JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka


Mendengar ada orang yang mengenali mereka, sepasang suami istri yang berusia sekitar 3 dasawarsa lebih ini langsung menoleh ke arah orang bicara. Mereka berdua pun segera mengerutkan keningnya dalam-dalam karena merasa tidak mengenal Wara Andhira.


"Aduh aduh, rupanya nama kami terkenal juga. Tapi ini sangat mencurigakan Kakang Lintang, siapa perempuan ini?", mendengar pertanyaan pasangan nya, Nyai Kembang Winong atau yang juga dikenal sebagai Si Bajing Merah Betina, lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa lebih ini mengangguk cepat.


"Darimana kau tahu kalau kami adalah Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka ini, heh perempuan muda?!", tanya Si Bajing Merah Jantan yang memiliki nama asli Mpu Lintang ini sedikit pelan tapi penuh dengan nada ancaman.


"Huhhhhh...


Penjahat seperti kalian yang suka menebar kejahatan di muka bumi, pasti semua orang akan tahu kebusukan kalian. Apa kalian ingat dengan rombongan dari Gunung Raung yang pernah kalian rampok tempo hari? Kakak seperguruan ku, Witasari, turut terbunuh oleh bajingan keparat dalam peristiwa itu", ucap Wara Andhira yang terdengar begitu dendam pada Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka ini.


Ehehehehehehehe...


"Rupanya kau adik seperguruan perempuan berwajah bulat telur itu ya? Hahahaha, apakah kau tahu bahwa dia memelas minta diampuni nyawanya saat kami hendak mengantar nyawanya ke neraka?", Si Bajing Merah Jantan terkekeh usai berbicara sedangkan Nyai Kembang Winong menyeringai lebar penuh penghinaan menatap ke arah Wara Andhira.


"Bajingan busuk!!


Akan ku cincang tubuh mu sebagai persembahan untuk kematian kakak seperguruan ku!!"


Setelah berhasil demikian, Wara Andhira segera mencabut pedangnya dan meloncat ke arah Nyai Kembang Winong si Bajing Merah Betina. Segera dia menyabetkan pedangnya kearah perempuan berdandan menor ini.


Shhhrrrreeeeettttth!!


Begitu Wara Andhira mulai bergerak maju, maka para anggota begal Alas Dandaka itu pun segera membalas dengan menerjang ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Pertarungan sengit pun segera terjadi di hutan kaki Gunung Mahameru ini.


Resi Mpu Wedakanwa dan kedua muridnya Rimbugati dan Nirmala pun juga turut serta dalam pertarungan ini. Sepertinya ilmu kanuragan yang di miliki oleh kedua orang muda ini tidak bisa dianggap enteng. Mereka dengan mudah menjatuhkan para anggota begal Alas Dandaka ini hanya dalam beberapa gebrakan saja.


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..


Dhhaaaassshhh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Dua orang anggota begal Alas Dandaka langsung tersungkur menyusruk tanah usai menerima pukulan dan tendangan keras dari Rimbugati dan Nirmala. Usai menjatuhkan lawan, keduanya hendak berbalik arah melindungi sang guru akan tetapi isyarat tangan Resi Mpu Wedakanwa membuat keduanya urungkan niat. Keduanya pun segera melompat ke arah Wara Andhira yang sedang beradu ilmu kesaktian dengan Nyai Kembang Winong.


Perempuan cantik berbaju merah ini berhasil menghindari sabetan pedang Wara Andhira. Akan tetapi, satu tendangan keras kaki kanan Rimbugati segera menyapu kakinya yang belum berpijak sempurna.


Dhhaaaassshhh!!


Tubuh Nyai Kembang Winong oleng dan hendak jatuh. Namun, Nirmala yang menyerang dari sisi kiri tak melewatkan kesempatan ini dan segera melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah dada Si Bajing Merah Betina.


Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuggghhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Tubuh Nyai Kembang Winong terpental ke belakang dan berguling beberapa kali sebelum dia bangkit dari tempat jatuhnya. Pakaian nya kotor, penuh rumput dan tanah. Bahkan beberapa helai rumput sempat masuk ke mulutnya.


"Lihat itu, ada seekor bajing ( tupai ) betina makan rumput..


Seharusnya kau jangan bergelar Si Bajing Merah Betina, hai Nyai Kembang Winong. Tapi gantilah dengan sebutan Si Sapi Merah Betina hehehehe..", ejek Wara Andhira sembari terkekeh kecil.


Murka sudah perempuan cantik berbaju merah itu. Ejekan dari Wara Andhira benar-benar membuat kupingnya panas bukan main.


"Gadis bangsat!!


Mulutmu yang tajam itu perlu mendapat pelajaran tata krama agar tahu caranya bicara pada yang lebih tua!", usai berkata demikian, Nyai Kembang Winong segera merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah kiri dan kanan. Lalu dengan cepat, ia menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada.


Tiba-tiba saja, muncul angin kencang berhawa dingin berseliweran di sekitar tubuhnya. Hal itu seolah mengikuti cahaya putih kehijauan yang muncul di telapak tangan Nyai Kembang Winong.


"Ajian Tapak Bayu...


Jangan kira cuma kau saja yang bisa mengeluarkan ilmu kedigjayaan, iblis betina! Aku juga bisa..", ucap Wara Andhira sembari menyilangkan kedua tangannya ke depan dada lalu diangkat ke atas kepala yang kemudian turun ke samping kiri dan kanan tubuhnya.


Cahaya kuning kebiruan pun langsung menyelimuti kedua telapak tangan Wara Andhira. Sebagai murid Pertapaan Gunung Raung, tentu saja dia menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi yang menjadi ciri khusus dari tempat menimba ilmu silat di wilayah Kerajaan Blambangan ini, Ajian Tapak Pembelah Angin. Angin kencang berhawa panas pun segera menderu cepat di sekitar telapak tangan Wara Andhira yang perlahan terbuka.


Setelah ilmu beladiri yang dia keluarkan sempurna, Nyai Kembang Winong si Bajing Merah Betina ini langsung menghantamkan tapak tangan nya ke arah Wara Andhira.


"Modar kowe bocah edan...


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!!"


Selarik cahaya putih kehijauan langsung menerabas cepat dari telapak tangan kanan Nyai Kembang Winong ke arah Wara Andhira. Murid Maharesi Wiramabajra ini pun tak mau kalah dengan menyambut kedatangan serangan itu dengan hantaman tapak tangan kanan yang di lambari Ajian Tapak Pembelah Angin. Cahaya kuning kebiruan langsung melesat cepat memapak pergerakan cahaya putih kehijauan dari Nyai Kembang Winong.


Shhiiuuuuuuuuttttt....


Blllaaammmmmmmm...!!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat kedua ilmu kanuragan tingkat tinggi ini beradu. Gelombang kejut besar dengan cepat menyapu ke segala arah. Kekuatan nya yang luar biasa, sanggup mendorong Wara Andhira maupun Nyai Kembang Winong terpental jauh ke belakang.


Mpu Lintang yang melihat pasangan nya sedang dalam bahaya, langsung melesat cepat meninggalkan pertarungan nya dengan Resi Simharaja. Meskipun tubuhnya telah memiliki beberapa luka akibat cakaran maut Resi Simharaja, namun itu tidak cukup untuk menjatuhkan sang pimpinan begal Alas Dandaka.


"Kau tidak apa-apa, Nyai?", tanya Mpu Lintang segera. Rupanya dia cukup khawatir juga melihat Nyai Kembang Winong memuntahkan darah segar.


"Uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh...


Perempuan itu punya Ajian Tapak Pembelah Angin, Kakang Lintang. Itu adalah kebalikan dari ilmu kanuragan yang kita miliki. Kita harus hati-hati dalam menghadapinya..", ujar Nyai Kembang Winong segera.


Di sisi lain, Jaka Umbaran pun melakukan hal yang sama saat Wara Andhira terpental usai beradu ilmu kesaktian dengan Nyai Kembang Winong. Bedanya, jika dia memuntahkan darah segar setelah adu ilmu kesaktian, kini jantung perempuan itu yang berdebar kencang tatkala ia di peluk oleh Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya.


"Kau baik-baik saja, Andhira?", tanya Jaka Umbaran segera. Hening, tak ada jawaban yang keluar dari dalam mulut perempuan cantik itu. Matanya terlihat bengong menatap paras tampan sang pangeran muda ini. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak baik, Jaka Umbaran segera menepuk pipi Wara Andhira.


Plllaaaakkkkk..


"Aduh...!!!", seketika itu juga Wara Andhira tersadar dari lamunan indahnya.


"Kenapa Ndoro Umbaran menampar pipi ku?", protes Wara Andhira sembari memegang pipi kanan nya yang memerah usai di tepuk oleh Jaka Umbaran.


"Makanya jangan melamun sendiri saat bertarung.. Dasar perempuan aneh..", omel Jaka Umbaran sembari menurunkan tubuhnya tak jauh dari tempat Nyai Kembang Winong dan Mpu Lintang. Segera dia melepaskan pelukannya pada pinggang Wara Andhira. Ini membuat perempuan cantik itu merasa ada sesuatu yang hilang dari hidup nya.


"Rupanya murid Pertapaan Gunung Raung ini boleh juga. Sayangnya, kau harus mati karena sudah berani melukai istri ku!", Mpu Lintang segera menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan dada. Sebentar kemudian, dia sudah melesat cepat kearah Wara Andhira dan Jaka Umbaran dengan tangan kanan yang berlapis cahaya merah pekat kehitaman.


"Ajian Tapak Iblis Pencabut Nyawa??!


Ndoro Umbaran, kita tidak boleh bertarung langsung melawan ilmu kesaktian itu. Ayo kita pergi!", teriak Wara Andhira seraya menarik tangan Jaka Umbaran dengan maksud ingin mengajaknya pergi. Tetapi pangeran muda dari Kadiri ini sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Berlindung di belakang ku, cepatlah!"


Mendengar perintah dari sang pangeran muda, Wara Andhira tidak membantah dan bersembunyi di belakang tubuh Jaka Umbaran hingga hantaman Ajian Tapak Iblis Pencabut Nyawa langsung menghajar dada Mapanji Jayabaya.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras kembali mengguncang hutan lebat di kaki Gunung Mahameru ini. Mpu Lintang kaget setengah mati melihat Jaka Umbaran sama sekali tidak terluka usai menerima hantaman Ajian Tapak Iblis Pencabut Nyawa miliknya. Yang lebih mengagetkan lagi, Jaka Umbaran segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut lelaki bertubuh gempal itu.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Tubuh Mpu Lintang terpelanting ke belakang dan menghujam keras ke tanah di samping Nyai Kembang Winong yang masih berdiri di tempatnya sambil memegangi dadanya yang terasa seperti ditimpa batu besar. Segera pimpinan begal Alas Dandaka itu bangkit dengan nafas tersengal-sengal.


Di sisi lain, Jaka Umbaran segera memajukan tangannya ke arah mereka seperti isyarat kepada Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka ini untuk maju sambil berkata,


"Majulah jika masih penasaran..!"