
Rhea tersentak melihat darah yang mengalir di lengan Theron "Ini?!" ucapnya ragu sembari menyentuh lengan Theron pelan.
Theron menyibak kasar rambutnya, Theron kesal Rhea merusak suasana yang cukup bagus tadi "bukan masalah besar" Theron melirik luka nya.
"sebentar aku ambilkan perban dan keperluan lain nya!!" Rhea bergegas mengambil p3k yang ada di lacinya. Rhea terdiam sejenak dengan kotak di tangannya "untuk apa aku melakukan ini?" Rhea terdiam dengan pikiran kacau nya.
Theron melangkah masuk dengan pelan duduk di kasur "kenapa kau termangu?" Theron membubarkan lamunan Rhea.
Rhea mengepal kuat jemarinya, kuku panjang nya menggores telapak tangannya "Suamiku sedang terluka, aku hanya membantu. Keraguan dan rasa takut tak berguna yang selalu menghantui, harus ku singkirkan sekarang" tekannya pada dirinya sendiri. Entah lah, terkadang dia bisa seberani itu pada Theron namun terkadang dia juga begitu takut pada Theron di waktu bersamaan.
Rhea bergegas menghampiri Theron "aku bantu bersihkan" tukasnya tanpa memandang Theron.
Theron mengangguk pelan, dia sedikit meluruskan tangannya ke arah Rhea.
Rhea mulai membersihkan darah yang mengalir, lalu setelahnya dia mengikat perban dengan hati-hati.
"terimakasih" ucap Theron.
Rhea beranjak dari duduk, dia kembali meletakan kotak itu kedalam laci.
Theron menarik lengan Rhea pelan "kau kenapa?" tanyanya menatap Rhea yang tak membalas tatapan Theron.
Rhea tak bergeming, terlihat gumaman kecil dari bibir Rhea membuat Theron semakin penasaran.
"duduk lah kemari dan cerita kan" tegas Theron.
Rhea bahkan tak bergeming seakan tak mendengar ucapan Theron "entah kenapa wanita sulit di mengerti" benaknya frustasi. Ucapan paman pengurus taman terlintas, dimana Rhea terganggu akan hadirnya lukisan itu.
Theron berdiri, dia sedikit menarik lengan Rhea "ikut denganku sebentar" ajaknya.
Rhea menggeleng "aku tak mau" jawabnya "aku sudah membantu, kau bisa kembali ke kamar mu" tegas Rhea menolak.
"aku juga tak pernah meminta kau membantu!!" tekan Theron.
Rhea memaksa melepas pegangan Theron "itu benar, kau tak akan pernah meminta tolong padaku. Kau juga tak akan menceritakan apapun padaku!!" lirihnya. Entah kenapa Rhea kesal.
"lukisan itu apa menganggu mu?" ucap Theron.
Spontan Rhea menoleh menatap Theron, menyadari dia begitu ketara penasarannya akan lukisan itu, buru-buru Rhea membuang muka.
Theron menghela napas, dia menyentuh pelan jemari Rhea "akan aku ceritakan, ikut aku" Theron melepas pegangannya, dia berjalan pelan keluar kamar Rhea.
Di dalam Theron memandang lukisan itu begitu lekat, jelas di raut wajah Theron dia merindukan sosok wanita itu.
"siapa wanita itu?" benak Rhea.
"kau penasaran mengenai lukisan ini bukan?" tanyanya lagi.
Rhea sibuk memainkan jemarinya, dia tak suka dirinya terlalu ketara, dia sedikit takut Theron berasumsi bahwa dia sedang cemburu "mm.gambar ini mirip dengan wanita di ponsel mu!" ucap Rhea pelan sembari mengeluarkan ponsel yang di berikan Theron.
"jadi karena itu kau mengira aku memiliki wanita lain?" Theron memastikan.
Rhea mengalihkan pandangannya, dia tak menjawab.
Theron mendekati lukisan itu, dia mengusapnya pelan "Maria Sandra, beliau Ibundaku, meninggal saat aku berusia 10 tahun" Theron mengepal kuat jemarinya "dia di bunuh oleh lelaki yang bergelar Ayah namun sekalipun Ayah itu tak pernah menganggap ku. Aku tak masalah mengenai itu hanya saja dia dengan kejam nya selalu berusaha mengacak hidupku. Setelah kepergian Ibundaku Ayah itu membakar semua hal milik Ibunda, satu-satunya tersisa hanya lukisan ini yang sempat hilang dan 19 tahun berlalu aku baru menemukan lukisan Ibundaku" Theron berusaha tegar, terlihat senyum tipis di bibir Theron. Dia pura-pura baik-baik saja, namun hatinya terasa begitu pedih "aku ke luar kota untuk mendapat kan lukisan Ibundaku yang telah lama hilang" Theron menoleh ke arah Rhea.
Rhea membuang muka, dia mengigit bibir nya kuat "bodoh. Aku marah hanya karena pikiran dan asumsi buruk ku pada Theron" tanpa Rhea sadari air matanya menetes pelan. Cerita pilu yang di alami oleh anak berusia 10 tahun dan pelakunya tak lain adalah Ayahnya sendiri, bagaimana perasaanya saat itu, hidup nya tak mudah sampai bisa setegar sekarang.
Theron memiringkan wajahnya "kau menangis?apa kau merasa ada yang sakit, perutmu atau apa?" Theron sedikit panik.
Rhea mengusap air matanya pelan, dia menoleh menatap Theron dengan pelan dia mendekat. Dia mengusap pelan lengan Theron, sebenarnya dia berniat mengusap punggung Theron berhubung Theron terlalu tinggi Rhea memutuskan mengusap lengan Theron.
Theron menatap Rhea heran, dia tak mengerti apa yang di lakukan Rhea padanya "kau sedang apa?"
"huh?" Rhea membelalak "aku tengah berusaha menenangkan mu!!" ketusnya dia melepas lengan Theron, dia menjadi kesal.
"ah, begitu." Theron meraih tangan Rhea kembali "nah, elus lagi" pintanya.
Rhea menggeleng "suasana nya jadi rusak" gerutunya.
Theron terdiam dia tertunduk.
Rhea merasa bersalah, dia sedikit jinjit. Tangannya dengan pelan mengelus rambut Theron "tak apa" ucapnya berusaha menenangkan, dia tak tahu apakah kata itu bekerja.
Theron tersenyum kecil, dia menyender di bahu Rhea "kau tahu aku tak sekuat yang kau lihat" lirih Theron "aku hanya mencoba melawan dunia yang mencoba mengikis ku perlahan dengan mengeraskan hati melebihi batu kristal yang dimiliki dunia" ucapnya pilu.
Rhea berkaca-kaca, hatinya terenyuh mendengar itu "tak apa, kau tak harus selalu kuat atas dunia ini. kau boleh menangis dengan ter sendu-sendu itu tak apa. Meneteskan air matamu bukan berarti kau kalah atas dunia!!" Rhea mengigit bibir kuat, dia menahan tangis suara nya terdengar bergetar.
Tangan Theron menyentuh punggung Rhea dengan wajah yang masih tertunduk menyender pelan pada bahu Rhea "kau menyemangati ku. Pria yang merusak mu di malam itu, aku tak bermaksud mengingatkanmu akan kejadian naas yang menimpamu itu. Namun, jika kau tahu aku selalu terbayang akan kesalahan yang menghantuiku itu. Disisi lain aku merasa bersyukur atas hadirmu dalam hidupku yang hampa dan menyedihkan ini. Bukankah aku begitu jahat?" Theron berusaha begitu kuat agar tak menangis, dia seorang lelaki yang tak ingin terlihat menyedihkan dengan meneteskan air mata di depan sang istri.
Rhea mengigit bibir kuat "Aku hampir menyerah atas hidupku, aku merasa buruk karena mu. Tapi tak semua harus kita ratapi, diri mu bisa sampai sekarang ini karena kau yakin pada dirimu!!" Rhea tak tahu kenapa dia mengucap kan kata-kata itu. Air mata Rhea menetes deras "jujur aku masih tak mampu memaafkan mu. tapi kau pria jahat, setelah semua tindakan mu itu. kau terus memperlakukan ku dengan baik bagaimana aku bisa terus membenci mu?!" Rhea memeluk Theron, tangis nya pecah.