
Ki Martoloyo langsung menghela nafas berat sembari mengusap sisa darah segar yang masih tersisa di sudut bibirnya. Dia tahu bahwa hari ini akan datang kepada nya.
Dulu saat masih muda, saat melanglang buana ke dalam dunia persilatan, Ki Martoloyo di kenal sebagai Pendekar Topeng Setan. Namanya cukup di kenal di kalangan masyarakat Kerajaan Jenggala sebagai seorang pendekar golongan hitam yang tentu saja tidak di sukai oleh banyak orang. Terlebih lagi, di pernah membuat kesalahan besar dengan memperkosa anak seorang Akuwu di Lamajang. Hal ini yang menjadikannya sebagai buronan pemerintahan Kerajaan Jenggala.
Dia hampir saja mati di keroyok oleh para prajurit Jenggala andaikata tidak menyerah pada Pangeran Jayengresmi sang pendamping Maharani Uttejana yang kala itu getol memberantas para pengacau keamanan di wilayah Kerajaan Jenggala. Penyerahan diri itu rupanya membawa perubahan jalan hidup Ki Martoloyo yang selanjutnya menjadi mata-mata Kerajaan Jenggala.
Setelah itu, dia seolah menghilang dari dunia persilatan dan menjelma menjadi seorang pedagang kain kaya raya. Akan tetapi dia masih menyimpan kemampuan beladiri nya agar jika saat hari dia ketahuan sebagai mata-mata, dia akan bisa menyelamatkan diri nya.
Perlahan, Ki Martoloyo mengerahkan seluruh tenaga dalam nya. Jari jemari tangannya mengeluarkan cahaya merah redup berhawa dingin yang langsung diusapkan pada wajahnya. Perlahan wajahnya berubah menjadi menyeramkan dengan munculnya sepasang tanduk pendek dan taring panjang pada sudut mulutnya. Ini adalah Ajian Topeng Iblis Kematian yang membuat nya memiliki kemampuan bergerak cepat dan memiliki kekuatan yang besar.
Setelah itu, ia segera melesat cepat kearah Jaka Umbaran sembari menghantamkan kepalan tangannya yang di lambari cahaya merah redup.
"Mampus kau, Pangeran Daha!
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!"
Jaka Umbaran yang tak sempat lagi untuk menghindar, segera menghadang hantaman tangan kanan Ki Martoloyo. Dia mengerahkan tenaga dalam nya pada kedua lengan saat pukulan keras berhawa dingin ini datang.
Blllaaammmmmmmm!!!
Jaka Umbaran tersurut mundur beberapa langkah ke belakang usai hantaman tangan kanan Ki Martoloyo berhasil dihadang. Namun meskipun Ki Martoloyo telah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki, nyatanya tak mampu menjatuhkan Jaka Umbaran.
Sadar bahwa ia bukanlah tandingan yang sepadan dengan sang pangeran muda, Ki Martoloyo langsung merubah gerakan tubuhnya dan melesat cepat kearah pintu rumah untuk melarikan diri. Akan tetapi, keinginan nya untuk kabur rupanya diketahui oleh Resi Simharaja.
Bekas raja siluman Alas Roban ini dengan cepat melesat menghadang laju pergerakan Ki Martoloyo dengan melayangkan sepasang cakaran mautnya.
Shhhrraaaakkkkkk!!!
Ki Martoloyo terkejut bukan main melihat pergerakannya telah terbaca oleh lawan. Dia langsung menghadang cakaran maut Resi Simharaja segera.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!
Ki Martoloyo pun langsung terpental ke belakang dan menabrak tiang rumah nya. Lelaki berusia sekitar 4 dasawarsa ini kembali memuntahkan darah segar. Sedangkan tangan kirinya putus dan tergeletak tak jauh dari tempat jatuhnya. Saat dia hendak berdiri kembali, Jaka Umbaran telah muncul di sampingnya dan menginjak dada Ki Martoloyo dengan keras.
Aaaarrrgggggghhhhh...
"Ampuni nyawa ku, Pangeran Daha..
A-aku akan mengatakan semua hal yang aku ketahui. Ampuni aku...", teriak Ki Martoloyo sembari berusaha untuk menahan tekanan kaki kanan Jaka Umbaran yang menghimpit dadanya.
"Cepat katakan apa yang kamu ketahui. Jika tidak, aku tidak akan keberatan untuk menghancurkan dada mu ini!", ancam Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya sembari terus menekan dada Ki Martoloyo dengan kaki kanan.
"B-baik a-aku akan bicara.. A-aku akan bicara..
Maharani Uttejana sedang mempersiapkan pasukan Jenggala yang akan bergerak diam-diam dari Kadipaten Dinoyo. Se-selain itu, a-akan ada juga pasukan besar Jenggala yang bergerak lewat Sungai Kapulungan dengan maksud langsung menggempur Ibukota Kerajaan Panjalu", ucap Ki Martoloyo sambil terengah-engah menahan nafas.
"Kapan itu akan dilakukan?", tanya Jaka Umbaran tanpa mengendurkan tekanan kaki kanan nya.
"Ki-kira kira dua dua purnama lagi...
A-aku dengar, Pangeran J-jayengresmi sendiri yang akan memimpin pasukan dari Kadipaten D-dinoyo.. Aku sudah mengatakan semua nya, to-tolong hentikan injakan kaki mu, a-aku tidak bisa ber-bernafas..", hiba Ki Martoloyo segera.
Hemmmmmmm...
"Siapa bilang aku akan melepaskan mu, hai mata-mata Kerajaan Jenggala?!
Sampaikan pada Hyang Yamadipati bahwa aku yang mengirim mu ke neraka!", usai berkata demikian Jaka Umbaran segera menghentakkan kakinya sekeras mungkin pada dada Ki Martoloyo.
Krrraaaakkkkkk...!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Jeritan keras memilukan hati terdengar dari mulut Ki Martoloyo saat kaki sang pangeran muda dari Kadiri ini menginjak keras dadanya. Tulang iganya langsung patah dan menembus jantung dan paru-paru nya. Darah segar terus mengalir keluar dari mulut Ki Martoloyo hingga lelaki yang pernah menjadi saudagar kaya raya di Kotaraja Daha ini tewas dengan dada remuk.
Jaka Umbaran menatap tajam ke arah Ki Martoloyo untuk memastikan kematian orang itu. Dari arah luar, empat orang berpakaian serba hitam yang tak lain adalah Gendol, Baratwaja, Besur dan Wara Andhira masuk usai menghabisi nyawa para centeng Ki Martoloyo.
"Kita harus secepatnya pergi dari tempat ini sebelum keributan ini terdengar oleh para prajurit Kanjuruhan. Ayo kita pergi..", Jaka Umbaran segera memakai lagi penutup wajah nya sebelum melesat keluar dari dalam rumah Ki Martoloyo diikuti oleh para pengikutnya.
Keesokan paginya, Kota Kadipaten Kanjuruhan geger dengan peristiwa rajapati besar yang menghabisi nyawa seluruh penghuni rumah Ki Martoloyo. Satu-satunya saksi mata yang melihat kejadian itu, Cempaka, menghilang dari Kota Kadipaten Kanjuruhan.
Jaka Umbaran yang sedang menaiki kuda tunggangannya bersama kelima orang pengikutnya, hanya melirik sekilas ke arah kediaman Ki Martoloyo yang dipenuhi oleh ratusan prajurit dan warga Kota Kadipaten Kanjuruhan yang ingin melihat dari dekat peristiwa rajapati ini. Mereka pun segera memacu kuda tunggangan mereka menuju ke arah timur.
Menjelang tengah hari, rombongan ini telah sampai di kaki Gunung Mahameru sebelah selatan. Terlihat gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa ini begitu kokoh menjulang tinggi menembus awan seolah ingin menggapai Kahyangan dengan puncaknya.
"Setelah melewati bukit kecil di depan, kita akan sampai di Kali Lesti, Gusti Pangeran..
Itu adalah tapal batas wilayah timur Kadipaten Kanjuruhan dengan Kadipaten Lamajang", ucap Wara Andhira sembari menunjuk pada sebuah bukit kecil yang nampak rimbun dengan pepohonan yang tumbuh di sekitar nya.
"Kita beristirahat sebentar disana", mendengar ucapan Jaka Umbaran itu, semuanya patuh mengikuti. Di dekat batu besar yang rerimbunan pepohonan yang tumbuh subur di kaki bukit yang berdampingan dengan Kali Lesti.
Saat mereka sedang asyik menikmati istirahat sembari membuka bekal perjalanan mereka, dari arah barat, muncul seorang lelaki tua berpakaian kuning tua berjanggut putih pendek dengan satu tangan memegang tongkat kayu berwarna hitam. Di belakangnya nampak dua orang muda mudi dengan pakaian senada. Sepertinya mereka merupakan guru dan murid.
Melihat ada beberapa orang sedang beristirahat di bawah pohon rindang itu, kakek tua berjanggut pendek ini melangkah mendekati mereka. Kedatangan mereka cukup mengagetkan Jaka Umbaran dan para pengikutnya.
"Permisi Kisanak..
Kami adalah pengelana dari jauh. Ingin ke Kota Kadipaten Lamajang. Bisakah kalian menunjukkan jalan kesana?", ucap kakek tua itu dengan penuh kesopanan.
"Kami pun sama, Ki..
Kami juga pengelana dari jauh juga jadi kurang tahu daerah sini. Tapi ada seorang diantara kami yang sudah pernah lewat sini, mungkin saja dia tahu.
Andhira, bisa kau tunjukkan jalan menuju Kota Kadipaten Lamajang?", Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Wara Andhira yang sedang meneguk air bekal perjalanan mereka. Melihat itu, kakek tua itu sedikit menelan ludah nya karena memang mereka sedikit kelaparan setelah berjalan kaki cukup jauh.
Ini pun tak luput dari perhatian Jaka Umbaran. Segera saja dia mengambil sebumbung air minum yang ada di dekat Gendol dan mengulurkannya pada kakek tua itu.
"Minumlah dulu Ki.. Mungkin bisa sedikit meredakan rasa haus mu", kakek tua itu langsung tersenyum lebar dan menerima uluran tangan Jaka Umbaran. Segera saja dia meneguk air bekal perjalanan itu, lalu memberikannya kepada dua orang muridnya.
"Terimakasih atas air minum nya, Pendekar muda", ucap kakek tua itu segera.
"Hanya air minum saja, Ki.. Sesama pengelana dari jauh kita harus saling membantu agar selamat sampai di tujuan.
Nah Andhira, coba kau terangkan jalan mana yang harus diambil oleh kakek tua ini untuk sampai di Kota Lamajang?", kembali Jaka Umbaran bicara.
"Kita memang searah dengan tujuan mereka, Ndoro Umbaran. Jadi sebaiknya kita berangkat bersama-sama dengan mereka. Hutan di depan menyimpan bahaya besar karena banyak begal dan rampok yang siap menghadang", ujar Wara Andhira segera.
"Nisanak benar, semakin banyak orang maka akan semakin besar kemungkinan kita selamat di perjalanan. Kalau begitu, ijinkan aku dan dua murid ku ini bergabung dengan kalian.
Aku Resi Mpu Wedakanwa. Ini murid ku Nirmala dan Rimbugati", dua orang murid Resi Mpu Wedakanwa pun segera membungkuk hormat kepada Jaka Umbaran dan kawan-kawan begitu guru mereka selesai memperkenalkan diri.
"Saya Umbaran. Jaka Umbaran. Ini adalah Wara Andhira, itu Gendol, Besur dan Baratwaja. Yang duduk di sana adalah pengawal pribadi saya, namanya Resi Simharaja", balas Jaka Umbaran turut memperkenalkan diri dan para pengikutnya.
Rimbugati dan Nirmala nampak kaget mendengar nama Resi Simharaja disebut akan tetapi keduanya cepat menguasai diri. Resi Mpu Wedakanwa pun sedikit menghela nafas sebelum tersenyum mendengar balasan Jaka Umbaran. Sepertinya, mereka bertiga tahu sesuatu hal tentang Resi Simharaja.
Setelah berbagi air minum dan makanan kering yang mereka bawa, Jaka Umbaran dan kawan-kawan serta Resi Mpu Wedakanwa beserta kedua muridnya pun segera melanjutkan perjalanan. Mereka meninggalkan tepian Kali Lesti lantas menyusuri jalan penghubung antara wilayah Kadipaten Lamajang dan Kanjuruhan ini. Jalan ini membelah sebuah hutan lebat di kaki selatan Gunung Mahameru.
Setelah cukup lama mereka menempuh perjalanan dan melewati tengah hutan lebat yang bernama Alas Dandaka itu, tiba tiba...
Kraaattttttttaaaaakk brruuaaaakkkkkkkh!!!
Sebuah pohon randu alas tiba tiba roboh melintang di tengah jalan. Sekejap kemudian, muncul puluhan orang bertubuh kekar dengan pakaian hitam dan wajah menyeramkan mengepung Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Mereka terlihat memegang senjata yang terhunus. Ini adalah perampokan yang sering terjadi di tempat itu.
Jaka Umbaran dan kawan-kawan pun segera membentuk pertahanan dengan berdiri saling memunggungi. Dari arah depan, dua orang berpakaian merah menyala meluncur turun dari pucuk pepohonan dan mendarat di depan para pria berwajah seram ini.
Wara Andhira mendengus dingin melihat kedatangan dua orang itu. Sepertinya dia cukup mengenal dua orang laki perempuan itu. Sedikit lantang dia bertanya,
"Sepasang Bajing Merah!
Mau apa kalian menghadang kami?!"