
Aura hitam yang muncul di tubuh Wiku Jinaloka perlahan membesar dan membentuk sesosok bayangan hitam bertanduk dengan mata merah menyala seperti iblis yang baru datang dari neraka. Meskipun gelapnya malam tak mampu membuat pandangan mata terlihat jelas, tapi bagi mereka yang memiliki ilmu kanuragan tinggi dan tenaga dalam yang mumpuni, itu semua terlihat begitu jelas.
"Wiku Tua, rupanya kau bersekutu dengan iblis dari neraka hanya untuk mendapatkan kekuatan yang kau miliki. Sungguh menyedihkan sekali", ucap Jaka Umbaran sembari mempersiapkan diri untuk bertarung habis-habisan melawan Wiku Jinaloka karena tahu bahwa kemampuan yang dia miliki mungkin masih belum cukup untuk mengungguli lelaki tua berkepala botak itu.
"Tau apa kau soal hidupku hingga kau berani menghakimi ku ha? Bocah keparat, hari ini aku akan memastikan bahwa kau akan menjadi arang di dasar neraka....!!", teriak Wiku Jinaloka sembari merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan tubuhnya. Aura hitam di tubuh lelaki tua berjanggut panjang itu semakin lama semakin pekat.
50 tahun yang lalu,
Saat itu Jinaloka muda yang memiliki nama asli Cudamani begitu sengsara kehidupannya. Orang tuanya dibunuh oleh para perampok yang merupakan kaki tangan salah satu pejabat tinggi Kerajaan Sriwijaya di Minanga Tamwan. Ia harus hidup terlunta-lunta hanya untuk sekedar bertahan hidup. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Wiku Mahatera dari Barus yang kemudian mengangkatnya menjadi murid. Setelah cukup ilmu beladiri yang dimiliki, Cudamani kembali ke kampung halamannya untuk menuntut balas atas kematian seluruh anggota keluarga nya.
Sepak terjangnya dalam memburu para pelaku pembunuhan keluarga besar nya membuatnya menjadi musuh banyak orang termasuk dari pejabat negara yang menjadi orang di balik layar atas bergeraknya kelompok perampok pembunuh keluarga Cudamani. Karena itu, dia menjadi buruan orang suruhan sang pejabat hingga mengepungnya di tepi jurang Gunung Kerinci. Meskipun dia sangat hebat membantai ratusan nyawa pendekar di Tanah Andalas, namun banyaknya jumlah orang yang di sewa sang pejabat negara itu akhirnya yang keluar sebagai pemenang. Cudamani terluka parah dan di lemparkan ke dalam jurang Gunung Kerinci.
Saat keadaan sekarat itulah, setan penunggu Gunung Kerinci menawarkan bantuan untuk Cudamani agar bisa membalas dendam. Tanpa pikir panjang, Cudamani menerima tawaran itu dan bersekutu dengan setan Gunung Kerinci yang sejatinya adalah iblis dari neraka. Berbekal kekuatan yang luar biasa itu, Cudamani lantas memburu orang-orang yang telah mencelakainya. Sang pejabat tinggi negara yang sempat melarikan diri ke Kota Sriwijaya pun akhirnya harus meregang nyawa di tangan Cudamani.
Karena ini, Cudamani lantas menjadi buron pemerintah Sriwijaya. Untuk menghilangkan jejak keberadaan nya, Cudamani menyamar sebagai wiku dengan nama Jinaloka hingga dia bisa melarikan diri dari kejaran para prajurit Sriwijaya. Bersama dengan seekor anjing dari neraka yang di berikan oleh sang iblis, Cudamani yang telah berganti nama menjadi Wiku Jinaloka meninggalkan Suvarnabhumi menuju Tanah Jawadwipa dan memulai sepak terjangnya dalam memburu siluman untuk mendapatkan permata siluman sebagai syarat tumbal untuk melanggengkan kekuatannya.
Wujud hitam bermata merah menyala seperti raksasa bertanduk itu semakin nyata terlihat. Wiku Jinaloka segera menangkupkan kedua telapak tangan nya layaknya sikap seorang biksu Buddha. Sementara itu, Jaka Umbaran telah selesai merapal mantra. Bulatan cahaya kuning keemasan bergerigi tajam dari untaian huruf sansekerta tercipta mengelilingi seluruh tubuh nya.
"Ashura Penghancur Dunia..!!
Bunuh bocah keparat itu!!", ucap Wiku Jinaloka sembari melesat cepat kearah Jaka Umbaran dan menghantamkan kepalan tangan nya.
Wujud hitam bermata merah itu segera melesat cepat mengikuti gerakan tangan Wiku Jinaloka, menghantam ke arah Jaka Umbaran. Sang pendekar muda memperkuat pertahanan nya dengan mengerahkan Ajian Bandung Bondowoso hingga Cakra Bhaswara yang keluar dari dalam tubuh nya semakin memancarkan cahaya kuning keemasan.
"Cakra Bhaswara...
Tegakkan kebenaran diatas kebatilan di muka bumi. Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!"
Jaka Umbaran segera menghantamkan kedua telapak tangan nya ke arah tinjuan sosok hitam bermata merah menyala itu. Cakra Bhaswara berputar cepat dan melesat cepat memapak pergerakan makhluk hitam itu segera.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!
Ledakan mahadahsyat terdengar saat Cakra Bhaswara beradu dengan Ashura Penghancur Dunia dari Wiku Jinaloka. Akibat ledakan dahsyat ini, tubuh Wiku Jinaloka mencelat jauh ke belakang. Tubuh tua nya menghantam tanah dengan keras lalu menyusruk hingga 2 tombak jauhnya dari tempat wiku tua itu jatuh. Pakaian dan tubuhnya kotor belepotan lumpur dan air kotor yang menggenang. Lelaki tua berjanggut panjang ini langsung memuntahkan darah segar.
Jaka Umbaran sendiri juga tidak lebih baik. Tubuh pendekar muda ini juga terlempar jauh ke belakang dan menyusruk tanah. Beberapa bagian tubuhnya luka parut. Dia berusaha bangkit namun kakinya tak cukup kuat untuk bangkit hingga satu dengkul nya menyangga di tanah. Dia muntah darah segar.
Melihat tuan nya jatuh, Anjing Neraka langsung melompat ke arah Jaka Umbaran dengan maksud ingin menghabisi nyawa pendekar muda ini.
Whhhuuuuuusssshhh!!
Harimau putih besar penjelmaan Resi Simharaja pun segera melompat memapak pergerakan makhluk menyeramkan dari neraka itu sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Dia berhasil menggigit salah satu leher anjing ini sedangkan dua kepala Anjing Neraka menggigit bahu kiri dan kaki kiri harimau putih besar itu.
Jaka Umbaran segera menggosok cincin bermata merah di jari manisnya. Asap merah tipis keluar dari cincin pusaka itu dan sesosok makhluk tinggi besar berbulu merah muncul di hadapan Jaka Umbaran. Dia segera menghormat pada pendekar muda ini.
"Hamba siap melaksanakan perintah", ucap sosok makhluk halus yang tak lain adalah Pancer, sang siluman Gunung Lawu.
"Bantu harimau putih itu, habisi anjing berkepala tiga yang menggigit nya", perintah Jaka Umbaran segera. Pancer segera menghormat sebelum dia melenting tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah adu kekuatan antara harimau putih besar dan anjing berkepala tiga ini dengan menyatukan dua tangannya.
Sekuat tenaga, Pancer menghantamkan kepalan tangannya ke arah punggung Anjing Neraka.
Bhhhaammmmmmmm krrraaaakkkkkk!!
Khhaaaiiiiiingggggggg......!!!
Anjing Neraka meraung keras saat hantaman tangan Pancer mematahkan tulang punggungnya. Dua gigitan nya pada tubuh harimau putih besar itu langsung terlepas begitu saja. Makhluk menyeramkan ini langsung berguling sekarat. Tak berhenti sampai disitu, Pancer segera memuntir salah satu kepala Anjing Neraka.
"TIIDDDDAAAAAAAAKKKKK...!!!!"
Wiku Jinaloka berteriak histeris melihat anjing berkepala tiga penjelmaan Wiku Dhammayekti terbunuh di tangan Pancer dan Resi Simharaja. Ini karena sebagian jiwa siluman itu terhubung dengan nya lewat ikatan darah yang dilakukan saat pertama kali mereka dipertemukan.
"Aku akan menghancurkan kalian semua..
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!!!", tubuh Wiku Jinaloka segera membesar hingga memperlihatkan otot yang menonjol. Perubahan wujud nya pun menjadi menyeramkan dengan sepasang tanduk pendek muncul di dahinya.
Setelah itu ia melesat cepat kearah Jaka Umbaran yang baru saja berdiri di tempat ia terjatuh. Namun kini di tangan kanannya sebilah keris pusaka tergenggam erat. Keris pusaka berlekuk 5 itu memancarkan cahaya merah kebiruan yang menakutkan.
"Keris pusaka itu...
Kakang Sadewa, bukankah itu adalah Keris Pulanggeni yang legendaris itu?", ucap Surtikanti sambil menunjuk ke arah pusaka di tangan kanan Jaka Umbaran.
"Benar sekali Surti..
Itu adalah benda pusaka yang menjadi andalan Paman Guru Dewa Pertapa Tanpa Tanding. Aku pernah melihatnya sekali. Tak dinyana jika paman guru mewariskan pusaka tingkat tinggi itu kepada Kakang Umbaran", jawab Sadewa sembari tersenyum dan mengelus kumis tipis nya.
Locana dan para murid Perguruan Bukit Katong serta Gendol dan dua murid Pendekar Pedang Kuning yang menonton pertarungan ini terus menyaksikan langsung tanpa berkedip sedikitpun. Pertarungan luar biasa yang terjadi di depan mata mereka adalah tontonan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.
"Matilah kau bocah keparat!!!!"
Wiku Jinaloka menghantamkan kepalan tangannya ke arah kepala sang pendekar muda. Jaka Umbaran berkelit menghindari pukulan keras itu dengan sedikit menekuk lutut nya hingga pukulan keras yang mengandung kekuatan luar biasa ini hanya sejengkal menyambar angin di samping kepala Pendekar Gunung Lawu.
Sekuat tenaga, Jaka Umbaran menusukkan Keris Pulanggeni di tangan kanannya ke arah perut Wiku Jinaloka. Pertapa pendeta agama Buddha yang tersesat ini semula meremehkan pusaka itu karena sebelumnya pusaka seperti apapun tak bisa menggores kulit nya saat sudah berubah wujud seperti ini. Namun itu adalah kesalahan paling besar yang dia lakukan seumur hidupnya.
Jllleeeeeppppphhh!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Wiku Jinaloka menjerit keras saat bilah Keris Pulanggeni menembus perut hingga ke pinggangnya. Saat Jaka Umbaran mencabut senjata pusaka itu, lelaki tua itu langsung terhuyung-huyung mundur sambil memegangi perutnya yang bolong. Sesaat kemudian dia roboh ke tanah, mengejang hebat sebelum diam untuk selamanya.
Dari arah luka di perut Wiku Jinaloka, muncul asap hitam pekat yang membentuk sesosok bayangan dengan mata merah menyala.
"Hai manusia, hari ini kau bisa tertawa untuk kemenangan mu. Tapi lain hari aku pasti akan membalas dendam padamu. Bersiaplah untuk itu....", suara seram penuh ancaman itupun langsung menghilang bersamaan dengan semilir angin dingin yang berhembus perlahan.
Jaka Umbaran langsung terduduk di tanah. Bersamaan dengan itu, dia menyimpan Keris Pulanggeni kembali ke dalam tubuhnya. Sesaat kemudian dia roboh tak sadarkan diri.
Cahaya matahari menerobos sela-sela di dinding kayu rumah tua itu. Perlahan Jaka Umbaran membuka mata dan melihat bahwa matahari telah sepenggal naik di langit timur. Perlahan Jaka Umbaran beringsut dari tempat tidur nya yang beralaskan tikar daun pandan yang sudah bolong di beberapa tempat. Ini seketika menyadarkan Gendol yang duduk bersila di dekatnya.
"Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar sudah sadar.. Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar sudah sadar..", teriak Gendol kegirangan. Sontak saja, semua murid Perguruan Bukit Katong dan para pengikut Jaka Umbaran berlari masuk ke dalam rumah tua itu.
"Kakang Umbaran, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih ada yang sakit?", tanya Sadewa segera.
"Kalau masih sakit, katakan saja pada kami Kakang Umbaran. Aku pasti akan menemukan cara untuk mengobati mu", sambung Locana sambil menelisik wajah tampan pemuda itu.
"Benar Kakang.. Aku dan Kantil akan membuat kan makanan untuk mu agar kau cepat sembuh. Katakan saja kau mau makan apa?", imbuh Niluh Wuni yang di sambut anggukan kepala Sekar Kantil di sampingnya.
"Kalian ini apa-apaan sih? Aku baik-baik saja, tidak ada masalah sedikitpun", ujar Jaka Umbaran memotong kelakuan norak kawan-kawannya.
"Apa yang terjadi semalam setelah aku pingsan?
Cepat katakan pada ku..."