
"Dasar jumawa..
Kami masih sanggup membuat mu bertekuk lutut, bocah ingusan!", maki Mpu Lintang si Bajing Merah Jantan pada Jaka Umbaran sambil melirik ke arah Nyai Kembang Winong pasangannya. Melihat anggukan kepala Nyai Kembang Winong, Mpu Lintang tersenyum lebar.
Sepasang Bajing Merah langsung melompat mendekat satu sama lain lalu berdiri berjajar. Keduanya pun segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mulut mereka pun langsung komat-kamit merapal mantra. Semburat cahaya merah kehitaman muncul di tubuh mereka berdua yang kemudian berkumpul di telapak tangan.
Keduanya pun segera menaikkan telapak tangan ke atas kepala lalu turun hingga tapak tangan kiri Mpu Lintang bersatu dengan telapak tangan kanan Nyai Kembang Winong. Lalu keduanya segera menghantamkan tapak tangan mereka berdua ke arah Jaka Umbaran.
Shhhhiiiiiiuuuuttthh shhhhiiiiiiuuuuttthh!!
Dua larik cahaya merah kehitaman berhawa panas menerabas cepat kearah Jaka Umbaran. Sang pangeran muda pun langsung melompat tinggi ke udara menghindari hantaman Ajian Cadas Ngampar yang mereka miliki.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm!
Dua ledakan dahsyat terdengar saat cahaya merah kehitaman Ajian Cadas Ngampar milik Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka menghantam sebuah pohon yang ada di belakang Jaka Umbaran. Pohon besar ini seketika meledak dan terbakar kemudian berderak roboh ke tanah.
Melihat lawannya berhasil lolos dari maut, Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka kembali menghantamkan tapak tangan mereka ke arah Jaka Umbaran yang baru saja mendarat di tanah.
Shhiiuuuuuuuuttttt...
Blllaaammmmmmmm!!!!
Kembali Jaka Umbaran berhasil lolos dari serangan Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka ini karena tepat sebelum ajian ini sedepa mengenai tubuh nya, dia lebih dulu berjumpalitan menghindarinya.
Sepasang Bajing Merah terus menerus menghantamkan tapak tangan mereka ke arah sang putra mahkota Kerajaan Panjalu itu namun tak satupun serangannya yang bisa menjatuhkan sosok sang pangeran muda. Dia mampu bergerak lincah dan selalu tepat waktu sebelum hantaman Ajian Cadas Ngampar mengenai tubuh nya.
"Bajingan tengik!
Kalau kau seorang pendekar, jangan cuma lompat kesana-kemari seperti monyet hutan. Ayo adu kesaktian..!!", teriak Mpu Lintang keras.
Jaka Umbaran tersenyum lebar ketika mendengar tantangan ini. Dia segera memejamkan matanya sebentar lalu membukanya dengan cepat. Cahaya kuning keemasan terlihat menyala di manik mata nya yang kemudian menciptakan perisai diri tipis yang berwarna kuning keemasan.
"Baiklah.. Aku sudah siap menerima ajian mu, hai begal Alas Dandaka..!"
Mendengar itu, Nyai Kembang Winong dan Mpu Lintang tersenyum penuh kemenangan. Keduanya pun segera mengerahkan seluruh tenaga dalam yang mereka miliki dan menyalurkannya ke telapak tangan mereka berdua. Cahaya merah kehitaman itu terlihat lebih terang dari sebelum nya sebagai tanda bahwa mereka ingin melepaskan tembakan Ajian Cadas Ngampar milik nya untuk satu kali serangan.
"Dasar bocah bodoh!
Mampuslah kau bersama setan-setan di neraka. Ajian Cadas Ngampar!!
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!"
Dua larik cahaya merah kehitaman yang lebih besar dari sebelumnya langsung menerabas cepat kearah Jaka Umbaran. Sang pangeran muda dari Kadiri ini sama sekali tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri hingga Ajian Cadas Ngampar milik Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka ini langsung menghajar tubuh nya.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!
Ledakan mahadahsyat terdengar saat Ajian Cadas Ngampar mengenai tubuh Jaka Umbaran. Asap tebal langsung membumbung tinggi ke udara bersamaan dengan debu beterbangan di udara tempat Jaka Umbaran berdiri.
Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka langsung tersenyum puas setelah melihat itu semua. Mereka yakin bahwa Jaka Umbaran pasti mati karena terkena hantaman Ajian Cadas Ngampar yang mampu membuat batu besar sekalipun hancur lebur menjadi abu.
Namun, senyum lebar yang tersungging di wajah keduanya segera menghilang saat asap tebal itu menghilang di tiup angin. Mata mereka berdua terbelalak lebar tatkala mereka melihat Jaka Umbaran masih berdiri kokoh di tempatnya semula bahkan tersenyum tipis menatap mereka.
"Ba-bagaimana mungkin...?!!"
Belum hilang keterkejutan Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah mereka dengan tubuh nya memancarkan cahaya hijau kebiruan.
"Sekarang giliran ku!!", ucap Jaka Umbaran sembari mencekik leher mereka berdua. Kecepatan gerak Ajian Langkah Dewa Angin membuat kecepatan yang sukar diikuti oleh mata telanjang hingga kemunculan Jaka Umbaran di depan Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka ini tak sempat mereka hindari.
Keduanya pun segera berusaha keras untuk melepaskan diri dari cekikan Jaka Umbaran sembari menghantam tubuh Jaka Umbaran dengan telapak tangan yang terbungkus cahaya merah kehitaman Ajian Cadas Ngampar.
Blllaaammmm blllaaammmmmmmm!!
"Ajian Waringin Sungsang?!!
Ada hubungan apa pemuda ini dengan Kadipaten Wengker?", gumam Resi Mpu Wedakanwa yang paham asal usul Ajian Waringin Sungsang ini. Lelaki tua itu terus mengawasi jalannya pertarungan antara Jaka Umbaran dan Sepasang Bajing Merah itu.
Rasa sakit yang teramat sangat di rasakan oleh Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka. Sendi mereka seperti di betot dari tempat nya sedangkan otot-otot tubuh nya bagaikan di gigit oleh ribuan semut api.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!
Jeritan keras memilukan hati terdengar dari mulut kedua pimpinan kelompok begal Alas Dandaka ini. Darah segar mengalir keluar dari mulut, hidung, mata dan telinga mereka. Tubuh mereka berdua pun menjadi kurus dan terus menerus mengurus hingga menyisakan tulang dan kulit saja.
Setelah itu, tubuh mereka pun menghitam dan mengeras. Saat daya hidup dan tenaga dalam mereka habis terhisap oleh Ajian Waringin Sungsang, Jaka Umbaran segera menghantam dada Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka.
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...
Blllaaammmmmmmm!!!
Tubuh Sepasang Bajing Merah dari Alas Dandaka ini langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Hari itu, biang teror yang membuat banyak orang ketakutan lewat Alas Dandaka tewas terbunuh oleh Jaka Umbaran.
Melihat pimpinan mereka terbunuh, sisa anak buah begal Alas Dandaka langsung kabur menyelamatkan diri.
Jaka Umbaran segera menghela nafas panjang usai mengakhiri pertarungan nya dengan kedua gembong begal ini. Wara Andhira segera mendekati sang pangeran muda dari Kadiri ini.
"Kau tidak apa-apa, Ndoro Umbaran?", tanya Wara Andhira segera.
"Tak kurang suatu apa. Seperti yang kau lihat", Jaka Umbaran tersenyum penuh arti. Bersamaan dengan itu, semua pengikutnya dan juga Resi Mpu Wedakanwa beserta kedua muridnya Rimbugati dan Nirmala pun mendekati sang pangeran muda.
"Luar biasa. Ilmu kanuragan mu memang mengagumkan, Pendekar muda. Aku kagum pada mu ", puji Resi Mpu Wedakanwa jujur.
"Hanya ilmu kanuragan biasa saja, Resi..
Aku hanya membela diri saja, tak ada yang perlu disombongkan", mendengar jawaban rendah hati dari Jaka Umbaran, Resi Mpu Wedakanwa tersenyum sembari mengangguk mengerti. Dia paham maksud dari ucapan sang pangeran muda.
Segera setelah itu, rombongan Jaka Umbaran segera meninggalkan tempat itu. Setelah cukup lama kemudian, mereka memasuki wilayah Kadipaten Lamajang tepatnya di wilayah Pakuwon Seladana yang merupakan wilayah paling barat dari Kadipaten Lamajang.
Usai melewati beberapa wanua dan perkampungan penduduk di tepi jalan penghubung ini, mereka sampai di Kota Pakuwon Seladana. Kedatangan mereka pun segera memantik perhatian dari beberapa orang yang berpapasan dengan mereka.
Tanpa mempedulikan itu semua, mereka pun segera menuju ke sebuah rumah makan yang terletak di tepi jalan raya. Seperti sebelumnya, kedatangan Jaka Umbaran dan kawan-kawan menjadi perhatian bagi banyak orang termasuk beberapa perempuan cantik berbaju putih yang sedang menikmati makanan di tempat itu. Ketampanan Jaka Umbaran lah yang menjadi penyebabnya.
"Kangmbok Melati, lihatlah..
Pemuda itu tampan sekali bukan?", ucap seorang gadis muda cantik sembari menunjuk ke arah Jaka Umbaran yang baru memasuki rumah makan ini.
"Mawar benar sekali Kangmbok Melati..
Aduh gagah dan tampan. Pasti dia bukan orang sembarangan", sambung seorang perempuan muda cantik lainnya segera. Perempuan yang dipanggil dengan sebutan Melati inipun terpancing juga dengan omongan para saudari nya. Dia segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Mawar dan Kantil adik seperguruan nya.
"Kalian berdua memang pintar melihat lelaki tampan. Ah dia pasti perkasa di atas ranjang", ujar Melati sambil tersenyum penuh arti.
"Ih Kangmbok Melati mulai genit lagi seperti biasanya hehehehe..
Kalau Kangmbok Melati bisa mendapatkan nya, maka mustika siluman milik ku akan ku berikan untuk hadiahnya", tantang seorang gadis cantik lain yang juga ada di kelompok ini.
Mendengar tantangan ini, Melati pun mencebikkan bibirnya seolah meremehkan lelaki tampan yang kini sedang memesan makanan. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, dia pun kemudian berkata,
"Huh, siapa takut dengan tantangan mu itu, Anggrek?
Tak satupun lelaki mampu menolak pesona dari pimpinan Delapan Bidadari Gumuk Mas.."