
Gendol yang berkuda paling depan melihat sesosok perempuan cantik berkemben warna merah dengan selendang kuning menghiasi dada. Celananya yang pendek di bawah lutut, mengenakan jarik motif parang yang menutup atas dengkul dan sebuah pedang yang tersandang di punggung nya menjadi tampilan yang menarik. Selayaknya seorang pendekar wanita, perempuan cantik itu langsung waspada terhadap Gendol yang berdandan seperti seorang jagoan.
Sebenarnya Gendol tidak tahu pasti kemana arah perginya Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Sekilas dia hanya melihat bahwa kedua orang itu bergerak ke arah timur lalu bergegas menuju ke arah yang sama. Besur dan Baratwaja pun mengekor langkah sang pendekar bertubuh tinggi besar ini dari jarak yang cukup jauh.
Tak dinyana, begitu sampai di gerbang masuk kota sebelah timur, lamat-lamat Gendol mendengar bunyi ledakan dahsyat yang ada sekitar 300 tombak dari tempat nya berhenti. Dengan prasangka ada pertarungan yang sedang terjadi, Gendol pun segera menuju ke arah datangnya suara dan menemukan perempuan cantik berbaju merah ini sedang mengamati jalannya pertarungan.
"Apa yang sedang kau lakukan disini Kisanak?", Gendol langsung menelisik perempuan yang ada di depannya kini sembari melompat turun dari kudanya.
"Bukan urusan mu! Cepat pergi sana, jangan ganggu aku!", bentak perempuan cantik itu kasar.
"Lho lho lho, cantik-cantik kok mulutnya mengandung cabe rawit ya?
Eh Nisanak, bisa sopan tidak ha? Aku ini pengawal pribadi Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Aku ini punya kedudukan setara dengan seorang bekel prajurit jadi kau jang...
Dhhiiieeeeesssshhh auuuggghhhhh!!"
Gendol benar-benar tidak menyangka bahwa ocehan nya berbalas dengan sebuah tendangan keras dari perempuan cantik itu. Dia yang belum menyelesaikan omongannya, langsung jatuh terduduk di tanah. Namun pendekar bertubuh tinggi besar itu langsung bangkit dari tempat jatuhnya dan menggeram murka pada perempuan berbaju merah itu.
"Bangsat kau, perempuan sinting!!", gembor keras Gendol sembari melompat maju ke arah perempuan cantik yang tak lain adalah Wara Andhira. Gada kembar nya terayun ke arah yang berbeda. Satu mengincar kepala, sedangkan satu lagi menyasar pinggang si perempuan cantik.
Whhhuuuuuggggghhhh whhuugghh!!
Dengan lincah, Wara Andhira melompat di sela-sela serangan cepat Gendol. Melihat serangannya hanya menyambar angin kosong, Gendol segera berbalik badan dan hendak menerjang kembali. Namun Wara Andhira balik menyerang dengan bertumpu pada kedua tangan, melayangkan tendangan keras beruntun ke arah dada Gendol.
Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuggghhh..
Uuuuuuggggghhhhhhh..!!
Gendol melengguh tertahan dan tubuh nya terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Sedikit merasakan sesak pada dada, Gendol meringis kecil sebelum kembali melesat ke arah Wara Andhira. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.
Meski hanya seorang pendekar perempuan, nyatanya kekuatan tubuh Wara Andhira seperti seorang lelaki. Bahkan pukulan dan tendangan nya mampu membuat Gendol berulang kali meringis menahan sakit.
Saat itulah, Besur dan Baratwaja sampai di tempat pertarungan antara Gendol dan Wara Andhira. Melihat Gendol yang terlihat kerepotan menghadapi kelincahan dan kegesitan tubuh perempuan cantik yang sedang dia hadapi, Besur langsung buka suara.
"Saudaraku, apa kau butuh bantuan kami?", ucap Besur sedikit keras. Mendengar pertanyaan itu, Gendol langsung mengumpat keras.
"Eh buntelan nasi jagung..!!
Kau buta ya? Kalau niat mau bantu, cepat turun sini. Jangan koar-koar saja diatas kuda. Dasar brengsek..!!"
Baratwaja dan Besur langsung saling berpandangan sejenak sebelum keduanya mengangguk cepat. Keduanya segera melesat cepat kearah Wara Andhira. Dari ekor mata nya, perempuan cantik berbaju merah itu melihat serangan dari Besur dan Baratwaja. Segera dia menghentakkan kakinya ke tanah dan melenting tinggi ke udara. Akibatnya, hantaman kedua perwira muda ini justru malah menyasar ke arah Gendol.
"Dasar bodoh kalian berdua..!!", umpat Gendol sembari bergerak mundur menghindari serangan Besur dan Baratwaja.
Saat itu, Wara Andhira meluncur turun dari atas dan menginjak bahu kiri Besur dan bahu kanan Baratwaja lalu menekan nya sekuat tenaga hingga kaki kedua perwira muda ini melesak masuk ke dalam tanah.
Jlleeeegggg..
Blleeeeeeeeeeesssshh!!
Baratwaja pun cepat menangkap kaki Wara Andhira. Begitu juga Besur yang sekuat tenaga memegangi betis perempuan cantik itu. Wara Andhira berusaha keras untuk melepaskan diri, namun saat yang bersamaan, dia melihat sosok agung berkulit biru cerah melemparkan roda bergerigi tajam ke arah leher gurunya Maharesi Wiramabajra hingga kepala sang pendeta itu langsung menggelinding ke tanah.
"Guruuuuu...!!", jerit tertahan Wara Andhira.
Besur dan Baratwaja yang melihat kelengahan itu, langsung menjatuhkan diri ke tanah sembari membanting tubuh Wara Andhira.
Bhhhuuuuuuggggh..
Oooouuuuuuggggghhhhh!!
Mereka bertiga pun langsung menghantam tanah dengan keras. Gendol yang melihat kesempatan ini, segera melompat dan menjatuhkan tubuhnya ke atas punggung Wara Andhira yang jatuh tengkurap di atas tanah. Nafas Wara Andhira langsung sesak tertimpa tubuh Gendol yang besar. Namun perempuan cantik itu masih meronta dan hampir saja lolos andai Gendol tidak menahannya.
"Kalian berdua jangan diam saja. Cepat bantu aku. Perempuan ini tenaganya kuat seperti gajah!"
Teriakan keras dari Gendol langsung membuat Besur dan Baratwaja buru-buru menarik kaki mereka yang amblas ke dalam tanah. Mereka berdua segera bergegas memegangi kedua tangan Wara Andhira. Namun sepertinya perempuan cantik itu masih belum mau menyerah. Dia segera menanduk hidung Baratwaja sekuat tenaga.
Dhhhuuuugghhh!
"Aaaarrrgggggghhhhh sialan kau perempuan edan!", maki Baratwaja yang hidung nya langsung mimisan saat hantaman kepala Wara Andhira menghajar hidungnya.
Tak berhenti sampai disitu, Wara Andhira cepat putar kepalanya. Kali ini bibir Besur yang tebal langsung menjadi korban.
"Aduh kampret..!! Perempuan setan! Bibir ku pecah karena kau, iblis betina!!", umpat Besur yang merasakan adanya rasa perih pada bibir nya. Namun pegangan tangan Besur dan Baratwaja sama sekali tidak mengendur, malah semakin erat meringkus perempuan cantik itu.
Gendol tak tinggal diam dan langsung menjambak rambut panjang perempuan cantik itu untuk menghentikan kegilaan nya. Mereka bertiga pun segera bangkit dari tempat pergulatan mereka. Wara Andhira meringis menahan rasa sakit karena jambakan tangan Gendol, mendongakkan kepalanya ke belakang dan membuat gerakan salto ke belakang meskipun masih dalam pegangan tangan Besur dan Baratwaja. Gerakan berputar ini mampu membuat rambutnya yang dikepang lepas dari genggaman tangan Gendol. Secepat kilat dia melayangkan tendangan keras kearah wajah Gendol.
Pria bertubuh tinggi besar bergigi jarang itu melihat kedatangan serangan cepat itu namun dia terlambat sedikit saja hingga tendangan itu masih mampu menghajar mata kiri nya.
Bhhhaaaaaaaaangggggggg!!
"AAAARRRGGGGGGHHHHH..!!
Perempuan sial! Dasar keparat betina!", sumpah serapah Gendol langsung meluncur dari mulutnya saat merasakan sakit yang teramat sangat pada mata kiri nya. Seketika itu juga, mata kiri Gendol langsung lebam dan membiru. Namun dia masih bisa mengendalikan diri dengan cepat, meraih kembali rambut terkepang Wara Andhira dan menggenggamnya erat. Besur dan Baratwaja pun segera bertukar tempat hingga berhasil menekuk kedua tangan Wara Andhira hingga perempuan cantik itu tak bisa bergerak sesuka hatinya.
Saat itulah, para punggawa Istana Kotaraja Daha yang lain datang. Melihat Gendol, Besur dan Baratwaja sedang meringkus perempuan cantik itu, mereka langsung menghunus pedang mereka masing-masing dan langsung menempelkan nya pada leher Wara Andhira.
"Sedikit bergerak saja, leher mu akan putus setan betina!
Ayo jalan..!", ucap Gendol sambil mendorong Wara Andhira untuk mendekat ke arah Jaka Umbaran, Prabu Bameswara dan Resi Simharaja serta Begawan Mpu Narada.
Kedatangan Gendol dan kawan-kawan segera membuat Prabu Bameswara bertanya kenapa wajah mereka babak belur seperti itu. Sambil malu-malu, Gendol pun menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi. Mendengar jawaban itu, Prabu Bameswara pun tersenyum penuh arti sedangkan Resi Simharaja dan Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya hanya mengulum senyum mereka agar tidak membuat ketiga orang itu tersinggung.
"Ya sudah, kalian bertiga memang hebat. Mampu meringkus murid Maharesi Wiramabajra dengan kemampuan kalian. Nanti aku akan memberikan hadiah untuk kalian bertiga.
Nisanak, siapa namamu?", Prabu Bameswara mengalihkan pandangannya pada Wara Andhira yang masih saja berusaha untuk melepaskan diri. Namun, wanita cantik itu hanya diam saja sambil menatap tajam ke arah Prabu Bameswara, Jaka Umbaran, Resi Simharaja dan Begawan Mpu Narada.
"Cepat jawab! Kau mau kami bertindak lebih kasar lagi sama perempuan ha?", Gendol sedikit keras menarik kepang rambut Wara Andhira hingga perempuan cantik itu langsung mengaduh kesakitan.
"Aduh sakit tahu!!"
"Makanya cepat jawab, jangan membisu begitu!!", bentak Besur sedikit garang.
"Iya iya aku akan jawab, tapi lepaskan dulu jambakan tangan mu, rambut ku sakit sekali!!", ucap Wara Andhira segera. Mendengar itu, Gendol langsung menatap ke arah Jaka Umbaran. Saat melihat anggukan kepala dari sang pangeran muda, dia langsung mengerti. Segera dia melepaskan jambakan tangan nya hingga Wara Andhira tak meringis menahan sakit lagi.
"Sekarang jawab pertanyaan Gusti Prabu Bameswara! Kalau kau masih bersikap liar lagi, aku akan puntir kepala mu! ", ancam Baratwaja yang terlihat geram karena merasakan sakit pada hidung nya yang sekarang berwarna merah.
"Ya iya, sabar sedikit kenapa sih?
Nama ku Wara Andhira. Aku murid Maharesi Wiramabajra dari Gunung Raung. Apa itu sudah cukup?", Wara Andhira menatap ke arah Prabu Bameswara.
Hemmmmmmm...
"Baguslah kalau kau memang murid pertapa tua itu. Aku tidak akan menahan mu juga tidak akan memenjarakan mu walaupun kau telah berbuat onar di tempat kami.
Urus mayat guru mu dan ingat jangan coba coba untuk membuat keributan lagi disini. Kali ini, aku akan melepaskan mu. Tapi jika di lain waktu kau masih berani untuk berbuat onar lagi, aku Prabu Bameswara tak akan melepaskan mu lagi..
Juru Besur, Juru Baratwaja..
Lepaskan dia sekarang!", titah Raja Panjalu ini segera. Baratwaja dan Besur pun dengan patuh melepaskan puntiran tangan Wara Andhira dan mendorong perempuan cantik itu ke depan mayat Maharesi Wiramabajra. Hampir saja Wara Andhira terjatuh, namun dia cepat menyeimbangkan tubuhnya hingga tetap bisa berdiri.
Setelah memberikan isyarat kepada para punggawa Istana Kotaraja Daha, Prabu Bameswara pun segera melangkah meninggalkan tempat itu. Di ikuti oleh Jaka Umbaran, Resi Simharaja dan Begawan Mpu Narada serta para perwira prajurit Panjalu, mereka berjalan ke arah pintu gerbang timur Kotaraja Daha, meninggalkan Wara Andhira yang masih berdiri di samping mayat sang guru. Ada kilat aneh terpancar dari mata perempuan cantik berbaju merah ini.
"Ini masih belum selesai..!!"
Sembari melangkah menuju ke arah Kotaraja Daha, Prabu Bameswara berbincang-bincang dengan putra mahkota Kerajaan Panjalu yang berjalan di sampingnya. Para penduduk Kotaraja yang berpapasan dengan mereka, langsung berjongkok dan menyembah pada rombongan itu.
"Apa rencana mu selanjutnya, Putraku?", tanya Prabu Bameswara segera.
"Saya ingin memperdalam ilmu ketatanegaraan sebelum menjalankan tugas sebagai Yuwaraja Panjalu, Kanjeng Romo Prabu. Jujur saja, saya masih buta dengan ilmu pengaturan di istana.
Maka ijinkan saya untuk berguru kepada Begawan Mpu Narada. Kalau pun ada urusan penting, jarak antara Kotaraja Daha dan Pertapaan Harinjing tidak terlalu jauh. Kanjeng Romo Prabu bisa mengutus seseorang untuk memanggil saya", ucap Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya sembari menghormat pada sang ayahanda tercinta.
"Tentu saja aku mengijinkan mu. Sebagai calon penguasa Kerajaan Panjalu, kau memang mesti di bekali dengan ilmu pengetahuan dari ketatanegaraan maupun beladiri yang handal. Karena itu, kau memang harus berguru kembali.
Begawan Mpu Narada, apa kau bersedia untuk mengajari putra ku ini?", Prabu Bameswara segera menoleh ke Begawan Mpu Narada yang berjalan di belakangnya.
Lelaki tua berjanggut panjang dengan tubuh sedikit pendek gemuk itu pun langsung menjawab dengan cepat,
"Tentu saja hamba bersedia, Gusti Prabu.."