JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Kerajaan Siluman Alas Roban


Alas Roban adalah sebuah wilayah hutan lebat yang terkenal dengan keangkeran nya. Selain di huni oleh para binatang buas yang berkeliaran bebas di kawasan hutan wilayah perbatasan Pakuwon Banyuputih dan Pakuwon Weleri, hutan ini juga memiliki sesuatu yang mengerikan.


Selain Alas Purwo di wilayah Blambangan dan Kawasan Gunung Ceremai di Kerajaan Galuh Pakuan, Alas Roban merupakan tiga tempat terkuat kerajaan siluman di daratan tanah Jawa. Meskipun terdapat juga banyak kerajaan siluman lain seperti Hutan Larangan di Kerajaan Jenggala dan Nusa Kambangan di pesisir selatan, namun Alas Roban tetap menjadi tiga terkuat kerajaan siluman yang menguasai daratan tanah Jawa.


Selain Istana Laut Selatan dan Kerajaan Laut Utara, bersama dengan Alas Purwo dan Kawasan Gunung Ceremai, Alas Roban menjadi penyeimbang bagi ketentraman Pulau Jawa dari pertarungan antara kerajaan siluman lain yang selalu bertikai di wilayah Pulau Jawa. Meskipun Istana Laut Selatan dan Kerajaan Laut Utara selalu bersikap netral dan tak memihak, namun pertarungan abadi antara Gunung Ciremai dan Alas Purwo selalu membutuhkan pihak ketiga yang menjadi juru penengah antara mereka. Dan di situlah peran Alas Roban sebagai penengah mereka selama ribuan tahun.


Penguasa Kerajaan Siluman Alas Roban saat ini adalah Prabu Simharaja. Dia sudah memerintah Kerajaan Siluman Alas Roban sejak awal pemerintahan Prabu Airlangga. Kala itu, dia sudah membuat kesepakatan ghaib bersama dengan raja pertama Panjalu itu untuk tidak saling mengganggu kehidupan satu sama lain agar menciptakan ketentraman di Tanah Jawadwipa. Prabu Airlangga memberikan kawasan Hutan Alas Roban sebagai istana bagi para siluman dimana mereka bebas menerapkan hukum dunia mereka di tempat itu. Sedangkan para siluman juga tidak diperkenankan untuk menebar angkara di luar Alas Roban sejak saat itu.


Prabu Simharaja memiliki tubuh yang gempal dengan rambut putih dan jambang yang lebat. Selain wujud manusia nya, Prabu Simharaja juga memiliki wujud seekor macan putih besar yang menakutkan. Di kepalanya tersemat sebuah mahkota indah dengan beberapa permata indah menghiasi. Sang raja siluman sendiri duduk di atas singgasana yang terbuat dari emas yang indah. Seorang perempuan muda dengan wajah cantik namun memiliki tatapan mata yang tajam dan menakutkan terlihat duduk di sebelah kiri bawah sang raja siluman. Dia adalah ratu kerajaan siluman Alas Roban, Ratu Parvati.


Tak seperti kebanyakan kerajaan manusia, Kerajaan Siluman Alas Roban tidak memiliki ratusan punggawa istana. Hanya ada dua putra putri raja, Pangeran Simhamurti dan Dewi Simhakesi yang merupakan sepasang putra kembar dari sang raja. Juga patih yang di jabat oleh Dipamenggala dan Senopati Srenggendra yang memimpin ribuan tentara siluman.


Saat hari menjelang siang itu, kala rombongan Jaka Umbaran dan para murid Perguruan Bukit Katong mulai memasuki wilayah Alas Roban, terjadi semacam gempa yang mengguncang seluruh istana.


Kegoncangan itu langsung membuat seisi Istana Alas Roban dalam kepanikan. Prabu Simharaja sampai turun dari atas singgasana nya dan bergegas menuju ke luar istana.


"Ada apa ini? Kenapa ada gempa tak biasa seperti ini?", tanya Prabu Simharaja segera.


"Mohon ampun Gusti Prabu..


Sepertinya ini di sebabkan oleh beberapa orang yang masuk ke dalam wilayah kerajaan kita. Apa perlu kita usir mereka dari wilayah kita?", ujar Senopati Srenggendra yang baru muncul dari arah samping kanan sambil menghormat pada sang penguasa Alas Roban.


"Lakukan saja!


Buat mereka menjauh dari tempat kita. Pakai segala cara, kalau perlu bunuh mereka", titah Prabu Simharaja segera. Senopati Srenggendra segera menghormat sebelum merendahkan tubuhnya. Tiba-tiba saja wujud nya telah berubah menjadi seekor serigala besar yang menakutkan. Dia pun segera melompat keluar dari dalam Istana Alas Roban. Ratusan siluman serigala yang lain segera mengikuti langkah sang pimpinan.


"Romo Prabu, sebaiknya aku ikuti Senopati Srenggendra. Siapa tahu, bantuan ku di butuhkan", ujar Pangeran Simhamurti sembari menghormat pada Prabu Simharaja.


"Hati-hati anak ku, seperti nya orang ini bukan orang biasa karena bisa menyebabkan gempa bumi di tempat kita", ucap Prabu Simharaja sembari mengangkat tangan kanannya.


"Baik Romo Prabu", setelah berkata demikian, Pangeran Simhamurti berubah wujud menjadi seekor harimau putih besar dan segera melompat ke arah perginya Senopati Srenggendra dan para tentara siluman serigala nya.


****


"Hutan ini kenapa sunyi sekali, Adhi Sadewa? Dari tadi aku tidak mendengar suara satu burung pun yang berkicau di tempat ini", ujar Jaka Umbaran sembari menjalankan kudanya perlahan menapaki jalan setapak yang membelah hutan lebat ini.


"Aku juga tidak tahu, Kakang Umbaran..


Aku juga merasakan hal aneh sejak pertama kali kita memasuki wilayah hutan ini. Sepertinya kita harus tetap waspada terhadap segala sesuatu. Aku takut jika hutan ini banyak di huni oleh binatang buas.


Semuanya, dengarkan aku! Tetap berkumpul dalam satu kelompok, jangan berpencar! Hutan ini memiliki penunggu!", teriak Sadewa segera. Semua orang langsung mengangguk mengerti. Mereka bergerak perlahan dan terus memasuki kedalaman hutan lebat ini.


Tiba-tiba...


Aaaaaauuuuuuuuuuuuuwwwwww...


Oohaaawwwuuuuuuuuuuwwww!!!


Terdengar lolongan serigala bersahutan yang membuat suasana hutan lebat sepi itu semakin terasa mencekam. Semakin lama, suara lolongan serigala bersahutan itu terasa semakin mendekat ke arah rombongan para murid Perguruan Bukit Katong. Salah seorang murid Perguruan Bukit Katong yang ketakutan, malah tak sengaja melihat sesuatu bergerak di dalam rimbun pepohonan yang mengitari sebuah tempat yang agak lapang.


"Se-se-serigalaaaaa...!!!


Ada serigala mengepung tempat kita!!!", teriak keras sang murid yang seketika menyebabkan kepanikan di antara para murid Perguruan Bukit Katong. Di saat yang kacau itu, seekor serigala melompat tinggi ke udara dan menerkam leher salah satu murid Perguruan Bukit Katong yang ada di pinggir kelompok.


Chhhrreeepppppppphhhh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Jerit keras memilukan hati terdengar dari mulut murid Perguruan Bukit Katong yang di bawa Surtikanti. Dia tewas seketika setelah gigi taring serigala memotong urat nadi lehernya yang menyebabkan darah nya muncrat keluar.


Dari balik rimbun pepohonan tiba-tiba ratusan ekor serigala dengan memamerkan gigi taringnya dan air liur yang terus menetes sudah mengepung rombongan murid Perguruan Bukit Katong. Namun semuanya hanya mengepung tempat itu tanpa bergerak sama sekali. Sedangkan serigala besar yang baru saja menghabisi nyawa salah satu murid Perguruan Bukit Katong itu berjalan mendekati mereka. Tiba-tiba saja, serigala itu berubah menjadi seorang lelaki bertubuh kekar dengan mulut belepotan darah segar dengan mata merah yang menakutkan.


"Kalian sebaiknya kembali, jangan meneruskan perjalanan melewati tempat ini. Kalau membangkang, nasib kalian semua akan sama dengan orang itu", ujar makhluk jadi-jadian itu sembari meleletkan lidahnya pada dagunya yang penuh dengan darah segar.


"Kami sedang terburu-buru untuk segera sampai di Lembah Kali Gung. Kalau harus kembali dan mengambil jalan memutar, sudah pasti kami akan terlambat untuk sampai di sana.


Mohon pengertiannya, biarkan kami lewat. Kami tidak punya niat untuk mencari masalah ataupun melalukan hal yang merugikan kalian", ujar Sadewa sambil membungkuk hormat dari atas punggung kuda tunggangan nya ke arah makhluk jadi-jadian yang tak lain adalah Senopati Srenggendra, pimpinan pasukan siluman Istana Alas Roban.


"Huhhhhh, ini adalah aturan di tempat ini. Sekali lagi aku ingatkan, kembalilah. Jangan melintasi tempat ini sebelum aku bertindak kasar memaksa kalian untuk keluar dari Alas Roban!", ucap Senopati Srenggendra dengan suara penuh ancaman.


"Maaf Kisanak..


Kami hanya lewat. Urusan kami mendesak dan tak mungkin lagi untuk berputar balik. Mohon kau berbesar hati untuk membiarkan kami lewat", Sadewa kembali membungkuk hormat kepada Senopati Srenggendra.


"Keras kepala!!


Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku menjadi kejam pada kalian. Pasukan ku, paksa mereka untuk mundur dari tempat kita", Senopati Srenggendra mengayunkan tangannya dan seketika ratusan ekor serigala yang sedari tadi sudah mengepung para murid Perguruan Bukit Katong langsung bergerak maju.


Ratusan serigala siluman itu beberapa berubah menjadi sosok manusia bersenjatakan cakar dan sebagian besar masih berwujud serigala langsung menerjang maju ke arah para murid Perguruan Bukit Katong. Pertarungan sengit pun segera terjadi antara mereka.


Thhrraaanggg thhrraaanggg..


Dhasshhh bhhuuuuummmmmmhh!!


Dalam waktu singkat, puluhan ekor serigala sudah terbunuh oleh pedang para murid Perguruan Bukit Katong. Namun beberapa murid Perguruan Bukit Katong sendiri juga tewas bersimbah darah oleh terkaman para serigala yang menyerang mereka bagaikan kesetanan.


Senopati Srenggendra langsung melompat maju ke arah Sadewa, berubah bentuk menjadi seekor serigala besar sambil membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerkam leher lawannya. Sadewa langsung melompat turun dari kudanya hingga leher kuda nya langsung menjadi korban sergapan cepat Senopati Srenggendra.


Chhhrreeepppppppphhhh...


Hiiieeeeeeeeeeekkkhhhhh!!!


Kuda tunggangan Sadewa langsung roboh ke tanah dengan luka menganga di lehernya. Kuda berwarna coklat tua itu tewas bersimbah darah. Setelah berhasil membunuh kuda tunggangan Sadewa, Senopati Srenggendra segera menerjang maju ke arah Sadewa yang baru saja mencabut Pedang Taring Naga nya. Mereka langsung bertarung sengit dengan mengandalkan kemampuan beladiri mereka masing-masing.


Saat itu, Pangeran Simhamurti yang baru saja datang ke tempat pertarungan, hanya menyaksikan pertarungan antara mereka dari tempat yang cukup jauh.


Jaka Umbaran segera melayangkan tendangan keras kearah perut seekor serigala yang mencoba menerkamnya dari arah kiri.


Dhhaaaassshhh..


Khhaaaiiiiiingggggggg!!


Serigala besar itu langsung melolong keras saat terpental jauh dan menabrak salah satu kawannya yang hendak bergerak maju. Jaka Umbaran pun dengan cepat merapal mantra Ajian Guntur Saketi hingga kedua telapak tangannya berubah menjadi putih kebiruan akibat cahaya yang berkumpul disana.


Dengan cepat ia melepaskan tembakan dari ujung jari telunjuk nya ke arah seekor serigala yang hendak menyerang Sekar Kantil dari belakang.


Cllaaaaaassshhhhh..


Brrruuuuuuuuuukkkhh!!!


Tanpa disadari oleh Sekar Kantil, Jaka Umbaran telah menyelamatkan nyawa nya dengan membunuh serigala yang mencoba untuk membokong nya. Selepas itu, Jaka Umbaran segera melesat cepat, mengamuk ke arah puluhan ekor serigala siluman yang ada di depannya. Satu persatu tewas bersimbah darah dan seketika menghilang menjadi abu hitam setelah terbunuh oleh Jaka Umbaran.


Melihat itu, Senopati Srenggendra yang bertarung seimbang dengan Sadewa, mendengus keras. Lalu meninggalkan Sadewa yang baru saja tersurut mundur beberapa tombak ke belakang setelah beradu tenaga dalam dengannya. Dia ingin membalas kematian para pasukannya yang di bantai oleh Jaka Umbaran satu persatu. Segera ia mengayunkan cakar tangan nya yang berwarna hitam ke arah punggung sang pendekar muda.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!!


Baju Jaka Umbaran langsung robek lebar pada punggung namun dia sama sekali tidak terluka. Cakar tajam Senopati Srenggendra tak mampu melukai kulit nya yang sudah di lapisi dengan Ajian Bandung Bondowoso.


Mata Senopati Srenggendra melotot lebar saat melihat itu semua. Terlebih lagi saat Jaka Umbaran memutar tubuhnya dan melayangkan hantaman tangan kanannya yang sudah di lambari Ajian Guntur Saketi. Senopati Srenggendra segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada kedua lengan tangannya untuk bertahan.


Blllaaammmmmmmm!!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Raungan keras Senopati Srenggendra terdengar bersamaan dengan terpental nya tubuh sang pimpinan pasukan siluman Istana Alas Roban ini. Tubuhnya menghantam tanah dengan keras dan berguling-guling beberapa kali sebelum berhenti. Cairan berwarna hijau tua mengalir keluar dari dalam mulutnya.


Melihat pimpinan mereka di jatuhkan oleh Jaka Umbaran, puluhan ekor serigala yang tersisa langsung melompat maju ke arah Jaka Umbaran segera menerkam maju ke arah sang pendekar muda.


Jaka Umbaran segera memutar kedua telapak tangannya dan menghentakkan nya ke atas. Cahaya putih kebiruan laksana kilat yang menyambar langsung menyebar ke berbagai arah dan menghajar para serigala siluman itu tanpa ampun.


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Khhaaaiiiiiingggggggg....!!!!


Puluhan ekor serigala itu segera mencelat mundur ke segala arah. Meskipun beberapa ada yang masih hidup dengan tubuh penuh luka, tapi kebanyakan tewas dengan tubuh hangus seperti tersambar petir.


Senopati Srenggendra segera bangkit meskipun dengan tertatih. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak nafas. Meskipun dia sudah terluka dalam parah, namun rasa amarah nya lebih mengendalikan diri nya. Dia berniat untuk mengadu nyawa dengan Jaka Umbaran pada satu serangan terakhir.


Namun saat yang bersamaan, muncul seekor harimau putih besar berjalan dengan santai mendekati tempat pertarungan itu. Di belakangnya ratusan siluman dari berbagai jenis dan ukuran mengekornya. Senopati Srenggendra segera membungkuk hormat kepada harimau putih besar itu.


"Sembah bakti hamba, Pangeran Simhamurti", ucap Senopati Srenggendra segera. Perlahan harimau putih besar itu berubah wujud menjadi seorang pemuda tampan dengan mengenakan sebuah mahkota dan kulit harimau putih menutupi bagian bawah tubuhnya.


Hemmmmmmm...


"Dia bukan lawan mu, Senopati Srenggendra. Dia lah orang yang menyebabkan gempa bumi di Istana Siluman Alas Roban tadi", ucap Pangeran Simhamurti sembari menatap tajam ke arah Jaka Umbaran. Mata batin calon raja siluman Alas Roban itu dapat melihat jelas bahwa di sekeliling tubuh Jaka Umbaran terdapat semacam pelindung gaib yang menjaga sang pendekar muda dari segala marabahaya.


Mendengar penjelasan Pangeran Simhamurti, Senopati Srenggendra terhenyak sebentar. Dia pun segera menatap ke arah Jaka Umbaran yang sudah bersiap untuk melanjutkan pertarungan dengan nya.


"Apa Gusti Pangeran tidak salah lihat? Pemuda ini paling tua baru genap berumur 2 dasawarsa.


Bagaimana mungkin dia memiliki kekuatan sebesar itu?", tanya Senopati Srenggendra segera.


Mendengar pertanyaan itu, Pangeran Simhamurti tersenyum penuh arti. Meskipun dia terlihat seperti seorang pemuda berusia 2 setengah dasawarsa, namun sesungguhnya dia telah mencapai usia ratusan tahun di dunia manusia. Dia telah bertapa ratusan tahun untuk dapat merubah tampilan nya menjadi seorang manusia dan itu juga yang mengasah mata batin nya.


"Dia bukan hanya pendekar biasa, Senopati Srenggendra. Ada sesuatu dalam dirinya yang lain dari orang kebanyakan.


Dan aku tertarik untuk menjajalnya.."