JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pengadilan


Cheng Kwan begitu geram mendengar jawaban Gendol. Pria bertubuh kekar dengan mata sipit dan rambut panjang di kepang ekor kuda ini menatap tajam ke arah si pendekar bergigi jarang dan besar-besar itu.


"Kau kenapa melihat ku seperti itu? Pengen mata mu tambah lebar?


Chhuuuiiiihhhh....


Sampai mati pun aku tidak akan gentar menghadapi orang seperti mu!!", imbuh Gendol yang semakin membuat murka Cheng Kwan. Pria yang memakai pakaian serba hitam itu langsung melesat cepat kearah Gendol sembari mengayunkan tinju nya.


"Banyak omong lu olang...!! Makan owe punya kepalan tangan", teriak Cheng Kwan garang. Dia langsung mengerahkan seluruh tenaga qi dalam tubuhnya untuk menjatuhkan Gendol secepat mungkin.


Gendol langsung menyilangkan gada di tangan kanannya ke depan dada untuk menahan hantaman Cheng Kwan. Saat hantaman tangan kanan lawan berhasil di tangkis, gada di tangan kiri Gendol dengan cepat terayun ke arah kepala Cheng Kwan.


Whhhuuuggghhhh!!!


Sambaran cepat gada Gendol langsung membuat Cheng Kwan merunduk namun itu segera di sambut dengan tendangan keras kaki kanan Gendol ke arah dadanya.


Dhhiiieeeeesssshhh...


Oouuugghhhhhh!!!!!


Pria bertubuh kekar bermata sipit itu seketika jatuh tengkurap. Gendol langsung memutar tubuhnya dan mengayunkan gada di tangannya ke arah punggung. Namun Cheng Kwan lekas berguling cepat kearah kanan hingga gebukan keras Gendol hanya menghantam bekas tempat Cheng Kwan berada.


Bhhuuuuummmmmmhh!!!


Cheng Kwan yang lolos dari maut nampak terengah-engah sambil meremas dadanya yang terasa sesak. Bagaimana tidak sesak, kaki Gendol yang segede batang bambu betung telak menghajar dadanya. Untung saja tidak ada tulang rusuk yang patah setelah menerima serangan itu.


Sementara itu, Gendol langsung tersenyum lebar menyaksikan lawannya sedang meringis kesakitan.


"Sebentar lagi, gada kembar ku akan meremukkan kepala heh orang asing.. Bersiaplah kau untuk menghadap raja neraka", ucap Gendol sambil memutar-mutar gagang gada kembar di kedua tangan.


"Huh, kowe olang terlalu memandang remeh kungfu Kuil Hua Shan. Owe tidak akan memaafkan mu..!!", Cheng Kwan dengan cepat memuntir kedua lengan tangannya ke arah berlawanan hingga terdengar bunyi gemerutuk. Sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam yang tersisa, dia bergerak cepat kearah Gendol dengan langkah kaki aneh yang menyapu kiri dan kanan. Ini adalah jurus pamungkas Delapan Tinju Terluka yang di pelajari oleh Cheng Kwan.


Melihat itu, kaki kiri Gendol mundur selangkah ke belakang dan menaruh satu ujung gada di tangan kiri di tanah. Sedangkan tangan kanannya memutar gagang gada yg berwarna kekuningan itu dengan cepat.


Begitu Cheng Kwan mendekat, Gendol langsung menghantamkan gada nya ke arah lawan sekuat tenaga. Cheng Kwan pun segera menyambut serangan itu dengan hantaman tangan kanan nya.


Bhhhaammmmmmmm!!


Gada di tangan kanan Gendol mental terkena hantaman tangan Cheng Kwan. Namun itu belum selesai. Gada di tangan kiri Gendol pun segera menyusul berayun cepat ke arah Cheng Kwan. Centeng Saudagar Bo En Hiang itu kembali mengayunkan kepalannya menghadang serangan kedua Gendol.


Semakin lama serangan Gendol yang mengayunkan sepasang gada kembar nya ke arah lawan menjadi semakin cepat. Rupanya dia mengeluarkan jurus andalannya, Pusaran Gada Penghancur Batu. Pukulan gada yang keras dan cepat bertubi-tubi dari Gendol, lama-kelamaan memaksa Cheng Kwan untuk mundur. Meskipun sudah mengeluarkan Ilmu Delapan Tinju Terluka, namun nyatanya dia masih belum bisa memaksa Gendol untuk tunduk. Malahan kini dia balik di tekan.


Sial bagi Cheng Kwan, gerakan mundurnya malah tersandung akar pohon yang muncul di permukaan tanah hingga gerakannya menjadi oleng. Ini dimanfaatkan oleh Gendol dengan sebaik-baiknya. Pria bertubuh tinggi besar itu langsung melesakkan tendangan cepat kearah perut Cheng Kwan sekeras mungkin.


Dhhiiieeeeesssshhh ..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Tubuh kekar Cheng Kwan langsung mencelat mundur dan jatuh di samping saudagar Bo En Hiang yang ada di dekat kereta barang. Gendol hendak memburu centeng itu, namun suara keras dari mulut seorang lelaki menghentikan langkahnya.


"Semuanya, hentikan pertarungan!!!"


Kedua pihak yang beradu jotos itu segera menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki berpakaian perwira prajurit dengan kumis tipis namun berjanggut lebat nampak gagah duduk di atas kuda nya. Beberapa puluh orang prajurit berjalan kaki juga nampak mengikuti nya. Bisa dipastikan bahwa ia adalah orang penting di wilayah Kota Kadipaten Kalingga.


Melihat kedatangan pria itu, kedua pihak yang berseteru segera menjauh ke arah kelompok mereka masing-masing. Gendol pun segera melangkah ke dekat Jaka Umbaran yang masih anteng saja diatas kuda tunggangan nya. Ki Joyo bersama Ki Rekso langsung melangkah menuju ke arah perwira prajurit itu, begitu juga dengan saudagar Bo En Hiang dan dua centeng nya.


"Ada apa ini, Ki Joyo, Bo En Hiang?


Kenapa kalian berdua membuat keributan tepi Kota Kadipaten Kalingga? Apa kalian berdua sudah tidak ingin berdagang di Kalingga lagi ha?", bentak lelaki itu segera.


Kami sedang mempertanyakan bagaimana dengan sisa barang yang dibawa oleh saudara Bo En Hiang? Apa mereka akan segera membayar nya? Barang itu semua sudah di kemas rapi di dalam kapal dagang mereka.


Namun, bukan nya memberikan sisa uang yang belum mereka bayar, Bo En Hiang malah menyuruh anak buahnya untuk menyerang kami. Maka kami terpaksa harus membela diri tentu saja ", ujar Ki Joyo sambil menghormat pada lelaki berpakaian perwira tinggi prajurit Kalingga yang dia sebut sebagai Tumenggung Mahambara.


"Tidak tidak tidak, Tuan Tumenggung..


Semua itu salah paham. Owe sudah niat kasih duit buat Ki Joyo, tapi menunggu dua hari lagi karena owe masih ada janji dengan pedagang lain yang mau beli barang sama owe, Tuan Tumenggung. Mereka tidak sabaran, dan telus memaksa owe buat kasih uang.


Terus terang owe kesal dengan sikap mereka, Tuan Tumenggung. Makanya owe kasih perintah pada centeng owe untuk kasih mereka pelajaran", Bo En Hiang membela diri.


Hemmmmmmm...


"Ini perlu di bawa ke persidangan Pamgat Kalingga. Kalian semua harus ikut dengan kami ke Istana. Biar Gusti Adipati Aghnisuta yang memutuskan", ujar Tumenggung Mahambara segera.


"Bagaimana dengan mereka, Gusti Tumenggung?", Ki Joyo menunjuk ke arah rombongan para murid Perguruan Bukit Katong.


"Mereka juga harus ikut untuk ditanyai", ujar Tumenggung Mahambara sembari menjalankan kudanya ke arah tengah Kota Kadipaten Kalingga. Puluhan orang prajurit pun langsung memaksa semua orang untuk mengikuti langkah sang perwira. Terpaksa rombongan Jaka Umbaran ikut karena tidak ingin menambah masalah.


Sesampainya di istana, mereka langsung di giring menuju ke Pendopo Agung Istana Kadipaten Kalingga dimana Adipati Aghnisuta bersama warangka praja Kalingga, Patih Adiwinata sedang duduk berbincang dengan beberapa hal yang terjadi di seputar Kota Kadipaten Kalingga. Kedatangan mereka segera menghentikan obrolan antara petinggi Kadipaten Kalingga itu.


"Ada apa ini, Tumenggung Mahambara?


Kenapa kau datang dengan membawa begitu banyak orang?", tanya Adipati Aghnisuta segera. Penguasa Kadipaten Kalingga yang masih berusia sekitar 4 dasawarsa itu terlihat sedikit keheranan dengan datangnya punggawanya.


"Mohon ampun bila hamba menghadap tanpa di panggil Gusti Adipati. Tapi ada permasalahan yang memerlukan kebijaksanaan Gusti Adipati dalam menghadapinya.


Dua kelompok pedagang ini terlibat baku hantam di dekat tapal batas Kota Kadipaten Kalingga. Mereka semua merasa benar dengan pendapat yang mereka miliki. Hingga kedua kelompok ini beradu jotos yang mengakibatkan keributan di tempat itu. Karena tidak ingin mendatangkan masalah yang lebih besar, terpaksa hamba membawa mereka semua kemari", Tumenggung Mahambara segera menghormat pada Adipati Aghnisuta usai berbicara.


Adipati Aghnisuta segera mengedarkan pandangannya pada segenap orang yang hadir di Pendopo Agung Kadipaten Kalingga. Tiba-tiba saja, pandangan mata nya tertuju pada seorang pendekar muda berpakaian sederhana yang duduk di pojokan paling ujung kanan pendopo.


'Siapa pendekar muda ini? Kenapa ada rasa yang berbeda saat melihat ke arah nya. Rasanya seperti berhadapan dengan Kakang Prabu Bameswara di Kotaraja Daha.


Jangan-jangan ah tapi tidak mungkin'


Adipati Aghnisuta segera menepis pikiran nya tentang Jaka Umbaran yang duduk bersila berjajar dengan Gendol dan Niluh Wuni. Resi Simharaja duduk di belakang Jaka Umbaran dengan penuh kewaspadaan sedangkan Sekar Kantil yang sejak tadi terus memandangi bagusnya bangunan istana ini berulang kali berdecak kagum.


Satu persatu dari dua pihak yang berseteru mulai memaparkan tentang pendapat mereka setelah Adipati Aghnisuta memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk membela diri. Semuanya terlihat jelas bertentangan satu dengan lainnya. Ini jelas memusingkan kepala sang penguasa Kadipaten Kalingga itu.


Sebagai seorang penguasa daerah, Adipati Aghnisuta dituntut untuk berlaku adil terhadap semua orang yang ada di tempat itu karena ini akan berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang sedang dia jalankan. Dia harus berlaku bijak dalam memutuskan perkara yang melibatkan penduduk pribumi dan pendatang mancanegara ini.


"Dengan menimbang berbagai hal, maka aku akan memutuskan bahwa Ki Joyo harus menunggu pembayaran dari Saudagar Bo En Hiang di potong biaya pengobatan para anak buahnya yang terluka.


Ki Joyo telah berbuat seenaknya sendiri tanpa peduli dengan perjanjian dengan saudara Bo En Hiang dan juga peraturan pemerintah daerah Kadipaten Kalingga, maka dari itu dia bersalah dan harus bersabar menunggu pembayaran sekaligus membayar biaya pengobatan anak buah saudagar Tiongkok ini", ucap Adipati Aghnisuta segera.


Bo En Hiang dan Cheng Kwan serta para centeng nya langsung tersenyum lebar penuh kemenangan sembari melirik ke arah Ki Joyo dan kawan-kawan dengan tatapan merendahkan. Sementara itu, Ki Joyo yang merasa tidak bersalah langsung merah padam wajahnya menahan rasa amarah. Saat ia hendak bersuara, Ki Rekso pengawal pribadi nya langsung menahan gerak tubuh Ki Joyo yang hendak bangkit dari tempat duduknya. Ki Joyo segera menoleh ke arah Ki Rekso dan melihat lelaki paruh baya itu menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak setuju dengan keinginan Ki Joyo.


"Aku tidak sepakat dengan keputusan mu, Gusti Adipati!"


Teriakan keras dari arah belakang seketika membuat semua orang terkejut bukan main dan menoleh ke arah sumber suara. Mereka mendapati bahwa Jaka Umbaran yang berbicara.


Tumenggung Mahambara seketika murka dengan sikap Jaka Umbaran yang dinilai tidak sesuai dengan peraturan istana dan norma kepatutan antara rakyat dan penguasa yang berlaku di Kota Kadipaten Kalingga.


"Lancang!! Berani sekali kau menyanggah keputusan Gusti Adipati Aghnisuta. Tindakan mu ini bisa dianggap menantang Istana Kadipaten Kalingga.


Apa kau sudah bosan hidup?!!"