JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Menuju Blambangan


"Kau tidak dalam posisi tawar menawar dengan ku, Wara Andhira!


Terima kebebasan mu atau kau selama nya tidak akan pernah bisa keluar dari dalam tahanan ini!", ucap Jaka Umbaran tegas.


"Kalau kau keras kepala tidak mau menerima syarat dari ku, terserah saja pada mu. Di hukum dalam penjara ini juga bukan hal buruk, setidaknya aku bisa makan tidur tanpa ada yang mengganggu.


Akan tetapi nyawa Prabu Bameswara yang akan menjadi taruhannya bukan?", Wara Andhira tersenyum penuh kemenangan.


"Kau....!!!


Darimana kau tahu hal itu, heh perempuan Blambangan?!", Jaka Umbaran mendengus dingin mendengar jawaban Wara Andhira ini.


"Mulut para prajurit penjaga penjara tadi pagi membicarakan hal ini, jadi aku langsung berpendapat bahwa keinginan mu sampai di Alas Purwo adalah salah satu upaya untuk menyelamatkan nyawa Prabu Bameswara. Itu saja..", ucap Wara Andhira enteng.


Hemmmmmmm..


"Lantas apa syarat yang kau minta? Asal tidak macam-macam, aku pasti akan berusaha untuk mengabulkan nya", Jaka Umbaran menatap tajam ke perempuan cantik yang pakaiannya compang-camping itu segera.


"Syarat pertama, aku mau pakaian bagus seperti pakaian para bangsawan Kerajaan Panjalu", Wara Andhira tersenyum penuh arti.


"Kalau itu saja, mudah saja bagiku..", Jaka Umbaran menghela nafas lega karena mendengar syarat mudah yang di inginkan oleh Wara Andhira.


"Eit eit eit.. Tidak segampang itu...


Syarat kedua, aku mau kau membantuku dengan seluruh kekuatan Kerajaan Panjalu untuk menggempur Kerajaan Blambangan setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan", mata Jaka Umbaran terbelalak lebar tatkala ia mendengar syarat kedua yang di ajukan oleh perempuan cantik itu.


HAAAAAHHHHHHHHH?!!!!


"Kau sudah gila ya?!


Untuk apa aku melakukan hal itu, heh perempuan Blambangan?!", tanya Jaka Umbaran kemudian.


"Tentu saja untuk membantu ku merebut kembali tahta Kerajaan Blambangan. Memangnya apa lagi?", jawab Wara Andhira santai.


"Sebentar sebentar, jelaskan dulu padaku kenapa aku harus membantu mu merebut kekuasaan di Blambangan?


Ini bukan masalah sepele karena itu akan mengguncangkan seluruh kerajaan kerajaan di Nusantara ini. Kalau tidak ada alasan yang pasti, aku tidak bisa melakukan nya", mendengar jawaban itu, Wara Andhira menghela nafas panjang sebelum berbicara tentang dirinya.


Wara Andhira adalah nama pemberian Maharesi Wiramabajra saat dia mulai berguru kepada sosok yang dikenal sebagai Wong Agung Gunung Raung ini. Nama aslinya adalah Nararya Sekardadu. Dia adalah putri dari Prabu Menak Linggo dari permaisurinya. Dia adalah satu-satunya keturunan Prabu Menak Linggo yang berhasil lolos dari pembantaian massal para keturunan Prabu Menak Linggo yang dilakukan oleh Pangeran Ganeshabrata melalui Patih Mpu Sangkrah usai dia menguasai tahta Kerajaan Blambangan.


Selepas menghilang nya Prabu Menak Linggo dari istana, Pangeran Ganeshabrata menunjuk Patih Mpu Sangkrah sebagai Wali Raja untuk memimpin pemerintahan Kerajaan Blambangan dengan mendudukkan putra nya yang kemudian bergelar Prabu Menak Tawang yang masih remaja sebagai raja Blambangan.


Wara Andhira pun berusaha keras untuk belajar ilmu kanuragan agar mampu membalas dendam kematian ibu dan saudara-saudaranya yang terbunuh oleh pasukan Patih Mpu Sangkrah. Dia pernah menyerang Prabu Menak Tawang saat berkunjung ke pemukiman penduduk Suku Osing yang ada di selatan Blambangan. Akan tetapi, dia nyaris terbunuh oleh para pengawal pribadi Prabu Menak Tawang tetapi berhasil lolos setelah melompat ke sebuah jurang.


Untung saja ketika ia sedang dalam keadaan sekarat, salah satu murid perempuan Pertapaan Gunung Raung menemukannya dan membawa Nararya Sekardadu ke Gunung Raung. Hingga akhirnya Maharesi Wiramabajra mengangkatnya menjadi murid sampai dia tiba di Panjalu hingga saat ini.


Wara Andhira menghela nafas panjang setelah mengakhiri cerita perjalanan hidup nya. Jaka Umbaran pun jadi bersimpati pada nasib perempuan cantik itu.


"Baiklah, aku berjanji padamu. Jika aku berhasil menemukan apa yang aku cari di Alas Purwo, aku tidak akan keberatan untuk membantu mu merebut kembali tahta Kerajaan Blambangan. Itu sudah cukup bukan?", mendengar jawaban Sang Yuwaraja Panjalu ini, Wara Andhira langsung tersenyum lebar.


"Belum, masih ada syarat ketiga. Tapi itu akan ku minta saat aku tahu apa yang aku inginkan. 3 syarat ini sudah cukup untuk ku", ucap Wara Andhira yang membuat Resi Simharaja mendengus dingin.


"Dasar perempuan licik..."


Sesuai janji, Jaka Umbaran menyiapkan pakaian terbaik untuk Wara Andhira. Dia menyuruh seorang dayang istana Katang-katang untuk memberikan pakaian yang layak untuk pemandu jalannya.


Sembari menunggu Wara Andhira selesai berganti pakaian, Jaka Umbaran berpamitan pada istri-istri nya. Nararya Padmadewi, Pandan Wangi dan Dewi Rengganis terus menempel pada suami mereka. Maklum saja, mereka masih terbilang pengantin baru dan belum sempat menikmati indahnya hidup berumah tangga akan tetapi prahara yang telah terjadi di Kotaraja Daha mengharuskan mereka untuk berpisah sementara waktu. Indrawati yang paling muda saja, kebagian tugas untuk menjaga Prabu Bameswara sambil menunggu kedatangan sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu itu kembali.


"Yayi Rengganis, kau yang memiliki ilmu kanuragan paling tinggi di antara para saudari mu.


Istana Katang-katang aku serahkan kepada mu sampai aku kembali", Jaka Umbaran menatap wajah cantik Dewi Rengganis yang memeluk lengan kiri nya.


"Aku akan menjaga saudari-saudari ku dengan baik, Kangmas Pangeran. Jadi Kangmas Pangeran harus secepatnya pulang ke Istana Katang-katang ini setelah mendapatkan obat untuk menyembuhkan sakit Kanjeng Romo Prabu Bameswara", balas Dewi Rengganis sambil tersenyum penuh arti.


Saat mereka masih asyik berbincang, Wara Andhira datang bersama dengan Resi Simharaja. Meskipun dengan pakaian penyamaran, akan tetapi kecantikan Wara Andhira alias Nararya Sekardadu masih tak bisa ditutupi. Kecantikannya tak kalah dengan para istri Jaka Umbaran yang lain.


"Gusti Pangeran, kami sudah siap untuk berangkat", ucap Resi Simharaja sembari menghormat pada Jaka Umbaran.


Pandan Wangi langsung menampilkan raut wajah tidak suka melihat adanya Wara Andhira dalam perjalanan ini. Jelas dia cemburu pada perempuan cantik berkemben warna hitam.


"Kangmas Pangeran, dia ikut juga?", tanya Pandan Wangi sembari menunjuk ke arah Wara Andhira yang berdiri di samping Resi Simharaja.


"Tentu saja, dia adalah pemandu jalan kami ke Blambangan.


Memangnya kenapa Yayi Pandan Wangi?", tanya Jaka Umbaran sembari menatap heran ke arah Padmadewi.


"Tidak apa-apa, awas saja kalau dia berani menggoda Kangmas Pangeran nantinya. Aku tidak akan keberatan untuk menjambak rambutnya", ucap Dewi Pandan Wangi yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari Nararya Padmadewi dan Dewi Rengganis. Ucapannya seolah mewakili perasaan kedua istri Jaka Umbaran yang ada disitu.


Mendengar itu, Jaka Umbaran segera geleng-geleng kepala melihat ulah para istrinya. Memang diantara mereka bertiga, Pandan Wangi lah yang paling tegas terhadap siapapun yang ingin mencoba mendekati sang suami.


Segera setelah itu, mereka bertiga pun segera meninggalkan Istana Katang-katang. Meskipun mereka dalam pakaian penyamaran, namun beberapa pasang mata mengikuti perjalanan mereka menuju ke arah Kadipaten Selopenangkep.


Tepat sebelum matahari terbenam, mereka tiba di Kota Kadipaten Selopenangkep. Meskipun kehancuran akibat adanya penyerbuan prajurit Jenggala masih terlihat, namun puing-puing bangunan sudah nampak dibersihkan. Mayat-mayat prajurit Jenggala dan Selopenangkep yang tadi sempat menghiasi beberapa sudut kota, kini sudah tidak terlihat lagi. Rupanya perintah Jaka Umbaran kepada Besur, Baratwaja dan Gendol dilaksanakan dengan baik.


Sesampainya di Istana Kadipaten Selopenangkep, kedatangan Jaka Umbaran disambut baik oleh para prajurit Panjalu. Tak hanya Gendol, Besur dan Baratwaja, tetapi juga Senopati Agung Sembada dan juga Senopati Naratama. Hanya saja, ketiga pengikut Jaka Umbaran sedikit mengerutkan keningnya melihat adanya Wara Andhira dalam rombongan itu.


Senopati Agung Sembada segera menenteng dua buah buntalan kain hitam yang masih menebarkan aroma amis darah bahkan ada beberapa tetes darah yang masih basah di bawah buntalan kain hitam itu. Segera dia meletakkan nya di depan Pangeran Mapanji Jayabaya yang duduk di atas singgasana Kadipaten Selopenangkep. Lalu dengan cepat, Senopati Sembada segera membuka nya dan dua buah potongan kepala yang nampak melotot. Jaka Umbaran mengenali dua potongan kepala itu adalah kepala Senopati Tambakwedi dan Tumenggung Citragadha. Senopati Agung Sembada dan Senopati Naratama berhasil memenggal kepala mereka.


"Kerja bagus, Paman Senopati berdua.


Selanjutnya, aku akan membagi tugas diantara kalian berdua. Karena Kanjeng Romo Prabu Bameswara sedang sakit, maka untuk sementara aku yang menata tata pemerintahan Kerajaan Panjalu.


Paman Senopati Agung Sembada, aku minta agar paman menata kembali Kota Kadipaten Selopenangkep. Usahakan dalam satu purnama, tempat ini sudah pulih seperti sedia kala.


Sedangkan Paman Senopati Naratama, aku tugaskan untuk memperkuat pertahanan Kerajaan Panjalu. Lakukan patroli perbatasan secara ketat agar kita tidak kecolongan lagi seperti ini. Aku akan pergi selama satu purnama, jadi aku serahkan sepenuhnya kendali pertahanan Kerajaan Panjalu pada kalian berdua", perintah Pangeran Mapanji Jayabaya segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap Senopati Agung Sembada dan Senopati Naratama segera.


Besur yang penasaran ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Jaka Umbaran segera buka mulut.


"Memangnya kita mau kemana Gusti Pangeran?", mendengar pertanyaan Besur, Jaka Umbaran segera menangkap ke arah langit malam yang gelap di arah timur.


"Kita akan berangkat ke Blambangan.."