Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 26


“Di lantai delapan bayarannya cukup fantastis dan hanya dua unit di sana termasuk milikku, apakah dia mampu? Pasti dia memanfaatkan kakek untuk membayarnya” gumam Sean


Mereka berdua bersamaan keluar apartemen, membuat mereka bersentuhan.


Sean mengalah “Ladies first”, Mawar memutar bola matanya jengah.


Entah mengapa dengan gaya itu, Sean merasa aneh, terlihat mengesalkan tapi dia terlihat cantic.


Ahh susah dijelaskan. Mereka sudah berada di apartement masing - masing yang nyatanya mereka tetangga.


“Ini menyenangkan,”gumam Sean


Kakek Prabu dan istrinya selalu menerima laporan dari mata – mata mereka, mulai dari Sean yang mengistrahatkan Jet pribadinya, dia sudah betah di Negara ini, tidak pernah terlihat dengan wanita lagi, sedang Mawar mereka juga tahu Mawar diperlakukan tidak adil di perusahaan karena ulah Sean, tapi mereka bahagia, berarti Sean sudah mulai menyukai Mawar.


...****************...


Di apartemen miliknya Sean meraih telfon genggamnya dan menelfon Leon untuk membawa semua pekerjaannya yang dirumah utaman miliknya di pusat kota ke apartemen, pakaian bebarapa set setelan jas kerja dan pakaian santai, Leon juga di perintahkan membeli keperluan dapur untuk mengisi lemari es di apartement nya.


“Baik tuan” jawab Leon


“Apa lagi yang ia rencankan, ia semakin aneh humm” gumam Leon.


Sean duduk dan memikirkan rencana untuk mengerjai Mawar.


Dengan senyum Sean keluar apartemen dengan pakaian lengkap saat pertama datang, ia berdiri di depan pintu Mawar dan menekan bel rumah Mawar, tak lama kemudian Mawar membukanya dan Mawar kaget siapa yang di balik pintu apartemen nya.


Tanpa basa basi Sean lansung masuk ke ruangan apartemen Mawar dan duduk di depan TV, Mawar kaget di buatnya, Mawar mengikutinya masuk dan melihat Sean sedang nonton dengan kaki di atas meja.


Mawar masih dengan balutan mukenanya berwarna hitam, karena marah wajah Mawar sekejap merah.


“Apa yang kau lakukan tuan Sean terhormat, apakah begini car mu bertamu di rumah orang?” Ucap Mawar Ketus


“Hey you, apakah kau tidak mengingat kebaikan kakeku padamu? hanya hal seperti ini kau sudah marah” balas Sean


“Apa yang ingin kau lakukan, bukankah tuan Sean terhormat juga memiliki ruangan, silahkan keluar, saya mau istrahat, pintunya ada di sana” Mawar menunjuk arah pintu


“Aku lupa kode pintuku, jadinya aku tidak bisa masuk, aku akan nginap di sini,” ucap Sean santai


“Apaaaa???!!!!” mata Mawar terbelalak kaget


“Sudahlah, kenapa kau marah, kakeku saja menampungmu di rumahnya beberpa bulan aku minta tolong sehari kau keberatan, sekarang aku lapar” Sean berjalan ke dapur dan makan apa yang di masak oleh Mawar.”Sial masakannya sangat enak batin Sean.


“Hanya karena kakek Prabu aku menerimamu malam ini saja, dasar pria GILA, besok pagi aku sudah tidak ingin melihatmu di sini” Mawar beranjak ke kamarnya.


Sean menghentikan makannya dan dengan sigap Sean menarik tangan Mawar dan akhirnya Mawar posisi kedua tangannya di dada bidang Sean, menahan tubuh Sean, sedangkan tangan Sean melingkar di pundak Mawar dengan kuat, wajah sean mendekat


“Mawar kau pikir kau siapa mengataiku GILA, berani skali kau”.


Wajah Mawar memerah, detak jantung nya terdengar jelas, dia tidak mendengarkan lagi ucapan Sean, Mawar lansung menginjak kaki Sean lalu berlari kekamar nya.


...****************...


POV SEAN


POV MAWAR


Dasar lelaki gila, hanya karena dia tampan, aku tidak akan di tindas lagi oleh nya, aku harus menghindari nya,


dia berbahaya, saat dia memegang pundakku dengan erat, mengapa rasa nya sangat nyaman, apa semua ini.


...****************...


Malam semakin larut, tak ada lagi suara, ruangan yang di tempati Mawar sudah gelap berarti Mawar sudah tertidur, Sean di ruangan kamar menelfon Leon untuk mengatur segala keperluannya di apartemen miliknya.


Setelah itu Sean mandi, bayangan Mawar yang marah, senyum, gugup semua nya menyatu menari nari ria di ingatan Sean, Sean sepintas berpikir kotor untuk mencium Mawar, membuat bibir tipis nya sedikit membesar, karena Sean sangat yakin mawar belum pernah ciuman, nampak jelas bibir indah nya yang kenyal dan halus.


hayalan Sean yang membawa nya sampai ke alam mimpi


...****************...


Mentari terbit, seperti biasa Mawar sedang menyiapkan sarapan, kali ini Mawar menyiapkan dua porsi mengingat kebaikan kakek Prabu padanya, Mawar mencoba berbaik hati kepada Sean.


Saat Mawar sedang menyiapkan sarapan, Sean bangun dan mendengar Mawar sedang berperang di dapur karena terdengar sangat jelas suara gelas dan piring sedang beradu, “Pasti dia menyiapkan sarapan” gumam Sean.


Tiba - tiba senyum liciknya timbul, Sean kembali mencari ide untuk menjahili Mawar.


Dia menumpahkan air segelas di meja sudut tempat tidurnya kemudian Sean menjatuhkan badannya agak keras ke lantai, Mawar mendengar itu kaget kemudian dia mendekati pintu kamar Sean.


Tok


Tokk..


“Tuan Sean, apakah anda baik-baik saja?” ucap Mawar


“Mawar tolong...” suara lemah dan parau Sean


Dengan cepat Mawar membuka pintu yang sengaja tidak di kunci itu dan betapa kagetnya Mawar melihat Sean berbaring di samping tempat tidur dengan kesakitan di area perutnya.


Mawar cepat mendekatinya dengan panik. Sesekali menutup mulut nya karena panik.


“Ada apa ini, tuan kenapa? Aduuhh bagaimana ini ya Tuhan apa yang harus kulakukan..” Mawar panik


“Mawar perutku sakit, tolong aku, sakit Mawa….r” keluh Sean.


“Aduh apa yang harus aku lakukan,” Mawar yang panik bertingkah aneh, Mawar ingin berlari mengambil obat juga ingin dan memapah tubuh Sean yang besar itu secara bersamaan, Mawar tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu.


Sean yang melihatnya ingin tertawa tapi masih tetap menahannya.


“Tolong Mawar, papah ke tempat tidur, cepat perutku sakit aduh tolong” keluh Sean.


Mawar memapah badan kekar Sean dengan sedikit bantuan Sean, tapi sesekali Sean menindih Mawar dengan menyandarkan kepalanya ke Mawar dan akhirnya Mawar tidak bisa menahan berat badan Sean.


Sean terjatuh dan posisi Mawar berada di atasnya, tapi Mawar belum sadar dengan posisinya, Mawar tetap panik dengan keadaan Sean “Aduh maafkan aku, aduh masih sakit bagaimana Tuan, Tuan Sean maaf,”