Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 53


“Mawar tunggu aku, kumohon, jangan seperti ini, Jangan membuatku takut” batin Sean.


Pak Mamat, sopir yang selalu mengantar nyonya Mawar sedang menghadap


“Maaf Tuan, Tuan memanggil saya ?” ucap pak Mamat


“Pak Mamat jelas kan semua nya secara rinci, ke mana saja banyak mengantarkan istri saya selama dia sendiri” tanya Sean


“Hanya dua tempat Tuan, di rumah non Sekar, dan Cafe, setelah itu nyonya kadang pergi berdua dengan nona Sekar” jawab pak Mamat


“Apa?? Cafe ?? di mana letak nya, mengapa tidak memberi tahu ku ?” tanya Sean


“Kata nyonya, tuan berada di cafe itu, jadi saya tidak memberitahu kan Tuan, Cafe yang letak nya tidak jauh dari kantor Tuan” jawab pak Mamat


“Baik, pergilah !” ucap Sean.


“Leon, periksa CCTV cafe dekat kantor kita, aku ingin ke rumah Sekar” ucap Sean


“Baik Tuan “ jawab Leon


Suara bel berbunyi, Sekar segera berlari membuka pintu rumah nya dan Sekar sangat kaget untuk pertama kali nya seorang yang dia sangat kenal cuek mengunjungi rumah nya.


“Tuan Sean ?” ucap Sekar dengan gugup


“Mawar di mana, apakah anda sendiri ?”


Melihat ekspresi Sekar, Sean tahu Sekar tidak berbohong, Sekar juga tidak tahu keberadaan Mawar.


“Mawar pergi dari rumah, aku harap kau bisa memberikan informasi tentang dia, apakah selama kalian bersama, ada yang kalian sembunyi kan dariku, atau....” ucap Sean


Belum sempat Sean menghabis kan kalimat nya, Sekar tiba – tiba menjawab nya.


“Beberapa yang lalu, kami berdua tidak sengaja melihat mobil anda melaju ke puncak, saya dan Mawar mengikuti anda dan Mawar melihat anda dengan wanita lain” jawab Sekar


“Apaaaaaa ????!!! ucap Sean sedikit teriakan yang tertahan, dengan mengepal kan jemari nya, Sean bergumam,


“Jadi selama ini mawar tahu aku telah berbohong dengan nya, Seannn bagaimana kau tidak menyadari perubahan Mawar” gumam Sean.


“Tolong rahasia kan masalah ini, jangan sampai ke dua oran tua Mawar mengetahui nya dan tolong bantu aku mencari nya, Mawar salah paham terhadapku” ucap Sean


Sean berlalu tanpa mendengar ucapan Sekar lagi, Sekar tanpak dan bingung dan panik, “Mawar kamu di mana, apa yang terjadi, mengapa kau tidak memberitahu ku, apakah kau tidak mempercayai aku lagi ??” batin Sekar.


Mawar menaiki taksi tanpa tujuan, menaiki Bus dengan tanpa tahu tujuan, menaiki kereta tanpa tujuan, kereta terakhir malam itu membawa Mawar ke sebuah desa kecil, kota para Santri, Mawar berjalan di tengah kegelapan dengan hati yang pasrah, pandangan nya terhenti di sebuah Masjid yang letak nya berseblahan dengan pondok Santriwati.


Mawar melaksanakan shalat malam dengan ruangan yang hanya memiliki satu cahaya lampu, dalam sujud dengan genangan air mata, di setiap sujudnya, Mawar mengingat seseorang yang amat di cintainya tapi menghianati nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Wahai Rabb ku, lihat aku...


Apakah dosaku kian menumpuk sehingga Engkau memberiku cobaan ini lagi??


Wahai Rabbku, pemilik jiwaku..


Hatiku sakit, apa yang harus aku lakukan,..


Aku lelah, hingga aku tak bisa melangkah lagi...


Wahai Rabbku, lihat keputus asaan ku...


Mengapa Engkau selalu menghukum ku dengan sebuah cinta, apakah cinta itu hina ??


Apakah Engkau cemburu ?? karnea doa ku tidak seindah dulu lagi, ?? apakah dengan cara ini Engkau akan membiarkan segalanya berlalu ?


Hentikan, jikalah amalanku sudah cukup, baiklah.. aku ingin bertemu dengan mu”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kakak,,, bangun.. Kakak..shalat subuh kak”


Mawar terbangun dengan ucapan salah satu santriwati yang membangunkan nya.


“Ehh, maaf” ucap Mawar, yang terbangun dan segera mengambil air wudhu kembali dan melakukan shalat jamaah.


Setelah ritual ibadah selesai, mawar berdiam diri, dan melihat itu, salah satu santriwati yang sedari tadi memperhatikan Mawar mendekat.


“Kakak ada masalah ? kok mata nya bengkak ? Kakak dari pondok mana ?”


Mawar yang melihat nya hanya menjawab singkat, karena Mawar merasa tidak memiliki tenaga lagi.


“Saya bukan santri, saya dari kota J” jawab Mawar


“Trus Kakak mau ngapain di sini, besUk keluarga “ tanya lagi, tapi Mawar hanya menggeleng, melihat itu satriwati tersebut kembali bertanya.


“kakak nama saya Azizah, kalau Kakak mau tinggal di sini, saya akan bantu kakak bicara dengan Ibu Nining, ibu pondok saya, kebetulan beliau sedang mencari juru masak di dapur sementara, karena yang lama lagi izin” ucap santriwati


Mawar mendengar nya, hanya bisa mengangguk dengan kondisi Mawar yang lemah, belum makan sama skli, Mawar tiba – tiba pingsan dan membuat semua santri panik dan berkerumun.


~ ~ ~


Di sebuah ruangan yang hanya ada kasur dan lemari kecil, Mawar terbaring lemah di temani santriwati yang sedari subuh bersama nya. Mawar membuka mata nya setelah merasa wajh nya terkena percikan – percikan air, Mawar masih merasa pusing.


“Di mana aku ?” tanya Mawar


“Kakak di kamar pondok, tadi Kakak pingsan dan akhir nya kami membawa Kakak ke ruangan ini, Kakak makan yah, Kakak lemas karena lapar” ucap Azizah


Mawar bangun dan menyandarkan diri nya ke dingding, dan memperhatikan ruangan itu dan Azizah yang tersenyum, Mawar sudah merasa tenang dan mengambil piring dengan lauk pauk yang sederhana lalu memakan nya.


...****************...


Setelah makan, Mawar merasa lebih baik, Mawar dan Azizah sedang berbincang, tiba – tiba muncul seorang Ibu yang berwajah teduh, dia adalah ibu Khadijah, ibu kepala Pondok.


"Aassalamualaiku, bagaimana keadaannya Nak “ ucap wanita itu dan duduk di depan Mawar


“Waalaikumsalam Bu, alhamdulillah sudah agak baikan bu, ibu siapa yah? Tanya Mawar


“OH iya nama saya Khadijah, anak - anak di sini memanggil saya umi dijah, Nak sendiri nama nya siapa?”


“Nama saya Mawar Bu,” jawab Mawar


“Nak Mawar ada keperluan apa ke pondok ini, apakah ada kerabat Mawar ?” tanya Umi Dijah


“Tdak Bu, saya lagi mencari tempat tinggal sementara” ucap Mawar sambil menunduk


“Apakah Nak Mawar sedag punya masalah ?” tanya Umi Dijah lembut


Untuk pertama kali nya Nawar jujur dengan orang asing, karena Mawar merasa Bu Khadijah bisa di percaya.


“Saya pergi dari rumah Bu” jawab Mawar dengan menunduk menahan tangis nya, mengingat Sean yang membohongi nya.


Umi Khadijah seakan mengerti dengan keadaan Mawar.


“Baiklah Nak, Umi tidak bisa mencapuri masalah nak Mawar tapi Umi doakan semoga Allah membantu nak Mawar, memberi nak Mmawar kekuatan dan kesabaran, panggil saya Umi saja ya” jawab Umi


Bersambung...


Jangan lupa, like, komen dan tambahkan ke daftar bacaan favorit kalian ya..


Stay tune.


Ingat jaga jarak dan gunakan masker, salam sehat.