Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 8


Di ujung jalan Sekar sudah melihat Kak Agung jalan mendekat ke arah mereka.


Mawar kaget melihatnya dan jantungnya berdetak tidak karuan untuk kesekian kalinya setiap melihat lelaki yang sedang berjalan ke arahnya dengan mempesona.


“Mawar.... ada yang mau aku omongin sama kamu” kata Agung


Sekar sudah paham dan akhirnya dia pamit, jarak sungai ke jalan poros tempat Sekar memparkir sepedanya lumayan jauh.


“Eeh Kak Agung mau ngomongin apa Kak, kok jauh banget sampai sungai” menjawab terbata - bata sambil berusaha menstabilkan nafasnya.


Agung mengulurkan tangannya ke Mawar untuk menuntunnya duduk di bebatuan sungai, akhirnya Mawar nurut. Mereka duduk dengan jarak yang antara selangkah jarak langkah kaki.


“Mawar,, hufff,, mmm.. Mawar.. beberapa hari ini kamu sadar nggak, kita sudah banyak ngobrol banyak hal, kakak juga sudah banyak nilai kamu dan kamu mendapat angka 100 dari semua sisi, Mawar jujur....


Kakak dulunya banyak kenalan cewek, tapi tidak sampai membuat jantung kakak seperti ini dan kakak juga sangat nyaman sama Mawar, kakak tidak mau ngajakin kamu pacaran karena kakak sudah yakin dengan hati dan pilihan kakak, Mawar Zulaikha Prasetya maukah kamu menjadi istriku? menungguku untuk datang kembali meminangmu? jika iya, besok aku akan kembali dan mengurus segalanya,


berikan aku waktu dua minggu dan aku akan kembali meminangmu, Mawar Zulaikha Prasetya apakah kamu menerima lamaranku?" Agung to the point.


Mawar diam mendengarkan dengan sangat jelas, dengan jantung yang berdetak cepat, tangannya gemetar dan pikirannya seakan akan kosong seketika dan merasa waktu berhenti berputar saat itu juga. Saat pria yang berada didepan nya mengatakn “Mawar Zulaikha Prasetya, maukah kamu menjadi istriku?” rasanya Mawar mau nyebur saja lansung ke sungai hahah sorry author ngakak terbawa suasana.


“Mawar...” Agung membuyarkan hayalan Mawar dengan memanggil namanya.


Mawar diam seribu Bahasa, dia Nampak masih syok mendengar pengakuan Agung, wajah Mawar masih kebingungan, sedangkan Agung yang sejak tadi menunggu jawaban Mawar pun ikut terdiam dengan pikiran yang berkecamuk, Agung sudah was – was dengan jawaban kemungkinan akan mendapatkan penolakan.


“Apa yang harus aku lakukan, apakah aku tolak saja? Tapi aku menyukai kak Agung, bukankah akhir hubungan kami akan bahagia jika kami bersama, tapi bagaimana dengan tujuanku, cita - citaku, tapi jika aku sukses tanpa Kak Agung di sampingku, rasanya juga mungkin akan hampa, sebaiknya aku terima saja, bukankah ini rejeki juga dari Allah untuk membahagiakan orang tuaku, toh Kak Agung juga orangnya baik, cerdas, Kak Agung juga gantengnya pake banget, tinggi, putih, sispek, hmmmm perfectlah” batin Mawar.


Pendapat wanita saat usia 17th membuat keputusan ingin menikah. Karena cinta dan karena penampilan.


“Kak Agung, Mawar.....” Mawar dengan nunduk ingin melanjutkan ucapannya,


Agung tidak sabar mendengar ucapan Mawar selanjutnya dengan was - was takut mendengar kata penolakan.


“Mawar mau jadi istrinya kakak”ucap Mawar


Agung yang mendengar dengan mata berbinar tidak percaya, Agung melompat kecil “YESSSSSS” keluar dari mulutnya, rasanya Agung ingin memeluk Mawar tapi Mawar lansung menahannya. Mereka salah tingkah kembali, tak lupa Agung mengambil sesuatu di saku celananya dan menarik tangan Mawar, sebuah cincin yang di sematkan ke jari manis Mawar dengan pas.


Mawar sangat terpesona dengan benda kecil yang tersemat di jemarinya melihat itu, Agung kembali meyakinkan Mawar,


“Mawar Kakak ingin kamu memakainya, ini untuk pembuktian sementara, tunggu aku,


jangan dilepas supaya tidak ada yang berani melirikmu, Mawar aku akan kembali membawa dengan permata yang lebih indah dari apa yang kau pakai saat ini,” kata Agung


“Iyaa Kak “ jawab Mawar patuh dengan pipi yang merona, sedangkan Agung yang melihat itu muncul dengan ide gombalannya.


“Mawar, tatap mata kakak, apakah kamu menyukai kakak?” tanya Agung


“Iya…… Mawar suka Kak Agung”, Mawar menjawab dengan menatap Agung


“Boleh Kak, semampunya yaa…” balas Mawar dengan senyuman


“Mawar, bisakah kamu memanggil kakak dengan sebutan Mas?" Agung menunggu Mawar


“M-m as,,, Mas Agung” jawab Mawar


Agung mendengarnya sangat bahagia, tanpa terkontrol lagi Agung lansung mencium kening Mawar, membuat Mawar kaget bukan main. Tapi saat itu tanpa terduga ada beberapa orang yang melihat adegan tersebut.


Salah satu dari mereka meneriaki dengan memanggil nama Mawar sangat keras. Membuat keduanya kaget dan tak bisa mengatakan apapun.


...****************...


FLASHBACK


Setelah Sekar pamit dari hadapan Mawar dan Agung dia berlalu dan berencana keliling kebun milik Bapaknya yang tidak jauh dari tempat tersebut, Sekar memetik beberapa tangkai bunga embun yang mekar, “Semoga Kak Agung berhasil menyatakan cintanya dan mereka bahagia selamanya” gumam Sekar.


Tanpa Sekar sadari ada yang menguping ucapan Sekar di balik pohon besar itu. dia bersama saudaranya ingin menuju arah sungai untuk mencuci bakul yang penuh lumpur. Dia adalah Rosmini teman kelas Sekar dan Mawar, yang sudah sejak lama membenci Mawar karena dia iri dengan kecantikan Mawar, seetiap lelaki yang Rosmini sukai selalu menyukai Mawar. Dia geram dan akhirnya dia memiliki ide untuk membalas Mawar.


“Dasar sok cantik, akhirnya aku bisa menghancurkannya hari ini” gumam Rosmini.


Entah apa yang Rosmini pikirkan, tujuan utamanya ke sungai berubah haluan mengajak adiknya ke kebun dekat sungai yang dipenuhi banyak warna tengah siap - siap kembali ke rumah masing – masing.


“Dek, ayo ikut kakak, cepat” ucap Rosmini.


Akhirnya Rosmini tiba di salah satu kebun milik warga desa tersebut. Senyumnya mekar ketika melihat warga yang lumayan banyak serta Pak Adi Bapak Kepala Desa yang ikut berada di kerumunan tersebut, Rosmini yakin Bapak Kepala Desa sedang melakukan tinjauan yang selalu dia lakukan setiap hari.


“Hari ini, tamatlah riwayatmu wanita sok alim, sok cantik” dengan senyum jahat Rosmini.


...****************...


Rosmini akhirnya berlari dengan sengaja mengatur nafa nya, padahal jarak larinya dari warga tidaklah jauh, “Pak Adi, anu pak.. anu... saya mau melapor”.


“Ada apa Nak Ros, lapor apa?” balas Pak Adi


“Pak saya melihat di sungai ada warga yang sedang pacaran, berduaan, bermesraan,” kata Rosmini.


“Hah?! siapa Nak Ros?? kamu yakin? Bapak kenal semua warga Desa ini tidak ada yang berani berduaan, apa lagi mesraan di tempat sepi” balas Pak Adi.


“Wahh Pak Adi, ini bahaya bisa mencemarkan nama kampung kita dan bisa kampung kita kena sial kalau kaya gini” sahut warga yang lain.


“Saya juga nggak tau Pak, saya tidak melihat dengan jelas wajah mereka, tapi wanitanya pake hijab Pak, saya takut salah tebak, nanti Pak Adi saja yang mastiin benarnya informasi saya Pak” balas Rosmini


Bersambung….