
Theron memukul kasar setirnya, dia benar-benar marah "Rhea kau benar-benar membuat ku kehilangan kesabaran!!" Gerutunya. Theron menggertak kan giginya, dia semakin kesal mengingat Eza pria yang membuatnya semakin naik pitam. Sejauh itu saja Theron bisa mengajak Rhea, dia tetap harus ke tempat pelelangan, namun sungguh nihil datang jauh-jauh Rhea tetap menolak.
>>>
"kau sudah siap?" Daniel membenahi dasinya, setelan jas hitam tampak melekat di tubuhnya.
Charles menatap Daniel kesal "kau membiarkan Theron pergi hanya untuk membawa Rhea yang kabur. Kau bodoh sekali!!" Charles menyibak rambutnya.
Daniel mendekat ke arah kaca, dia sibuk menyisir rambutnya sembari mengagumi ketampanannya "Yeah, kau sepertinya terlalu kaku. Ayolah kau juga ketika nanti menemukan wanita yang kau cintai, kau tak akan berpikir panjang saat kehilangan nya serasa dunia berhenti berputar" Daniel melirik Charles, dia tersenyum kecil.
Charles menaiki bibir nya, tak setuju dengan ucapan Daniel "suatu saat perasaan itu akan menjadi luka yang paling sakit. Jangan mudah percaya dengan perasaan itu, jika tak ingin berakhir menjadi badut" tatapan Charles tampak kosong bak memikirkan sesuatu.
Daniel menatap Charles yang menyender di pintu dari pantulan kaca "apa kau badut itu?!" Daniel menutup mulutnya, sembari tersenyum kecil.
Charles tak bergeming.
"ah, rupanya benar" ledek Daniel semakin menatap Charles lekat-lekat.
Charles mengusap wajahnya kasar "jangan meledekku, kau sendiri sama saja" tukas Charles.
"Aku tak membuang waktu untuk hal seperti itu" Rasanya Daniel menyepelekan, dia terkekeh "wanita hanya membuang waktu dan uangku. Jadi aku lebih suka menjaga jarak!!"
"Aku ingin melihat diri mu yang membadut itu dan wanita mana yang berhasil mematahkan hati seorang Charles!!" Daniel semakin memancing emosi Charles.
"Suatu saat kau akan menjilat lidahmu itu!!" tekan Charles.
"ah, aku tak akan melakukan hal seperti itu. Membadut seperti mu!!" Daniel senyum sumringah penuh dengan kemenangan.
Charles menatap Daniel tajam, tak melepas tatapan nya sekalipun "Diam Daniel!! sebelum aku benar-benar kesal!!" tekan Charles, dia membuka pintu segera keluar.
"Yeah, dia tak pandai berdebat. tidak seru" Daniel melanjutkan menatap dirinya di pantulan kaca.
Charles menunduk menyender di tembok depan kamar "Sejak kapan aku menjadi seperti ini?" gumam nya, dia mengacak kasar rambutnya.
>>>
Pukul 23:50 WITA tengah malam. Daniel dan Charles bersiap pergi ke tempat pelelangan mereka menuju parkir.
Theron berdiri sembari menyender di Mobil hitam yang akan Charles dan Daniel kendarai.
"Rupanya kau datang!!" ucap Charles memecah keheningan.
"berisik!!" ucap ketus Theron.
Daniel membuka pintu mempersilahkan Theron masuk lebih dulu "kau sepertinya tak berhasil" tebak Daniel.
Theron tak bergeming dia hanya memberi tatapan tajam pada Daniel.
Daniel membuang wajah tak berniat mengungkit lagi. Daniel mengemudi, Theron duduk di sebelah Daniel dan Charles duduk di belakang. Selama perjalanan begitu hening tak ada yang berani memulai percakapan lebih dulu, suasana hati Theron yang tampak buruk membuat semua nya memilih diam dari pada di amuk oleh amarah Theron.
>>>
Saat ini Rhea tengah sibuk membenahi posisi tidur nya, dia begitu gelisah.
Saat kebingungan melanda Rhea memikirkan masalah tempat tinggalnya ke depan atau menerima bantuan Eza dan Anna. Rhea berakhir memilih tinggal bersama Anna untuk sementara waktu. Sampai dia memiliki cukup uang untuk menyewa sebuah rumah, dia sendiri merasa buruk akan dirinya sendiri. Rhea melirik Anna yang tengah tertidur dengan pulas nya, dengan pelan Rhea beranjak dari kasur. Dia termenung di sofa tengah dengan pikirannya yang semakin buruk "menerima bantuan Anna bukankah sama saja menerima bantuan Theron?!" gumam Rhea pilu. Rhea tertunduk air matanya menetes pelan "aku sungguh buruk nak" Rhea mengusap perutnya. Terlintas semua perlakuan Theron yang begitu berusaha menjaga dan merawat nya. Theron begitu berusaha bertanggung jawab atas segala kesalahan yang di lakukan nya pada nya, Theron tak pernah hentinya mengucap maaf padanya dan memikirkan perasaanya. Rhea tersentak, dia menyadari bahwa Theron tak seburuk itu. Rhea mengusap kasar air matanya "aku begitu egois rupanya" lirih Rhea.
"ah, kak rupanya kau disini?" Anna berjalan sempoyongan dia sibuk mengucek matanya yang setengah terbuka.
Buru-buru Rhea mengusap air matanya, agar Anna tak khawatir padanya.
"Kenapa bangun Anna?" Rhea menoleh sembari tersenyum.
Anna duduk di samping Rhea "habisnya kakak tak ada disamping, membuat ku takut saja" tukasnya.
"Anna maukah kamu mengantarku pulang?!" lirih Rhea.
Seketika Anna membelalak "Huh? pulang kemana?" tanyanya memastikan.
"Ke rumah suami ku" jawabnya pelan.
"tentu saja, sekarang?!" Anna mengedipkan matanya sungguh tak percaya mendengar ucapan Rhea.
Rhea mengangguk.
"baiklah, tunggu sekejap" Anna bergegas masuk ke kamarnya mengambil hal yang di perlu kan.
Anna menggenakan baju tebal pada Rhea mengingat Rhea yang tengah mengandung dan malam semakin larut. Anna tak ingin menunda kesempatan ini, takut Rhea akan kembali berubah pikiran.
Dengan cepat mereka sampai di kediaman Theron. Bibi sati sudah menunggu di teras rumah begitu juga dengan penjaga kebun. Bibi mengetahui informasi dari dua sniper yang memberi nya kabar baik itu, tentu saja dia ingin menyambut nyonyanya yang memilih kembali pulang.
Rhea menghela napas pelan, dia membuka pintu. Sejujurnya dia takut dengan tanggapan dari orang-orang Theron, dia melarikan diri dan membuat orang-orang khawatir dan takut.
Rhea turun dengan hati-hati, di luar Bibi Sati menatap nya dengan senyum hangatnya. Bibi bergegas menghampiri Rhea, dia menatap Rhea lekat "syukurlah nyonya kembali" Rasanya Bibi begitu lega melihat Rhea.
Rhea mengangguk pelan "maaf, aku membuat mu kesulitan Bibi" lirih nya.
Bibi meraih tangan Rhea, dia menggeleng "itu tak benar, wajar saja anda merasa tertekan. Bibi minta maaf karena melarang nyonya beraktifitas dan malah membuat nyonya tertekan" ucap Bibi, dia benar-benar merasa bersalah.
Rhea membalas menyentuh lembut tangan Bibi "Ah, bukan seperti itu. Aku tak menyalahkan Bibi, Bibi hanya melakukan tugas dan perintah" Rhea melirik sekitar "Theron apa dia tak disini?" tanya Rhea mengamati sekitar.
"Tuan tak pernah kembali setelah pergi keluar kota nyonya" jawab sopan Bibi.
"kakak, setelah datang dari bandara kakak Theron langsung menyusul kakak cantik. Dia begitu khawatir padamu sampai-sampai dia tak peduli akan dirinya" timpal Anna.
Rhea terdiam, sekarang dia menjadi istri yang buruk "begitu" Rhea menunduk. Dia sungguh ingin menemui Theron dan berucap maaf padanya.