Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 13


“Ya Allah, ke mana akan ku bawa langkahku ini, aku tak tahu apa – apa, dan akan melakukan apa, sekiranya Engkau memberiku petunjuk atas segala yang Engkau limpahkan padaku, sungguh Engkau Maha Esa di atas segalanya”.


Mawar duduk dan mengeluarkan handphone miliknya dari tasnya dengan sesak, Mawar sedikit berharap jika ada nama Agung atau Sekar yang tertera untuk menanyakan kabarnya saja, agar bisa membuat Mawar setidaknya memiliki semangat menjalani semua cobaan-Nya, Mawar kembali menangis dalam sesak, sepahit itu rasanya.


”Ya Allah tolong aku” lirih nya dalam tangis.


Tiba – tiba Mawar mengingat tawaran wali kelasnya tentang beasiswa, Mawar hanya ingat dia pernah menolak tawaran tersebut karena beasiswa itu jurusan administrasi sedangkan Mawar menyukai bisnis jadinya Mawar menolak dengan halus tawaran tersebut, tanpa berpikir panjang lagi Mawar menelfon ibu Wiwi selaku wali kelasnya.


“Halo Bu, saya Mawar”


“Halo Mawar, ada apa nak Mawar? Tumben menelfon ibu, ada yang bisa ibu bantu?”


masalah tentang Mawar di Balai Desa belum ibu Wiwi ketahui, karena jarak rumah ibu Wiwi dari kampung Mawar juga lumayan jauh, mesti melewati beberapa Desa lagi.


“Bu, apakah tawaran beasiswa kemarin masih berlaku bu? rencananya saya berminat bu” ucap Mawar


“Oh iya Mawar, masih bisa kamu ambil, siapkan saja berkas kamu Nak, kamu ada Surat Keterangan Lulusnya kan?, pakai itu saja, sebenarnya diharuskan daftar online dulu, tapi kalau Mawar nggak bisa biar ibu aja yang daftarkan, data kamu lengkap sama ibu, masalahnya menurut persyaratan kampusnya, wajib bawa kelengkapan berkas juga ke kampus itu, jadinya Mawar harus ke sana, gimana? “ tanya bu Wiwi


“Nggak papa Bu, Mawar bisa kok “ jawab Mawar


“Emang Bapak dan Ibu Mawar udah ngasih izin? tanya bu Wiwi


“Alhamdulillah udah Bu,” Balas Mawar


“Baiklah Nak, hati – hati ya, nanti ibu yang kirim data lengkapnya lewat online, Mawar hanya ke sana


membawa Surat Keterangan Lulus itu dan foto, kamu punya banyak prestasi, kampus akan menerima kamu dengan tangan terbuka, karena ibu akan upload semua sertifikat lomba kamu” ucap bu Wiwi


“Makasih banyak Bu atas bantuannya, maaf bu kampusnya di mana ya Bu, trus alamatnya di mana? tanya Mawar


“Oh iya Ibu lupa, kampus itu di Universitas A, alamatnya akan ibu kirim, bapak dan ibu Mawar bennar memberikan izin kan ?keluar Kota sendiri” tanya bu Wiwi kembali meyakinkan.


“Iya Bu, makasih banyak bu, maafin Mawar merepotkan ibu, Assalamualaikum” ucap Mawar


“Baiklah, kabarin ibu yaa, Waalaikumsalam “ balas bu Wiwi


Beberpa detik kemudian Mawar membuka pesan dari ibu Wiwi “Ini alamatnya Nak Kota J, jalan ABCDEFG”.


Mawar sedikit sontak kaget, bukankah itu sangat jauh? Menurut Mawar untuk ke sana harus menaiki kereta dan Bus, itu pun Busnya harus dua kali dengan jarak tempuh ber jam- jam untuk tiba di Kota tersebut,


sebenanrnya bisa menggunakan jalur udara dan akan lebih cepat, tapi Mawar tidak tahu prosedurnya, pakai kendaraan umum saja masih masih bingung.


Mawar sejenak diam dan berpikir dengan tenang. “Tak ada jalan lain, aku harus bisa demi Bapak dan Ibu, aku hanya perlu berani, Mawar kamu pasti bisa, kamu tidak sendiri ada Allah yang berada di sisimu, kamu jangan cengeng Mawar, kamu bukan anak kecil lagi, ayo Mawar “ batin Mawar dengan menyemangati dirinya sendiri.


“Bismillah”


Mawar melangkahkan kakinya, sembari bertanya ke ibu atau bapak – bapak yang berada ditempat itu, mencari informasi untuk menaiki Bus apa saja untuk sampai ke kota tersebut, Mawar sudah bertekad kuat, dengan uang yang diberikan oleh orang tuanya yang sangat banyak menurutnya akan mampu membiayai hidup Mawar beberpa bulan ke depannya.


...****************...


Mawar sudah berada dalam perjalan ke kota B sebelum itu transit dulu ke kota C barulah tiba.


Dalam perjalanan ke Kota B, Mawar ke susahan dengan charging dan Mawar juga kelaparan tapi dibalik masalah Mawar, ada saja orang baik yang menolongnya, walaupun Mawar sedikit canggung dan takut, karena kebaikan orang yang baru dikenal tidak bisa ditebak, apakah dia tulus atau memiliki niat jahat, sepanjang perjalanan Mawar selalu berdoa untuk keselamatannya.


Mawar mengalihkan pandangan dibalik kaca jendela Bus, memperhatikan dengan lekat segala aktifitas warga di luar, membuatnya kembali rindu pemandangan desanya yang beberapa jam lalu Mawar tinggal kan, hiruk pikuk dalam Bus terdengar, semua orang saling menyapa, bercanda gurau, sedangkan Mawar kembali hanyut dengan pikirannya.


“Kak Agung, hanya sebesar itu kah rasa cintamu?” batin Mawar


Mawar kembali melirik telfon genggam yang sudah usang itu, tapi masih lumayan digunakan untuk searching lokasi, setidaknya Mawar sedikit tertolong dengan itu.


Mawar selalu mengecek lokasinya sendiri dan tujuannya ke Kota A melalui rute apa saja, Mawar sinkronkan dengan informasih dari para penumpang yang berada di Bus, untuk memastikan dia tidak akan menempuh jalan yang salah.’


Malam pun tiba, Mawar berusaha memejamkan matanya untuk menikmati perjalan malam itu, tapi Mawar tak bisa memejamkan matanya, Mawar larut dalam melodi batinnya yang menghantar ingatan Mawar kembali ke Desa tanah kelahirannya, orang yang paling dia sayangi bebera jam yang lalu Mawar tinggalkan.


Mawar masih terjerat dalam kegelapan dengan rasa yang pilu.


🌷🌷


Kau memberikan cinta dan kasih sayang yang penuh untukku


Tapi aku anakmu, apa yang kuberi.


Ibu,, maafkan aku.


Aku hanya mampu menatap tangismu yang berderai dengan kata “bertahanlah “


Apakah aku masih pantas disebut sebagai anakmu?


Ibu, angin malam ini menusuk relung kalbuku,


Membuat hatiku bisu, namun angin terdengar berbisik tentang senyum mu yang melekat di hatiku.


Ibu,maafkan aku,,


Dengarlah lirih rinduku dari sisa keyakinanku,


bertahan lah.


🌷🌷


...****************...


Sesampainya didepan kampus, Mawar sendiri tampak takjub, tak terduga kampus itu sangat besar dengan


halaman yang luas.


Selama ini hanya kampus yang diimpikan Mawar yang menurutnya bagus, memiliki bangunan yang bagus.


Mawar tak membuang waktu banyak dengan takjub melihat bangunan yang kokoh, dia mencari ruangan kantor kampus, dia keliling hampir dua jam untuk mendapatkan informasi letak ruangan tersebut, karena ketika Mawar bertanya dia sedikit linglung.


Mawar selalu ditujukan untuk memasuki lift yang sama sekali belum Mawar ketahui, Mawar takut dan akhirnya dia memilih jalan lewat tangga dengan menenteng tas nya.


Kaki Mawar sudah terasa sakit, akhirnya ada salah seorang yang menyapanya, sosok lelaki yang lumayan, masih bisa dikategorikan tampan, dia ramah, dia tersenyum mendekati Mawar,


b.e. r. s. a. m. b. u. n. g......


Visual Dion