
Hari yang di tentuka telah tiba dengan balutan jas berbulu, berpadu dengan wajah campuran arabnya sean sangat telihat menawan, begitupun mawar bak putri yang sangat cantik, gaun indah yang menjadi impian setiap wanita.
Seluruh station TV menyiarkan lansung, banyak yang iri melihat mereka, terlebih lagi yang mengenal Mawar yang biasa saja.
Seluruh station TV menyiarkan lansung, banyak yang iri melihat mereka, terlebih lagi yang mengenal Mawar yang biasa saja. mereka kadang berfikir aneh tentang mawar walaupun sudah faktanya seorang Sean Gaozhan Prabu, cucu tunggal, kaya raya dan tampan itu sudah menjadi suami seorang wanita kampung bernama mawar zulaikha”
...****************...
Beberapa bulan kemudian tak terasa rumah tangga mereka sangatlah harmonis dan Kandungan Mawar sudah sembilan bulan dan Sean sejak lama telah kembali menggantikan Mawar menjadi CEO di PC Group, walaupun Mawar memaksa jika hak milik atas namanya akan di berikan ke Sean, tapi Sean menolak, Sean tetap menginginkan aset yang sudah menjadi milik Mawar tidak akan dia miliki.
Kakek dan nenek sangat bersyukur dengan segala perubahan Sean, yang dingin dan keras kepalanya sudah berubah, begitupun kedua orang tua Sean, mereka sangat bahagia melihat anaknya menjadi lebih sabar dan dewasa.
Sore hari, Sean dan Mawar saling duduk berhadapan, telah menjadi kebiasaan Sean mengelus perut Mawar yang buncit itu dan mengajak calon anak mereka berkomunikasi sesuai dengan anjuran dokter kandungan Mawar.
“Sayang, kalau kamu cowok, Papa akan belikan kamu mobil edisi terbaru dan kita bersama beradu dalam arena balap” ucap Sean
Mawar yang mendengarnya tersenyum “Kalau dia perempuan kau akan ajak dia juga balapan ?” ucap Mawar
“Sayang, kalau dia perempuan dia akan ku buatkan istana Barbie berseblahan dengan istana kita, ” ucap Sean terkekeh
Selama Mawar mengandung dia tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak yang di kandungnya, apapun itu Mawar akan menerimanya dengan rasa penuh syukur dan Sean menuruti semua keinginan istrinya.
“Sayang anakmu ingin makan buah” ucap Mawar manja
“Baiklah sayang tunggu Papa yah,” sambil mengecup perut Mawar
Sean sedang ingin melangkah tapi telfon di saku celananya berdering, Mawar yang juga mendengarnya memegang tangan suaminya untuk menghentikan langkahnya “Angkatlah, sepertinya penting” ucap Mawar
“Biarkan saja, aku lelah mendengar penjelasan para investor itu” balas Sean membalas memegang tangan Mawar.
“Sayang angkatlah, aku yang akan mengambil buahnya sendiri, dokter menyarankan juga untuk ku banyak berjalan supaya lahirannya lancar” ucap Mawar.
“Baiklah sayang, hati – hati ya,” ucap sean yang segera mengangkat telfon tersebut.
...****************...
Mawar berjalan dengan santai menuju dapur, membuka lemari es yang isinya tertata rapi, Mawar mengambil beberapa buah yang ia inginkan “Enaknya makan salad buah ya?” gumam Mawar
Mawar segera mengambil Mayones yang tanpa sengaja Mawar jatuhkan, Mawar memegang Mayones itu lalu mengambil peralatan pel untuk membersihkannya, Mawar tidak sadar jika mayones yang di pegangnya menetes ke lantai dengan mengikuti langkahnya.
Mawar membalikkan badan untuk membersihkan lantai, tiba – tiba kaki Mawar terasa licin dan akhirnya Mawar terjatuh dengan posisi tersungkup, perutnya berbentur.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Teriakan Mawar membuat penghuni istana itu terkejut dan berlarian menuju sumber suara, Kakek dan Nenek yang sedang bersantai di taman bunga dan kedua orang tua Mawar juga sangat terkejut.
Sean yang mendengar Mawar, jantungnya sesak dan berlarian tanpa memperdulikan yang lain.
Semuanya tiba di dapur, melihat keadaan Mawar yang penuh darah dan Mawar kesakitan, sampai tak bisa mengeluarkan suaranya karena sesak dan sesegukan, melihat semua orang berada di depannya diam dengan wajah pucat mereka, Sean berlari memegang tangan Mawar, menyenderkan tubuh Mawar di tubuhnya dengan air mata yang berlinang.
“Sayang apa yang terjadi, ku mohon bertahanlah” ucap Sean dengan tangisnya, tuan Roshan berteriak menelfon dokter
Kedua orang tua Mawar, kakek dan nenek, semuanya panik, mereka semua mendekati Mawar dengan tangisnya melihat anak, cucu kesayangan mereka di lumuri darah.
“Sa-y-ang ku mo-hon, to-long anak kita, tolong se-lamat-kan dia” ucap Mawar dengan sesegukan dan nafas yang memburu
Sean sudah menggendong Mawar memasuki mobil mereka dan pak Roshan menyetirnya berlalu, Nenek dan Mama Dara, berada di mobil yang berbeda, semuanya melaju menuju rumah sakit pribadi milik tuan Prabu.
“Sayang tenagnglah, kau akan baik – baik saja” ucap Sean dengan tangisnya sambil memeluk Mawar
“Sa-ya-ng ka-u ta-hu, a-ku sa-ngat ba-ha-gi-a bi-sa meng-enal-mu” ucap Mawar terbata - bata
“Mawar anakku, Bapak yakin kamu kuat nak” ucap pak Prasetya dengan memegang tangan anaknya
“Mawar, Ibu yakin nak kamu bisa, bukankah ibu dan bapak masih ada, bukankah kau bilang doa kami adalah senjata pelindungmu, kamu harus kuat” ucap bu Dewi dengan tangisnya dengan memegang pundak anaknya.
“Papa tolong cepatlah” ucap Sean dengan tangisnya
“Bu, Pa-, ma-afin ma-war yaa” ucap Mawar dengan sesegukan.
“Mawar diam lah, kau akan baik – baik saja, beri tahu penciptamu bahwa kau adalah milikku” ucap Sean dengan tegas namun terasa pedih dan penuh air mata.
.
...****************...
Semua keluarga menunggu di depan kamar IGD dengan cemas, tak lama kemudian salah satu dokter keluar dari ruangan tersebut, Sean berlari dengan bajunya yang di penuhi darah Mawar.
“Dokter bagaimana dengan istri saya ?” ucap Sean
“Tuan sean, saat ini hanya ada dua pilihan, ibu atau anaknya, yang mana bapak akan selamatkan? ini hanya ada salah satu kemungkinan, jika anda memilih nyonya, maka anak anda kemungkinan kecil bisa selamat, dari kondisi noynya terjatuh melukai sel anak anda di dalam rahim, jika anda menyelamatkan anak anda, maka kami akan mengoperasi caesar saat ini dan nyonya tidak bisa kami selamatkan” ucap Dokter
Sean yang mendengarnya merasa langit runtuh seketika, hidupnya tiada arti tanpa Mawar sedangkan anak yang di kandung Mawar juga berarti untuk nya, hasil cinta mereka.
Dengan air mata yang berderai, Sean terkulai lemas, semua yang mendengarnya menangis, Mama Dara memeluk anaknya, Sean...” suara lirih mama Dara
“Ma, mengapa Tuhan menghukumku seperti ini, “ dengan tangis Sean memeluk mama nya, “Ma, apa yang harus aku lakukan” ucap Sean kembali.
Kedua orang tua Mawar mendekati Sean "Nak Sean, Mawar adalah anak kami, tapi setelah dia Sah menjadi istri nak Sean, hidupnya dan segala tentang Mawar kami serahkan sepenuhnya kepada nak Sean, jika nak Sean mengambil keputusan kami akan setuju.
Sean tak berdaya, Sean menangis, mengingat senyum Mawar, mengingat wajah istri yang sangat di sayanginya, mengingat saat – saat mereka berbahagia,