
Matahari memang sudah tidak secerah siang hari tadi, mulai memerah di langit barat sebagai tanda bahwa sebentar lagi senja akan segera tiba. Ratusan kelelawar yang terbang keluar dari sarangnya pun menjadi pemandangan biasa kala sang mentari senja mulai memerahkan langit. Suasana tegang di halaman Perguruan Golok Sakti pun berangsur menghilang bersamaan dengan bubarnya para penonton yang memadati tempat itu sejak pagi tadi setelah Mpu Dirgo mengumumkan bahwa pertandingan dilanjutkan esok hari.
Sambil berjalan meninggalkan tempat itu, semua orang sibuk membicarakan berbagai macam hal yang telah terjadi tadi siang.
"Akhirnya si sombong itu jatuh juga dalam kekalahan. Aku sejak awal tidak suka dengan sikap pongahnya", ucap seorang pendekar tua yang menyandang sepasang pedang pendek di pinggangnya.
"Aku juga Kakang..
Mentang-mentang dia putra Pendekar Pedang Keadilan dan di pinjami senjata pusaka itu, lagaknya sudah seperti jagoan nomor satu di dunia persilatan saja. Aku bersyukur karena Bidadari Angin Selatan bisa mengalahkan nya dengan telak", sahut seorang wanita paruh baya yang sepertinya merupakan istri dari pendekar tua berpedang pendek kembar ini.
"Ssssttttttttt pelankan suara mu, heh Sepasang Sriti Gunting dari Gunung Kapur.
Masih banyak murid Perguruan Pedang Keadilan di sekitar kita. Kalau mereka tidak terima dengan omongan kalian, mereka akan membuat masalah dengan kalian", ucap seorang lelaki paruh baya yang merupakan kawan baik dari dua orang itu.
"Huhhhhh apa yang perlu ditakutkan, Ki Brojo?
Kalau mereka mau macam-macam, habisi saja kroco seperti mereka. Toh Saguna yang paling sakti sudah di kalahkan. Jika memang mereka ingin mengeroyok pun, Pedang Gunting Baja ku pasti akan memotong tubuh mereka semua", ujar pendekar tua berpedang pendek kembar itu segera.
Dua orang anggota Perguruan Pedang Keadilan yang mendengar omongan ketiga orang inipun langsung mengepalkan tangannya erat-erat. Keduanya langsung bergegas menuju ke arah tenda yang disediakan oleh Perguruan Golok Sakti dimana mereka tinggal sementara waktu.
Di dalam tenda itu, Saguna sedang berbaring lemah diatas pembaringan. Dua orang terlihat sedang berdiri mengipasi tubuh Saguna yang memucat setelah memuntahkan banyak darah segar akibat luka dalam serius yang dia derita. Pedang Naga Keadilan juga terlihat disandarkan di samping tempat tidur. Seorang murid Perguruan Pedang Keadilan yang memiliki kemampuan beladiri di bawah Saguna, kini menjadi pimpinan sementara kelompok ini nampak berdiri tak jauh dari tempat pembaringan Saguna.
"Keparat mereka semua.. Tadi ingin aku hajar cecunguk-cecunguk itu, Sadoma. Kenapa kau terus menghalangi ku?", gerutu seorang murid yang baru masuk ke dalam tenda.
"Kita harus bisa membaca situasi, Wikarna.
Saat ini kita sedang dalam posisi lemah karena Kakang Saguna sedang luka parah begini. Apa kau tidak bisa menahan diri sedikit saja?", ucap kawannya yang bernama Sadoma itu segera.
"Ada apa ini kalian berdua ribut-ribut ha? Apa mata kalian berdua tidak bisa melihat kalau pimpinan kita sedang sakit?", bentak pimpinan sementara Perguruan Pedang Keadilan ini sambil mendelik kereng.
"Maafkan kami, Kakang Sena.
Terus terang saja, tadi kami mendengar suara yang tidak mengenakkan telinga. Para pendekar kacangan itu berulang kali mencemooh kita setelah kekalahan Kakang Saguna dari Bidadari Angin Selatan. Kalau bukan karena perintah Kakang Sena untuk tidak membuat keributan di tempat ini, sudah kami hajar mereka semua", lapor Wikarna dengan cepat dan berapi-api.
"Para bajingan itu hemmmmmmm...
Brengsek, kita sedang dalam keadaan terpojok. Kalahnya Kakang Saguna memang membuat martabat kita jatuh, kita menjadi bahan cibiran semua orang itu karena perempuan tua itu tapi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kita harus memberikan pelajaran pada Nyai Larasati", ujar Sena sembari memukulkan kepalan tangan kanannya ke tiang tenda.
"Apa yang kau rencanakan, Kakang Sena?", tanya Sadoma segera. Sena menyunggingkan sebuah seringai licik di wajahnya sambil menjawab,
"Kau lihat saja nanti ..."
****
"Terimakasih atas bantuan mu, pendekar muda. Oh iya siapa nama mu? Tadi lupa aku bertanya..
Hehehehe maklum saja aku sudah tua", ucap Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan sembari terkekeh kecil setelah mengantar Jaka Umbaran meletakkan Dewi Rengganis yang terus dia gendong selama pertarungan sengit melawan Saguna tadi di pembaringan tenda tempat tinggal nya.
"Saya Jaka Umbaran, Nini Bidadari Angin Selatan. Nini bisa memanggil ku dengan sebutan Umbaran saja.
Saya permisi dulu..", Jaka Umbaran hendak melangkah meninggalkan tempat itu namun suara lemah Dewi Rengganis menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu, Kakang Umbaran..
Bi-bisakah kakang tinggal sebentar lagi disini bersama ku? Uhukkk uhukkk uhukkk..", Dewi Rengganis kembali batuk-batuk beberapa kali setelah berbicara.
"Eh itu aku..."
"Tidak apa-apa, Umbaran. Aku lihat kau tadi bersama dengan para murid Perguruan Bukit Katong. Sadewa si Pedang Kilat sangat mengenal ku, akan ku minta ijin dari nya agar kau untuk sebentar bersama kami disini. Tolong temani Rengganis ya", Nyai Larasati segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar menuju ke arah tenda besar milik Perguruan Bukit Katong, meninggalkan Jaka Umbaran dan Dewi Rengganis berduaan di tenda tempat tinggal sementara mereka.
Jaka Umbaran hanya garuk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal saja. Jujur saja, dia tidak pernah berduaan dengan seorang gadis cantik. Walaupun si gadis cantik ini sedang sakit, namun ia sedikit kikuk dengan ini semua.
'Inikah yang di namakan jatuh cinta? Kenapa aku ingin terus berduaan dengan Kakang Umbaran ya'
"Eh itu Nimas Rengganis, bagaimana dengan luka dalam mu? Apa masih terasa sakit?", pertanyaan Jaka Umbaran seketika membuat Dewi Rengganis tersadar dari lamunan indah nya.
"Su-sudah lebih baik, Kakang Umbaran. Kalau boleh aku tahu, Kakang Umbaran ini dari mana asalnya?", untuk menyembunyikan keterkejutannya, Dewi Rengganis tersenyum tipis.
"Asal ku tidak jelas tapi aku adalah anak didik Maharesi Siwamurti dari Pertapaan Watu Bolong di Gunung Lawu", jawab Jaka Umbaran segera.
"Berarti Kakang Umbaran ini bukan murid Perguruan Bukit Katong?", Jaka Umbaran segera menggelengkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan Dewi Rengganis.
"Guru ku adalah kakak seperguruan Resi Mpu Hanggabhaya, pimpinan Perguruan Bukit Katong. Jadi Sadewa, Locana dan Surtikanti memanggil ku dengan sebutan kakak seperguruan.
Aku kemari untuk menjalankan tugas dari guru ku untuk topo ngrame sebagai upah untuk pengajaran yang telah dia berikan", jawab Jaka Umbaran dengan jujur.
"Uhukkk uhukkk..
Sebagai murid dari Dewa Pertapa Tanpa Tanding, tentu Kakang Umbaran memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Apa besok pagi Kakang Umbaran juga ikut serta dalam pertandingan untuk mencari pengatur wilayah tengah?", tanya Dewi Rengganis kemudian.
"Ah itu aku masih belum memikirkan nya, Nisanak.
Sudah ada Adhi Sadewa dan Locana yang akan ikut bertarung jadi aku tidak perlu repot-repot untuk ikut serta dalam pertarungan ini jika salah satu diantaranya memenangkan pertandingan. Tapi jika keduanya tidak bisa menang, maka aku akan maju untuk menantang pemenangnya demi kehormatan Perguruan Bukit Katong", jawab Jaka Umbaran sambil tersenyum penuh arti.
"Wah ternyata Kakang Umbaran orang yang berjiwa besar. Tidak mementingkan kepentingan pribadi dan lebih dulu mengutamakan kepentingan bersama. Aku salut pada mu", Dewi Rengganis tersenyum penuh kekaguman menatap ke arah Jaka Umbaran. Meskipun hanya lampu minyak jarak yang menjadi penerang tempat itu, namun itu sudah cukup untuk membuat mata Nyai Larasati yang baru saja pulang dari tempat bermalam Perguruan Bukit Katong, melihat semburat merah kekaguman di wajah cantik Dewi Rengganis.
"Eh Nini Bidadari Angin Selatan sudah kembali. Ini sudah cukup malam, sebaiknya aku permisi dulu. Tidak enak jika dilihat orang jika berduaan seperti ini", Jaka Umbaran buru-buru membungkuk hormat kepada Nyai Larasati dan segera melangkah keluar dari dalam tenda itu.
Ada mimik wajah kecewa di muka Dewi Rengganis begitu Jaka Umbaran meninggalkan tempat itu. Nyai Larasati tersenyum simpul melihat itu semua.
"Kau suka dengan pendekar muda itu, Rengganis?", pertanyaan Nyai Larasati ini langsung membuat muka Rengganis memerah seperti kepiting rebus. Dia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Gu-guru a-ada ada saja sih.. Mana mungkin ada hal semacam itu?", ucap Dewi Rengganis segera.
"Hehehehe, aku pernah muda Rengganis. Pernah juga merasakan hal seperti itu, jadi kau tidak bisa merahasiakan perasaan mu dari ku.
Kalau kau menyukai pendekar muda itu, guru tidak keberatan", Nyai Larasati tersenyum penuh arti. Mendengar jawaban itu, Dewi Rengganis segera memutar tubuhnya menghadap sang guru.
"Benarkah demikian Guru? Guru tidak sedang bercanda dengan ku bukan?", tanya Dewi Rengganis penuh antusias.
"Hahahaha, gadis bodoh.. Gampang sekali kau mengakui perasaan mu. Anak jaman sekarang memang berpikiran terbuka sekali", Nyai Larasati tergelak. Ini langsung membuat Dewi Rengganis cemberut.
"Uh guru mempermainkan perasaan ku. Aku tidak akan bicara lagi dengan mu", Dewi Rengganis langsung memutar tubuhnya dan menghadap ke arah lain.
Malam terus merangkak naik ke puncaknya. Suara burung hantu yang sesekali terdengar dari ranting pohon membuat suasana menjadi hening dan sepi. Apalagi sejak kabut turun menyelimuti kawasan Lembah Kali Gung, menghadirkan sebuah perasaan sunyi dan mencekam. Hanya beberapa tenda besar saja yang masih ada orang terjaga. Sementara itu petugas jaga keamanan beberapa kali mengitari halaman untuk memastikan bahwa lingkungan markas besar Perguruan Golok Sakti aman-aman saja.
Suara riuh kokok ayam jantan terdengar bersahutan menandakan bahwa pagi telah datang. Bersamaan dengan itu, kesibukan mulai terasa di wilayah markas Perguruan Golok Sakti. Beberapa orang yang di tugaskan untuk menyiapkan makanan bagi mereka yang akan bertarung, terlihat sibuk sejak pagi buta.
Menjelang matahari sepenggal naik ke atas langit, ratusan orang sudah kembali memadati halaman Perguruan Golok Sakti. Kesemuanya begitu bersemangat untuk menyaksikan langsung pertarungan untuk memperebutkan gelar pengatur wilayah tengah. Ini dikarenakan wilayah tengah merupakan wilayah utama dari kelima bagian wilayah di dunia persilatan Tanah Jawadwipa. Banyak sekali perguruan silat yang ada di tempat ini. Namun hanya tiga saja yang menghadiri acara pertemuan para pendekar waktu ini. Ketiganya adalah Padepokan Padas Putih, Perguruan Kelelawar Merah dan Perguruan Bukit Katong.
Sesuai dengan pengaturan yang sudah di atur sebelum nya, Perguruan Bukit Katong akan bertarung melawan Padepokan Padas Putih di awal pertandingan.
Locana langsung melangkah maju ke tengah halaman sementara seorang lelaki muda bertubuh gempal dengan kumis tebal dan mengenakan pakaian warna putih dan celana selutut berwarna hitam melangkah maju dari tempat Padepokan Padas Putih berada. Pendekar muda ini memegang sebuah tombak pendek berbilah tipis keperakan dengan beberapa lobang kecil di dalamnya.
Tanpa menunggu lama lagi, begitu Mpu Dirgo memberikan isyarat kepada keduanya untuk segera mulai bertanding, Locana langsung mencabut pedangnya dan melemparkan sarung pedang nya ke samping kiri. Kuatnya tenaga yang dilepaskan oleh Locana, membuat sarung pedang itu menancap hampir separuh di tanah.
Sementara itu, si pemuda berkumis tebal itu segera memutar gagang tombak pendek di tangan kanannya. Suara riuh angin dingin berseliweran pada putaran tombak pendek di tangan kanan pemuda yang berasal dari Padepokan Padas Putih ini. Semua orang langsung terkejut bukan main melihat munculnya senjata itu di tempat itu.
"Tombak Angin...?????!"