
Ingatan tentang Agung, kata - kata Agung, tangisan orang tuanya, membuat Mawar tiba – tiba kesakitan, Majah Mawar memucat.
“Mawar are you ok ? Mawar ??” tanya Dion yang melihat perubahan wajah Mawar yang pucat
Mawar memegang dada nya “Maaf Kak Dion, Mawar pamit dulu” segera berlalu.
Sedangkan Dion bingung, Dion mencurigai sesuatu yang terjadi dengan Mawar.
...****************...
Setelah kejadian di kampus, Mawar meminta izin dua hari kepada ketua tingkat bahwa dia sedang sakit. Sedangkan yang sebenarnya dalam dua hari itu Mawar akan berusaha mencari tempat hunian yang baru.
Saat Mawar keluar ruangan kamar masjid, Mawar melihat seorang Kakek yang memegang tongkat, menggunakan setelan baju Koko, terlihat sangat beriwibawa.
Dia terlihat sedang mencari sesuatu di lantai masjid yang Nampak kosong.
“Assalamualaikum Kek, maaf cari apa ya? boleh saya bantu?” ucap Mawar.
Kakek tersebut melihat Mawar dan dia lansung tersenyum, sedari tadi banyak yang melintas tapi tidak ada yang bertanya kepadanya saat kesusahan mencari sesuatu.
“Ini Nak, Kakek abis shalat tapi sendal kakek hilang” jawab Kakek.
“Oh gitu, tunggu ya Kek, tunggu ya Kek" Mawar berlari mengambil sendal jepit yang berada dalam kamarnya dan kembali berlari mendekati Kakek, membungkuk memberikan sendal.
“Maaf yaa kek, ini hanya sendal murah hehe” ucap Mawar.
“Nggak apa - apa Nak, ini lebih baik dari pada tidak sama sekali” Kakek itu memasukan tangannya dalam kantong dan ingin memberikan Mawar uang sebagai imbalan
“Ehh jangan Kek, saya ikhlas, dan ini juga sendal yang saya beli murah, nggak apa - apa Kek doakan saya saja untuk jadi orang yang sukses” sambil tersenyum Mawar ingin berlalu.
“Ehh tunggu, siapa nama mu Nak?” tanya Kakek
“Nama saya Mawar Kek” jawab Mawar
“terus apa yang kamu lakukan di kamar itu?” tanya Kakek sambil menunjuk kamar samping Masjid yang selama ini Mawar tempati.
“saya tinggal di ruangan itu Kek, saya kerja sebagai tukang bersih - bersih di Masjid ini, kalau begitu saya permisi dulu Kek” ucap Mawar
"Mawar …. nama yang bagus, mungkin cocok dengan cucuku, hummm." gumam Kakek
Aku harus mencari tahu tentang dia dan latar belakang kaluarganya, ada yang menarik dari tatapannya, dia ada bakat menjadi pemimpin.
“Ehh tunggu Nak Mawar, kamu mau ke mana,” tanya Kakek.
“Saya mau cari kosan Kek, karena ruangan itu akan di bongkar besok, Masjid akan di perluas jadi saya harus dapat kosan hari ini,” balas Mawar
“Bagaimana kalau Mawar ikut ke rumah Kakek, kakek tinggal berdua saja bersama istri Kakek dan di rumah kakek banyak kamar yang kosong” JelasKakek.
“Tapi Kek, Mawar tidak mau hanya tinggal gratis, Mawar tidak mau berutang budi sama Kakek” jawab Mawar.
“Nggak Mawar, kebetulan istri kakek butuh ART(asisten rumah tangga), untuk bantuin dia di dapur dan rawat kebun bunga di belakang rumah kami, menurut Kakek lebih baik kamu yang jadi ART, kamu dapat gaji dan tempat tinggal” balas Kakek
“Alhamdulillah Ya Allah, Engkau tidak pernah meninggalkan aku” batin Mawar.
Mawar terdiam dan mengangguk.
Kakek sangat senang melihat anggukan Mawar, serasa hal yang baru akan terjadi dalam hidupnya dengan kehadiran Mawar.
Mawar ke kamarnya mengambil tas dan kantongan yang isi nya buku.
“Iya Kek, hanya ini, karena Mawar juga baru beberpa bulan disini dan bukan untuk tinggal selama nya, hanya untuk kuliah” jawab Mawar
Kakek itu menatap Mawar dengan sedikit sendu, bagaimana ada seorang gadis yang sopan dan baik seperti nya, sederhana dan tidak banyak neko.
“Kakek, apa saya bisa permisi sebentar? Saya mau bertemu ustad Yahya pengurus MasjidKek, saya mau berterimah kasih dulu, karena beliau saya beberapa bulan ini saya bisa memiliki tempat berteduh” jelas Mawar
“Baiklah Nak, Kakek menunggu kamu di sini” timpal Kakek.
Beberapa menit kemudian, Mawar datang dengan tersenyum.
Mawar berpindah ke samping Kakek itu dan ingin menuntun nya ke jalan, Mawar tidak tahu jika Jakek punya mobil dan sopir yang menunggunya di luar Kawasan taman Masjid.
Tiba – tiba mobil hitam mewah berada di depan mereka dan seorang sopir turun dan membukakan pintu ke kakek. Mawar yang melihatnya kaget, banyak pertanyaan yang muncul di benaknya,
“Apa Kakeknya penculik ya? Kek di TV”
“Ah nggak mungkin jahat, emang penjahat ada yang shalat?”
“Aduh, gimana kalau aku dimutilasi” batin Mawar yang polos
Mawar sudah benar, berpikir negative terhadap orang lain pun, harus. Karena di dunia ini tidak semua hal harus diarahkan ke positif, jangan karena dia rajin ibadah, seorang ulama pun tidak akan menjamin dia masuk surga.
“Mawar, ayuk masuk” ucap Kakek
“Ya Allah, lindungi aku, bismillah…” batin Mawar
“E-eh iya Kek” balas Mawar yang bingung.
...****************...
Selama perjalanan Mawar kagum dengan mobil yang rasa nya empuk dan mewah, untuk pertama kalinya Mawar merasakan naik mobil mewah. kakek yang duduk tak jauh dari Mawar hanya tersenyum melihat Mawar yang celingak -celinguk sedari tadi.
“Anak ini sangat polos, sepertinya ini kali pertama untuknya, entah melihat tatapannya, aku melihat jiwa kepimpinan disana, aku hanya memolesnya”. Batin Kakek
“Eh kakek namanya siapa, dari tadi Mawar belum tau,” tanya Mawar
“Nama saya Prabu Canan, kamu bisa memanggil saya Kakek Prabu” jawab Kakek dengan senyum
“Kakek Prabu terimah kasih ya” jawab Mawar sambil tersenyum.
Sepanjang jalan mobil yang di tumpangi memasuki kawasan elit. Lagi – lagi mawar di buat tercengang dengan pemandangan rumah - rumah bak istana berjejeran, rumah itu dilewati begitu saja, Kakek Prabu yang memperhatikan ekspresi Mawar pun hanya tersenyum karena terkesan Mawar sangat lucu.
Mobil telah tiba memasuki halaman rumah yang luas dengan semua ornamen berwarna putih dan bercampur warna kuning ke emasan, rumah yang tidak semegah yang di liat sebelum nya tapi rumah kakek Prabu juga sangat menakjubkan,
halaman luas, tanaman yang indah, rumput yang hijau, tidak bertingkat tapi luas bangunan nya bisa dikategorikan elit, perabotan rumah dan semua hiasa ruangan pun di isi penuh dengan guci antik, vas bunga dan interior rumah perpaduan Timor Tengah dan Eropa.
Mawar tidak berhentinya takjub, "Masyaa Allah" tidak pernah lekat dari ucapannya. Membuat Kakek dari tadi senyum terus.
Dari taman rumah terlihat jelas ada yang sedang mengenakan selendang menutupi kepalanya ala hijab modern, Nenek berambut putih tapi tetap terlihat cantik dengan hidung yang mancung terkesan turunan bule.
“Kok Kakek senyum senyum terus, siapa dia Kek?” tanya nenek sambil mendekat dan merangkul Mawar.
Visual Kakek Prabu dan nenek Yolan