
Orang tua Mawar sadar akan perubahan itu, mereka sudah mencurigai anaknya sedang di landa kasmaran, tapi mereka percaya Mawar bisa dipercaya. Karena mereka mendidik Mawar dengan baik selama ini. Mereka tidak pernah mencari tahu siapa yang membuat anak kesayangannya itu berbunga – bunga, orang tua mawar menganggap itu normal bagi remaja karena mereka telah melaluinya.
Walaupun Mawar sedang kasmaran dia tidak pernah mengabaikan sahabatnya itu, Mawar selalu mendengar curhatan Sekar yang selalu ingin dekat dengan ketua Osis sekolahnya, walaupun alhasil tidak sesuai yang diinginkan karena ketua Osis tersebut selalu menolaknya dengan berbagai alasan.
‘Imam, kenapa kamu nggak suka sama aku, aku kurangnya apa, kamu ngomong supaya aku ubah” tanya Sekar dalam telfon
“Sekar maaf, aku jahat sama kamu, tapi aku juga nggak bisa maksa perasaan aku ke kamu, aku udah anggap kamu sahabat aku, nggak bisa lebih” balas Imam si ketua Osis
“Imam, aku udah bosan denger kalimat itu, plis kasi aku alasan untuk benar – benar bisa lepasin kamu, atau apakah kamu suka sama seseorang?” balas Sekar
“Sekar, kalau akau ngomong apakah kamu akan musuhin aku atau dia?” tanya Imam
“maksud kamu apa mam?dia siapa? benner kamu suka sama seseorang?” balas Sekar
“Iya Sekar, aku sudah lama suka sama dia tapi aku nggak berani ngomong, hmm tapi aku juga ngehargai kamu” ucap Imam
“Kalau gitu aku nggak bisa ngarep lagi sama kamu Mam? Siapa dia mam, kasi tau aku, setidaknya aku akan sedikit lega dan menjauh kalau udah tau” Sekar dengan mata berkaca –kaca menahan sesak di dadanya.
“Sekar maafin aku, sebenarnya aku suka sama Mawar udah lama, tapi aku nggak berani ungkapin ke dia” ucap Imam
Tak terasa bendungan yang tertahan akhirnya mengalir deras, saat orang yang di sukainya menyukai sahabatnya sendiri, rasanya sangat menyakitkan, jantung Sekar sakit, sesak, nafasnya tak karuan, mulutnya kaku tak bisa mengatakan apa –apa lagi, membayangkan selama tiga tahun dia mengejar Imam, melihatnya dari jauh, kadang Imam bersikap manis yang ternyata hanya untuk Mawar, Sekar baru menyadari setiap senyum yang diperlihatkan Imam hanya untuk Mawar bukan untuknya, Sekar semakin sesak dan membenamkan wajahnya ke bantal dan mematikan telfon genggamnya.
Imam sangat bersalah ke Sekar, tapi dia harus jujur setidaknya dia merasa lega, agar sekar berhenti untuk mengejar dirinya, Imam juga merasa iba dengan Sekar tapi perasaan tidak bisa dipaksakan.
...****************...
Di teras rumah, Agung sedang telfonan dengan Mawar
“Mawar, gimana. Beasiswanya, dapet kan? nggak lama lagi kamu akan jadi mahasiswi, pasti banyak yang bakalan naksir kamu di kampus, kamu kan cantik” ucap Agung
“Kak Agung bisa aja, cantik apa nya, biasa aja kok,, hmmm blum tau Kak, insya ALLAH diberi kemudahan” balas Mawar
“Oh yaa, hari ini Sekar aneh deh, dia dikamar terus, biasanya kalau kita telfona dia selalu gangguin kita” ucap Agung
“Iya yah, dia kenapa, apa dia sakit?”balas Mawar
“Udahlah besok aku tanyaain dia, kita bahas masalah kita berdua saja dulu haha” ucap Agung yang tengah di mabuk cinta
...****************...
Esok paginya, Agung melihat Sekar duduk diteras sambil ngayal.
“Heyyy, ngapain ngayal pagi – pagi awas kesurupan, trus itu mata kamu bengkak kenapa, digigit nyamuk ?? atau......... abis nangis ya?” tanya Agung
“Ada apa Sekar, siapa yang membuatmu menangis, kakak akan tonjok dia” Agung sedikit menahan emosi melihat Sekar menangis, karena dia sudah menggap Sekar seperti adik kandungnya sendiri.
“Imam Kak, Imam yang pernah aku ceritain, dia menolak aku dan dia ternyata menyukai Mawar selama ini” Sekar menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan menangis sesegukan.
Agung hanya diam mendengarnya dan dia sedikit geram mendengar ada lagi yang menyukai Mawar, sebelumnya sudah banyak info yang dia dapatkan bahwa banyak yang menginginkan Mawar, pemuda di kampungnya, kampung tetangga dan bahkan teman sekolahnya, tidak heran karena dari parasnya, kebaikannya, orang tua yang baik, ditambah dia soleha. Gerutu Agung dalam batinnya.
“Kalian sudah pacaran nggak sih, selama ini sudah dekat tapi aku belum mendengar Kakak nembak dia,”kata kata Sekar menyadarkan Agung bahwa selama ini dia belum meresmikan hubungannya dengan Mawar.
“Sekar mau bantuin kakak nggak”ucap Agung
“Bantuin apa?” balas Sekar
“kakak mau nembak Mawar, meresmikan hubungan kami, kakak punya ide tapi harus bantuan dari kamu, ajak Mawar ke sungai, kakak tungguin kamu disana, gimana ?” kata Agung
“Baiiklah Kak” balas Sekar
Sekar membersihkan diri lalu bersiap - siap ke rumah Mawar sesuai yang direncanakan, sedangkan Agung berangkat lebih dulu karena ingin menyiapkan hadiah kecil untuk Mawar.
Agung ingin membeli sebuah cincin, berhubung laporannya selesai, dia akan segera kembali, Agung khawatir saat dia kembali ke Kota Mawar ada yang melamar, Agung ingin membeli cincin sebagai tanda bahwa dia serius, dia akan kembali meyelesaikan kuliahnya dan kembali lagi ke desa menjemput Mawar untuk di jadikan istri.,
Tanpa berpikir panjang Agung menaiki motor milik Pamannya ke Pasar untuk membeli sebuah cincin emas sebagai tanda pengikat keseriusan.
Sekar tiba dengan sepedanya dirumah untuk mengajak Mawar siap - siap untuk ke Sungai, tapi Sekar menyuruh Mawar dulu mandi dan sedikit berdandan, setelah selesai Mawar kelihatan berseri dengan jilbab putih yang dikenakan, sedikit pelembab di bibir merah merekah serta tipis, kulit putih dengan baju longgar khas wanita ayu.
Sekar pun sedikit takjub “Pantas Imam sangat menyukainya karena memang Mawar pantas mendapatkannya, aku tidak sakit Imam menyukai Mawar, karena jika itu membuat sahabtku bahagia, nggak masalah, tapi yang membuatku sedih adalah mengapa Imam baru memberitahunya sedangkan perasaanku sudah semakin dalam untuknya, mungkin bukan jodoh, aku harus ikhlas.” Batin Sekar.
...****************...
Sepanjang jalan meraka kembali tertawa dan membahas banyak hal, termasuk mengapa Sekar menangis, tapi Sekar tidak ingin memberi tahu Mawar, memberitahukan juga tidak akan memberi solusi, hanya membuat sahabatnya cemas dan merasa bersalah, jadi Sekar hanya menjawab dengan guyonan bahwa matanya di gigit nyamuk tampan hahaha.
Berjalan melewati hutan dan semak,akhirnya mereka tiba di sungai yang disuguhi pemandangan yang sangat indah.
“Sekar ngapain sih kita ke sungai ? berenang? kan tadi udah mandi" tanya Mawar.
cuaca semakin sore semakin dingin walaupun itu masih pukul 14.00 tapi matahari enggan memperlihatkan cahayanya.
Di ujung jalan Sekar sudah melihat Kak Agung jalan mendekat ke arah mereka.
B. e. r. s. a. m. b. u. n. g…