
Berkali-kali Eza menahan diri agar jemarinya tak bergerak untuk mengusap pucuk kepala Rhea "apa yang membuatmu seperti ini?!" ucap lembut Eza.
Rhea tak bergeming, dia sibuk memainkan jemarinya.
"aku-" Rhea mengepal kuat jemarinya, dia tak boleh seperti ini menceritakan masalahnya dan suaminya pada lelaki lain.
"ah, bukan apa-apa lupakan yang ku katakan barusan" Rhea tersenyum manis berusaha tampak baik-baik saja.
Eza menggenggam erat lengan Rhea sembari menatap nya menyelidik "kau berusaha menyembunyikannya?"
Rhea menggeleng "aku tak menyembunyikannya. Ah, di mana arah keluar suami ku pasti tengah menunggu ku!!" ucapnya pelan.
"kau kemari dengan suami mu?!" Eza tersentak.
Suasana menjadi canggung "benar, aku tersesat tadi" tukasnya berbohong.
"begitu" ugh!! rasanya dada Eza begitu sakit. Perasaan tak senang menyelimuti dirinya, dia cemburu pada seseorang yang tak pantas dia cemburui.
"kau menikah bukan karena alasan cinta bukan. Kau korban dari pria yang menjadi suamimu itu!!" tanpa terduga Eza memberanikan diri mengatakan hal yang mengganjal dalam benaknya.
Rhea menoleh ke arah Eza setelahnya dia kembali tertunduk "kau tahu dari siapa?!" ucapnya bergetar. Hal yang Rhea khawatirkan terjadi juga.
"lantas kenapa kau tetap memilih menikah dengannya!!" pekik lantang Eza.
Seketika orang-orang menatap mereka lekat.
"kenapa Rhea?! dia menghancurkan hidupmu namun kau memilih masuk kedalam jeratnya" Eza mengguncang tubuh Rhea kuat "kau bodoh" desisnya kesal, dia tak peduli dengan tatapan orang-orang. Eza hanya ingin mengutarakan kekecewaannya yang memuncak.
"lalu aku harus apa?! Semua nya terjadi begitu saja, aku mengandung lalu Ayah tahu!! dia datang dan pernikahan terjadi, lalu-" Rhea histeris air matanya luruh, dia mengusap kasar wajahnya "aku bahkan tak pernah bermimpi menikah dalam kondisi ini" lirih Rhea tatapan nya kosong.
"ah, maafkan aku. ucapan ku malah membuat luka mu kembali terbuka" Eza memukul pelan kepala nya, bodoh nya dia berkata seperti itu. Harus nya dia berhati-hati dalam berucap.
"kau sama saja seperti orang-orang yang asal berucap!!" lirih pilu Rhea.
"bukan begitu-" Eza mengigit bibir kuat dia salah dalam berucap.
Rhea beranjak dari duduk "kau sudah tahu bukan, tak ada alasan bagimu lagi untuk bersikap baik padaku. Kau pasti merasa jijik padaku dan tengah menertawakan ku dalam benak, kau bebas berkata apa tentangku sama seperti orang-orang yang meledekku!!" Rhea tersenyum getir, air matanya dengan pelan menetes, dia membuang muka, berlari kencang menjauhi Eza.
Eza beranjak dari duduk hendak mengejar Rhea "aku akan berkata apa padanya nanti? aku memperburuk keadaan" Eza terduduk di Kursi wajahnya pucat dia begitu kacau.
Rhea menyender pada tembok yang cukup jauh dari Eza. napas nya tersengal, air matanya tak kunjung berhenti menetes "sama saja. Aku pikir Eza akan berbeda dari orang-orang. Dia teman yang baik namun tak semua bisa menerima kondisi ku" Rhea perlahan duduk jongkok, dia menyelipkan kepala nya pada tangan yang terlipat di lututnya. langkah kaki orang-orang terdengar jelas, semakin menakuti Rhea dia bergetar hebat. Di pikirannya orang-orang tengah menertawakan dirinya.
Sicilia menyeringai, dia dengan pelan melangkah hendak menemui Rhea.
Rhea tak bergeming, dia kembali menelungkupkan wajahnya di sela-sela tangannya yang terlipat.
Theron mengatur napas nya, terdengar napas nya yang tak karuan. Theron yang panik mencari keberadaan Rhea berlari kesana kemari. Tak sengaja Theron melihat Rhea yang menelungkup di balik tembok.
"apa yang membuatmu pergi tanpa menoleh kearah ku?!" tanya Theron pelan.
Rhea mendongak pelan, menatap dalam suaminya itu.
"Apa yang kau inginkan dari ku?!" lirih Rhea.
Theron mengernyit tak mengerti dengan ucapan Rhea "apa maksudmu?"
"jangan berbohong katakan saja hal yang kau inginkan dari ku sekarang, anak ini atau apa?!" lirih nya pilu.
"lihat matamu begitu bengkak, kau menangis lagi!!" Theron mengusap lembut air mata Rhea.
"jangan mengalihkan pembicaraan" tegas Rhea.
"kau dengar itu dari siapa? sampai berhasil membuatmu kembali kacau" Theron sibuk mengusap air mata Rhea yang kembali menetes.
"kau tak perlu tahu, katakan saja" Rhea menepis kencang tangan Theron yang mengusap air matanya.
"aku ingin kau berhenti menangisi hal yang tak perlu. kau tak lelah selalu menangis setiap saat. kau tak perlu menangisi hal yang tak penting, yang kau takut kan tak akan pernah terjadi, aku menghargai mu. Kau istriku, janji suci terucap saat itu maka kau selamanya milikku aku tak akan pernah melukaimu aku pria jahat namun aku pria yang memegang ucapan dan janji ku" Theron menyibak lembut rambut Rhea yang menutupi wajahnya, di tambah air mata membuat bagian rambut yang terkena air mata menjadi basah.
Rhea termangu, dia terdiam sejenak. Ucapan Theron begitu menyihirnya.
"Jadi tepis semua pikiran buruk mu itu. Jikapun kau mendengar itu dari seseorang aku minta padamu untuk tak mudah percaya. Aku memiliki cukup banyak pembenci, satu-satunya kelemahan ku adalah kau dan anak kita mereka akan menggunakan kesempatan jika ada untuk mengusik mu lalu perlahan menghancurkan diriku" Theron tersenyum lembut.
"Jadi kau tak menginginkan apapun dariku, memanfaatkan diriku atau-" Rhea menghentikan ucapan nya, Theron menatap nya begitu dekat.
"entah lah, tapi ku rasa tak mungkin aku tak menginginkan apapun, tetap saja aku seorang pria" Theron menyentuh dagu Rhea wajah mereka begitu dekat. Theron dengan pelan mengecup pipi dekat bibir Rhea setelahnya dia beralih mengecup bibir Rhea. Cukup lama mereka dalam posisi itu.
Eza tak mungkin membiarkan Rhea berlarian sendiri di tempat yang membuat nya tersesat. Saat itu Eza memutuskan mengejar Rhea, namun apa yang dia dapat kan dia melihat sendiri hal yang harusnya tak dia lihat. Theron dan Rhea saling bercumbu kasih membuat pikiran bahwa Theron tak mencintai Rhea di tepis nya.
Tak sengaja Theron melirik ke arah Eza, tak di sangka di kondisi ini Eza berada disini dan menyaksikannya. Theron berhenti mencium Rhea, dia terlalu lama melakukannya. Theron menyeringai melirik Eza.
Bergegas Eza kembali meninggalkan mereka, dia tak mau Rhea melihat dirinya yang menyedihkan.
"Bangsat kau Theron!!" umpat Eza kesal melangkah cepat meninggalkan rumah sakit.
Theron menyipitkan matanya tersenyum manis, menatap Rhea yang mematung. Theron mengusap lembut bibir Rhea "mungkin ini salah satu keinginanku" ucapnya "kau selalu membuat ku menjadi pria jahat lagi, siapa suruh kau menawan bahkan saat kau menangis" tekan Theron ucapnya begitu genit.