Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 33


“Kakek, bangunlah, Mawar tidak akan meninggalkan kakek, hiikss... hikss... maafkan Mawar kek”. Jelas Mawar


“Apa yang kau katakan hah?!!” ucap Sean.


“Tidak nak, ini bukan salah kamu Mawar, ini salah nenek yang kurang memperhatikan Kakek” ucap nenek Yolan yang menghapus air matanya.


Sean menarik Mawar keluar ruangan itu dan mendorongnya kekursi depan ruangan.


“Mawar, apa maksud dari ucapanmu tadi? apa yang telah kau lakukan ke Kakek? hah?!! Cepat katakan, “ Sean mengguncang pundak Mawar.


Mawar sedikit pasrah dengan menjawab “Sean, aku meminta izin Kakek untuk kembali ke kampung halamanku dan tidak akan kembali lagi “ dengan air mata yang mengalir.


Sean mendorong Mawar, sehingga Mawar tersandar keras.


“Kau tahu Mawar, Kakekku sudah terlanjur menyayangimu, teganya kamu mengatakan dengan mudah untuk pergi dan tidak akan kembali lagi, apakah ini dirimu yang sebenarnya, tanpa terimah kasih kepada mereka?! kau egois Mawar!! sekarang kau mau pulang kan? sekarang pergilah aku tidak ingin melihatmu lagi, jangan pernah muncul di hadapan kami”. Ucap Sean


Dari dalam ruangan ada yang menyaksikan mereka, tidak hanya Nenek dan Leon, tapi juga Kakek Prabu yang ternyata hanya ingin mengetes mereka berdua. ( hehehe)


Setelah Sean marah, dia kembali ke kamar dan menemani Neneknya. Sambil pikirannya melayang


“Bagaimana jika dia tidak kembali lagi, apakah aku bisa baik-baik saja sedangkan aku sudah terbiasa dengan kehadirannya”batin Sean.


...****************...


Mawar menangis sesegukan di depan kamar tersebut, tanpa sadar ia tertidur. Sean yang berada dalam ruangan melihat Neneknya pun sudah tertidur di kasur yang luas Bersama Kakek Prabu.


Leon tertidur di salah satu sofa yang tersedia, Sean meregangkan tubuhnya dan dia beranjak ke luar ruangan mencari udara segar, tanpa sengaja di depan pintu ruangan Mawar tertidur sambil menekuk lututnya, Sean melihat itu akhirnya menggendong Mawar masuk dan meletakkannya dengan sangat pelan dan lembut di sofa yang luas itu.


Sean lama memandangi wajah sendu Mawar yang banyak mengeluarkan air mata


“Mawar aku menyukaimu, bisakah kau tetap disini bersamaku?” Sean mengecup bibir Mawar dan berlalu.


...****************...


Subuh telah tiba, Mawar terbangun tanpa bertanya mengapa posisi dia bisa berubah yang tadinya berada di luar ruangan tiba-tiba sudah berada dalam ruangan. Seperti biasa menjalankan ritual ibadahnya dan mendoakan kesembuhan Kakek Prabu, Mawar kembali ke apartemennya untuk membersihkan diri, membuat sarapan dan kembali kerumah sakit.


Mawar sangat senang melihat Kakek sudah sadar dan melihat senyumnya, Mawar juga sudah melihat kedatangan sepasang suami istri yang memiliki aura wibawa yang luar biasa, mereka terlihat sangat serasi.


Mawar tersenyum dan menyalami mereka, mencium pundak tangan mereka.


“Assalamualaiku, om tante “ ucap Mawar


“Waalaikumsalam, jadi ini Mawar yang selalu kakek ceritakan kepada ku?” balas Tuan Roshan


“Mawar kamu sangat cantik” ucap Mama Sean dan memeluk Mawar.


Mawwar hanya tersenyum mendengarnya.


“Bagaimana keadaan Kakek?” tanya mawar,


“Baik Mawar,” ucap Kakek


Nenek Yolan mengusap wajah Mawar dan tersenyum.


“Kakek, Mawar membawa banyak bekal untuk sarapan,


makanan kesukaan Kakek, Kakek mau?” tanya Mawar


“Mawar, Sean, kemarilah” ucap Kakek.


Sean yang sedari tadi di sibukkan dengan laptopnya berdiri menghampiri Kakeknya, tidak melirik Mawar sama skali.


“Iya Kek ada apa? “ sambil memegang tangan kakeknya dan menciumnya,


“Maukah kalian memenuhi permintaan terakhir Kakek?” tanyanya lagi.


“Maksud Kakek yang terakhir? Tidak ada yang terakhir, untuk Kakek selama Sean bernafas Sean akan memenuhinya, walaupun harus berkeliling dunia” ucap Sean


“Kakek apa yang Kakek katakan, Mawar akan membantu Kakek sebisa Mawar”. timpal Mawar


“Kakek mau kalian MENIKAH” Ucap Kakek Prabu lantang


“Apaa??!! “


“Kakek aku tidak sudi menikah dengan macan betina,” ucap Sean


“Siapa juga yang ingin menikah dengan pria gila sepertimu” ucap Mawar


Orang tua Sean heran melihat mereka berdua, informasi dari Kakek Prabu kurang akurat, mereka tidak tahu kalau Sean dan Mawar bagaikan tikus dan kucing.


Kakek prabu tiba – tiba sesak, ia berakting seakan sedang sekarat. Semuanya kembali panik, Roshan cepat memanggil dokter, Sean dan Mawar juga ikut panik.


“Kakek…. kakekkk, baiklah kami akan menikah” ucap Mawar


“Iya Kek, kami akan menikah kumohon bertahanlah” ucap Sean.


Dokter datang dan semuanya keluar kecuali Nenek dan dokter. Selama tuan Prabu dalam pemeriksaan, Sean menarik Mawar menjauh untuk berdiskusi.


“Mawar aku menikahi mu karena Kakek, jadi jangan terlalu besar kepala” ucap Sean


“Pria gila, siapa juga yang mau menikah denganmu, ingat ini semua karena Kakek” balas Mawar.


“Setelah menikah aku tidak ingin kau mencampuri urusan pribadiku” ucap Sean


“Sama, Tuan Sean Gaozhan, dan jangan berani menyentuhku tanpa izin” balas Mawar


Seketika Sean tersenyum licik dan berlalu sebelum itu dia mendekat dan berbisik dekat dengan Mawar “Kalau itu aku tidak janji”


Deg..


Deg..


Jantung Mawar mulai berpacu..


“Dasar pria gilaaaaaa...” Mawar frustasi.


Keadaan Kakek sudah membaik, Mawar hanya memberi syarat bahwa pernikahannya tidak ingin Mewah, dan terekspose, karena Mawar belum siap saat itu.


Kakek dan semuanya menyetujui persyaratan Mawar. Tapi 3 bulan kemudian Mawar harus siap mengadakan resepsi.


Setelah dua hari Kakek pulang, pesta pernikahan akan di laksanakan di halaman rumah kakek, tema outdoor, semuanya di siapkan oleh mama Sean, Mawar dan Sean hanya terima beres.


...****************...


Dalam ruangan rias pengantin Mawar menangis mengingat orang tuanya,


”Pak, Bu, hari ini Mawar menikah, Mawar belum siap mengundang kalian, maafkan Mawar, doakan Mawar, Mawar janji menjemput kalian saat resepsi Mawar” batin Mawar


Mawar tampil anggun, cantik dengan gaun yang ia kenakan, sederhana tapi tetap terlihat mewah jika ia kenakan, sean sangat takjub meilhatnya, sedangkan Sean sendiri sangat tampan dengan balutan jas hitamnya, dia tampak luar biasa.


Tamu berdatangan, yang menghadiri pernikahan mereka hanya beberpa orang dari kalangan elit, penjagaan di perketat, tidak ada media yang meliput, setiap tamu menyimpan semua alat yang berhubungan dengan media ditempat yang sudah di sediakan.


Jessie yang mengetahui hal tersebut, ia ingin masuk tapi tanpa undangan sekeras apapun usahanya akan tetap nihil.


Ijab kabul telah terlaksana dengan hikmat, semuanya mendoakan Mawar, tuan Prabu dan istrinya tampak begitu antusias dengan senyumnya yang terus Mekar.


Begitupun dengan orang tua Sean, Mawar hanya diam kaena tidak memiliki kenalan, berbeda dengan Sean yang sudah berbaur dengan para tamu, melihat itu mama Sean mendekati Mawar.


“Mawar..” ucap nyonya Dara


“Tante,,” jawab Mawar


“Loh kok Tante, call me Mama sayang,, “ sambil memegang tangan Mawar.


“Mama... “ ucap Mawar sambil memeluk dara.


Bersambungb