
“Apa Dokter ? bagaimana bisa Mawar bisa hilang ingatan ?” tanya Sean dengan sedih dan kesal bercampur menjadi satu.
“Iya Tuan, kemungkinan besar akan seperti itu karena ada penekanan di bagian saraf otak nya” sahut Dokter.
Orang tua Mawar masih bingung, akhir nya Dokter dan semua orang yang berada di sana menjelaskan akar permasalahan nya secara mendetail, Sekar dan kedua orang tua Mawar menangis mendengar nya.
“Tolong tuan saya ingin bertemu anak saya” ucap bu Dewi
Sean berdiri dan melangkah di balik pintu yang besar, Sean membuka nya dan mereka semua melihat Mawar sedang terbaring dengan bantuan alat pernapasan. Pak Pras dan bu Dewi, berdiri, melangkah dengan tertatih, bagai jasad yang berjalan, nyawa nya entah melayang kemana.
Pak Pras mendekat bersama istri nya, menatap lekat anak satu - satunya yang selalu mereka rindukan.
Bu Dewi mendekat memegang tangan anak nya.
“Mawar....”dengan derai air mata
“Mawarrrr,,,” dengan sesegukan
“Mawar anakku, ini Ibu nak, ibu datang sayang...” ucap bu Dewi
“Mawar bangun nak, apakah kau tak rindu?”
Sedangkan pak Pras, seorang Bapak yang kadang menyembunyi kan air mata nya, saat itu tak bisa membendung air mata nya.
“Mawarrr... Mawar anak ku...” ucap pak Pras dengan suara getar dengan isak tangis.
“Mawar Zulaikha anak ku....” sembari memegang kaki anak nya yang terasa dingin.
“Mawarr, ini Bapak Nak... bangun lah demi Bapak...”
“Apakah kau tak rindu dengan Bapak?” tangis pak Pras.
“Maafkan Bapak,….Bapak yang salah,, Bapak tak mampu melindungi mu, karena ketidak mampuan Bapak kamu jadi begini” ucap Pak Pras dan tangis nya pecah.
Semua yang menyaksikan itu menangis, Sean pun tak terkecuali “Mawar kamu kuat, kamu bisa, kumohon kembalilah” batin Sean.
Air mata Mawar mengalir, Dokter melihat nya berlari dan memeriksa kondisi Mawar, semua orang panik.
“Syukurlah, sudah ada respon” ucap dokter Diana
Saya harap semua nya tetap menemani Mawar, mendukung nya, di alam sadar Mawar mendengar apa yang kita semua ucapkan.
...****************...
Semua nya sepakat menjaga Mawar, karena ruangan itu memeliki beberapa ruang kamar, hanya Sean dan kedua orang tua Mawar yang berada di ruang rawat Mawar. Sedang Kakek dan Nenek Yoland beserta kedua orang tua Sean, memberi waktu kepada kedua orang tua Mawar melepas rindu dengan anak nya, mereka semua berharap Mawar segera sembuh.
Sudah larut, semua nya sudah terlelap, tapi tidak dengan Sean.
Mata Sean enggan untuk terpejam, membayang kan Mawar meninggalkan nya selalu terbayang dalam pikiran nya, Sean berwudhu dan shalat tahajjud untuk pertama kali nya.
Doa Sean pertama kalinya dengan menadahkan tangannya :
“Banyak yang mengatakan Engkau berada di atas sana, mendengar doa dan mengabul kan doa, aku yang pendosa ini menghadap kepada-Mu, memohon dengan tulus, berikan kesembuhan padanya, orang yang kucintai, bisakah untuk kali ini Engkau mengabulkan nya? kumohon, jika karena aku pendosa Engkau ingin menghukum ku, kumohon jangan mengambilnya dariku, ambil aku saja, dia sudah cukup menderita, izinkan aku kali ini memperbaiki segala nya, beri aku kesempatan”
Setelah berdoa Sean mendekati Mawar dan mencium kening nya.
“Mawar apakah aku tidak bisa menjadi alasan mu bangun? apakah kau tidak merindukan ku?” ucap Sean.
Jari jemari Mawar merespon, Sean melihat nya mencium jemari Mawar dan sangat bahagia, setidak nya Sean tahu Mawar mendengarkan nya.
...****************...
Beberapa hari berlalu, kedua orang tua Mawar dan Sekar selalu berada dekat dengan Mawar, mereka bercerita tentang masa – masa bahagia di kampung, sesekali kakek Prabu dan yang lain nya ikut nimbrung.
Di sela – sela mereka berusaha untuk membangunkan Mawar, tiba – tiba Sean jatuh pingsan, semua orang melihat nya kaget dan berlarian memanggil Dokter, semua keluarga semakin sedih karena dua orang yang mereka sayangi sedang sakit.
Sean sedang berada di ruangan lain, sedang tertidur dengan infus di tangan nya, Sean kelelahan mengurus perusahaan dan Mawar yang sedang sakit. Sean jarang makan, tidak merawat kesehatan nya, semua yang mendengar penjelasan Dokter ikut sedih.
Ibu Dewi berlari ke ruangan Mawar. Semua yang melihat nya mengikuti langkah bu Dewi, bu Dewi tiba tepat di hadapan Mawar.
“Mawarrr anak ku, bangunlah, buka matamu, suamimu sedang bertarung dengan hidup nya, apakah kau ingin kehilangan dia? Mawar bangunlah, liat suami mu yang terbaring lemah karena mu, Mawar bangunlah, jika kau tak bangun, kau akan kehilangan suami mu” tangis bu Dewi sambil sesekali mengguncang kan anak nya yang tengah koma.
Beberapa saat kemudian, Mawar membuka mata nya, semua yang melihat terkejut, Sekar berlari memanggil Dokter.
Dokter memeriksa keadaan Mawar, semua nya berucap syukur karena Mawar berhasil melewati masa kritis nya, sementara Mawar belum bisa mengeluarkan suara nya karena belum cukup tenaga, Mawar harus istrahat dulu. Semuanya mengikuti anjuran Dokter.
Mereka memberi ruang untuk Mawar istrahat,
di tempat lain, Sean masih terlelap karena dokter memberinya obat tidur untuk beristirahat.
...****************...
Mentari menyinari ruang Mawar, Mawar berkedip dan di bangun kan oleh mentari pagi itu, Mawar melepas penutup oksigen di mulut nya.
“Mengapa badanku terasa sakit dan tidak bisa di gerakan” ucap Mawar
Nenek Yolan membuka pintu untuk melihat kondisi Mawar, nenek Yolan sangat terkejut melihat Mawar dengan posisi tengah duduk di tempat tidur nya.
“Mawarrrr cucu kuu” ucap Nenek Yolan dengan pekikan,
sambil mendekat dan memeluk Mawar.
“Nenek,,” balas Mawar dengan nada manja dan memeluk nenek Yolan
Semua yang mendengar nenek Yolan menyebut nama Mawar berlarian ke ruang perawatan Mawar, semua nya terkejut melihat nenek Yolan berpelukan dengan Mawar. Sedang Mawar melihat semua orang berdatangan, kaget dengan sosok yang sangat Mawar rindukan juga berada di sana.
Sean sadar, melihat jarum infus berada di tangan nya segera mencabut nya dan berlari melangkah dengan lemah ke ruang perawatan Mawar.
“Kenapa ruangan ini sepi, apakah semuanya berkumpul di ruangan Mawar?” gumam Sean sambil melangkah ke ruang Mawar.
Sean sangat terkejut melihat Mawar sadar, Sean sangat ingin mendekati Mawar tapi pandangan Mawar fokus ke pak Pras dan bu Dewi. Sean dengan sabar memberi mereka ruang.
“Bapak, Ibuuu...” air mata Mawar dengan deras mengalir, Mawar berusaha bangkit tapi kaki nya belum bisa di gerak kan, Mawar merasa kaki nya kaku, sedang pak Pras mendekat dan bu Dewi.
Mawar melihat dengan jelas wajah mereka, menyentuh wajh meeka yang keriput nya semakin terlihat jelas, jemari jemari mereka yang kasar dan beberapa luka gores, pundak yang dulu nya terlihat kuat menopang karung sudah tak terlihat kokoh lagi.