gorden lainnya.


"Theron bilang Bibi akan cuti beberapa hari, urusan keluarga?!" tanyanya sembari beranjak dari kasur.


Bibi tersentak "Benar Nyonya-" jawabnya sedikit canggung.


Rhea merasa ada yang janggal "apa masalahnya selesai dengan baik?" Rhea memastikan.


Bibi Sati mengangguk "semuanya baik-baik saja Nyonya, Saya hanya rindu kumpul dengan keluarga" jawab Bibi Sati yang tampak sedih.


Rhea gelagapan "ah, maaf saya tak bermaksud!!" Rhea mendekati Bibi menyentuh tangan Bibi pelan, bermaksud agar Bibi tak sedih lagi.


"Bukan masalah Nyonya" Bibi mendongak dengan senyum merekah.


Seperti biasa, Bibi melakukan pekerjaannya dengan baik. Rhea merasa senang Bibi Sati kembali, rasanya dia memiliki seseorang di rumah besar ini.


Rhea melihat sekitar, dia tak melihat Theron. Dia melirik kamar Theron namun Theron tak muncul juga "Bibi, apa Bibi tahu Theron kemana?" tanya Rhea yang berjalan menuruni anak tangga.


Bibi memasukan wortel ke dalam panci "tuan bilang ada urusan kerja di luar kota Nyonya" Bibi sedikit memekik.


Bibi sedikit menoleh "tuan tak enak hati membangunkan Nyonya, jadi tuan menitip pesan padaku" jelas Bibi, bak tahu apa yang ada di benak Rhea. Bibi sibuk memasukan beberapa bumbu.


"bodoh!!" gumam Rhea "tekankan pada diri mu Rhea itu bukan urusanmu!! dia tanpa rasa bersalah pergi tanpa mengatakan nya, jelas dia memperlakukanmu dengan baik sekedar menghargai mu sebagai Ibu dari anak nya!!" Rhea mengigit bibirnya kuat. Rhea menggeleng cepat, dia berjalan mendekati Bibi "Aku ingin membantu Bibi" tukas Rhea.


"tak perlu Nyonya, ini pekerjaan saya"tolak Bibi.


"tak apa, Aku ingin membantu" Rhea sedikit memaksa.


Bibi tampak serius "Nyonya, saya akan di pecat jika tuan tahu saya mempekerjakan anda" tegas Bibi.


"itu-, saya hanya membantu. Bibi tak memaksaku. Tak mungkin karena itu Bibi langsung di pecat?!" Rhea tak percaya, itu tak masuk akal. Membantu itu keinginannya bukan atas suruhan Bibi.


"Maaf Nyonya, tuan bukan orang yang memaafkan kesalahan kecil bawahannya" ucap sopan Bibi sedikit menekan.


Dahi Rhea mengkerut "apa Theron sejahat itu?" benaknya. Rhea tampak berpikir, itu mungkin saja mengingat sikap Theron yang begitu mengintimidasi.


"baiklah" Rhea mengalah tak memaksa membantu lagi, dia keluar dari dapur tak ingin menganggu Bibi bekerja. Rhea melihat sapu di bawah tangga, Rhea tersenyum kecil "Aku ingin membantu" Rhea menggenggam sapu itu, berniat ingin menyapu lantai.


Rhea menyapu beberapa baris. Di depan Bibi berdiri menatap nya tajam "tak boleh Nyonya" larang Bibi lagi "itu tugas saya" Bibi tampak marah, dia mengambil paksa sapu nya "maaf, saya kurang sopan. Namun, saya benar-benar tak ingin di pecat Nyonya mohon pengertiannya" Bibi tampak memohon.


Rhea mengangguk cepat, dia berkedip beberapa kali "ini keterlaluan" Rhea kesal, semua yang di lakukannya selalu di larang "Apa perlu semua hal di larang Bibi? hanya menyapu sebentar itu tak akan melukai diri ku dan anak yang aku kandung. Lantas, aku harus terus hidup monoton seperti ini. Tanpa memiliki tujuan jelas, bahkan mengeksplor diri aku tak boleh?" Rhea menatap Bibi tajam


"Nyonya saya hanya mengikuti perintah tuan" tegas Bibi.


"Kau tahu Bibi wanita hamil juga butuh bergerak bukan mendekam dalam kamar!!" Rhea semakin kesal.


"Saya minta maaf, tapi Saya tak bisa mengabaikan apa yang tuan suruh" Ucap Bibi sopan, Bibi bahkan tak tergerak dengan ucapan Rhea.


" sudahlah,percuma saja aku berbicara banyak.Toh kau hanya mengikuti tuan mu" Rhea kembali ke kamarnya tak mau lagi bersinggungan dengan Bibi.


Rhea menatap ke luar jendela, dia menjadi ingat saat Theron dan Rosetta bertemu di belakang "Theron bilang dia hanya teman kerja, tapi kenapa bertemu diam-diam dengannya?" gumam Rhea "atau mungkin Theron keluar kota bertemu berdua dengan Rosetta dan-?" Rhea membelalak tak Mau memikirkannya, kepala nya terasa sakit terus berpikir berlebihan.


Rhea mengusap perutnya pelan "lagi-lagi perasaan gusar ini muncul" Rhea tersenyum getir. Sikap Theron yang terkadang hangat membuat Rhea merasa sedikit aman, namun sekali lagi kepercayaan itu patah "harus nya Aku tak mudah percaya, kenapa Aku begitu bodoh!?" Rhea tertunduk dengan air mata menetes. Rhea semakin menyadari, dia hanya cangkang yang tengah di gunakan, jika tak nyaman maka akan di buang "kenapa kau mulai percaya dengan laki-laki yang menghancurkan mu Rhea?" Rhea mengusap air matanya pelan "perlakuannya itu hanya jebakan!! bahkan orang-orang di sini hanya menuruti ucapan tuannya saja"


Tampak Bibi Sati berada di belakang taman tengah berbincang dengan pengurus taman. Rhea mengusap air matanya kasar, dia berlari keluar menyusuri anak tangga, dia berharap tebakannya benar. Biasanya jika Bibi bertemu dengan pengurus taman, Bibi tak mengunci pintu depan, entah apa alasan nya. Rhea selalu mengamati setiap gerik Bibi Sati selama ini.


Rhea dengan pelan membuka pintu, pintu terbuka. Rhea tersenyum girang, dia berjalan pelan keluar, dia sudah lama tak sebebas ini. Rhea terdiam sejenak "apa tak apa jika Aku pergi?" pikir nya ragu "jika Aku bertemu dengan orang yang Aku kenal dan menghakimiku bagaimana? apa Aku akan kuat?" jantung Rhea berdetak tak karuan, dia menoleh kebelakang, dia menutup mata pelan menstabilkan napasnya . Rhea memantapkan hatinya, dia berlari keluar dengan kencang "Aku akan menjaga anakku dan membesarkannya sendiri" tukasnya semakin berlari kencang "Aku akan menjauh dari semua orang, sampai tak ada yang akan mengenaliku. Aku akan pergi di mana orang-orang tak tahu Aku siapa, di tempat orang-orang tak lagi menghakimiku!!" Rhea mengepal kuat jemarinya, berlari keluar gerbang, dia terus berlari tanpa menoleh kebelakang, berharap dia tak akan di temukan.