Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Berjumpa


"Wah, apakah tak ada niatan berlibur menikmati pantai Bali?. Jarang sekali kita memiliki waktu seperti ini!!" tukas Daniel membereskan kopernya.


"Kita kesini bukan untuk berlibur" Timpal Charles.


Theron sibuk mengikat perban di lengan yang tertancap belati.


"Huh, bahkan kita tak rehat sejenak. Sekarang pukul lima pagi. Lihat mataku begitu sayup" Gerutu Daniel.


Theron mendesis, dia melirik Daniel pelan. Daniel membuang muka menghindar tatapan Theron, dia kembali sibuk membereskan barang bawanya "tau gitu aku tak membawa banyak barang" Umpat nya kesal.


"Kau bisa tinggal disini jika kau mau!! kau juga Charles. Aku akan pulang sendiri!!" Theron meletakan alat p3k ke laci kecil.


Daniel mengayunkan tangan pelan "Jangan Baper Theron aku hanya bercanda. Aku orang yang setia kawan" Daniel tersenyum lebar.


Charles menghela napas "Bisakah mulut mu diam, di kondisi saat ini!!" Ucap lantang Charles, kelakuan Daniel benar-benar membuatnya kesal.


Daniel mendekati Charles, dia merangkul pelan bahu Charles "Hey, kawan mencairkan suasana itu perlu" Ucapnya.


"Jangan menyentuh ku" Charles menepis tangan Daniel.


"Kau tau kalian dua orang dingin yang tak asik" Ucap Daniel meletakan kedua tangan menyilang kebelakang kepala nya dengan bibir maju.


Seketika tatapan mematikan Charles dan Theron ke arahnya membuat Daniel menutup mulut rapat-rapat.


"Daniel!!" tekan Theron "Kau terlalu berisik!!" Ketus Theron.


"Yeah, tak akan aku ulangi lagi!!" Jawab Daniel cepat.


Daniel membawa kopernya, dia keluar lebih dulu.


Sekarang hanya ada Charles dan Theron yang saling menatap. Daniel, dia bukan anggota dari Oleander jadi dia tak perlu tau permasalahan yang tak ada sangkut paut dengannya.


"Sicilia dia mulai menampakan diri rupanya!" Ucap Charles memecah keheningan "dia pasti di perintah oleh Kartel untuk mendapatkan lukisan itu" tukasnya lagi.


Organisasi Vantoni selalu bersinggungan dengan Organisasi Oleander. Lebih tepat nya kedua pimpinan masing-masing organisasi memiliki dendam. Vantoni yang di pimpin oleh Kartel Yadies (57 tahun) begitu ingin membunuh dan menghancurkan Theron beserta seluruh bawahan Theron.


"Vantoni tak bersembunyi bak cangkang keong. Itu jauh lebih baik di banding kita terus mencari keberadaan mereka!!" tegas Theron "katakan pada seluruh anggota lain untuk terus berhati-hati" Perintah Theron.


"Baik" Jawab cepat Charles.


Pikiran Theron kalut, banyak hal yang harus dia urus. Masalah Vantoni baginya bukan hal yang berat. Hanya istri nya, Rhea yang tak pulang membuat kepala nya sakit, di tambah Rhea tengah mengandung anak nya. Theron semakin khawatir, perasaanya tak karuan. Memang benar Anna berada disisi Rhea saat ini, tetap saja Theron khawatir.


Charles menyentuh pundak Theron "apa yang kau pikirkan. Bergerak cepat, di luar Daniel menunggu, dia akan berisik jika kita tak kunjung nampak"


"Keluarlah dulu" Perintah Theron.


Theron menatap lukisan Maria Sandra, wanita cantik dengan rambut panjang hitam legamnya, bola mata besar yang menambah kesan cantik nya. Theron menatap lekat lukisan itu "Akhir nya setelah pencarian 19 tahun aku menemukan lukisan mu!!" tuturnya lega "Apa Anda baik-baik saja? aku merindukanmu" ucapnya pilu, Theron mengusap lembut wajah lukisan itu "Anda tak perlu khawatir, aku baik-baik saja disini. Sebentar lagi aku akan membalas kepedihan yang membuat luka tak tersembuhkan!!" Tatapan Theron begitu tajam.


Theron membalik lukisan itu, di belakang terdapat tempat rahasia. Saat di buka dia melihat sebuah kotak. Theron membuka kotak itu pelan, terdapat permata kalung, gelang, dan sepasang anting cantik. Theron tersenyum kecil, dia menutup kotak itu pelan, Theron memasukannya kedalam tasnya sembari bergegas keluar.


Daniel uring-uringan melihat Theron yang baru keluar dari hotel. Mulutnya


hendak berbicara, namun Charles bergegas menutup mulut Daniel dengan tangannya, Charles sampai mencengkeram kuat agar tak keluar sepatah kata dari mulut Daniel.


"Kau tahu Daniel, karena kau dianggap teman oleh Theron dia membiarkan mu sedikit berbicara tak sopan padanya. Namun, kesabaran seseorang ada batasnya" Jelas Charles penuh tekanan "Jika kau berbicara omong kosong sekarang, di saat kondisi Theron buruk aku yakin lehermu itu akan terpisah dari badanmu, di tambah lukisan yang berhasil dia jumpai setelah bertahun-tahun lama nya membuat ingatan buruknya kembali muncul" Charles melirik Daniel tajam, dia benar-benar tak mau Theron mengamuk. Pernah sekali, Charles melihat Theron mengamuk. Theron begitu membabi buta, seakan matanya tertutup tak melihat teman dan musuh dia akan membunuh semua yang dia lihat. Dulu Theron menganggap semua orang musuhnya dan ingin membunuh orang-orang yang dia lihat saat itu juga. Mengingat itu membuat Charles bergidik, cairan darah tercecer di mana-mana dan suara jeritan ketakutan kembali teringat, karena hal itu lah Charles bergabung dengan Theron yang kejam tak pandang bulu.


>>>


Rhea tampak khawatir, dari tadi dia menatap ponsel. Sampai pagi kontak Theron tak bisa di hubungi.


Anna menatap Rhea lekat, sedari dia bangun Rhea sibuk memperhatikan ponsel, bagai menunggu suatu kabar.


"Kak, kau sedang apa?" tanya Anna memecah keheningan.


Rhea tersentak, hampir saja ponselnya terjatuh untung dia dengan cepat menangkapnya. Jika tidak dia tak bisa membayangkan menganti rugi barang mahal.


"Bukan apa-apa!!" Rhea tersenyum canggung, dia tak ingin Anna tahu sedari tadi dia begitu khawatir dengan Theron.


Anna melirik jam di ponselnya, menunjukan pukul 07:12 "Ah, aku ada urusan kak. Aku pulang dulu" Ucapnya sembari memeluk Rhea.


"Eh, mandi dulu" Suruh Rhea.


Anna menggeleng "dadah" Anna mengecup pipi Rhea pelan, sembari bergegas berjalan.


Rhea terdiam, dia terkejut tiba-tiba Anna mengecup nya begitu saja.


Sekarang Rhea hanya di temani dengan Bibi sati, rumah menjadi begitu sepi setelah Anna pergi. Rhea ingin mencoba menerima bahwa dia telah menjadi seorang istri dari seseorang lelaki, bukankah hidup akan jauh lebih baik ketika kita bersyukur. Rhea mengepal kuat jemarinya, dia menghela napas berusaha menenggelamkan ingatan buruk atas segala kejadian yang membuatnya berada di titik ini.


Rhea menoleh menatap bibi, biasanya bibi sati tahu mengenai job des Theron "bibi, apa bibi tahu kesibukan Theron di luar kota?" Tanya Rhea pelan.


Bibi menghampiri Rhea "Saya kurang tahu mengenai lengkap job des nya nyonya. Saya hanya di beritahu hal yang memang tuan ingin katakan saja, hanya sejauh itu" Tukas serius bibi.


Rhea mengangguk pelan "mm, Bibi" Ucapnya ragu.


"Kenapa nyonya?!" Bibi menatap Rhea penuh tanya.


"Rhea minta maaf atas keras kepala Rhea dan membuat Bibi khawatir" Ucap lantang Rhea.


Pas sekali pintu terbuka, di sana Theron berdiri begitu gagahnya. Rhea menoleh ke arah pintu membuat mereka berdua saling menatap. Theron membelalak, memastikan apakah benar yang dia lihat, istri nya tengah berada di rumah?!.