Mawar Untuk CEO

Mawar Untuk CEO
BAB 10


Buuu maafkan Mawar Bu, Pak, maafkan Mawar, jangan menangis, hidup Mawar selalu untuk kalian, membahagiakan kalian adalah tujuan hidup Mawar” Mawar menjelaskan sambil menangis sesegukan.


Mendengar anaknya menangis dan menjelaskan seperti itu, bu Dewi sedikit luluh. Dari kejauhan mereka semua yang didalam balai melihat apa yang keluarga itu lakukan, termasuk Agung yang hatinya ikut tersayat melihat kekasihnya menangis, tekatnya sudah bulat untuk menikahi Mawar.


“Mawar anakku, kau tau masalah sebesar ini? Pak adi akan Menikahkan kalian, apakah kau sudah siap? Bagaimana dengan cita- citamu? dan bagaimana jika ponakan Pak Wijaya mengurungkan niatnya untuk meinikahimu? apakah kau sudah memikirkannya ?


Mawar terdiam dan sedikit mengangguk “Mawar sudah memikirkannya Bu, Mawar yakin dengan keputusan Mawar untuk menikah, Kak Agung tidak mungkin mengurungkan niatnya Bu, dia mencintai Mawar, dan tadi dia melamar Mawar Bu” Jelas Mawar dengan memperlihatkan cincin dijemarinya.


...****************...


Mobil Pajero sport hitam telah terparkir didepan Balai Desa, Ayah dan Ibu Agung keluar dari mobilnya, di ikuti oleh sopir pribadinya, ibu Agung tidak banyak bicara, tatapannya tajam dan benar dia berjalan lansung mendekat ke arah Mawar.


Plakkkk...


Sebuah tamparan mendarat dipipi kanan Mawar, semua orang berdiri dan terkejut melihatnya, Mawar sudah terjatuh dari tempat duduk semula karena tamparan yang begitu keras dari ibu Agung, sambil menangis dan memegang pipinya.


Agung bagai tersengat listrik karena kaget melihat ibunya menampar wanita yang di cintainya. Posisi Agung ingin menolong Mawar tapi ibunya mencegat dan menariknya ke arah lain.


Sekar lansung berlari menolong sahabatnya itu lalu memelu nya sambil menangis, serta membisikan ke telinga sahabatnya “Mawar maafkan aku, maafkan aku, sabarlah,” dengan ucapan dan rasa bersalah.


Kedua orang tua Mawar yang menyaksikan kejadian tersebut selain diam dan menangis tidak ada yang bisa mereka lakukan ketika melihat putrinya di tampar dengan kerasnya, sedangkan mencubitnya saja mereka tidak pernah apa lagi Ibu Agung orang asing yang sudah menampar anaknya dengan sangat keras membuat lutut mereka gemetar, sambil mendekat perlahan ke anak mereka dan memeluknya, amarah mereka ingin sekali membalas tapi mereka sadar posisinya sedang terpojok.


Pak Prass dan Bu Dewi merasa rendah dengan kejadian itu mereka juga sudah merasa hina, mereka ingin membela tapi anaknya memang dalam hal ini bersalah.


Mereka hanya memegang tangan di dada dan memohon kepada Bapak Kepala Desa dan semua orang yang ada di Balai Desa agar memaafkan anaknya, Pak Prass menangis air matanya mengalir deras tatkala meminta maaf untuk perbuatan anaknya.


Mawar merasa ingin mati melihat air mata yang keluar dari mata kedua orang tuanya, hatinya perih sangat perih, dia gagal, dia sangat ingin menikam dirinya sendiri, Mawar tidak sanggup melihat orang tuanya seperti ini, sedangkan orang tua Agung, ibunya sudah berbicara melontarkan kata - kata yang membuat mereka sakit sangat sakit.


“Bagaimana bisa kau berpikir untuk menggoda anakku sedangkan kalian tidak punya kedudukan?”


“Bagaimana bisa kau berpikir ke pelukan ana ku sedangkan kalian rendah?”


“Bagaimana bisa kalian berpikir untuk masuk kedalam keluarga kami, apakah kalian hebat?


Apa karena kau merasa cantik?


Menarik ?


Dikota sana banyak yang lebih cantik dan menarik darimu, apakah kau pikir anakku tidak memiliki kekasih?


Dia sudah memiliki kekasih dan dia adalah calon istri terbaik untuknya, hijab yang kau kenakan untuk menggoda anakku? dasar munafikk!!!” ucapan Bu Sri lantang.


Mawar yang mendengar ucapan itu, hatinya perih sangat perih yang mungkin akan dia bawa sampai mati, setiap kata – kata dari ibu Agung yang ia dengar “Kekasih? apakah dia memilikinya? bodohnya aku!!! Kak Agung ku mohon bicaralah, aku masih bisa memaafkan semuanya yang aku dengar hari ini, tapi kumohon, bela aku, berbicaralah Kak” batin Mawar sambil menatap Agung dengan air mata yang bercucuran.


Agung yang melihatnya tidak tau harus berbuat apa, ibu Sri yang melihatnya menarik lengan anaknya jauh, “Agung apakah selama ini Mama pernah meminta sesuatu sama kamu? Agung jawab Mama !! Kalau kau memilih anak kampung itu, kamu akan lihat jasad Mama besok, Agung dia hanyalah gadis Desa yang kau kenal tidak lebih dari beberapa bulan, bagaimana kau terlalu bodoh terpikat dengannya Nak”. ucap ibu Sri


Agung yang mendengar itu, mengeluarkan air mata, dilema antara Ibu dan Mawar. Gadis yang ia cintai “Apa yang harus aku lakukan, ibuku benar, dia tidak pernah meminta apapun dariku, sedangkan Mawar gadis yang baru kukenal, tapi aku sudah mencintainya, haruskah aku melepasnya?” batin Agung.


Kepala Desa sedari tadi diam menyaksikan semua peristiwa yang terjadi dan meminta keputusan untuk masalah ini, dia memberi tahukan dua hal kepada kedua orang tua Agung.


“Maaf Pak Yoga, kami penduduk Desa memberikan dua pilihan dari permasalahan ini, mereka di nikahkan atau Mawar akan di cambuk sebanyak lalu di usir dari kampung karena kami semua memiliki hukum adat tersendiri” kata Pak Adi


“Saya serahkan keputusan ke anak saya Agung” kata pak Yoga.


Semua mata tertuju pada Agung yang sedari tadi diam, mereka semua tengah menunggu jawaban Agung.


“Bagaimana Nak Agung?” tanya Pak Adi


“Pak Adi, Papa Mama, M …m..a..w..a..r,, aku tidak bisa menikahi mu” air mata Agung jatuh dari pipinya lalu berbalik dan melangkah masuk ke mobilnya meninggalkan orang – orang yang ada dibalai.


Keputusan sudah dibuat.


"Mawar maafkan aku" batin Agung sambil mengepalkan tangannya.


Ibu Sri tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan anaknya, mereka semua ikut berjalan meninggalkan Balai Desa menyusul Agung, sedangkan Sekar di tarik oleh ibunya pergi yang sedari tadi posisi Sekar berdiri disamping Mawar sambil memeluknya, Sekar kaget sampai dia memberontak,


“Kak Agung jahatttttt!!!” Mawarrr maafkan aku" isak Sekar sambil berlalu karena ibunya menarik lwngan Sekar.


Di Balai Desa Pak Yoga salaman dengan Pak Adi “Pak adi mohon maaf atas kelakuan anak saya yang menggegerkan warga desa, saya akan mendidiknya dengan lebih baik lagi” tanpa sepatah kata untuk Mawar, Pak Yoga pun berlalu.


Para tetua dan Kepala Desa menatap sendu ke Mawar dan orang tuanya yang sedari tadi diam dan menangis. Mawar terlihat bagai jasad yang tak bernyawa, tatapannya kosong dan seketika ambruk, pingsan.


Pak Adi dan yang lainnya mengantar mereka pulang tanpa sepatah katapun.


Sesampainya di rumah sederhana itu, Mawar di letakkan dalam kamarnya, sebelum izin pulang Pak Adi membuka suara,


“Pak Prass saya tau Mawar baik, bapak dan ibu semuanya orang yang baik, tidak ada yang salah menyukai seseorang di usianya,


Bersambung….