
Eza menatap ke luar jendela apartment nya, dengan telepon di genggamannya menempel tepat di telinga Kiri nya.
"Halo!?" jawab seorang wanita dari balik telepon dengan nada penuh tanya.
"Yolan benar?" ucapnya.
Wanita dari balik telepon tak bergeming sejenak "ah, benar. siapa?" tukasnya.
"Eza George" ucapnya singkat.
"ada penting apa menghubungi ku?!" Yolan sedikit tak senang, karena dia tahu jelas hal yang akan di tanyakan.
"Rhea aku dengar dia tengah melanjutkan pendidikan di kota ini, namun terakhir kali aku berjumpa dengannya dia bersama suaminya, dia berkata sudah menikah. Bagaimana itu bisa terjadi?!" tanyanya penasaran.
Terdengar suara terkekeh dari balik telepon "sungguh kau tak basa-basi dan langsung bertanya ke intinya"
"kapan kau pulang ke Indonesia?" Yolan mencoba basa-basi dulu.
Eza menyibak kasar rambutnya "itu tak penting, jangan mengalihkan pembicaraan!!" tegas Eza.
"jika pun aku tak ingin menjawab kau mau apa?!" ancam Yolan kesal, Eza sok dalam berucap.
"sudah lah kau hanya perlu menjelaskan nya" ucap Eza sedikit pelan.
"Mintalah tolong. Jika kau membutuhkan apapun sekalipun itu informasi mintalah tolong dengan sopan!!" tekan Yolan.
Eza mengepal kuat jemarinya "YOLAN!! tolong ceritakan tentang Rhea!! KU MOHON!!" pintanya benar-benar memohon.
Terdengar helaan napas dari balik telepon, jelas dia begitu puas mendengarnya "akan ku ceritakan tapi kuat kan hatimu mendengarnya"
"apakah hal yang begitu fatal?!" Eza mendesis tak sabaran.
"dengar kan saja, nanti kau bisa menyimpulkannya sendiri!!" tegas nya "Jadi sebenarnya aku tak tau jelas nya. kontak Rhea sudah lama tak dapat di hubungi. Aku hanya mendengar kabar burung, bahwa Rhea menikah karena hamil duluan, bisa di katakan karena saling cinta seperti pasangan pacaran pada umumnya. Namun asumsi ke dua Rhea adalah korban pemerkosaan, karena Rhea mengandung anak dari pelaku itu dia berakhir menikah" jelas nya panjang "Saat pernikahan pun aku tak tahu dan tak di undang, aku tak tahu jelas nya yang aku tahu pernikahan itu bersifat private hanya mengundang pihak keluarga dan acara pernikahan pun mendadak. Sejauh itu yang ku tahu"
Eza tak bergeming, dia mengepal kuat jemarinya "jadi kau percaya begitu saja?!" lirih Eza.
"Kebenaran akan di ketahui, jika kita menanyakan langsung pada kedua orang yang bersangkutan baik Rhea maupun pelaku yang menjadi suaminya sekarang!!" Yolan tak mau hanya memandang dari satu sudut, walau Rhea sahabatnya sendiri tapi dia harus berlaku adil dan tak menyalahkan Rhea maupun suaminya. Terdengar Yolan yang mengeratkan gigi kuat "Jujur aku tak yakin jika Rhea seberani itu bermain api, secara dia gadis baik-baik sedikit pun dia tak pernah bercerita atau sibuk mengurusi lelaki. Kisah cinta nya begitu hambar, tapi aku juga tak berani membenarkan ucapan ku"
"Ah, pantas sikap suaminya saat berjumpa dengan ku begitu sok berkuasa bahkan hari itu Rhea melarikan diri, suaminya begitu menekan dan mengintimidasinya. Sikap suaminya begitu buruk pada Rhea seakan Rhea hanya objeknya" Eza semakin yakin bahwa Rhea adalah korban.
"jika benar itu sungguh buruk untuk Rhea" ucap Yolan.
"dari perangai mu kau tampak ingin menganggu?!" tekan Yolan berbisik.
"mungkin" jawab Eza lugas.
Yolan terdengar marah "kau tak harus melakukan hal itu, dia sudah menikah lepaskan dia sebegitu cinta apapun kau!! kecuali jika pernikahan mereka berakhir cerai saat itu kau boleh mendekatinya kembali karena dia tak terikat" tekannya.
"bukankah kita harus membantu teman yang menjadi korban? kau sekarang menutup mata dan mengabaikannya begitu saja!! kau yakin kau sahabatnya?!" Eza memprovokasi.
"aku tak ingin ikut campur, jangan membawaku kau mengerti" tekan Yolan.
"dengan kau bersikap bodo amat dan tak ingin ikut campur kau menjadi wanita jahat. yang mengabaikan teman korban pelecehan. Sungguh kau tak ada bedanya dengan pelaku jahat itu sendiri!!" Eza terkekeh kecil.
tak terdengar suara dari balik telepon, selang beberapa menit terdengar suara tangis yang berusaha di tahan "aku tak sejahat itu, aku-. aku hanya tak tahu melakukan apa untuk nya. Jujur aku kasihan pada Rhea ku dengar hubungannya dengan keluarga nya juga terputus, dia pasti tengah ketakutan tak memiliki teman cerita!!" ucapnya pelan.
"Kau pasti memiliki kontak adik atau keluarga Rhea bukan?! berikan padaku jika kau memiliki nya" pinta Eza.
"untuk apa" Yolan bertanya-tanya.
"aku tak memiliki jejak tempat tinggal Rhea, jika aku menanyakan nya pada keluarga mungkin mereka bisa membantu. Bahkan saat aku bertemu dengan Anna kalau tak salah namanya, dia tak ada bedanya dengan Theron pria itu. Dia bahkan melarang ku mendekati Rhea selangkah pun. Dia berkata dengan keras nya bahwa aku pria tak beradab hanya karena aku menawar kan tinggal bersama dengan Rhea!!" gerutu Eza.
Yolan menaiki bibir nya tak percaya "yang benar saja bodoh, kau mengajak wanita beristri siapa pun akan mengira kau memiliki niat terselubung!!" Yolan tak habis pikir.
"ah, rupanya salah!!" lirih Eza.
"dengar aku Eza. jika kau membantu jangan merusak hal yang membuat Rhea senang. Cari tahu dulu. sebelum kau bertindak" Yolan mewanti-wanti "Yang aku dengar juga suaminya Rhea bukan dari kalangan biasa"
"kau terlalu berisik kiriman saja" tekan Eza.
"nanti, sekarang aku terlalu sibuk" Yan memutuskan sambungan teleponnya.
Eza menyeringai kesal dia menatap ke luar apartment nya dengan begitu amarah menggebu "rupanya dia pria kurang ajar" gumam nya.
>>>
Lelah karena terus menangis Rhea tertidur dalam pelukan Theron dengan hati-hati dia meletakan Rhea ke kasurnya. Dia menatap lekat wajah istri nya yang begitu lelah, sudah berapa kali dia melihat Rhea menangis di kediamannya. Theron mengusap lembut kepala Rhea, tangannya menyentuh pelan tangan Rhea "aku ingin lebih egois. maaf kan aku!!" Theron tertunduk pelan. Pasalnya dia benar-benar tak ingin melepaskan Rhea awal nya dia hanya ingin bertanggung jawab dengan memberikan Rhea segalanya, namun seiring waktu Theron menjadi lebih serakah dia menginginkan lebih dari sekadar perlakuan tanggung jawabnya pada sang istri.
Theron menyelimuti tubuh Rhea, dia dengan pelan ikut masuk ke dalam selimut, dia memeluk Rhea ke dalam pelukannya, dia mencium kening Rhea pelan, perlahan dia ikut tertidur.