
“Haii nama gue Dion, lu cari siapa? dari tadi gue liat lo celingak celinguk aja” sapa Dion
“Eh anu, saya cari ruangan kantor untuk daftar beasiswa Kak Dion” jawab Mawar
“Ohh gitu, anak baru yaa, sini aku temenin, emang kamu dari sekolah mana? trus mau ngambil jurusan apa?” tanya Dion
“Saya dari SMAN #####, mau ambil beasiswa jurusan Administrasi Kak” jawab Mawar
“Wah jauh juga yah, berarti baru dong di kota ini, hati – hati yah, jangan cepat percaya orang disini” kata Dion
“Maksudnya termasuk Kak Dion juga?” jawab Mawar
Dion menganga tidak percaya dengan ucapan Mawar sambil tertawa
“Hahaha iya boleh juga, jangan percaya sama gua, sini gua bantu, ikutin ya, jangan sampe nyasar “. Mawar ikut sedikit tertawa mendengar Dion.
Dion yang melihat Mawar tertawa seketika terpana melihat Mawar.
Tanpa senyum yang merekah Mawar sudah mencuri perhatian, apa lagi saat ini terpampang senyum cantiknya yang sangat jelas, “Dionn apa’an sih, udah ahh, niat bantuin nggak sih” batin Dion dengan berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari dunia mimpi.
Akhirnya tiba diruangan administrasi, Mawar mengurus semuanya, Mawar sangat beruntung dengan wali kelasnya ibu Wiwi yang mengirim segala kebutuhan data Mawar ke kampus membuat Mawar sangat terbantu, Mawar hanya datang mengkonfirmasi penerimaan beasiswanya dan dia juga meminta file ijazah yang telah Bu Wiwi kirim ke website kampus.
Mawar mengambil handphone miliknya dari balik saku, Mawar menelfon ibu Wiwi yang sebagai wali kelas nya itu,
”Halo Bu, makasih banyak Bu, Mawar sudah tiba dikampus, alhamdulillah semuanya sudah selesai”
ucap Mawar
“Maafkan ibu, ibu baru tau masalahmu, ibu ikut prihatin, ibu kemarin kerumah kamu meminta data kartu keluarga dan menemukan ibu Dewi sakit, akhirnya ibu baru tau semuanya, ibu percaya sama kamu Mawar” ucap bu Wiwi.
Mawar tiba-tiba menangis sesegukan tak terbendung, Mawar berlari ke samping sebuah ruangan dan menunduk untuk menenangkan diri mendengar ibunya sakit.
“Bu, tolong jagain ibu Mawar, beri tahu ibu kalau Mawar baik – baik saja disini, Mawar mau kuliah, dan tolong beri mereks semangat, untuk Bapak sama Ibu saya Bu, agar mereka bisa menjalani semuanya dengan kuat, jangan sakit” kalimat terakhir lirih namun membuat air matanya berderai deras.
Begitupun ibu Wiwi menangis mendengar anak wali kesayanagnnya itu bercerita dengan kisahnya yang pilu “Tenanglah War, Ibu akan menyampaikannya dan kamu harus kuat, kamu pasti bisa melewatinya” jawab bu Wiwi.
Tiba tiba telfon terputus, handphone Mawar kumat lagi, tiba - tiba tidak aktif sama skali. Dan hanya bisa nyala kalau di charger seharian, sedangkan saat aktif hanya sejam saja.
“Kak Dion, makasih yah atas bantuannya, saya pamit dulu”ucap Mawar
“Whh iya, sama sama”
“Assalamualaikum” Mawar berlalu.
Batin Dion “Humm matanya bengkak, dia habis nangis, hidungnya memerah,tapi kenapa harus nangis? Apa yang terjadi? ohh Tuhan betapa cantiknya dia, ehhh siapa namanya? shiittt!!! Aku lupa menanyakannya dan di mana alamatnyaa,, ohhhh Dionnnnnn kau bodoh, bagaimana kau akan mencarinya dengan ribuan mahasiswa di Fakultas Administrasi”, sambil nepok jidat.
“Ya Rabbku langkahku sudah sejauh ini, kumohon perlindungan-Mu untuk ku, untuk kedua orang tuaku, dan kesehatan untuk kami semua, mampukan aku melewati segala cobaan yang Engkau beri dan sekali lagi ku mohon jaga ibu dan bapak, kuatkan hati mereka” doa Mawar dengan berderai air mata.
...****************...
Setelah ritual ibadah Mawar usai, Mawar kembali ingin beranjak dari Masjid tersebut tapi matanya tertuju dengan ruangan disamping Mesjid yang tertulis
“Di cari marbot Masjid, tukang bersih-bersih, di lengkapi fasilitas tempat tinggal,”.
Ruangan tersebut layaknya kosan, yang dalam ruangan tersebut hanya kasur dan dispenser serta toilet, sebagai Fasilitas lengkap.
Mawar bergegas menemui pengurus Masjid yang ternyata juga adalah Imam Masjid tersebut.
“Assalamualaikum Ustad, saya mau tanyakan perihal pengumuman yang tertempel di sana” sambil menunjuk arah ruangan disamping Masjid
Ustad Yahya yang umurnya sudah sekitar 60-an, janggut putih dan rambut putih, dia menjawab
“Waalaikumsalam Nak, iya itu benar, kami sedang mencari orang yang bisa nyapu dan bersihin Masjid, karena yang lama sudah punya kerjaan lain” ucap Ustad Yahya
“Pak Ustad apakah saya bisa mendaftar Ustad? Saya bisa bersih bersih Ustad?” Mawar dengan penuh harap
“Oh iya Nak, asal orang tuamu setuju” sahut Ustad Yahya
“Iya Ustad, orang tua saya pasti setuju, dan mereka saat ini berada di kampung, saya ke sini mau kuliah dan jika saya diterima itu bisa membantu saya menghemat uang saku yang bapak dan ibu saya kasi Ustad dan saya akan merasa aman juga disini dan jarak kampus juga deket hanya” jelas Mawar
“Baiklah kalau begitu Nak, ini kuncinya, besok kamu bisa mulai, dan gajinya....” belum selesai Ustad berbicara tapi Mawr sudah menyahutnya lebih dulu, Mawar tidak ingin mendapatkan gaji hasil membersihkan Masjid, karena Mawar pikir itu adalah sebuah keharusan bagi umat Muslim.
“Saya tidak butuh gaji dari membersihkan Masjid Pak Ustad, saya hanya butuh tempat bernaung, insyaa Allah saya mau cari kerja sampingan yang lai nya di waktu luang selain membersihkan Mesjid dan kuliah”
Pak Ustad menyetujuinya dan menyerahkan kunci ruangan tersebut kepada Mawar.
Mawar merasa lega dan berucap syukur dalam hatinya, sampai sini dia sudah aman. Mawar lansung membuka pintu ruangan tersebut dan merebahkan dirinya di atas kasur, walaupun sedikit nyaman di banding kasurnya di kampung tapi tetap dia menyukai rumahnya yang dikampung.
Mawar menatap langit - langit ruangan dan membayangkan perjuangannya sepanjang perjalanan, saat Mawar menahan lapar, rasa takut sendirian. Mengingat kedua orang tuanya, air mata Mawar mengalir tiada henti, relung hatinya sakit, mengingat Agung, rindu sapaan sahabatnya Sekar, Mawar menangis sampai dia tak sadar tertidur.
Dalam tidurnya bayangan Agung dengan kalimat “MAWAR ZULAIKHA PRASETYA MAUKAH KAU MENJADI ISTRIKU ? bayangan orang tuanya menangis, saat tamparan mendarat ke pipi mulusnya, kata - kata ibu Agung yang menyakitkan, tatapan masyarakat, cambukan yang masih terasa di pungungnya.
Membuka lebar luka yang amat dalam dihati dan pikiran Mawar.
dadanya kembali merasa sesak, Mawar tiba – tiba terbangun bagai tersengat listrik, sambil menangis menahan sesak, wajahnya pucat dan dia menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, mengurangi rasa sakit dan sesak di dadanya.
Mawar mencoba kembali mengatur nafasnya sampai akhirnya membaik.
Keadaan Mawar dalam hal ini seakan dia akan mengidap suatu penyakit.