JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Warisan


Seorang lelaki paruh baya bertubuh jangkung dengan kumis tebal dan jenggot lebat serta mata yang cekung seperti orang kurang tidur langsung mendelik kereng pada Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya. Lelaki itu memegang sebuah senjata trisula dengan pakaian hitam dengan ikat kepala berwarna biru lusuh. Sepertinya dia adalah pimpinan kelompok orang berpakaian hitam-hitam dengan wajah seram ini. Dua orang laki perempuan yang berpakaian senada pun segera mendekati orang itu.


"Anak muda, sebaiknya kau tidak usah ikut campur dalam urusan kami jika masih sayang dengan nyawa mu. Pergilah, aku tidak akan menyulitkan mu jika kau tidak mengganggu!", bentak si lelaki paruh baya berwajah sangar ini lantang.


"Kurang ajar kau kakek tua!


Kau pikir siapa dirimu hingga berani mengusir majikan ku ha?!", sahut Gendol tak kalah garang.


"Siapa kami??!


Hahahaha, sepertinya kau ini seekor katak dalam tempurung yang tidak pernah melihat luasnya dunia. Aku Guwarsa, dunia persilatan mengenalku dengan sebutan Iblis Jangkung Goa Siluman. Ini Guwarsi dan yang itu adalah Badrahini. Kami bertiga adalah keturunan dari Tiga Iblis Goa Siluman, jadi sekarang pun julukan itu menjadi milik kami. Apa kau sudah ketakutan dan ingin kencing di celana mu itu sekarang? Hahahaha...", tawa terbahak-bahak terdengar dari mulut ketiga orang berpakaian serba hitam itu segera.


"Aneh, tapi aku tidak pernah dengar nama kalian di dunia persilatan Tanah Jawadwipa.


Macan tua, kau pernah dengar nama itu sebelumnya?", mendengar pertanyaan Gendol ini, Resi Simharaja langsung menggeleng cepat.


"Tuh lihat bukan?


Kawan ku yang sering melanglang buana saja tidak pernah dengar nama kalian jadi jangan membual disini", ucap Gendol dengan suara penuh ejekan.


"Kau ...."


Belum sempat Guwarsa si Iblis Jangkung Goa Siluman selesai bicara, Badrahini segera menahannya dan melangkah maju.


"Kisanak, aku tidak peduli kalian pernah mendengar nama besar kami atau tidak, tapi yang jelas urusan kami bukan dengan kalian tapi dengan para cecunguk Padepokan Bukit Penampihan itu. Jadi tolong jangan ikut campur urusan kami, jika tidak ingin berurusan dengan Tiga Iblis Goa Siluman", ucap Badrahini segera.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Tanpa bantuan dari kisanak inipun kami masih sanggup melayani polah tingkah kalian, heh penjahat!


Jangan harap bisa merebut Kitab 5 Tapak Dewa selama kami masih hidup!", teriak seorang lelaki paruh baya yang sepertinya merupakan pimpinan dari kelompok orang berpakaian putih itu. Dia adalah Mpu Lumana, pengganti pimpinan Padepokan Bukit Penampihan setelah meninggal nya Mpu Damarmoyo.


"Hehehehe..


Lumana, kau boleh sombong karena memiliki ilmu yang kau pelajari dari Kitab 5 Tapak Dewa itu meskipun baru satu bagian saja yang bisa kau kuasai. Tapi jika kau ingin tetap hidup, serahkan kitab pusaka itu segera. Kalau tidak, shreeeeettttthhh... Kau akan menjadi pimpinan terakhir Padepokan Bukit Penampihan", ucap Guwarsi, saudara kembar Guwarsa yang juga merupakan salah satu dari Tiga Iblis Goa Siluman sambil menarik telunjuk tangan nya ke leher.


"Bedebah!!


Kalian benar-benar tidak bisa di ampuni lagi. Aku akan mengadu nyawa dengan kalian bajingan!", Mpu Lumana bersiap untuk kembali bertarung dengan Tiga Iblis Goa Siluman namun belum sampai dia bergerak, Jaka Umbaran segera menghentakkan kakinya ke tanah.


Bhhuuuuummmmmmhh...


Getaran kuat seperti gempa bumi hebat langsung membuat semua orang seperti kehilangan keseimbangan. Beberapa dari mereka malah ada yang terjatuh karena oleng. Para pendekar yang sedang berseteru inipun langsung terkejut bukan main melihat kekuatan yang dimiliki oleh pemuda tampan itu. Semuanya langsung mundur beberapa langkah ke belakang dengan kewaspadaan tinggi. Mereka pun segera sadar bahwa mereka kini sedang berhadapan dengan seorang pendekar muda yang pilih tanding.


"Hanya karena sebuah kitab pusaka, kalian mengadu nyawa seperti ini.


Sungguh tidak bisa di biarkan begitu saja. Hentikan pertikaian kalian jika tidak ingin aku terpaksa turun tangan. Aku Jaka Umbaran, pengatur wilayah tengah dunia persilatan Tanah Jawadwipa", ucap Jaka Umbaran segera.


Semua orang baik dari pihak Tiga Iblis Goa Siluman maupun Padepokan Bukit Penampihan langsung saling berpandangan mendengar ucapan itu. Bagaimanapun juga, mereka sama-sama telah mendengar nama besar pendekar muda yang terpilih sebagai pengatur wilayah tengah dunia persilatan itu. Kini mereka sendiri melihat langsung kemampuan beladiri anak muda yang namanya sedang naik daun ini.


Takut jika mereka tidak bisa melihat matahari pagi terbit esok hari, Tiga Iblis Goa Siluman pun langsung mundur.


"Hemmmmmmm.. Hari ini kami Tiga Iblis Goa Siluman mundur, Mpu Ludra. Tapi ingat, suatu saat kitab pusaka itu pasti akan jatuh ke tangan kami.


Semuanya, kita mundur..", ucap Iblis Jangkung Goa Siluman sembari berbalik badan meninggalkan tempat itu. Para pengikutnya pun segera mengikuti langkah sang pimpinan.


Mpu Lumana dan para sesepuh serta murid-murid Padepokan Bukit Penampihan langsung menarik nafas lega setelah kelompok Iblis Goa Siluman itu pergi. Mereka pun segera mendekati Jaka Umbaran dengan penuh hormat.


"Terimakasih atas bantuan mu, Pendekar Gunung Lawu..


Setelah hanya mendengar cerita tentang kehebatan mu, kali ini kami beruntung bisa melihat langsung. Kau sungguh hebat", puji Mpu Lumana segera. Belum sempat Jaka Umbaran menanggapi omongan lelaki tua itu, dari belakang terdengar tepuk tangan.


Ploookkkk ploookkkk ploookkkk!!


Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari Panji Tejo Laksono alias Prabu Bameswara bersama Ratu Dyah Chandrakirana. Jaka Umbaran pun segera menghormat pada ayahnya ini.


"Dia adalah...", Mpu Lumana yang lupa-lupa ingat dengan wajah orang paruh baya di depannya itu langsung kena semprot Besur.


"Heh orang tua, jaga ucapan mu ya. Sopan lah sedikit dalam bertutur kata.


Beliau ini adalah Gusti Prabu Bameswara, Maharaja Panjalu yang mulia", ucap Besur sengit.


APPAAAAAAAAAAAA..!!!


Kaget mendengarnya, Mpu Lumana dan seluruh murid Padepokan Bukit Penampihan langsung berjongkok dan menyembah pada Prabu Bameswara.


"Maafkan kami yang tidak mengenali Gusti Prabu Bameswara. Kami layak menerima hukuman", ucap Mpu Lumana segera.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak adat di tempat seperti ini. Lagipula, aku punya hubungan dekat dengan Padepokan Bukit Penampihan jadi kalian tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu. Bangunlah..", ucap Panji Tejo Laksono alias Prabu Bameswara sembari mengangkat tangan kanannya.


"Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Prabu..


Mohon maaf jika hamba lancang sekali tapi hamba penasaran dengan omongan Gusti Prabu baru saja. Jaka Umbaran ini adalah anak Gusti Prabu, apa benar demikian adanya?", mendengar pertanyaan itu, Prabu Bameswara segera tersenyum.


"Orang yang kalian kenal sebagai Jaka Umbaran sebenarnya adalah putra ku, putra mahkota Kerajaan Panjalu yang bernama asli Mapanji Jayabaya", uraian Prabu Bameswara itu membuat para murid dan sesepuh Padepokan Bukit Penampihan terkejut bukan main untuk kali kedua. Ini merupakan berita besar.


"Kalau begitu, maafkan sikap kami yang tidak sopan sebelumnya, Gusti Pangeran..


Kami benar-benar tidak tahu kalau yang menolong kami adalah Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya", ujar Mpu Lumana segera.


"Itu semua tidak perlu, Ki..


Aku hanya menjalankan tugas ku sebagai pengatur wilayah tengah saja. Tidak usah berlebihan.


Romo Prabu, karena masalah ini sudah teratasi, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan. Lihatlah matahari telah ada di atas kepala", ucap Jaka Umbaran sembari melihat ke arah bayangan tubuhnya yang tegak lurus pada badannya.


"Kau benar, putra ku.. Kita memang harus sampai di Kotaraja Daha sebelum senja..


Mpu Lumana, sebaiknya kami segera pergi. Permisi..", ketiganya hendak melangkah meninggalkan tempat itu namun Mpu Lumana segera mencegahnya.


"Tunggu Gusti Prabu.."


Mendengar ucapan ini, Prabu Bameswara, Jaka Umbaran dan Ratu Dyah Chandrakirana pun segera berbalik badan ke arah Mpu Lumana segera.


"Ada apa lagi, Mpu Lumana? Kenapa kau menghentikan kami?", tanya Prabu Bameswara segera.


"Mohon ampun Gusti Prabu..


Hamba ingin menitipkan Kitab 5 Tapak Dewa ini untuk Gusti Prabu serahkan kepada pewaris yang sah, Gusti Selir Luh Jingga", Mpu Lumana segera menghaturkan sebuah kitab yang ditulis pada kulit kambing setebal 5 halaman yang digulung dan diikat dengan benang merah kepada Prabu Bameswara.


Hemmmmmmm..


"Apa kau yakin ingin menyerahkannya pada Dinda Luh Jingga, Mpu Lumana?", tanya Prabu Bameswara kemudian setelah menerima Kitab 5 Tapak Dewa itu.


"Hamba khawatir jika kitab pusaka itu tetap ada di tangan hamba, maka kitab pusaka itu akan direbut oleh orang lain. Ini adalah warisan dari Kakang Mpu Damarmoyo, harus diberikan kepada yang berhak.


Mohon maaf telah merepotkan Gusti Prabu Bameswara untuk masalah ini", ucap Mpu Lumana dengan penuh hormat.


"Baiklah, akan ku sampaikan titipan mu ini kepada Dinda Luh Jingga. Aku permisi", Prabu Bameswara mengangkat tangan kanannya sebelum melangkah menuju ke arah kereta kuda bersama dengan Ratu Dyah Chandrakirana. Sebentar kemudian, rombongan keluarga Istana Kotaraja Daha itu pun meninggalkan tempat itu.


Setelah meninggalkan kaki Bukit Penampihan, rombongan itu berbelok arah di persimpangan jalan menuju ke arah selatan. Mereka sengaja tidak melewati Kota Kadipaten Anjuk Ladang untuk menyingkat waktu. Menjelang sore hari, mereka telah sampai di tepi Sungai Kapulungan atau Sungai Brantas yang kita kenal sekarang.


Di dermaga penyeberangan Sungai Kapulungan, puluhan orang terlihat sedang menunggu kedatangan perahu penyeberangan berlabuh di dermaga. Rombongan Prabu Bameswara pun juga turut mengantri untuk menyeberang.


Jaka Umbaran yang sedang menuntun kudanya yang hendak naik kapal penyeberangan, dikagetkan oleh suara seseorang yang memanggilnya dengan lantang.


"Kakang Umbaran, kau rupanya ada disini.."