
Ketegangan langsung menyeruak di tempat pertemuan para barisan pendukung Prabhaswara. Si Bungkuk Kaki Kilat dan Pendekar Kepala Besi saling pandang mendengar tantangan terbuka dari Jaka Umbaran. Meskipun mereka tidak melihat langsung bagaimana cara pendekar muda itu menaklukkan Dewa Kalong Merah, namun jika mereka berhadapan langsung dengan pimpinan Perguruan Kelelawar Merah itu, belum tentu mereka bisa mengalahkannya.
Apalagi santer terdengar kabar bahwa Dewa Guru Resi Atmabrata dari Astanaraja yang merupakan salah satu dedengkot dunia persilatan wilayah kulon berhasil ditundukkan oleh Jaka Umbaran, maka sudah pasti bahwa ilmu kanuragan Jaka Umbaran bukanlah hal yang bisa mereka rendahkan.
Akan tetapi, karena keduanya sudah mengucapkan kata-kata yang meragukan kemampuan beladiri sang pendekar muda, demi harga diri dan martabat mereka, keduanya segera bangkit dari tempat duduknya.
"Bocah, kalau itu mau mu, ayo kita uji sejauh mana kemampuan beladiri mu yang tersohor itu.
Aku Pendekar Kepala Besi, Mpu Jirno, yang akan mencoba lebih dulu", ucap Pendekar Kepala Besi lantang sebelum melangkah ke arah tanah yang cukup lapang di tengah hutan itu dengan beberapa pohon tumbuh di beberapa tempat.
Jaka Umbaran segera mengikuti langkah sang pendekar tua. Prabhaswara ingin mencegahnya namun dia pun juga penasaran dengan kemampuan beladiri yang di miliki oleh Jaka Umbaran hingga memilih untuk menutup rapat mulutnya. Bagaimanapun, hubungan Jaka Umbaran dan putri semata wayangnya Dewi Rengganis pasti akan berlanjut ke jenjang pernikahan jadi ini bisa menjadi ajang pembuktian kemampuan beladiri sang pendekar muda untuk melindungi putrinya kelak.
Keributan itu sontak memantik perhatian dari para pendukung Prabhaswara. Mereka yang ingin tahu siapa pemenang uji kemampuan beladiri ini segera menatap ke arah tanah lapang dimana Jaka Umbaran dan Pendekar Kepala Besi berhadapan.
Keduanya segera melakukan kembangan ilmu silat mereka masing-masing sebelum Pendekar Kepala Besi merangsek maju ke arah Jaka Umbaran. Dengan sepenuh tenaga, Mpu Jirno sang Pendekar Kepala Besi langsung menghantamkan kepalan tangannya ke dada Jaka Umbaran.
Whhhuuuggghhhh..
Jaka Umbaran segera menangkis hantaman tangan itu dengan lengan kiri nya. Adu pukulan dan tendangan pun segera terjadi. Masing-masing berupaya untuk mendaratkan pukulan keras mereka agar tahu seberapa kuat lawan yang dihadapi.
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Semua orang terlihat takjub melihat Jaka Umbaran dengan mudah melayani jual beli pukulan keras dari Pendekar Kepala Besi kecuali Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan, Dewi Rengganis, Gendol dan Resi Simharaja. Mereka berempat memang sudah hapal betul dengan kemampuan beladiri sang pendekar.
Jaka Umbaran melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat sembari menghantamkan kepalan tangannya ke arah kepala Pendekar Kepala Besi. Dia mengerahkan sepertiga dari seluruh tenaga dalam nya. Kecepatan tinggi sang pendekar muda membuat Mpu Jirno sang Pendekar Kepala Besi itu tak sempat mengelak.
Bhhhaaaaaaaaangggggggg!!
Jaka Umbaran sampai terpental mundur beberapa langkah setelah pukulan keras nya seperti menghantam batu besar saat mengenai kepala plontos kakek tua itu. Ada rasa sedikit ngilu di pergelangan tangannya. Sedangkan Mpu Jirno justru menyeringai lebar sambil mengelus kepalanya yang plontos.
"Hehehehe, julukan ku adalah kepala besi, Pendekar Gunung Lawu.
Kalau hanya pukulan mu hanya semacam itu, kau bukan lawan ku", ucap Mpu Jirno dengan penuh kesombongan.
Hemmmmmmm...
'Kekuatan utama nya terletak pada kepala. Di situ juga pasti adalah titik lemahnya. Aku harus mencari cara untuk melukai kepalanya tanpa harus bersentuhan dengan kulit pria gundul itu'
Saat Jaka Umbaran masih berkutat dengan pikirannya sendiri, Mpu Jirno sang Pendekar Kepala Besi melesat ke arah nya sambil menundukkan kepalanya ke arah Jaka Umbaran. Meskipun sedikit terkejut melihat serangan mendadak lelaki berkepala plontos itu, Jaka Umbaran segera menyilangkan tangannya ke depan dada untuk bertahan dari tandukan kepala lawan.
Bhhuuuuummmmmmhh...
Jaka Umbaran tersurut mundur hampir 4 tombak jauhnya ke belakang usai menerima tandukan kepala Si Pendekar Kepala Besi. Melihat itu, Mpu Jirno mendengus keras. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Tiba-tiba saja muncul cahaya hitam keunguan di kepala plontos nya. Setelah itu ia kembali melesat sembari memutar tubuhnya layaknya mata bor kearah Jaka Umbaran.
Namun kali ini Jaka Umbaran sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan serangan lelaki tua berkepala plontos itu. Dia memejamkan matanya sebentar sambil merapal mantra Ajian Bandung Bondowoso nya. Saat matanya kembali terbuka, manik mata nya berubah menjadi kuning keemasan. Mpu Jirno sang Pendekar Kepala Besi menyeringai lebar menatap Jaka Umbaran yang tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri kala dia menyerang.
"Modar kowe bocah!
Kepala Besi Penghancur Gunung...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!"
Semua orang terkejut dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Semuanya telah mengetahui kekuatan ilmu kesaktian Mpu Jirno yang satu ini hingga semuanya langsung menduga bahwa Jaka Umbaran pasti akan kalah.
Bhhhaaaaaaaaangggggggg...!!
Melihat itu, Si Bungkuk Kaki Kilat dari Bukit Progo langsung melesat cepat kearah pertarungan mereka.
"Saudara Kepala Besi.. Aku akan membantu mu!!"
Kaki kanan Si Bungkuk Kaki Kilat berselimut cahaya kuning kemerahan berhawa panas menyengat layaknya api yang berkobar langsung mengarah ke punggung Jaka Umbaran yang tengah menahan tandukan kepala Si Pendekar Kepala Besi. Pria bungkuk yang terkenal dengan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi itu telah mengeluarkan Ajian Tendangan Iblis andalannya.
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Terdengar bunyi ledakan dahsyat saat tendangan keras kaki kanan Si Bungkuk Kaki Kilat menghajar punggung Jaka Umbaran. Namun tubuh Jaka Umbaran yang di lapisi dengan Ajian Bandung Bondowoso sama sekali tidak terpengaruh oleh semua itu. Mata Si Bungkuk Kaki Kilat dan Pendekar Kepala Besi melotot lebar tatkala mereka melihat itu semua.
Lalu Jaka Umbaran menyeringai lebar saat dengan cepat memutar tubuhnya hingga tendangan keras Si Bungkuk Kaki Kilat ganti beradu dengan Ajian Kepala Besi Penghancur Gunung.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Dua orang pendekar tua itu mencelat ke arah yang berlawanan. Keduanya sedikit memuntahkan darah segar saat tubuhnya menghajar tanah. Sedikit sempoyongan, kedua orang tua itu segera bangkit dari tempat jatuhnya. Saat keduanya hendak bergerak lagi, tiba-tiba..
"Cukup Pendekar Kepala Besi, Si Bungkuk Kaki Kilat!"
Kedua pendekar tua itu langsung menghentikan keinginan nya dan menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adalah Prabhaswara. Pimpinan kelompok pemberontak ini segera melangkah di antara mereka bertiga.
"Aku minta kalian semua bertiga menyudahi permainan persahabatan ini. Tenaga kalian semua lebih baik digunakan esok saat kita menyerbu ke Kota Kadipaten Paguhan.
Kalian bertiga sama-sama hebat jadi pertandingan ini berakhir seri", imbuh Prabhaswara segera. Meskipun dalam hati ia lebih mengunggulkan Jaka Umbaran dalam adu ilmu kanuragan itu, namun sebagai pimpinan rupanya Prabhaswara pintar menjaga harga diri dan hubungan para pengikutnya agar sama-sama diuntungkan.
Mpu Jirno sang Pendekar Kepala Besi dan Si Bungkuk Kaki Kilat pun langsung memahami apa maksud sebenarnya dari niat Prabhaswara menghentikan pertarungan mereka melawan Jaka Umbaran. Mereka berdua pun sadar, bahwa kemampuan beladiri Jaka Umbaran memang lebih unggul dibandingkan dengan mereka berdua. Namun jika keduanya menyerah saat itu, harga diri mereka sebagai pendekar tua akan hancur berantakan. Dengan adanya Prabhaswara yang menghentikan pertarungan, maka itu langsung mempermudah jalan mereka untuk tidak direndahkan harga diri nya. Bersama dengan Si Bungkuk Kaki Kilat, dia langsung membungkuk hormat kepada Prabhaswara.
"Kami patuh pada perintah dari Raden Prabhaswara"
Mendengar ucapan itu, Prabhaswara tersenyum lebar. Pria paruh baya bertubuh kekar itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Jaka Umbaran.
"Aku tidak keberatan ( menghentikan pertarungan )", jawab Jaka Umbaran segera.
"Baguslah kalau begitu, sekarang mari kita lanjutkan pematangan rencana kita", Prabhaswara segera melangkah lebih dulu menuju ke arah tenda besar yang menjadi tempat pengaturan rencana pemberontakan nya. Para penonton pun akhirnya membubarkan diri. Banyak yang kecewa karena pertarungan mereka tidak sampai puncak tapi kebanyakan orang sudah tahu kalau pertandingan itu dimenangkan oleh Jaka Umbaran meskipun sang pendekar muda tidak membuat lawan-lawannya terkapar tak berdaya.
Malam itu, pengaturan rencana besar pun berjalan baik. Beberapa pendekar mendapatkan tugas untuk memimpin pasukan di beberapa titik penting serangan. Jaka Umbaran pun juga tak luput dari pengaturan ini. Dia bertugas memimpin pasukan pemberontak dari sisi barat kota yang akan menggempur pintu gerbang bersama 10 ribu orang prajurit. Gendol dan Resi Simharaja ditugaskan sebagai pembantu pribadi nya. Sedangkan Rengganis dan Nyai Larasati ikut bergabung dalam pasukan yang di pimpin langsung oleh Prabhaswara dari pintu gerbang selatan.
Keesokan paginya, saat matahari mulai menyingsing di ufuk timur pasukan pemberontak Prabhaswara bergerak mengepung Kota Kadipaten Paguhan dari tiga sisi sekaligus. Begitu mereka sampai di tempat yang dituju, perang pun langsung berkobar.
Sementara itu, di dalam istana Kadipaten Paguhan, Adipati Lokawijaya masih nyenyak di peraduan nya. Seorang dayang istana mengetuk pintu bilik kamar tidur nya dengan cepat.
Thhookkkk thhookkkk thhookkkk!!
Ketukan keras itu langsung membangunkan Adipati Lokawijaya. Dia sangat tidak suka jika ada yang menggangu nya saat sedang tidur. Segera ia meraih celana nya dan dengan cepat memakainya. Selir yang menemaninya bermalam pun ikut terbangun dan langsung meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang tidak tertutup oleh sehelai benangpun.
"Ada apa?! Apa kau tidak tahu mengganggu waktu tidur ku sama dengan sudah bosan hidup ha?!", teriak Prabhaswara sembari merapikan pakaiannya. Dari arah luar pintu kamar tidur, dayang istana itu pun segera berbicara.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Kota Kadipaten Paguhan sekarang sedang gawat. Para pemberontak mulai menerobos masuk ke dalam kota!"
Betapa terkejutnya Adipati Lokawijaya mendengar jawaban itu. Selama ini dia sudah bersikeras untuk membasmi calon-calon bibit pemberontak di Paguhan. Namun nyatanya dia masih saja kecolongan.
APPAAAAAAAAAAAA??!!