Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 12


Sekar menangis, meronta di balik pintu kamarnya dan teriakan meminta di bukakan pintu kamar oleh ayahnya Pak Wijaya dan ibunya karena Sekar tahu saat itu Mawar sedang di hukum di Balai Desa.


Sekar bisa merasakan sakit yang di alami oleh sahabatnya itu, Sekar juga ingin memberitahukan Agung tentang Mawar, tapi hAndphone milik Sekar di ambil oleh orang tuanya.


“Mawar maafkan akuuu, maafkan aku,” sambil menjambak rambutnya dan memukul - mukul bantal dengan tangisan yang bercucuran.


...****************...


Di kota J sebuah rumah yang nampak mewah, di sudut ruang lantai atas dekat jendela, seorang pria yang sedang diam dengan lesu, memandang langit. Dengan linangan air mata, entah air mata penyesalan, ketidak berdayaan atau air mata cinta yang tulus.


“Agung apa yang kau lakukan, kau telah melukai gadis itu, dia gadis yang baik, mengapa kau memberinya masalah sebesar ini, apakah dia mampu menghadapinya? dia masih muda, bagaimana mungkin aku merusak nama baiknya, agung kau bodoh, kau brengsek, aaarggghhhh !!!” umpat Agung dengan dirinya sendiri.


“Mawar maafkan aku, kau baik - baik saja bukan? apakah kau akan memaafkanku? Mawar maafkan aku, aku benar mencintaimu, Mawar tenanglah dan tunggu aku, aku akan kembali setelah mengurus semuanya di sini, aku juga akan berusaha membujuk ibuku untuk menerimamu, Mawar maafkan aku.” Gumam Agung dengan isak tangisnya.


Agung tidak pernah tahu bahwa hukuman yang Mawar dapatkan sangat perih tak bisa di bayangkan olehnya, Agung berfikir setelah cambukan semuanya akan selesai, sedang Mawar di buang dari desa kelahirannya, di cibir dan di hina, Agung tidak akan mengerti karena dia menggunakan otak bukan hati, semuanya terjadi karena Penolakan darinya.


Jika saja Agung mampu meyakinkan ibunya dan memiliki keberanian untuk mengatakan untuk menikahi Mawar, Mawar tidak akan mendapatkan masalah sebesar itu. Agung sedari tadi memandangi handphone miliknya yang terletak di meja.


“Apakah Mawar akan marah jika aku menelponnya? apakah dia masih percaya denganku? sebaiknya aku memberikan waktu dan membuatnya tenang lalu menghubunginya dan menjelaskan semuanya”.


Sedangkan Mawar saat itu tidak memikirkan cinta lagi setelahnya, yang Mawar tahu adalah hatinya sakit, melihat orang sangat ia sayangi di dunia ini menangis karena ulahnya, karena cintanya.


Cintanya yang egois.


...****************...


Setelah Mawar menerima hukuman di Balai Desa, dia wajib segera keluar dari desa tersebut, Mawar memandangi wajah kedua orang tuanya yang sedari tadi menangis melihat penderitaan anak semata wayangnya itu. Melihat wajah malaikat yang dulunya terlihat sendu kini nampak pucat karenanya, Mawar kembali sesegukan dengan air mata yang tiada habisnya.


“Mawar anakku,...” ucap ibu Dewi dengan isak tangisnya begitupun dengan Pak Prass yang berlari memeluk anaknya.


“Mawar anakku, kamu anak Bapak, kamu kuat Nak, kuatkan pundakmu, Allah akan menuntun dan melindungimu Nak, ingat pesan Bapak sama Ibu.” Ucap Pak Pras.


Mawar hanya memeluk orang tuanya dan berlalu, tak ada lagi sepatah kata yang bisa Mawar ucapkan, hanya tangisnya yang tak bisa dia bendung, dengan tatapan nanar Mawar melangkahkan kakinya.


“Bapak, ibu, aku pergi, kumohon jaga diri kalian, Rabbku tuntun aku dan jaga mereka untukku, aku siap menerima takdirku, kumohon”. Batin Mawar


Dengan langkah berat Mawar beranjak, semua yang menyaksikannya, beberapa dari mereka mendekap


kedua orang tua Mawar yaitu Pak Prass dan bu Dewi yang sangat ia kenal baik itu, menguatkan pundak mereka, memberikan mereka semangat untuk melanjutkan hidupnya.


“Sabar Pak Pras, bu Dewi, semuanya akan berlalu, doakan Mawar, Mawar anak yang baik, dia hanya dapat cobaan saat ini” .


dan beberapa dari mereka mencibirnya “Udah nggak usah nangis, bikin nama baik kampung kita udah tercoreng”.


Pundak Mawar tak terlihat lagi dan ibu Dewi lansung pingsan. Akhirnya bu Dewi, di bopong kerumahnya untuk istrahat.


~ ~ 🌷🌷


IKLAN author


“Untuk awal dari sebuah perkenalan.


seperti udara pagi yang lembut tak menghasut,


indah..


membuat relungmu damai.


rasamu mengalir deras dalam setiap nadi yang dengan penuh arti,


rasa yang datang tiba – tiba menjadi penggugah jiwa,


kau tau


perasaan awal dalam perjumpaan.??


Awalnya biasa saja, lama - lama kamu akan terbiasa,


seperti magnet yang saling menarik,


senyum perkenalan yang seakan menghentikan waktu,


pikiran yang terus tersandera, melekat di dalamnya,


meluluhkan kesunyian,


menuntut,


jauh di dari dalam lubuk sana, ada sesuatu yang menggetarkan


yang tiap kali engkau melihatnya,


Mencari cara untuk terus berkata – kata,


tapi rasanya


Kaku membuatmu ragu,


Dalam renungan ku teringat rasa nya menyambut pagi dengan hayalan.


hayalan bertemu kekasih dengan menyambut pelangi,


hasrat akan terus menuntun untuk mempertemukan,


saling menatap dalam lamunan,


memancarkan rona malu kemerahan,


tak ada yang mampu berucap,


diam seribu bahasa,


melewati hari dengan lamunan.


Aku hanya manusia yang tak berilmu


Yang takkan pernah bisa, menjadi pelipur lara.


saat melihat daun kering berjatuhan


oleh angin kemarau yang sedang membelai diri,


aku terdiam terpaku


saat pilihan menyakitiku.


aku bertahan dalam di lema,


yang takkan pernha bisa kau pahami.


apakah semua ini takdirku?


goresan luka yang mungkin akan menjadi kenangan yang akan membuatku sadar kau telah hilang.


Ku langkahkan kaki ku dalam kegelapan…


Tanpa ku tau arah…


Dengan membawa segenap luka yang kau tinggal…


Langit telah berubah menjadi gelap berkelabu…


Setelah kau pergi tinggalkanku…


Mawar merah yang dulu kelihatan indah…


kini layu.


Wahai rasa..


Aku yang menciptakanmu,


Maka aku pula yang akan membunuhmu.


****************


🌷🌷🌷


Mawar menyisir jalan dan menaiki angkutan umum yang hanya berlalu saat jam pagi setelahnya tidak ada lagi, hanya sekali angkut. Pandangan Mawar berlalu dari Desa tersebut dengan linangan air mata, Mawar tidak peduli dengan orang - orang yang berada dalam angkutan umum tersebut, walaupun sudah banyak yang mengetahui masalahnya, Mawar tidak peduli, nampak jelas tidak jauh dari tempat Mawar duduk, ada yang berbisik bisik dan melirik ke arahnya. Mawar sekali lagi tak peduli walaupun rasanya sakit dan perih.


Angkutan umum tersebut berhenti di Terminal Kota, Mawar tampak bingung untuk pertama kalinya Mawar berada di tempat tersebut, Mawar melihat sekelilingnya, orang – orang yang lalu lalang menenteng tas, Mawar sejenak diam melihat dan memahami keadaan. Akhirnya Mawar mencari tempat untuk berpikir sejenak, dia akan pergi kemana, sedangkan Mawar tidak memiliki kerabat yang berkumim di luar Kota.a


“Ya Allah, ke mana akan ku bawa langkahku ini, aku tak tahu apa – apa, dan akan melakukan apa, sekiranya Engkau memberiku petunjuk atas segala yang Engkau limpahkan padaku, sungguh Engkau Maha Esa di atas segalanya”.


Bersambung…..


Stay tune ya kakak - kakak.


semangat untuk hari ini, have a nice day