
Pagi menyapa dengan cepat, bahkan Rhea tak menyadari kapan dia tertidur. Tertidur dengan tak sengaja merupakan hal yang paling nikmat. Semalaman Rhea begitu teriris dengan ditemani isak tangis, membuat matanya tampak bengkak. Rhea beranjak dari kasur, tangannya sibuk mengusap mata.
Rhea membuka pintu pelan, berjalan menuruni anak tangga. Rhea memperhatikan sekeliling mencari keberadaan Bibi sati, yang tak kunjung dia lihat. Biasanya di jam segini Bibi sati sibuk dengan pekerjaannya dan tak lupa membangunkannya.
Tercium tumisan bumbu, baunya membuat Rhea lapar. Rhea bergegas menuju dapur, pikir nya Bibi sati pasti tengah sibuk memasak "bibi menumis apa?" ucap Rhea.
Theron menoleh "Hari ini dan beberapa hari mendatang bibi cuti. urusan keluarga" Theron melanjutkan menumis sayuran, tangannya sibuk menggoyangkan wajan, tak hentinya mengaduk sayuran yang berisi daging.
Rhea menatap Theron. Hari ini Theron menggenakan kaos Oblong, jarang sekali Theron menggunakan baju santai di rumah, karena dalam satu hari Theron selalu pergi keluar dengan alasan urusan pekerjaan.
"Hari ini kau tak pergi bekerja?" ucap ragu Rhea.
Theron memindahkan tumisan nya ke wadah "tidak" jawabnya singkat.
Rhea tampak canggung, dia bingung melakukan apa "apa ada hal yang bisa ku bantu?" tanyanya.
"kau duduk saja dengan tenang" Theron kembali menumis beberapa sayuran lagi.
Rhea dengan tenang menunggu, tak mau memaksa membantu jika tak di butuhkan. Dia termangu di sofa. Bibi tak mengatakan apapun padanya, membuat Rhea sedikit merasa dia bukan siapa-siapa disini. Kejadian kemarin Rhea memilih tidak mengungkitnya, dia tak mau menangisi hal yang tak perlu.
"kemari lah" panggil Theron.
Rhea menghampiri Theron, di meja makan di penuhi dengan masakan Theron "makanlah" ucap nya. Theron berjalan menuju ruang tamu.
"hey!!" ucap Rhea ragu "kenapa kau tak ikut makan?" tanyanya.
Theron menoleh "kau akan merasa tak nyaman"
Rhea terdiam sejenak "tidak!! kita makan bersama" ajak Rhea.
Theron berbalik "baiklah" Theron menarik kursi tepat di samping Rhea, dia menatap Rhea lekat. Theron tampak lega melihat Rhea yang lebih baik dari sebelumnya, sulit sekali membuat Rhea tak awas padanya.
Rhea melirik suaminya yang mulai mengunyah makanannya, setelahnya dia mulai ikut makan. Saat sayur kangkung masuk ke mulutnya, dia tersentak masakan Theron tak kalah enak dari masakan bibi, bahkan mungkin masakannya sendiri tak bisa menandingi masakan Theron.
"Apa rasanya sesuai dengan seleramu?" Theron memecah keheningan, dia sudah selesai dengan makanannya.
Rhea mengangguk "ini enak" jawabnya.
Theron tersenyum kecil "syukurlah sesuai seleramu"
Mereka berdua menikmati sarapan pagi dengan canggung, tak ada sepatah kata terucap selama mereka makan. Hanya beberapa kali Theron meletakan sayuran dan daging di piring Rhea.
Theron tak hentinya menatap Rhea lekat berharap dia melahap lauk yang di berikannya.
"ku rasa cukup. ini terlalu banyak untukku" Rhea tampak mual, porsi yang Theron berikan berlebihan.
Theron memiringkan wajahnya "apa tak habis?"
Rhea mengangguk , dia tak enak hati jika tak menghabiskan makanannya. Namun, jika dia memaksa menghabiskannya dia malah akan memuntahkannya.
Rhea memaksa menghabiskannya, berusaha agar tak menyisakannya, tapi nasi di piringnya tersisa setengahnya dengan sayur dan lauk yang masih utuh. Rhea ingin menghargai Theron yang pagi-pagi memasak untuknya.
"hentikan, jangan memaksa menghabiskannya. Aku tak akan memarahi mu, hanya perihal makanan tak habis" Theron sedikit menekan. Theron menarik piring Rhea, dia menghabiskan makanan yang tersisa "aku yang akan menghabiskannya, kau tak perlu merasa terbebani"
Theron sibuk menghabiskan makanan Rhea "bukan masalah" tukasnya. Theron kesal melihat Rhea yang tampak tertekan hanya masalah makanannya yang tak habis, dia berinisiatif menghabiskan makanan Rhea agar dia tak lagi tampak frustasi dengan makanannya yang tak habis
Masalahnya, Theron tak menganti sendoknya dia menggunakan sendok yang Rhea pakai "apa kau tak merasa jijik?" Rhea sendiri merasa itu hal aneh.
Theron mengigit sendoknya "apa aku tampak jijik?" dahi Theron mengkerut "kau tak perlu khawatir berlebihan, aku tak suka itu"
>>>
Benar-benar seharian full Theron di rumah. Tumben sekali dia berada di jangkauan mata Rhea. Membuat Rhea bergerak hati-hati agar tak berpapasan dengan Theron, saat naik tangga maupun turun. Rhea yang canggung jika berpapasan dengan Theron memilih berdiam diri di dalam kamarnya, dia akan keluar jika membutuhkan sesuatu.
Terdengar bising televisi dengan siaran beritanya. Theron menyibukkan diri dengan membaca buku atau menonton. Namun, Rhea merasa di temani. Biasanya hanya ada bibi yang menemani Rhea itu pun sekejap, Rhea akan sendiri di rumah besar menunggu Theron datang.
Drt!!
Ponsel di saku celana Theron bergetar, Theron bangun dari posisi tidurnya. Dia merogoh ponselnya, tertera di layar 'Rosetta' Theron memencet tombol hijau.
"Saya melapor tuanku" suara Rosetta terdengar jelas.
Rosetta Cutolo, 28 tahun. Wanita berjubah yang berbicara dengan Theron di taman belakang, waktu itu.
"Katakan!!" ucap Theron mempersilahkan.
"Seperti yang anda duga, lokasi pelelangan berada di kota Bali besok. Pelelangan diadakan tengah malam, Saya akan kirimkan rinci lokasinya" ucap Rosetta lugas.
"bagus kau melakukan nya dengan baik" Theron menyeringai.
Theron menatap layarnya, mengamati rinci lokasi dan hal penting yang di kirimkan Rosetta "The Classified" gumam Theron.
The Classified nama tempat pelelangan tersebut. Tempat yang melelang barang-barang aneh, barang ilegal, dan legal. The Classified tempat membeli dan menjual barang dengan cara menawarkan kepada penawar, menawarkan tawaran harga lebih tinggi, dan kemudian menjual barang kepada penawar harga tertinggi. Tempat itu berisi orang-orang berpengaruh di dunia bayangan, tempat kumpulnya maniak-maniak kejam yang ingin mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan. Orang awam tak akan tahu tempat itu, tempat yang diakses tak sembarang. Masuk ke tempat itu harus membawa kelompok agar keluar dengan aman.
"Rosetta kau melakukan tugasmu dengan baik" ucap Theron tersenyum kecil.
Rhea berada tepat di belakang Theron, dia mendengar saat Theron menyanjung Rosetta.
Theron menyadari seseorang berada di belakang nya, dia menoleh "Rhea?" ucap nya tersentak.
Rhea tersenyum canggung "aku ingin mengambil minum, iya aku haus" Rhea gelagapan, dia bergegas ke dapur membuka kulkas.
Theron menatap Rhea tajam "sampai mana dia mendengar" gumam nya.
Rhea mengambil mentimun di dalam kulkas, dia termenung "Rosetta?" benak Rhea bertanya-tanya.
"bukankah kau ingin mengambil minum?" Theron memecahkan lamunan Rhea, membuat timun di tangan Rhea terjatuh.
"itu benar" jawabnya cepat. Rhea mengambil botol minum di dalam kulkas, bergegas mengambil gelas dan menuangkannya.
Theron mengambil mentimun yang terjatuh "kau meninggalkan ini" Theron mengulurkannya pada Rhea.
Rhea berkeringat dingin, Theron seakan sedang mengamati tingkahnya. Sikapnya ini menakutkan.