JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pertandingan Awal


"Lancang!!!


Kau pikir kaulah yang terkuat di wilayah tengah, Sadewa?!! Aku Dewa Kalong Merah, pemimpin Perguruan Kelelawar Merah. Bahkan guru mu saja belum tentu bisa mengalahkan ku, atas dasar apa kau berani sombong di hadapan ku ha?", teriak Dewa Kalong Merah sembari menuding ke arah Sadewa.


"Guruku sudah menduga bahwa kau akan berbuat seperti ini, Dewa Kalong Merah. Kalau kau ingin bertanding melawan kami, boleh saja tapi kau harus ingat tentang peraturan yang berlaku dalam tatanan alam kependekaran.


Jika kau tidak mengindahkan nya, maka jangan harap bisa mengatur wilayah tengah meskipun kau memenangkan pertandingan esok hari ", ucap Sadewa dengan tenang.


"Kau....", Dewa Kalong Merah tak bisa meneruskan bantahannya karena apa yang dikatakan oleh Sadewa ada benarnya.


Dalam peraturan tidak tertulis yang di sepakati bersama para pendekar dunia persilatan baik dari golongan hitam maupun golongan putih, pimpinan wilayah harus bertanding mereka yang seusia saja. Bagi yang sudah sepuh, tidak boleh ikut campur kecuali jika ada yang menantang secara langsung. Jika berdasarkan perhitungan ini maka Perguruan Bukit Katong tidak perlu susah payah melawan Dewa Kalong Merah tapi cukup menghadapi para murid nya saja. Dan bila ini terjadi, bisa dipastikan bahwa Perguruan Bukit Katong lah yang akan keluar sebagai pemenang.


Diantara para murid Perguruan Kelelawar Merah, hanya Parta dan Banupati saja yang layak untuk bertanding melawan para murid Perguruan Bukit Katong. Banupati sudah kehilangan kekuatan nya, tinggal Parta saja yang bisa diandalkan. Sedangkan Dewa Kalong Merah tidak mungkin memaksa Parta untuk maju karena dia adalah calon penerus satu-satunya Perguruan Kelelawar Merah sepeninggal Dewa Kalong Merah.


Sembari menahan amarah yang berkobar di dalam dada, Dewa Kalong Merah langsung duduk kembali di tempatnya semula. Kakek tua itu terus mendelik tajam ke arah Sadewa yang masih saja tenang di samping Jaka Umbaran.


"Apa ada usulan lain? Sebelum kami berempat memutuskan tata cara untuk pemilihan pengatur wilayah besok. Jika ada silahkan di utarakan", ucap Mpu Dirgo si Pendekar Golok Sakti memecah keheningan.


"Aku setuju dengan usulan Barmawijaya, Golok Sakti..


Setidaknya itu akan menjadi tempat bagi ku untuk membuktikan bahwa Gunung Ciremai bukan lawan enteng untuk perguruan cakar ayam itu", ucap Ratu Racun Pembunuh sambil menyunggingkan senyuman sinis pada Barmawijaya.


"Perempuan setan!!


Jaga bicaramu kalau masih ingin melihat matahari terbit esok pagi. Ingat, ilmu kanuragan itu tidak punya mata. Tak peduli laki-laki atau perempuan, jika berhadapan tak akan pernah salah memilih lawan", ucap Barmawijaya dengan cepat dan penuh ancaman.


"Hihihihihihi...


Baru punya ilmu seujung kuku hitam saja mau sombong kau, bocah ingusan? Apa kau ingin mampus saat ini?", Ratu Racun Pembunuh, salah satu tokoh pendekar golongan abu-abu ini segera memasukkan tangan kanannya ke lipatan selendang yang ada di pinggangnya, bersiap untuk bertarung.


"Cukup!!!


Jangan lupa ini adalah Perguruan Golok Sakti. Jangan berbuat seenaknya sendiri disini jika tidak ingin aku bertindak tegas.


Maharesi Haridharma, Resi Mpu Anubhaya, Dewi Kembang Bulan..


Bagaimana keputusan kalian? Apakah kita harus menyelesaikan pengatur wilayah yang kosong ini dengan jalan adu kesaktian?", Mpu Dirgo segera menoleh ke arah ketiga orang di sampingnya itu.


"Sepertinya hanya ini saja jalan satu-satunya yang bisa kita pilih, Pendekar Golok Sakti", ujar Maharesi Haridharma yang di sambut anggukan kepala dari Resi Mpu Anubhaya dan Dewi Kembang Bulan.


"Baiklah kalau begitu..


Besok pagi, tepat saat matahari sepenggal naik di langit timur, kita adakan adu kesaktian di halaman Perguruan Golok Sakti. Untuk para pendekar dari wilayah kulon akan bertanding di awal. Selanjutnya dari wilayah selatan dan terakhir dari wilayah tengah. Untuk satu perguruan, hanya 2 orang yang boleh berpartisipasi. Sedangkan untuk pendekar tanpa perguruan, boleh menantang pemenang akhir.


Untuk peraturan, segala cara boleh digunakan. Senjata rahasia, kekuatan luar, bantuan dari siluman maupun benda pusaka bisa digunakan karena ini adalah pertarungan hidup dan mati!


Bagi lawan yang sudah menyerah tidak boleh dibunuh. Membunuh lawan yang sudah menyerah akan dihapus dari calon pengatur wilayah dan tidak diijinkan lagi untuk mengikuti pemilihan lagi untuk selamanya", ucap Mpu Dirgo mengakhiri pembicaraan mereka pada kesempatan malam hari itu.


Semua orang nampak menghela nafas berat. Ini memang resiko yang harus dilakukan jika ingin terkenal dan menjadi pengatur wilayah. Bagi mereka yang tidak siap untuk mati, maka pasti akan mengurungkan niatnya untuk ikut serta dalam acara ini. Tapi bagi yang sudah bulat tekatnya, pasti akan mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya untuk memenangkan pertandingan esok pagi.


Di tenda tempat tinggal para murid Perguruan Bukit Katong, diadakan pertemuan antara para murid yang diikutkan dalam pertandingan ini. Semua anggota rombongan itu duduk bersila dengan rapi di dalam tenda bertatap anyaman daun kelapa ini.


"Sesuai dengan peraturan yang sudah di tetapkan tadi, hanya dua orang yang di ijinkan untuk ikut serta dalam pertandingan ini. Aku ingin bertanya kepada kalian, siapa diantara kalian yang ingin ikut serta dalam acara esok hari?", Sadewa mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Semua orang terdiam tanpa bersuara sedikitpun. Kesemuanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Menurut ku, yang paling pantas untuk mewakili Perguruan Bukit Katong hanya kau dan Adhi Locana, Adhi Sadewa...


Ini adalah arena pertandingan harus hidup mati. Permadi dan Juwana belum cukup kuat untuk ikut berpartisipasi. Mereka hanya akan mati konyol sia-sia dan Perguruan Bukit Katong akan kehilangan penerusnya di masa depan. Adhi Surtikanti juga masih di bawah kemampuan beladiri kalian berdua, jadi aku rasa hanya kalian berdua saja yang dapat mewakili Paman Guru Resi Mpu Hanggabhaya", tutur Jaka Umbaran memecah keheningan.


"Aku sependapat dengan Paman Guru Umbaran, Guru..


Kemampuan beladiri tidak lebih baik dari Permadi. Jika dipaksakan untuk maju, aku takut akan mempermalukan nama besar Perguruan Bukit Katong. Bukan aku pengecut, tapi aku sadar diri dengan kemampuan ku sendiri", ucap Juwana yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari Permadi.


"Kakang Umbaran benar, Kakang Sadewa..


Kita tidak boleh egois hanya karena ingin terlihat hebat di mata orang-orang dunia persilatan. Aku akan di luar arena untuk menyaksikan kalian mengalahkan lawan yang menantang", ujar Surtikanti segera.


"Lantas bagaimana dengan Kakang Umbaran sendiri? Peserta dari perguruan silat hanya dibatasi dua orang. Kalau aku dan Locana yang maju, bukankah tidak ada kesempatan bagi Kakang Umbaran untuk unjuk gigi?", Sadewa menatap wajah tampan pemuda itu segera. Jaka Umbaran tersenyum lebar mendengar ucapan Sadewa.


"Kau tenang saja, aku yakin kalian berdua sanggup mengatasi lawan-lawan yang ada. Kalaupun nanti kalian sampai kalah, aku akan menantang pemenangnya dan menghajarnya hingga babak belur", mendengar jawaban itu, Sadewa langsung mengerti apa maksud sebenarnya dari usulan Jaka Umbaran. Murid Maharesi Siwamurti ini ingin memberikan kesempatan yang lebih pada dia dan Locana untuk mengharumkan nama besar Perguruan Bukit Katong.


Malam terus merangkak menuju ke puncaknya. Meskipun cuaca terasa lebih indah dan biasanya namun tidak meredakan suasana tegang dan panas di setiap dada pendekar yang akan bertarung esok hari. Hingga pagi hari tiba, masih banyak pendekar yang tidak bisa memejamkan mata saking tegangnya menghadapi pertarungan.


Pagi itu suasana di sekitar halaman Perguruan Golok Sakti telah ramai dikunjungi oleh banyak pendekar. Di teras balai utama, para sesepuh dunia persilatan Tanah Jawadwipa yang menjadi pengamat telah berkumpul bersama. Mpu Dirgo yang menjadi tuan rumah sekaligus menjadi wasit dalam acara ini segera melangkah ke tengah lapangan.


"Awal pertandingan, Perguruan Cakar Rajawali Galunggung melawan Astanajapura dari Bukit Gronggong. Yang mewakili perguruan silahkan maju..", mendengar suara itu, seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan pakaian serba putih melangkah maju. Dia adalah Hadikusumah, seorang pendekar muda dari Astanajapura yang belakangan cukup terkenal di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat. Pemuda itu segera menghormat pada Mpu Dirgo.


Dari sisi lain, Barmawijaya murid utama Perguruan Cakar Rajawali Galunggung maju ke depan. Dengan pakaiannya yang serba merah dan kuku tangan yang memanjang, pendekar yang berjuluk Rajawali Merah ini segera menghormat pada Mpu Dirgo sebelum mempersiapkan kuda-kuda ilmu beladiri nya. Mpu Dirgo memberi isyarat kepada mereka berdua untuk mulai dan kedua orang pendekar wilayah kulon inipun langsung melesat cepat kearah lawan dengan melayangkan serangan mereka.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh..!!


Cakar tangan kanan Barmawijaya segera menyambar cepat kearah leher Hadikusumah. Pria bertubuh tegap inipun langsung berkelit menghindari sambaran cakar tangan Barmawijaya dan menjatuhkan diri sembari menggunting kaki lawan dengan kedua kakinya. Dia berusaha keras untuk menjatuhkan Barmawijaya namun dia kecele saat melihat kuda-kuda kaki Barmawijaya begitu kokoh hingga tak bisa digoyangkan.


Barmawijaya segera menusukkan cakar tangan nya bertubi-tubi kearah Hadikusumah. Pendekar muda itu bergerak cepat ke kanan dan ke kiri menghindari hujaman cakar tangan lawan sambil mengesot mundur.


Semua orang menahan nafas melihat pertarungan sengit antara kedua pendekar muda dari wilayah kulon ini. Gendol yang berdiri di samping Jaka Umbaran, ikut bergerak menirukan polah Barmawijaya hingga tak sengaja menyenggol lengan Jaka Umbaran. Wajah Gendol pucat seketika itu juga begitu melihat Jaka Umbaran menatap tajam ke arah nya.


"Eh ma-maaf Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar..", ucap Gendol segera.


"Kenapa tingkah mu aneh begitu Ndol?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Itu Ndoro, saya hanya terpesona sama gerakan cepat si kumis tebal itu (Barmawijaya maksudnya ). Ilmu kanuragan nya tinggi. Si baju putih itu pasti akan kalah dengan cepat", ujar Gendol sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Ndol Gendol.. Jangan cuma melihat kemampuan orang dari gerakan luarnya saja. Orang berbaju putih itu tidak selemah yang kau kira", jawab Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis. Dia telah menggunakan mata batinnya untuk melihat kemampuan beladiri Hadikusumah.


Gendol yang keukeuh dengan pendapat nya, langsung berucap cepat,


"Apa Ndoro berani taruhan?"