Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 11


“Pak Prass saya tau Mawar baik, bapak dan ibu semuanya orang yang baik, tidak ada yang salah menyukai seseorang di usianya, tapi Pak Prass saya tidak bisa berbuat apa – apa karena di kampung ini bapak tau sendiri ada hukum adat dan saya sebagai Kepala Desa mendengar kata masyarakat, tolong Pak Pras maafkan saya, besok siapkan Mawar untuk ke Balai Desa, mungkin bapak sudah tau” sambil menepuk pundak Pak Prass, Pak Adi pun berlalu.


Mendengar semuanya Pak Prass jatuh terkulai lemas di lantai dekat pintu, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis, mengeluarkan amarahnya.


Begitupun dengan bu Dewi yang berada tidak jauh dari suaminya, menangis sejadi jadinya, mengingat nasib anak kesayangannya dan menyalahkan diri sendiri sebagai orang tua.


...****************...


“Pak apa yang harus kita lakukan Pak, Mawar anak kita satu - satu nya”. ucap bu Dewi.


Lama mereka saling menangis “Bu, kalau Mawar besok di usir dari desa ini kita ikut anak kita, Bapak tidak mau Mawar susah di luar sana” sahut Pak Pras dengan mengeluarkn suaranya dengan sesegukan.


“Tapi Pak kalau kita ikut, warga akan membenarkan semua yang mereka pikirkan kalau kita mendukung anak kita menggoda pria kota yang kaya Pak, nama baik Bapak tercoreng” berbicara sambil menangis.


Mawar yang sudah sedari tadi sadar, mendengar percakapan orang tuanya, hatinya bagai di iris pisau berlapis - lapis, sambil melangkah tertatih keluar kamar karena dia merasa sekujur badannya lemah karena masih syok


“Bapak Ibu maafkan Mawar, semuanya karena Mawar, maafkan Mawar Buu,, maafkan Mawar” sambil menangis dia memukul - mukul dada letak jantungnya.


“Pak, Bu, izinkan Mawar menanggung semuanya, Mawar tidak sanggup melihat Bapak dan Ibu ikut dalam hal ini, ini kesalahan Mawar Bu, izinkan Mawar pergi dan tunggu Mawar kembali” ucap Mawar dengan tangisnya.


Pak Pras mendekati anaknya dan mencium keningnya,


“Anakku Mawar Bapak tidak bisa melepaskan kamu nak, kamu tidak pernah kemana - mana bahkan sendiri dikampung lain bagaimana bisa Bapak tega membiarkanmu sendiri”


“Mawar anakku, biarkan kami ikut denganmu, kita akan susah bersama, kita sudah biasa, Ibu akan ikut dengan mu Nak” ucap bu Dewi


“Bapak Ibu, Mawar mohon, jangan biarkan nama keluarga kita semakin buruk, cukup Mawar yang menanggungnya, Bapak dan Ibu cukup menunggu kedatangan Mawar kembali, Mawar bisa jaga diri, ada Allah yang menjaga Mawar melalui doa - doa Bapak dan Ibu untuk Mawar” balas Mawar berderai air mata.


Mereka bertiga berpelukan haru, tangis yang pecah. Semuanya sudah di putuskan, malam itu Mawar menyiapkan bekalnya, pakaian sedikit, peralatan shalat, kertas penting walaupun ijazah sekolah belum Mawar terima tapi sudah ada SKL (surat keterangan lulus) sudah lumayan, menurutnya.


Tatkala itu ibunya masuk ke kamar bersama bapaknya “Mawar anakku ini ada simpanan Ibu sama Bapak, bawalah bersamamu” kata Ibu Mawar.


“Ini apa Bu?” sambil membuka kantongan


“Ini simpanan Bapak sama Ibu untuk kamu pakai Nak, jangan lupa kirim surat, kasih kabar ke Ibu dan Bapak” kata bu Dewi


“Makasih Bapak Ibu, maafkan Mawar” Mawar memeluk orang tuanya dan menangis lagi.


“Pak Bu, malam ini bisakah kita tidur bersama?” ucap Mawar


Tak lama Mawar bangun, melihat orang tuanya sangat dalam, melihat setiap inci wajah mereka, sambil menyeka air matanya, Mawar beranjak ke dapur untuk berwudhu, dan segera melakukan shalat tahajjud.


“Ya Rabbku, Tuhanku yang Maha Agung, ampuni aku, dosaku kian hari kian menumpuk, hari ini dua orang yang aku sayangi didunia ini, kedua orang tuaku mengeluarkan air matanya karena aku, apakah aku masih bisa mendapatkan ampunan-Mu? Tuhanku yang Maha baik, apakah selama ini aku tidak begitu baik untukMU? mengapa masalah ini kau timpahkan kepadaku, ini berat, hatiku perih, aku ingin detak jantungku berhenti saja, apakah salah aku jatuh cinta? apakah Engkau cemburu? lalu aku harus bagaimana? mohon tuntun aku, kuatkan aku dan tolong jaga Bapak dan ibu untukku, setelahnya aku mengandalkan takdir yang Engkau berikan, kumohon jaga kedua orang tuaku.” doa Mawar.


Kalimat terakahir Mawar membuatnya menangis sejadi – jadinya, pada tangan yang sedang menengadah, dari kejauhan ada dua orang yang menangis sesegukan mendengar doa anak semata wayangnya dan mengaminkan dalam hati doa Mawar.


Tanpa sadar mereka mendekat dan memeluk Mawar dan mereka kembali menangis bersama.


...****************...


Di Balai Desa, semuanya sudah berkumpul dan masyarakat desa berbondong – bondong menyaksikannya, Mawar berada di tengah Balai Desa yang tengah duduk dan menunduk telah siap menerima cambukan, dengan rasa pilu, Mawar mencoba menguatkan dirinya menerima semua yang terjadi hari itu, meski sangat sulit.


Hukum cambuk akan dilakukan oleh yang di tua-kan di Desa tersebut, Pak Syukur yang di beri jabatan sebagai Kepala Kepala adat yang di hormati dan di tuakan setelah Bapak Kepala Desa, dia yang akan mencambuk Mawar.


Sebelum itu Pak Adi selaku Bapak Kepala Desa memberikan sepatah kata kepada pendudukan desa agar apa yang di saksikan mereka hari itu semoga bisa menjadi pelajaran berharga agar berpikir sebelum bertindak dan Pak Adi juga berharap setelah memberi hukuman kepada keluarga Pak Pras, tidak ada yang boleh lagi mencibir keluarga Pak Prass karena mereka sudah menerima hukumannya.


Satu cambukan melayang di punggung Mawar, berhasil membuatnya meringis karena sakit, Mawar mengepalkan tangannya untuk menahan sakit.


“Mawarrr” isak ibu dan Bapaknya


Mawar sesekali melirik mereka dan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa Bapak ibu jangan menangis lagi, Mawar yang tengah kesakitan dengan cambukan merasa kulitnya terbakar api. Tapi sakit yang Mawar rasakan berkali - kali lipat tersimpan di relung hatinya tatkala Mawar sesekali melirik kedua orang tuanya,


Tangisan mereka, membuat Mawar ingin mengubur dirinya hidup – hidup saja, di tambah dengan tatapan warga yang seakan melihat Mawar wanita yang sangat hina, belum lagi Mawar mendengar cibiran warga kepadanya dan keluarganya.


Mawar berderai air mata, diam, hanyut dalam pikirannya, menahan sakit karena cambukan dan perih yang terasa dalam relung hatinya.


lirih dalam tangisnya “Kak Agung kau dimana, apakah kau tahu dan melihat keadaanku saat ini, mengapa Kak? apa salahku, mengapa kau setega ini?” sambil menangis.


Di tempat lain, Sekar di kurung dalam kamar oleh kedua orang tuanya,


~


B. e. r. s. a. m. b. u. n. g,...


selamat berlibur kakak - kakak