
Merah padam wajah cantik Nyi Pelet mendengar omongan Jaka Umbaran. Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Ciremai itu langsung mendengus keras sambil mengibaskan senjata andalannya, Cis Kalasrenggi, ke arah pemuda tampan itu segera.
"Bocah kurang ajar, mampus kau!!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!"
Whhhuuuuuuuutttttth!!
Kembali cahaya hijau terang menerabas cepat kearah Jaka Umbaran. Resi Simharaja menggeram lirih sembari mencondongkan tubuhnya ke depan. Seketika wujud nya pun berubah menjadi seekor harimau putih besar yang segera mengaum keras.
Haaaauuuuummmmmmm!!!
Auman keras Resi Simharaja menciptakan semacam gelombang kejut besar yang mampu menahan kibasan Cis Kalasrenggi di tangan Nyi Pelet.
Blllaaammmmmmmm!!!
Nyi Pelet tersurut mundur beberapa langkah ke belakang walaupun masih baik-baik saja setelah terkena gelombang kejut yang sanggup merubuhkan apa saja yang dilalui nya. Sedangkan harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Rupanya dia cerdik dengan menancapkan kukunya dalam-dalam di tempatnya berpijak di samping Jaka Umbaran.
'Macan sialan ini...
Aku sedikit mengenali hawa dingin yang keluar dari dalam tubuh nya. Kucing besar ini pasti dari Alas Roban. Brengsek, aku tidak mau dipermalukan oleh nya'
Nyi Pelet segera menancapkan Cis Kalasrenggi nya ke tanah. Seketika tanah berderak keras layaknya gempa bumi hebat sedang terjadi. Sadar sang ratu sedang mempersiapkan ilmu kedigdayaannya, Ki Kancra Bodas dan Bagaswara yang bertubuh bungkuk langsung menerjang maju ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
Buyut Wangsanaya yang tak bisa menahan diri lagi, langsung melesat cepat kearah Ki Kancra Bodas sang siluman ikan yang telah memotong sebelah lengan nya. Telapak tangan kanan nya yang memancarkan cahaya merah kebiruan langsung mengarah ke Ki Kancra Bodas. Dengan jumawa, Ki Kancra Bodas tidak berupaya untuk menghindari serangan itu.
Blllaaaaaarrr!!!
Ledakan keras terdengar saat hantaman telapak tangan kanan Buyut Wangsanaya menghantam dada Ki Kancra Bodas sang siluman ikan. Meskipun terkena serangan telak, namun siluman ikan ini hanya terdorong mundur beberapa tombak ke belakang namun tubuhnya sama sekali tidak terluka.
"Hehehehe, apa kau lupa dengan kehebatan Baju Besi Sisik Ikan ku, Wangsanaya?!!
Serangan sekuat apapun tidak akan pernah bisa melukai ku", ucap Ki Kancra Bodas dengan pongah.
"Tentu saja aku tidak akan melupakannya, siluman ikan!!
Itu hanya serangan pengalihan saja. Apa kau merasakan sesuatu di leher mu?", Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu tersenyum penuh kemenangan. Mendengar itu, Ki Kancra Bodas meraba leher nya. Ada sedikit rasa perih bercampur panas yang terasa disana.
Rupanya saat menyarangkan hantaman ke dada Ki Kancra Bodas, mulut Buyut Wangsanaya meludahkan jarum berwarna biru ke arah leher siluman ikan Balong Dalem ini. Tentu saja ini berlangsung sangat cepat hingga Ki Kancra Bodas sama sekali tidak menyadarinya.
"Apa kau mulai merasakan panas menyengat menyebar dari luka di leher mu, siluman ikan?
Itu adalah racun yang aku persiapkan untuk membunuh mu sejak lama, Racun Ular Biru. Aku sudah mencampurnya dengan air suci di Petirtaan Cakrabuana. Racun ini sanggup membunuh orang dengan cepat bahkan makhluk jadi-jadian seperti mu juga akan merasakan kesakitan yang luar biasa", tambah Buyut Wangsanaya sambil tersenyum lebar.
"Kau kau bajingan licik...!!", umpat Ki Kancra Bodas sembari membekap luka kecil beracun di lehernya. Dia sekuat tenaga berusaha keras untuk menahan rasa sakit bercampur panas di lehernya namun air suci Petirtaan Cakrabuana yang dicampur dengan racun tak sanggup dia hadapi.
Melihat musuh bebuyutannya sedang meradang merasakan sakit di lehernya, Buyut Wangsanaya segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada telapak tangan kanan. Cahaya merah kebiruan berpendar lebih terang dari sebelum nya di telapak tangan satu-satunya milik Buyut Wangsanaya. Selepas ilmu kanuragan nya sudah siap, dia melesat cepat kearah Ki Kancra Bodas sang siluman ikan.
Dengan cepat, dia menghantam telinga kanan Ki Kancra Bodas yang merupakan titik kelemahan siluman ikan berwarna putih itu. Dia sempat bertanya kepada Resi Guru Ekajati tentang titik lemah siluman ikan. Resi Guru Ekajati mengatakan bahwa titik lemah siluman ikan terletak pada insang nya yang biasanya tertutupi oleh telinga saat dia berubah wujud menjadi seorang manusia.
"Mampus kau, siluman busuk!!"
Blllaaammmmmmmm...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Ki Kancra Bodas mencelat jauh ke belakang dan menjerit keras. Tubuhnya menggelepar beberapa saat lamanya sebelum berubah menjadi seekor ikan besar berwarna putih. Sebentar kemudian dia diam dan tewas. Setelah itu bangkai ikan ini hancur menjadi abu hitam, meninggalkan sebuah permata putih yang merupakan mustika dari tapa brata nya. Buyut Wangsanaya segera mengambil mustika ini dan segera menyimpan nya di balik baju.
Di lain sisi, Bagaswara yang bertubuh bungkuk melesat cepat kearah Jaka Umbaran. Nyai Larasati yang sudah bersiaga, langsung memapak serangan Bagaswara yang mengincar Jaka Umbaran dengan menggunakan tongkat kayu berukir kepala serigala.
Thhrraaanggg!!
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik ini dengan cepat menyerang balik ke arah Bagaswara sang abdi setia Nyi Pelet menggunakan Ilmu Sembilan Pedang Surga andalannya. Pertarungan sengit antara dua orang berilmu tinggi itu berlangsung seru dan menegangkan. Masing-masing berupaya keras untuk menjatuhkan lawan secepat mungkin.
Para penduduk Wanua Jagara yang berada di sekitar tempat itu memilih untuk menjauh dari arena pertarungan karena takut akan menjadi korban serangan nyasar. Hanya si pendeta tua saja yang terlihat seperti sedang mencari cara untuk membunuh gadis muda yang ada dalam perlindungan Dewi Rengganis.
Nyi Pelet segera merentangkan kedua tangannya sejajar dengan bahu lalu dengan cepat ia menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada. Dia yang masih merasa bisa mengalahkan Jaka Umbaran dengan ilmu kedigdayaannya merapal Ajian Api Gerhana Matahari yang merupakan ilmu puncak kanuragan andalannya. Cahaya merah menyala seperti api yang berkobar hebat memancar keluar dari tubuh Nyi Pelet.
'Iblis betina ini rupanya ingin membunuh semua orang yang ada disini. Ndoro Umbaran sudah mempercayakan masalah ini kepada ku. Aku tidak boleh mengecewakan nya'
Jaka Umbaran yang berdiri di samping nya pun harus mengerahkan segenap tenaga dalam yang dia miliki untuk bertahan dari hawa dingin yang sanggup membekukan tulang. Tubuhnya yang terbungkus oleh cahaya kuning keemasan dari Ajian Bandung Bondowoso terlihat semakin terang.
"Ajian Api Gerhana Matahari...
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!"
Nyi Pelet mengibaskan kedua tangan nya ke arah Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Dua larik cahaya merah menyala meluruk cepat kearah majikan dan pengikutnya itu segera.
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh!!!
Resi Simharaja tak mau kalah. Segera ia menurunkan kedua tangan nya dan menghentakkan nya ke arah datangnya serangan Nyi Pelet. Cahaya putih kehijauan memapak pergerakan dua larik cahaya merah menyala.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Ledakan keras beruntun terdengar saat kedua ilmu kanuragan tingkat tinggi ini beradu. Gelombang kejut besar yang tercipta menyebar luas ke sekeliling tempat itu. Banyak penduduk Wanua Jagara yang ikut terlempar saking kuatnya tenaga gelombang kejut besar ini. Dewi Rengganis pun juga harus mati-matian bertahan agar tidak ikut terlempar.
Usai ledakan dahsyat beruntun ini usai, terlihat sebuah pemandangan yang mengerikan. Sebuah lobang besar tercipta hampir empat tombak lebar nya sedangkan pohon beringin besar yang ada di tempat itu juga turut roboh.
Sedangkan Nyi Pelet tersurut mundur hampir 4 tombak jauhnya dari tempat ia berpijak. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya. Rupanya dia terluka dalam cukup parah setelah adu ilmu kesaktian ini.
Hal serupa juga dialami oleh Resi Simharaja. Bekas raja siluman Alas Roban itu pun juga terpental mundur ke belakang. Untung saja, Jaka Umbaran yang berdiri tak jauh dari nya cepat menghentikan pergerakan lelaki paruh baya itu hingga mereka hanya mundur 2 tombak ke belakang saja.
"Uhukkk uhukkk uhukkk..
Aku akui kau hebat, siluman Alas Roban. Tapi ini masih belum selesai!", bentak Nyi Pelet sambil menyeka sisa darah yang keluar dari mulut. Perempuan cantik itu segera komat-kamit merapal mantra ilmu kesaktian yang selalu menjadi pilihan pamungkasnya, Ajian Pelet Panggugah Asmara.
Seketika cahaya merah muda berpendar cepat di sekeliling tubuh Sang Ratu Siluman Gunung Ciremai. Bau harum pun ikut menyebar bersamaan dengan munculnya cahaya merah muda di tubuh Nyi Pelet.
"Gawat!! Iblis betina itu ingin memikat hati semua orang..
Ndoro Umbaran, gunakan mata batin mu untuk melihat wujud asli perempuan laknat itu. Cepat!!!", teriak Resi Simharaja yang sepertinya sudah tahu tentang ilmu pemikat hati ini. Jaka Umbaran pun mengangguk mengerti. Dia segera memejamkan matanya, menutup 7 lobang lain di tubuhnya agar pengaruh pelet penarik hati ini tak mempengaruhi jalan pikirannya. Mulutnya pun segera merapal mantra perlindungan jiwa dari Sang Penguasa Alam Semesta.
Semua orang yang sedang bertarung pun segera bersujud kepada Nyi Pelet. Bahkan Dewi Rengganis, Nyai Larasati dan Buyut Wangsanaya pun juga ikut terpengaruh oleh Ajian Pelet Panggugah Asmara.
"Hihihi, kau tidak akan pernah bisa lepas dari pengaruh Ajian Pelet Panggugah Asmara ku, hai pendekar tampan..
Mari kesini, akan ku bawa kau terbang ke langit ketujuh. Ayolah pemuda tampan, aku menunggumu hihihihihihi..", rayuan maut Nyi Pelet pun ibarat sebuah tarikan kuat yang mampu membuat orang tanpa sadar bergerak mendekati nya.
Hanya Resi Simharaja dan Jaka Umbaran saja yang masih tegak berdiri di tempatnya, sedangkan semua orang perlahan melangkah mendekati tempat Nyi Pelet berada.
Mata batin Jaka Umbaran yang telah terbuka lebar melihat wujud asli dari Nyi Pelet. Seorang perempuan tua renta dengan pakaian hitam compang-camping memegang sebuah tongkat besi berkepala serigala sedang tersenyum lebar sembari terus mengucapkan kata-kata rayuan. Jaka Umbaran mendengus keras.
"Tua bangka bau tanah tak tahu diri!!
Sudah cukup kau membuat angkara murka dimana-mana!!", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera menjejak tanah dengan keras hingga kaki nya melesak masuk ke dalam tanah setengah lutut. Setelah itu ia segera mengayunkan kakinya ke depan. Sebongkah tanah sebesar kerbau melesat cepat kearah Nyi Pelet yang sedang mengobarkan ilmu pelet penarik hati nya.
Melihat bahaya besar mendekati nya, Nyi Pelet segera hantamkan tongkat besi berkepala serigala nya ke arah tanah yang di cungkil oleh Jaka Umbaran.
Blllaaaaaarrr!!!
Tanah sebesar kerbau itu seketika hancur lebur menjadi abu. Namun karena itu pula, pengaruh Ajian Pelet Panggugah Asmara pun buyar seketika. Resi Simharaja pun segera melesat cepat kearah Nyi Pelet sembari menghantamkan kepalan tangannya. Nyi Pelet segera mengangkat tongkat besi nya untuk bertahan.
Blllaaammmmmmmm!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Tubuh Nyi Pelet mencelat jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Perlahan wujud perempuan cantik itu berubah menjadi wanita tua renta dengan pakaian hitam compang-camping. Meskipun sudah luka parah, namun nyatanya dia masih hidup. Nyi Pelet segera berdiri. Menyadari bahwa dirinya telah kembali ke wujud aslinya, perempuan tua itu menjerit keras.
"Bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn kau, siluman Alas Roban!!
Suatu saat nanti, penghinaan mu ini pasti akan aku balas!!"
Setelah berkata demikian, Nyi Pelet langsung berubah menjadi cahaya hijau terang dan menghilang dari pandangan mata semua orang. Bersamaan dengan hilangnya Nyi Pelet, Bagaswara abdi setia nya juga turut menghilang. Melihat itu, Jaka Umbaran segera menarik nafas lega.
"Akhirnya mereka kabur juga"