
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu..
Pergi saja dari sini dan jangan ganggu kami makan", balas Dewi Rengganis tanpa menoleh ke arah Bairawa. Ini benar-benar merendahkan martabat Bairawa yang terasa seperti nyamuk pengganggu. Lelaki muda bertubuh tegap itu segera melangkah maju dan langsung mencekal lengan tangan kanan Dewi Rengganis yang memegang potongan daging ayam.
"Gadis busuk, kau pantas mendapat pelaj... oouuugghhhhhh!"
Belum sempat Bairawa selesai bicara, Gendol yang duduk di kursi sebelahnya langsung menjejali mulut Bairawa yang terbuka dengan kepala ayam panggang bagiannya. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan Bairawa hingga putra Akuwu Menganti ini langsung berupaya mengeluarkan kepala ayam panggang yang masuk ke dalam mulutnya sambil mundur.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
Setelah bisa mengeluarkan kepala ayam panggang dari mulutnya, Bairawa segera menunjuk pada mereka dengan penuh kemarahan.
"Bajingan kalian semua!!
Pengawal, hajar mereka sampai bisa menghormati aku!", teriakan keras Bairawa langsung 6 orang pengikutnya termasuk lelaki paruh baya yang menggunakan penutup mata dari kulit lembu itu langsung mengepung meja makan Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Sedangkan para pengunjung warung makan yang ada di tempat itu langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Mereka tidak ingin menjadi korban serangan nyasar dari anak buah Bairawa yang terkenal suka membuat onar.
Gendol langsung menyambar gagang gada kembar nya dan mengibaskan nya ke arah tiga orang yang hendak memukul Jaka Umbaran dari belakang. Di sisi lainnya, Resi Simharaja dengan cepat menggunakan kursi kayu tempat duduknya sebagai tumpuan untuk melakukan tendangan keras beruntun ke arah tiga anak buah Bairawa yang lain.
Whhhuuuggghhhh thhrraaanggg!!
Dhhhaaaassshhhh brruuaaaakkkkkkkh!!
Aaauuuuggggghhhhh....!!!
Suara raungan kesakitan bercampur bunyi meja yang hancur tertimpa tubuh langsung terdengar saat keenam orang pengawal pribadi Bairawa bertumbangan di lantai warung makan itu. Mereka semua langsung bangkit dari tempat jatuhnya lalu mencabut senjata mereka masing-masing. Tanpa ba-bi-bu lagi, keenamnya menerjang ke arah Gendol dan Resi Simharaja.
Dua tebasan golok dari pengawal pribadi Bairawa mengarah ke kepala dan leher Gendol sementara satu orang lagi menusukkan tombak pendek nya ke arah pinggang pria bertubuh tinggi besar itu. Gendol menyeringai lebar melihat kedatangan serangan mereka.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth shhrreeettthhh..
Whhhuuuggghhhh!!
Satu kaki Gendol diangkat tinggi-tinggi ke udara lalu dengan cepat menginjak ujung tombak lawan dengan cepat. Tombak tertekan ke lantai warung makan. Si pemegang senjata berusaha keras untuk menarik kembali senjatanya agar lepas dari jepitan kaki Gendol. Namun usahanya sia-sia belaka. Senjatanya sama sekali tidak bisa bergerak meskipun ia menariknya sekuat tenaga.
Gendol menyeringai lebar dan memutar tubuhnya lalu dengan cepat melayangkan tendangan keras kearah dada lawan sambil menangkis tebasan golok pengawal pribadi Bairawa.
Thhrraaanggg thhrraaanggg..
Dhhhaaaassshhhh...!!!
Si pemegang tombak itu langsung jatuh terjengkang sambil membekap dadanya yang terasa sakit bukan main. Terasa ada tulang iganya yang patah. Tombak nya terlepas dari genggaman. Sementara itu dua kawannya melompat mundur setelah Gendol mengayunkan kedua gada kembar nya ke arah mereka.
Melihat itu, Gendol langsung menginjak tanah lantai warung makan itu dengan keras. Tombak di sebelah nya mencelat ke atas. Secepat kilat, Gendol menggebuk tombak yang mencelat itu dengan gada di tangan kanannya.
Dhhaaaassshhh!
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!
Tombak meluncur cepat kearah pria paruh baya yang memakai penutup mata. Kuatnya tenaga yang dilepaskan oleh Gendol membuat kecepatan tombak itu sukar di lihat oleh mata biasa.
Jllleeeeeppppphhh...
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Pria paruh baya bertubuh kekar dengan memakai penutup mata itu meraung keras saat tombak itu menembus perutnya. Dia langsung roboh dengan tombak menancap. Melihat orang paling hebat di kelompok pengawal pribadi itu di jatuhkan, kelima kawannya yang sudah babak belur di hajar Gendol dan Resi Simharaja langsung ciut nyalinya. Mereka langsung kabur dari warung makan meninggalkan Bairawa yang pucat ketakutan setengah mati di tempat itu.
Setelah para pengawal pribadi Bairawa kabur, Resi Simharaja dan Gendol menoleh ke arah Jaka Umbaran yang masih enak-enakan menikmati ayam panggang sambil sesekali meneguk air minum dari kendi.
"Ndoro Umbaran, mau diapakan orang ini?", tanya Resi Simharaja sembari menunjuk ke arah Bairawa yang pucat pasi.
"Kita patahkan kedua tangan dan kakinya atau kita kebiri saja bagaimana Ndoro Pendekar?
Saya lebih suka pilihan terakhir", Gumbreg menimpali sambil menyeringai lebar menatap ke arah Bairawa. Mendengar ucapan Gendol, Bairawa langsung berlutut di lantai warung makan.
"A-ampuni aku Pendekar..
A-aku bersedia memberikan apa saja asal kalian melepaskan ku. Nah eh ini ada uang ku. Kalian boleh mengambilnya asalkan kalian membiarkan ku pergi dari tempat ini", ujar Bairawa terbata-bata. Perlahan celananya basah kuyup oleh sesuatu yang keluar dari tengah paha. Dia ngompol saking takutnya.
"Mana uangnya? Kau jangan coba coba untuk menipu kami ya?", gertak Gendol sembari menyepak pinggang Bairawa.
"Biarkan saja dia pergi. Air kencingnya membuat tempat ini bau pesing. Tapi kalau sampai dia berani mengganggu lagi, aku sendiri yang akan mencabut nyawa nya..", ucap Jaka Umbaran dengan dingin.
"Terimakasih pendekar terimakasih..
Aku tidak berani aku tidak berani lagi. A-aku permisi", buru-buru Bairawa bangkit dari tempat berlututnya dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Kesombongannya runtuh kala keluar dari dalam warung makan dengan celana basah kuyup oleh air kencing.
Begitu Bairawa pergi, Gendol dan Resi Simharaja segera mendekati meja Jaka Umbaran, Dewi Rengganis dan Nyai Larasati.
Dewi Rengganis segera membuka telapak tangannya ke depan Gendol.
"Serahkan kepeng perak itu pada ku. Biarkan aku yang mengatur keuangan kita", ucap Dewi Rengganis segera.
"T-tapi tapi.."
"Ndol, berikan saja pada Rengganis. Dia yang akan mengatur kebutuhan kita", mendengar ucapan Jaka Umbaran itu, Gendol menghela nafas berat sembari mengulurkan kantong kain hitam berisi kepeng perak itu pada Dewi Rengganis. Senyum lebar langsung terukir di wajah Dewi Rengganis begitu kepeng perak itu ada padanya.
"Huh dasar perempuan..
Matanya langsung hijau saja kalau lihat uang. Padahal aku yang susah payah mengambilnya", gerutu Gendol lirih.
"Kau bilang apa Ndol?", Dewi Rengganis melotot lebar ke arah pria bertubuh tinggi besar itu.
"Eh anu itu kita harus secepatnya pergi dari tempat ini. Takutnya orang itu menyimpan dendam dan kembali dengan membawa para prajurit.
Bukankah begitu Ndoro Pendekar?", Gendol langsung menoleh ke arah Jaka Umbaran segera. Pendekar Gunung Lawu ini hanya geleng-geleng kepala melihat ulah pengikutnya itu sebelum melangkah ke arah pelayan warung makan.
Dengan sepuluh kepeng perak sebagai ganti perabotan yang hancur dan 3 kepeng perak sebagai biaya makan, Dewi Rengganis segera memberikan uang kepada sang pelayan warung makan. Selepas itu, mereka meninggalkan warung makan itu menuju ke arah Alas Wuluh yang terletak di selatan tapal batas Kota Kadipaten Paguhan.
Menjelang sore hari, mereka berlima sampai di tepi Alas Wuluh. Kedatangan mereka disambut dengan hadangan beberapa orang pendekar yang mengenakan ikat kepala putih. Salah seorang diantara mereka langsung membentak keras.
"Berhenti kalian! Siapapun dilarang masuk ke dalam Alas Wuluh!", bentak seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan memanggul sebuah pedang besar di pundaknya. Dia menatap tajam ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
"Aku datang untuk bertemu dengan Paman Prabhaswara. Apa itu juga dilarang?", jawab Jaka Umbaran segera. Mendengar nama Prabhaswara disebut, si lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal itu langsung berubah drastis sikapnya.
"Hahahaha rupanya kawan sendiri..
Selamat datang di Alas Wuluh, pendekar semua. Mari silahkan, aku akan mengantarmu menemui Raden Prabhaswara. Aku Jaludara, pengikutnya dari Pakuwon Panjer", ucap lelaki bertubuh gempal yang memperkenalkan diri sebagai Jaludara ini.
Di antar oleh Jaludara, Jaka Umbaran dan kawan-kawan segera menjalankan kudanya perlahan hingga memasuki tengah Alas Wuluh. Saat mereka sampai di tengah Alas Wuluh, ribuan orang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sedang memasang tali pada busur panah, ada yang sedang mengasah pedang dan mata tombak, ada pula yang sibuk mengencangkan tali baju jirah mereka agar nyaman di pakai saat esok pagi tiba.
Selain para lelaki, ratusan orang perempuan juga terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk semua orang. Ada yang sibuk menyalakan api pada tungku api, ada yang sedang memanggang babi hutan sedangkan lainnya sedang memindahkan nasi putih yang sudah masak ke dalam bakul bambu besar. Kesemuanya nampak mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Di tengah tanah lapang yang menjadi markas besar para pemberontak pimpinan Prabhaswara ini, sebuah tenda sederhana beratap anyaman daun kelapa dan daun krombang, beberapa orang terlihat sedang berkumpul bersama. Kesana lah Jaka Umbaran dan kawan-kawan diantar oleh Jaludara.
"Pendekar Gunung Lawu..
Akhirnya kau sampai juga disini. Kemari lah, kami sedang menata siasat untuk menghadapi para prajurit Lokawijaya besok", sambut Prabhaswara segera.
Semua orang langsung menoleh ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Mereka semua telah mendengar tentang kehebatan ilmu kanuragan pendekar muda ini sebelumnya. Beberapa orang pendekar tua terlihat kurang suka dengan kehadiran pendekar muda ini.
"Raden Prabhaswara..
Kenapa kau begitu percaya dengan apa yang tidak kau lihat dengan mata kepala mu sendiri? Cerita yang kau dengar, bisa jadi hanya di besar-besarkan saja", ucap seorang lelaki tua bertubuh gempal berjanggut putih pendek dengan kepala plontos yang mengenakan hiasan ikat kepala besi yang pada dahi terukir gambar bulan sabit. Dia adalah Pendekar Kepala Besi, seorang pendekar tua yang cukup disegani di sekitar perbatasan wilayah Kadipaten Paguhan dan Bhumi Sambara.
"Saudara Kepala Besi..
Kau kadang ada benarnya juga. Pertemuan para pendekar dunia persilatan di Lembah Kali Gung tentu saja akan mudah saja memilih pengatur wilayah karena kita-kita ini tidak diundang kesana. Kalau kau dan aku ikut, pasti tidak mungkin ada anak muda bau kencur yang terpilih sebagai pengatur wilayah tengah", ucap seorang lelaki tua bertubuh bungkuk dengan mata juling yang mengenakan pakaian panjang warna kuning kusam. Dia adalah pendekar tua asal Bukit Progo yang terkenal dengan sebutan Si Bungkuk Kaki Kilat dari Bukit Progo.
Semua orang langsung kasak kusuk mendengar ocehan dua pendekar tua ini. Semuanya nampak memiliki pendapat yang berbeda hingga keributan kecil pun segera terjadi.
Jaka Umbaran segera menghela nafas panjang. Dia sungguh tidak ingin ada keributan di tempat itu. Tapi dia juga tidak mau di remehkan begitu saja oleh golongan pendekar tua ini tanpa membela diri. Dia langsung berkata,
"Aku memang masih bocah kemarin sore, para sesepuh dunia persilatan. Aku juga tidak ingin menjadi pengatur wilayah tengah jika saja Dewa Kalong Merah tidak menganiaya para murid Padepokan Bukit Katong. Tapi jika para sesepuh dunia persilatan tidak mempercayai apa yang telah terjadi,
Maka kalian boleh mencobanya.."