JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Sang Penghasut


Elang Botak mendengus keras mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh telik sandi nya. Bagaimanapun juga, orang itu adalah orang yang menggagalkan rencana besar nya untuk menjadi penguasa wilayah Kerajaan Galuh Pakuan di bawah kendali Jerangkong Hitam. Persekutuan dengan Prabu Hyang Linggakancana tidak mungkin di teruskan lagi karena itu sama saja dengan membongkar rahasia mereka. Toh di perjanjian sebelumnya, pihak Istana Tanjung Sengguruh juga tidak mau ikut campur jika pemberontakan mereka gagal.


"Aku tidak mungkin mengalahkan orang itu dengan kekuatan ku sendiri. Sebaiknya aku mencari bantuan pada kakak seperguruan ku Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis.


Dunggul, Sajamarta..


Kalian berdua ikut aku ke Padepokan Gunung Geger Bentang di Pamarican", mendengar perintah dari Si Elang Botak, dua orang bekas bawahan Jerangkong Hitam itu langsung mengangguk mengerti. Ketiganya langsung bergegas menaiki kuda mereka dan memacunya sekencang mungkin ke arah selatan. Meskipun hanya dengan penerangan cahaya obor yang ada di tangan, ketiganya yang hapal betul daerah itu tak kesulitan untuk menempuh perjalanan.


Menjelang tengah malam, ketiga nya telah sampai di kaki Gunung Geger Bentang yang menjadi tempat Padepokan Gunung Geger Bentang, salah satu perguruan silat kecil yang ada di kawasan perbatasan wilayah Kawali dan Mandala Tanjung Sengguruh. Ketiganya langsung mengarahkan kuda tunggangan mereka melewati jalan setapak di tepi hutan kecil. Setelah cukup lama berkuda, mereka sampai di pintu gerbang Padepokan Gunung Geger Bentang. Dua orang penjaga pintu gerbang langsung menghadang.


"Siapa kalian dan mau apa kemari?", tanya salah seorang penjaga gerbang padepokan itu dengan tegas.


"Aku Somakarta, adik seperguruan guru kalian Akang Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis.


Katakan pada guru mu, aku ingin bertemu", ucap Si Elang Botak yang memiliki nama asli Somakarta itu segera usai melompat turun dari kudanya tunggangannya. Dunggul dan Sajamarta mengikuti sang lelaki paruh baya berkepala botak itu.


Salah seorang diantara penjaga gerbang itu menatap lekat-lekat ke arah mereka bertiga sebelum melangkah masuk. Tak lama kemudian dia sudah kembali dari dalam Padepokan Gunung Geger Bentang.


"Silahkan Aki Somakarta masuk. Guru sudah menunggu di dalam", ucap si penjaga gerbang Padepokan Gunung Geger Bentang itu dengan sopan. Keduanya langsung membuka lebar pintu gerbang padepokan silat ini dan mempersilahkan kepada Si Elang Botak, Dunggul dan Sajamarta untuk masuk. Ketiganya langsung menuju ke arah balai utama perguruan silat itu.


Begitu sampai di dalam, seorang lelaki tua berjanggut pendek dan bertubuh gempal dengan sorot mata tajam seperti seekor elang sedang duduk bersila di tengah tempat luas itu. Meskipun hanya dengan penerangan cahaya lampu minyak jarak di beberapa sudut ruangan namun itu sudah cukup untuk membuat seisi ruangan terlihat jelas. Lelaki tua dengan tinggi badan sekitar 1 tombak ini mengenakan pakaian abu-abu berpelisir biru, sedangkan di punggungnya nampak sepasang pedang berbeda bentuk gagang. Satu bergagang kepala elang warna putih sedangkan satu lagi berbentuk seperti bulat pipih seperti uang kepeng perak yang berlobang. Kedua senjata itu adalah sepasang pedang yang cukup terkenal di dunia persilatan wilayah kulon yaitu Pedang Elang Putih dan Pedang Lobang Neraka.


Ehemmm ehheemmmm..


"Masuk saja, Somakarta..."


Mendengar ucapan lelaki tua berjanggut pendek itu, Somakarta Si Elang Botak bersama Dunggul dan Sajamarta segera melangkah mendekati orang yang tidak lain adalah Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis, seorang pendekar yang sangat di takuti oleh para penduduk sekitar perbatasan Kawali dan Tanjung Sengguruh karena kekejaman nya.


"Akang Awang, tujuan ku kemari untuk meminta bantuan mu..


Kalau Akang bersedia untuk melakukan nya, ada 200 kepeng emas sebagai upah untuk bantuan yang Akang berikan. Apakah Akang Awang Bajra bersedia melakukan nya?", ucap Somakarta Si Elang Botak terus terang.


Hemmmmmmm..


"Kau yang terkenal sebagai orang pelit dan kikir, bersedia mengeluarkan uang sebanyak itu pasti bukan bantuan mudah yang kau inginkan, bukan?


Katakan saja terus terang apa sebenarnya mau mu? Jika aku sanggup, aku tidak akan keberatan melakukan apa yang kau mau", ucap Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis sembari mengepalkan tangannya. Terdengar bunyi gemerutuk dari kepalan tangan sang pendekar.


"Akang Awang hanya perlu membunuh seseorang. Itu saja yang aku mau", jawab Somakarta Si Elang Botak segera.


"Siapa orang nya? Bukankah kau juga punya cukup punya ilmu kesaktian? Kenapa kau harus minta bantuan ku?", cecar Awang Bajra segera. Dia mulai curiga dengan keinginan adik seperguruan nya itu.


"Eh itu..


"Orang yang bisa menghabisi nyawa Jerangkong Hitam?


Si tua bangka itu berilmu tinggi, tidak sembarangan pendekar bisa menyentuh kulit nya. Kalau dia saja berhasil dibunuh nya, itu artinya aku pun belum tentu bisa membunuhnya, Elang Botak", ucap Awang Bajra sedikit keras. Jujur saja dia cukup mengenal Jerangkong Hitam, tahu seberapa tinggi ilmu kesaktian orang tua itu. Meskipun Jerangkong Hitam tidak bisa mati, namun ilmu kanuragan nya yang lain tidak terlalu tinggi hingga dia masih mampu jika bertarung melawan nya. Jika ada orang yang bisa menghabisi nyawa nya, tentu saja dia memiliki ilmu yang bisa membuat Ajian Rawa Rontek tidak berdaya dan ini yang menakutkan.


"Eh kalau hanya sekedar mengalahkan Jerangkong Hitam saja aku tidak akan dendam pada nya, Akang..


Tapi orang itu sempat menghina pendekar wilayah kulon dengan mengatakan bahwa para pendekar di wilayah sini tidak ada apa-apanya. Ini yang membuat aku begitu marah dengan nya", Somakarta Si Elang Putih berupaya untuk menghasut Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis.


"Apa kata mu?!!


Kurang ajar sekali dia! Kita tidak membiarkan nya bicara seenaknya tentang pendekar wilayah kulon. Ini merupakan penghinaan besar. Aku tidak akan pernah bisa memaafkannya!", Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis yang terkenal dengan darahnya yang mudah panas, langsung murka mendengar omongan Si Elang Botak. Pendekar tua berkepala botak itu berhasil membuat pimpinan Padepokan Gunung Geger Bentang itu marah besar. Melihat itu semua, Elang Botak sedikit menunduk untuk menyembunyikan seringai licik di wajahnya.


"Lantas dimana sekarang orang itu berada?", tanya Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis kemudian.


"Ia bermalam di penginapan yang ada di timur Kota Pakuwon Banjar Pataruman, Akang..


Kalau kita tidak cepat kesana, aku khawatir jika dia lebih dulu kabur ke arah wilayah Paguhan sebelum mempertanggungjawabkan semua omongan sengak nya itu", balas Si Elang Botak segera.


"Malam ini juga, antar aku ke tempatnya Somakarta. Akan ku buat dia menyesali apa yang sudah dia lakukan. Ayo berangkat..", setelah berkata begitu, Awang Bajra segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari dalam balai utama Padepokan Gunung Geger Bentang. Somakarta Si Elang Botak bergegas mengikuti langkah Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis bersama dua pengikutnya. Tanpa menunggu lama, keempatnya langsung bergegas menuju ke arah Kota Pakuwon Banjar Pataruman.


Menjelang pagi mereka sampai di Kota Banjar Pataruman. Kota yang ada di bantaran muara Sungai Cipakancilan sebelum bergabung dengan Sungai Citanduy ini merupakan daerah penghasil tarum atau pewarna nila pada kain yang cukup besar di wilayah selatan wilayah Kerajaan Galuh Pakuan. Di kota kecil ini ada beberapa pengolahan tarum sebelum menjadi pewarna alami kain yang banyak di cari oleh para penenun di wilayah Kerajaan Galuh Pakuan hingga Mandala atau tanah jajahannya.


Somakarta segera mengajak Awang Bajra ke arah penginapan tempat Jaka Umbaran, Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Resi Simharaja berada. Saat hendak Awang Bajra bertindak, Elang Botak buru-buru mencegah.


"Ada Somakarta? Kenapa kau menghalangi niat ku?", Awang Bajra menatap adik seperguruan nya itu dengan tatapan tak mengerti.


"Maaf Akang Awang..


Tapi sekarang ini aku sedang di buru oleh pemerintah Kotaraja Kawali. Jika kita membuat keributan disini, para prajurit Galuh Pakuan akan segera datang dan ini akan sangat merepotkan. Lebih baik kita mencegat Jaka Umbaran itu di dekat Sungai Citanduy. Bagaimana menurut mu?", tanya Somakarta Si Elang Botak segera.


"Huhhhhh, dasar pengecut!


Kau yang punya uang, maka kau yang berkuasa. Aku ikuti apa mau mu", ucap Awang Bajra sedikit kecewa. Mendengar jawaban itu, Somakarta Si Elang Botak segera mengajak Awang Bajra ke bantaran Sungai Citanduy dekat dermaga penyeberangan menuju ke Wanua Wanareja yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Panjalu. Sementaranya itu, Sajamarta bertugas untuk mengintai penginapan sedangkan Dunggul mengumpulkan kawan-kawan mereka di tempat persembunyian mereka.


Saat matahari sepenggal naik ke atas langit timur, Jaka Umbaran dan kawan-kawan meninggalkan penginapan di timur Kota Pakuwon Banjar Pataruman. Mereka menjalankan kuda mereka masing-masing ke arah dermaga penyeberangan yang menghubungkan wilayah Kerajaan Galuh Pakuan dan Panjalu lewat Wanua Wanareja. Dermaga penyeberangan ini adalah satu-satunya yang paling dekat karena yang lainnya cukup untuk dilalui.


Tepat sebelum memasuki bantaran Sungai Citanduy, muncul beberapa orang yang langsung mengepung mereka. Jaka Umbaran sempat mengenali salah satu dari mereka sebagai pimpinan pasukan pemberontak yang kabur. Jaka Umbaran mendengus dingin sembari bertanya,


"Mau apa kalian?"