Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 17


Saat Ryo menarik lengan Vanya, Vanya berhasil lepas dan Vanya berjalan cepat ke arah Mawar.


Tangan Vanya melayang ingin menampar Mawar, semua yang berada di tempat itupun tegang melihat Vanya ingin menampar Mawar, teman kelas Mawar tahu bahwa Mawar memang orang biasa, tapi dia disegani oleh teman - teman kelasnya karena Mawar sangat menjaga wibawanya.


Dengan sigap Mawar menahan tangan Vanya dengan tangan kirinya, sedangakan tangan kanan Mawar mencengkram kera baju Vanya dan mendorongnya mentok ke tembok.


“Pertama, kita tidak kenal, kedua aku tidak punya urusan dengan mu tapi jika kamu menyakitiku seenaknya tanpa alasan yang jelas aku tidak akan meminta maaf dan akan membalas mu, ketiga jika kamu marah karena lelaki itu, ambillah aku tidak butuh, jangan khawatir, jadi jangan cari masalah denganku”. ucap Mawar.


Mawar melepaskan tangannya dan berlalu membawa tas dan bukunya, dia beranjak kembali ke rumah yang ia tinggali saat ini.


Suasana kelas diam dan hening, mengingat yang disaksikannya tak terduga, Mawar yang terlihat biasa


saja bisa seperti itu dengan tatapan matanya yang tajam saat marah, sangat susah di gambarkan.


Sekali lagi Ryo tambah tergila – gila dengan Mawar, karena menurutnya itu luar biasa, belum ada yang bisa melawan Vanya, pikirnya.


“tunggu, apa yang dia katakan? tidak butuh denganku?” batin Ryo,


“Brengsek, berani nya dia melawanku, tunggu pembalasanku” umpat Vanya.


...****************...


Mawar merebahkan diri dalam kamar yang tak terasa beberpa bulan ini Mawar huni, Mawar mengingat kembali sejam yang lalu di kampus, Mawar hanya menghela nafas dan berusaha memejamkan matanya sejenak sebelum memulai aktiftasnya untuk membersihkan Masjid.


Akhir-akhir ini Mawar juga di sibukkan dengan latihan bela diri, awalnya Mawar hanya menjadi penonton saat para santriwati belajar bela diri dihalaman Masjid setiap sore, tapi karena kebaikan Mawar selalu menyuguhkan minuman ke mereka, akhirnya Mawar di ajak bergabung untuk belajar bela diri.


Untuk jaga – jaga melindungi diri, akhirnya Mawar setuju untuk bergabung, Mawar juga akrab dengan guru bela diri santri tersebut yang ternyata seorang tentara wanita atau biasa dikenal dengan kowad.


Walaupun mereka akrab Mawar tetap menutup rapat diri, saat sedang ingin mengenal Mawar memberi pertanyaan seputar kampung halaman dan keluarganya, Mawar mengarang cerita supaya info keluarga tidak terlalu di ekspose, karena Mawar takut akan berakhir menceritakan kisah pilu yang selama ini dia ingin kubur dan lupakan.


Setelah membersihkan Masjid seperti biasa, Mawar siap – siap melaksanakan shalat berjamaah, setelah itu Mawar di hampiri oleh salah satu anak mengaji yang ada di masjid


“Kak Mawar di panggil Pak Ustad”


Mawar segera berlari karena dia tahu, yang memanggilnya adalah pak Imam Masjid, Ustad Yahya.


“Iya Pak Ustad, ada apa memanggil saya?” tanya Mawar


“Maaf Nak Mawar, ada yang Bapak mau sampaikan tapi rasa nya berat” jawab Pak Ustad


“Iya Pak Ustad, nggak apa – apa, silahkan aja Pak, nggak usah sungkan” timpal Mawar.


Mawar dengan hati yang cemas, “Ada apa yah, tumben sekali Pak Ustad seperti ini”. Batin Mawar.


“Begini Nak Mawar, ada donatur yang menyumbang dan dia ingin mengubab Masjid kita ini sedikit lebih besar, rancangan gambarnya sudah ada dan dalam waktu tiga hari lagi sudah akan mulai di kerjakan, nah yang nak Mawar tempati saat ini juga akan di runtuhkan dan akan di jadi lokasi Masjid” ucap Pak Ustad


“Ya Tuhanku, berikan petunjukMU, tolong aku” batin Mawar dengan mata yang berkaca – kaca.


“Baiklah Pak Ustad, insyaa Allah saya akan menemukan tempat tinggal yang baru dalam dua hari ini” balas Mawar.


“Maaf Nak Mawar Bapak juga berat, bapak mau ajak nak Mawar ke rumah tapi istri Bapak masih ada di luar kota, tapi insyaa Allah Bapak akan membantu mencarikan tempat tinggal yang baru untuk Mawar” ucap Pak Ustad.


“Makasih Pak Ustad, maaf saya merepotkan” balas Mawar.


Mawar berlalu, masuk ke kamarnya untuk meluahnya pilu tangisnya, merintih dengan diri nya “Ya Allah, nasibku, mengapa seberat ini dan lagi Engkau memberiku bab yang baru, apakah kurang cukup memisahkan aku dengan bapak dan ibu?” tangis nya pecah, ada asa disana, asa yang tak tertahan, dia bingung sedangkan uang yang dia simpan sedikit lagi, dimana dia mendapatkan rumah seharga itu.


Mawar merapikan pakaiannya dan beberapa bungkusan Mie instan pun Mawar masukan kedalam tas nya. Serta buku - buku yang dia masukan ke kantongan, Mawar bersiap - siap untuk perpindahan nya. Dalam tiap doa Mawar dia hanya meminta di kuatkan dan di beri kesehatan untuk kedua orang tua nya dikampung.


Doa subuh Mawar


“Ya Rabbku, subuhmu indah, hidup yang fana ini ku sambut dengan indah, terasa pahit tapi yakin ku akan diriMU tak pernah pudar, Tuhanku Maha cinta, lindungi bidadari bumiku, ibuku dan bapakku, kuatkan mereka dan kuatkan aku. Hanya itu, tapi bolehkah kukatakan, aku sedikit lelah? aku lelah.”


Doa Mawar yang selalu bercengkrama dengan PenciptaNya.


...****************...


Mawar ke kampus, disana semua siswa menatapnya dan menjauhinya. Mawar yang jalan seperti biasanya tidak peduli walaupun sempat berpikir “Mereka kenapa ya? apa ada yang salah denganku? “.


Mawar berada didepan pintu kelasnya, membuka pintu dan ..


Brakkk....


Kepala mawar di penuhi dengan terigu. Kembali menjadi pusat perhatian di kalangan mahasiswa di lingkungan kampus, sedangkan dari sudut lain ada yang tertawa melihat kejadian itu, teman kelas Mawar tidak ada yang berani membantu nya karena Trio Princess yang ketua Gengnya Vanya, adalah ponakan dari direktur kampus, Vanya juga dari keluarga kaya yang memiliki pengaruh, tidak ada yang ingin berurusan dengan nya, karena Vanya selalu melakukan sesuka hati, tidak takut dengan teguran, ancaman bahkan aturan kampus, itu tidak penting karena Vanya mengandalakan nama besar keluarganya.


Mawar melangkah dan tidak memperdulikan, informasi Mawar tengah di kerjai oleh Trio Princess sudah menyebar ke seluruh Fakultas dan sangat heboh.


“Ehh ehh kamu udah denger belum Mawar yang anak administrasi itu, hari ini dikerjai abis abaisan sama Trio Princess” ucap bebrapa mahasiswa


“Mawar? yang terkenal anak cantik nya administrasi angkatan junior kita yah?” balas yang lain


“Iyaa yang itu, yang jelas dia cantik deh, aku pernah liat dia sekali tapi percuma, anak nya susah di deketin” sahut yang lain.


Mereka sibuk membahas tentang Mawar, tiba tiba Dion mendekat melempar tas nya ke teman kelas nya itu.


“We yooo, ngerumpi apa kalian, nyaingin anak cewek aja” teriak Dion yang berjalan tengah mendekat.


Bersambung…