Meraki Pernikahan

Meraki Pernikahan
Sesal


Rhea menyentuh pelan dahinya, rasanya kepala nya berdenyut hebat "apa lagi ini, siapa dia?" gerutunya dalam benak "berucap seperti itu dan pergi tanpa penjelasan" dia mengernyit.


"kau berbicara dengan siapa?" Theron memperhatikan sekitar namun tak menemukan orang yang berbicara dengan Rhea, hanya lalu lalang orang-orang yang memenuhi rumah sakit ini. Theron menyentuh pelan lengan Rhea bermaksud agar Rhea mengatakannya.


Rhea menepis tangan Theron, wajahnya begitu masam. Ucapan wanita itu terus terngiang di kepalanya. Dadanya terasa sesak membuatnya kembali mengingat pernikahan nya tak seperti pasutri pada umumnya yang menikah karena cinta. Rhea melirik sekitar, Ibu-Ibu yang tengah mengandung begitu manja pada sang suami, senyum terukir manis di wajah keduanya. Tampak harmonis bagai tak memiliki masalah. Rhea menatap suaminya. Theron yang menatap nya begitu tajam membuat Rhea tertunduk, tatapan Theron selalu seperti itu tak pernah menunjukan kehangatan, hanya ketika di waktu tertentu dia akan menunjukan nya ketika dirinya menangis histeris dan bergetar hebat barulah Theron meredakan suara tinggi yang menekan itu, beserta tatapan tajam nya.


"apa yang terjadi padamu?!" Theron menatap Rhea terheran.


Kepala Rhea terasa semakin sakit, dia berjalan pelan tak peduli dengan ucapan Theron. Dia melangkah dengan tatapan kosong tak tahu dia pergi kemana. Tangannya memukul pelan kepala nya yang semakin terasa sakit "Ss" desis Rhea menahan rasa sakit kepala nya yang semakin menjadi.


Theron menatap punggung Rhea yang semakin menjauh "kenapa dengannya?" Theron tersentak, buru-buru berlari mengejarnya.


Duk!!


Tak sengaja Theron menabrak seseorang membuat tas bawaan orang itu terjatuh. Buru-buru Theron membantu mengambilkan barang-barang milik orang itu yang ikut berserakan, setelahnya dia bergegas meninggalkannya begitu saja.


Theron menyusuri beberapa tempat, turun dan naik tangga namun dia tak menemukan Rhea "aku kehilangan jejak" Theron mengusap kasar wajahnya dia jadi panik.


Kali ini dua sniper kembar tak ikut, berhubung Theron bersama dengan Rhea mereka berdua berkesempatan beristirahat. Siapa sangka Theron begitu teledor dan kehilangan keberadaan Rhea "bodoh!!" Gerutu Theron berdecak kesal pada dirinya. Theron berlari menuju parkir siapa tahu Rhea lebih dulu menuju mobil.


Rhea terhenti di depan ruangan gawat darurat. Dia menoleh sekeliling rupanya dia tersesat, Rhea duduk di bangku yang sudah disediakan didepan ruangan itu. Dia termangu dengan pandangan kosong, tangannya sibuk memainkan jemarinya, wajahnya tampak pucat, Rhea tertunduk.


Sicilia sedari tadi mengikuti Rhea terbesit senyuman kecil di bibir nya. Sicilia yang mengamati Rhea dari balik tembok melangkah pelan menuju Rhea, ini kesempatan bagus membawanya pergi bersamanya, rencananya membuat Rhea gusar berhasil dan menjauhkan Theron dengan Rhea.


Seseorang tampak mendekat, sepatu bertali tampak berhenti tepat didepan Rhea. Rhea mendongak mendapati Eza yang menatapnya begitu dalam.


"ah, rupanya benar kau. aku pikir aku berhalusinasi!!" ucap Eza memecah keheningan, dia tersenyum kecil.


Rhea kembali menundukkan wajahnya, dia bahkan tak menyapa Eza.


Rhea menggeleng "tak ada" singkatnya.


Sicilia mendengus kesal, dia memukul tembok kesal. Dia keduluan pria itu membuat Sicilia menghentikan niatnya untuk menghampiri Rhea. Dia memilih menunggu pria itu meninggalkan Rhea lebih dulu baru melancarkan rencananya.


Rhea melirik kantong plastic di genggaman Eza "kau sakit?!" lirihnya.


Buru-buru Eza memasukan kantong obat itu ke dalam kantong hoodie nya "uhuk.." dia beberapa kali batuk-batuk mengatakan pada Rhea bahwa ucapan Rhea benar. Eza melirik sekitar dia tak melihat keberadaan suami Rhea. Eza mengepal kuat jemarinya, dia merasa suami Rhea semena-mena pada Rhea dan sekarang di rumah sakit Rhea berkeliaran sendirian dalam kondisi mengandung tanpa ada yang menemani "Sungguh dia memperlakukan mu dengan buruk. Kenapa kau memilih kembali dengan pria itu? " benak Eza menatap Rhea pilu. Di tampah dia mendengar cerita dari Yolan yang mengatakan bahwa Rhea mungkin seorang korban.


Eza menatap Rhea yang masih tertunduk, dia duduk di samping Rhea. Eza sendiri begitu tak menyangka bertemu dengan Rhea di sini. Dia beberapa kali menghubungi kontak keluarga Rhea untuk menanyakan lokasi rumah Rhea namun satupun tak ada yang bisa di hubungi. Eza kembali mengingat ucapan Yolan di mana dia berkata bahwa keluarga Rhea memutuskan hubungan dengan Rhea "demi pria itu, kau berakhir buruk dengan keluarga mu" rasanya Eza ingin memeluk Rhea memberinya sandaran sekejap saja, namun Eza mengurungkan niatnya dia tak ingin hal itu membuat Rhea malah membenci dirinya.


Eza menyesali dirinya yang bergerak lamban. Andai saja dia datang lebih dulu, lebih dulu mengatakan cinta, mungkin saat ini dia dan Rhea akan berlayar dalam kisah cinta indah di hari-hari mereka. Mungkin sekarang dia tak akan merasa begitu sakit melihat orang yang di cintai menjadi istri orang lain dan di perlakukan bagai tak berharga "Kenapa kau memilih dia padahal ada aku disini yang akan berusaha membahagiakanmu?!" rasanya Eza ingin menanyakan hal itu, banyak sekali hal yang mengganjal di benak nya. Sayang sekali waktu tak tepat. Eza tertunduk dengan kedua tangan menyangga wajahnya.


Mereka berdua terdiam cukup lama dengan pikiran mereka masing-masing.


"apaan mereka berdua? mereka tampak tak banyak berbicara namun pria itu tak kunjung pergi" Sicilia semakin kesal.


Eza menoleh menatap Rhea "Kau bisa bercerita padaku jika memiliki masalah dan pertemuan kita kembali setelah lama tak berjumpa cukup aneh kemarin dan waktu itu aku agak memaksamu untuk ikut denganku" Eza menghela napas pelan.


"Maaf, saat itu aku terkejut saat tahu bahwa kau sudah menikah dan tanpa memberi tahuku. Jadi aku malah bertingkah memaksa kemarin!!" Eza menggaruk kepala nya yang tak gatal, dia cengengesan tampak dari luar. Namun, dia menahan mati-matian perasaan kecewanya dan sakit hatinya.


Rhea menoleh pelan "tak ada masalah apa-apa Eza. Aku baik-baik saja, hanya terkadang aku merasa banyak keraguan pada diriku" Rhea kembali tertunduk pilu.


"huh!! ini seperti bukan dirimu tahu?!. Rhea wanita ceria yang kukenal tak pernah sekalipun di wajah cantiknya merenggut sedih, apalagi sampai meneteskan air matanya!!" Eza menatap langit-langit rumah sakit.


"aku ingat saat kau berkata 'aku sangat anti meneteskan air mata untuk hal tak penting. Tapi Eza saat kau melihat aku menangis maka saat itu aku benar-benar terpuruk saat itu hibur aku' kau ingat, kau mengatakan itu saat perpisahan di sekolah dasar dulu" Eza tersenyum kecut melirik Rhea.


Rhea tersenyum kecil, tangannya mengusap pelan air mata yang mulai menetes "benar sekarang aku tak baik-baik saja!!" lirih Rhea semakin tertunduk.