
Semua pendekar di wilayah kulon terkejut dengan kemunculan lelaki paruh baya bertubuh kekar ini. Mereka semua mengenal nya dengan nama Resi Guru Ekajati yang punya sebutan Pendekar Tapak Suci, salah satu dedengkot pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah kulon yang terkenal dengan kebaikan hatinya juga ilmu kanuragan nya yang tinggi. Dia tidak pernah sekalipun membunuh musuh-musuhnya jika berhadapan, hanya membuat lawan babak belur dan kapok jika ingin menantangnya lagi.
Mpu Dirgo sendiri sudah lama mendengar nama besar orang ini. Meskipun berulang kali dia coba untuk mendekati nya dengan mengundang secara pribadi di Perguruan Golok Sakti, namun pendekar tua ini tak sekalipun mau datang. Entah ada alasan apa hingga orang yang tidak pernah gila dengan ketenaran itu akhirnya mau menghadiri acara pertemuan para pendekar yang dia adakan.
Sementara itu Jaka Umbaran yang masih berdiri tenang melihat kedatangan resi tua ini nampak mengernyitkan keningnya. Ada sesuatu dalam diri Resi Guru Ekajati yang tidak biasa. Namun Jaka Umbaran tetap saja tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri dan terus menatap ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti.
"Sesuai dengan persyaratan, semua orang pendekar boleh maju untuk menantang pemenangnya bukan, Mpu Dirgo?", ucap Resi Guru Ekajati dengan suara serak nya.
"Tentu.. Tentu saja, Pendekar Tapak Suci..
Silahkan saja jika Resi Ekajati ingin menjajal kemampuan beladiri Ratu Racun Pembunuh ini", setelah berkata demikian, Mpu Dirgo melangkah mundur ke pinggir halaman.
Sementara itu, Ratu Racun Pembunuh, pendekar muda golongan abu-abu yang juga merupakan murid Hyang Racun Kegelapan ini, segera tersenyum sinis penuh penghinaan.
Chhuuuiiiihhhh...
"Datang lagi seorang tua bangka yang sudah bosan hidup! Kakek tua, jangan salahkan aku jika bertindak tidak sopan kepada mu", ucap Ratu Racun Pembunuh yang punya nama asli Nyi Dewayani ini.
"Silahkan perempuan muda.. Aku sudah siap bertarung melawan mu", ujar Resi Guru Ekajati sembari membuka telapak tangannya sebagai isyarat kepada Ratu Racun Pembunuh untuk segera maju.
Ratu Racun Pembunuh segera memutar gagang Pedang Cambuk Beracun milik nya. Angin dingin berbau busuk berseliweran cepat mengikuti putaran pedang lentur itu. Tanpa menunggu lama kemudian, Ratu Racun Pembunuh segera melesat cepat kearah lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan pakaian serba putih berpelisir kuning itu sambil mengayunkan senjatanya.
"Matilah kau, Pak Tua!!"
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth...!!!
Secepat kilat, Resi Guru Ekajati memutar kedua telapak tangannya dan menghantamnya ke arah Ratu Racun Pembunuh. Angin kencang menderu-deru mengikuti gerakan tangan Resi Guru Ekajati.
Whhuuusshhh...
Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!
Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh terdorong mundur beberapa tombak ke belakang usai hantaman angin kencang yang berasal dari gerakan tangan Resi Guru Ekajati menghantam ayunan pedang cambuk nya. Perempuan cantik berdandan seram ini pun segera sadar bahwa lawannya bukan orang sembarangan. Dia dengan cepat mengibas gagang pedang cambuk, tiga lembaran tipis bilah pedang itu pun menyatu menjadi satu bentuk pedang pada umumnya.
Setelah itu, Nyi Dewayani segera melesat ke arah Resi Guru Ekajati sambil mengayunkan pedangnya. Cahaya hijau kehitaman tipis berselimut angin berbau tidak sedap meluruk maju ke Resi Guru Ekajati. Sementara tangan kirinya yang sudah memegang 4 jarum beracun segera dia kibaskan menyusul tebasan pedangnya.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth..
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!!
Mendapat dua serangan beruntun, Resi Guru Ekajati segera berkelit menghindari cahaya hijau kehitaman yang beracun itu ke samping kanan lalu dengan cepat ia menangkap empat jarum berwarna hitam itu dengan kedua tangannya lalu kembali melemparkan nya ke arah Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh.
"Bangsaaaaaaaaattttt kau kakek tua!!"
Makian keras terdengar dari mulut Nyi Dewayani yang segera mundur beberapa langkah ke belakang dan menangkis senjatanya yang dikembalikan kepada nya oleh Resi Guru Ekajati.
Thhrraaanggg thhrraaanggg!!
Nyi Dewayani dengan mudah menangkis lemparan jarum beracun yang dilakukan oleh Resi Guru Ekajati. Namun saat yang bersamaan, dia terperangah setengah mati kala melihat Resi Guru Ekajati sudah muncul di hadapan nya dengan tapak tangan kanan memancarkan cahaya putih kehijauan.
Segera Nyi Dewayani menyilangkan pedangnya ke depan dada untuk menahan hantaman ilmu kesaktian Resi Guru Ekajati karena sudah tidak ada lagi ruang untuk berkelit.
Blllaaammmmmmmm!!
Oouuugghhhhhh.....!!!
Nyi Dewayani terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah hingga 4 tombak jauhnya ke belakang. Perempuan cantik berbaju hitam itu segera memuntahkan darah segar. Sementara itu Resi Guru Ekajati menarik nafas panjang sembari menatap ke arah Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh yang terkapar di tanah.
"A-aku menyerah pak Tua huufff huuff hoooeeeeggggh...!!", ucap Ratu Racun Pembunuh terbata-bata.
Mendengar kata-kata itu, Mpu Dirgo segera melangkah maju ke tengah halaman.
"Siapa lagi yang ingin menantang Resi Guru Ekajati? Aku beri kesempatan kepada kalian semua", ucap Mpu Dirgo lantang.
"Karena tidak ada yang menantang lagi, aku umumkan bahwa Resi Guru Ekajati selanjutnya akan menjadi penerus pengatur wilayah barat", ucap Mpu Dirgo segera.
Para pendekar pun langsung manggut-manggut setuju dengan keputusan ini. Bahkan para sesepuh dunia persilatan lainnya seperti Maharesi Haridharma dan Resi Mpu Anubhaya pun segera tersenyum tipis mendengar keputusan Mpu Dirgo.
Rampung wilayah barat, kini wilayah selatan yang akan mengadakan uji kemampuan. Saat itu, matahari sudah diatas kepala. Awan mendung kelabu berarak di angkasa, menandakan bahwa mungkin sebentar lagi hari akan hujan.
Pada pertemuan berikutnya, Perguruan Pedang Keadilan melawan Perguruan Pasir Selatan dimenangkan oleh Perguruan Pasir Selatan di babak pertama namun mereka akhirnya dikalahkan oleh Saguna yang merupakan jagoan utama dari Perguruan Pedang Keadilan. Putra pimpinan Perguruan Pedang Keadilan ini mampu menjungkalkan perlawanan murid utama Perguruan Pasir Selatan.
Mpu Dirgo yang memimpin pertandingan segera maju ke tengah lapangan dan memberikan peluang bagi para pendekar yang ingin menjajal kemampuan beladiri mereka.
Mendengar itu, Dewi Rengganis segera berbisik sang guru Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan.
"Guru, biarkan aku mencoba untuk menjajal kemampuan beladiri ku. Mohon restu nya", ucap Dewi Rengganis lirih.
"Majulah, murid ku. Hati-hati dengan putra pimpinan Perguruan Pedang Keadilan itu. Dia sepertinya memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi", balas Nyai Larasati sembari menganggukkan kepalanya. Melihat itu, Dewi Rengganis segera menjejak tanah hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara dan mendarat di halaman Perguruan Golok Sakti.
Melihat kedatangan perempuan cantik berbaju hitam dengan selendang kuning ini, Saguna langsung menyeringai lebar. Otak cabulnya segera memberi saran sesat bagaimana caranya mempermalukan gadis itu.
Begitu Mpu Dirgo memberikan isyarat kepada Saguna dan Dewi Rengganis untuk segera mulai bertarung, Saguna langsung melesat cepat kearah perempuan cantik itu seraya mengayunkan pedangnya ke arah pinggang lawan.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!
Dewi Rengganis segera melompat mundur sembari mengayunkan pedangnya untuk menangkis sabetan pedang Saguna.
Thhrraaanggg! Thrrraaannnnggggg!
Pertarungan sengit pun segera terjadi antara mereka. Gerakan gerakan cepat Saguna selalu mengincar titik yang mematikan namun sepertinya dia tidak berniat untuk mengalahkan Dewi Rengganis, tapi ingin mempermalukan perempuan cantik itu.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!
Satu tebasan pedang Saguna merobek kemben berwarna hitam yang dikenakan oleh Dewi Rengganis hingga kulitnya yang putih mulus tersembul keluar dari robekan kain kemben.
"Hehehehe sebentar lagi, kau akan ku buat telanjang di tempat ini, gadis cantik! Menyerahlah, jika tidak aku tidak akan segan-segan mempermalukan mu", ucap Saguna sambil menjilat bilah pedang nya.
"Dasar pendekar cabul!
Aku tidak akan memaafkan mu jahanam!", Dewi Rengganis segera menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang di tangan kanannya. Cahaya biru redup berhawa dingin tercipta di bilah pedang di tangan nya.
Melihat itu, Saguna segera memegang erat gagang pedang di tangan kanannya. Diam-diam dia merapal mantra ajian ilmu kanuragan nya di telapak tangan kiri.
Dewi Rengganis yang sedang marah akibat ulah Saguna segera melesat cepat kearah Saguna sambil membabatkan pedang nya. Cahaya biru redup berhawa dingin meluruk cepat kearah Saguna.
Blllaaammmmmmmm!!
Sesaat sebelum cahaya tipis biru redup berhawa dingin itu menghantam, Saguna telah lebih dulu bergerak cepat ke arah samping kanan menghindari hantaman kekuatan Ilmu Sembilan Pedang Surga dari Dewi Rengganis. Setelah itu, ia melesat cepat kearah Dewi Rengganis yang baru saja melepaskan tenaga dalam tingkat tinggi nya.
Secepat kilat, Saguna menusukkan pedangnya ke arah Dewi Rengganis. Meskipun kaget bukan main melihat kedatangan serangan cepat Saguna, Rengganis masih bisa berkelit menghindar ke arah kiri. Namun rupanya itu yang diharapkan oleh Saguna.
Penerus Perguruan Pedang Keadilan itu segera menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah menyala berhawa panas kearah dad Rengganis. Gadis cantik ini hanya bisa menyilangkan pedangnya untuk menahan hantaman Ajian Tapak Api Iblis dari Saguna.
"Mampus kau, gadis bodoh!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!"
Blllaaammmmmmmm....!!!
Dewi Rengganis mencelat jauh ke belakang ke arah gapura batu pintu gerbang Perguruan Golok Sakti. Melihat itu, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah tubuh Rengganis dan secepat kilat menyambar pinggang ramping perempuan cantik itu lalu membawanya turun dua jengkal tangan di depan gapura pintu gerbang. Sembari tersenyum, Jaka Umbaran segera bertanya,
"Kau baik-baik saja, Nisanak?"