
"Sepertinya aku pernah mendengar tentang tempat itu, Resi Guru Ekajati. Tunggu sebentar, biar aku ingat-ingat lagi.
Emmmmm, eh iya. Bukankah itu adalah tempat tinggal Buyut Wangsanaya, Si Tabib Sakti Bertangan Satu?", Nyai Larasati segera menatap wajah sepuh sang pendekar tua dari Gunung Cakrabuana.
"Benar Nyai..
Aku rasa hanya dia yang bisa menyembuhkan Dewi Rengganis murid mu. Selain dia, mungkin tidak ada orang lain yang sanggup mengobati racun dari Ratu Racun Pembunuh itu", balas Resi Guru Ekajati sembari terus melangkah menuju ke arah selatan.
Mendengar ucapan itu, semuanya segera melangkah ke arah selatan. Sesampainya di sebuah perkampungan penduduk yang tidak jauh dari tempat mereka berhenti, Resi Guru Ekajati segera menitipkan para perempuan muda itu ke sang rama ( kepala desa ) itu agar mengantar mereka semua pulang ke daerah asal mereka masing-masing. Berulang kali, para perempuan muda korban penculikan itu mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh Resi Guru Ekajati, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan dan Jaka Umbaran sang Pendekar Gunung Lawu. Resi Simharaja merubah wujudnya menjadi manusia seutuhnya agar tidak menakuti penduduk sesaat sebelum mereka memasuki perkampungan ini.
Setelah urusan para korban penculikan itu beres, Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya segera bergegas menuju ke arah Wanua Jalaksana untuk menemui Buyut Wangsanaya, lelaki tua bertangan kiri buntung yang tersohor dengan sebutan Tabib Sakti Bertangan Satu.
Jalaksana adalah sebuah wilayah yang masuk ke dalam Mandala Saunggalah, sebuah negeri kecil bawahan Kerajaan Galuh Pakuan dengan raja bernama Prabu Resi Darmasiksa. Karena hakekatnya, Saunggalah adalah sebuah kerajaan agama dengan raja nya merangkap sebagai seorang pendeta. Berada di kaki Gunung Ciremai, Mandala Saunggalah menjadi daerah kecil yang subur sebagai penghasil palawija dan kerajinan kulit nya. Meskipun luasnya tak lebih besar dari pada Kadipaten Rajapura dan terhimpit oleh wilayah kekuasaan Kadipaten Gunatiga yang mencakup kota besar Kawali yang menjadi ibukota Kerajaan Galuh Pakuan, namun Mandala Saunggalah menikmati kemakmuran lewat melimpahnya hasil bumi yang mereka dapatkan.
Prabu Resi Darmasiksa benar-benar bijaksana dalam mengatur kehidupan rakyatnya. Dia membebaskan perdagangan di Saunggalah meskipun tidak melepaskan diri dari nilai-nilai agama dan budaya masyarakat setempat. Ini yang membuat beliau begitu dicintai oleh rakyat Mandala Saunggalah.
Rombongan Jaka Umbaran, Resi Guru Ekajati, Nyai Larasati dan Resi Simharaja terus melangkah ke arah selatan. Tak berapa lama kemudian, mereka melihat sebuah tugu tapal batas dengan ukiran huruf Jawa Kuno yang berbunyi Ja. Ini menjadi pertanda bahwa mereka telah memasuki wilayah Wanua Jalaksana.
Resi Guru Ekajati yang masih ingat dengan tempat tinggal Buyut Wangsanaya, segera memimpin mereka berempat ke sebuah rumah yang terletak di kaki sebuah bukit kecil. Rumah berdinding kayu dengan atap dari alang-alang kering ini nampak menyendiri dari kerumunan rumah lainnya yang terlihat cukup berdekatan. Beberapa orang terlihat sedang duduk menunggu di serambi depan rumah yang cukup besar ini sementara itu terlihat seorang lelaki paruh baya sedang menyapu di halaman rumah. Resi Guru Ekajati dan kawannya segera mendekati lelaki paruh baya tukang sapu itu.
"Ki Renyep, tabib tua itu ada di dalam?"
Lelaki paruh baya yang di panggil dengan nama Ki Renyep itu segera menoleh ke arah Resi Guru Ekajati. Sesaat dia memicingkan mata, mencoba untuk mengingat kembali siapa orang yang ada di hadapannya itu. Namun, otak bebal nya sama sekali tidak bekerja seperti keinginannya karena dia sama sekali tidak ingat siapa sosok lelaki tua yang berdiri bersama dengan beberapa orang kawannya ini.
"Hampura, Aki..
Renyep teh lupa siapa Aki ini. Kalau boleh tahu nya, Aki ini siapa?", tanya Ki Renyep dengan logat khas Sunda.
"Haish kau ini..
Aku Resi Guru Ekajati, kawan karib majikan mu Buyut Wangsanaya. Itu yang pernah menolong perempuan yang hampir mati disini bersama mu itu loh. Sudah ingat belum?", mendengar jawaban itu, mata Ki Renyep langsung melebar.
"Aduh Hyang Agung Penguasa Alam Semesta...
Ternyata Aki Resi Guru Ekajati nya. Hampura Aki Resi, Renyep teh bodoh gampang lupa dengan semua hal. Majikan abdi teh ada di dalam, sedang menemui orang dari Kawali. Mangga atuh Aki Resi masuk, abdi antar ..", ujar Ki Renyep sembari melangkah mendahului untuk memimpin jalan. Resi Guru Ekajati, Nyai Larasati, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera mengikuti langkah sang tukang sapu.
Seorang lelaki tua bertubuh gempal cenderung gemuk dengan perut sedikit buncit dan hanya memiliki sebelah tangan nampak duduk bersila bersama dengan seorang lelaki paruh baya berkumis tipis berpakaian bangsawan. Pakaian lelaki tua bertangan buntung ini hitam kusam bahkan cenderung lusuh seperti milik seorang pengelana. Saat Ki Renyep bersamaan dengan Resi Guru Ekajati dan kawannya masuk ke dalam ruang tamu rumah, lelaki bertangan buntung ini langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ekajati..!!!
Ini benar sungguh kau?", tanya lelaki bertangan buntung ini seolah tak percaya melihat kawan lamanya itu datang berkunjung.
"Wangsanaya!
Ku lihat kau semakin gemuk saja. Rupanya hidup mu makmur sekali sekarang", balas Resi Guru Ekajati sembari tersenyum lebar.
"Cih mulut mu tetap saja sengak seperti dulu. Tapi itulah yang membuat ku selalu merindukan kehadiran mu.
Mari mari silahkan duduk", ucap Buyut Wangsanaya sambil memberikan isyarat kepada para tamunya untuk duduk. Setelah Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya duduk, Buyut Wangsanaya segera mendekati Nyai Larasati yang sedang menggendong tubuh Dewi Rengganis.
"Dia kenapa?", tanya Buyut Wangsanaya segera.
"Bagaimana bisa dia terkena Racun Penghancur Hati? Racun ini walaupun kelihatannya tidak berbahaya tapi membunuh orang secara perlahan. Di dunia ini hanya Hyang Racun Kegelapan saja yang bisa meraciknya, sedangkan tua bangka itu sudah mampus beberapa tahun yang lalu", Buyut Wangsanaya segera menoleh ke arah Resi Guru Ekajati.
"Ratu Racun Pembunuh murid Hyang Racun Kegelapan yang melakukannya.
Apa kau bisa menyembuhkannya?", kembali Resi Guru Ekajati bertanya.
"Sebenarnya aku..."
Ehheemmmm ehheemmmm!!!
Deheman keras dari pejabat tinggi Kerajaan Galuh Pakuan itu langsung menghentikan omongan Buyut Wangsanaya. Tabib Sakti Bertangan Satu itu segera menyadari bahwa ada tamu lain yang sedang menunggu nya di tempat itu.
"Eh eh maafkan saya, Gusti Nunangganan ( sebutan senopati di wilayah Galuh Pakuan ) Siwikarma. Kedatangan kawan lama saya benar-benar mengalihkan perhatian saya.
Ekajati, ini Nunangganan Siwikarma. Dia adalah pejabat dekat Mangkubumi Ranayasa, warangka praja Galuh Pakuan yang merupakan tangan kanan Gusti Prabu Langlangbumi", Buyut Wangsanaya memperkenalkan lelaki berkumis tipis berpakaian bangsawan ini pada Resi Guru Ekajati dan kawan-kawannya. Semua orang langsung membungkuk hormat kepada Nunangganan Siwikarma ini.
"Aku datang duluan, Buyut Wangsanaya. Jadi lebih baik aku kau layani dulu baru mereka. Itu baru hal yang benar", ucap Nunangganan Siwikarma yang terdengar sedikit pongah di telinga Nyai Larasati. Perempuan paruh baya itu hampir saja meletakkan Dewi Rengganis di pangkuan nya dan menerjang ke arah pejabat tinggi Kerajaan Galuh Pakuan itu andai saja Resi Guru Ekajati tidak segera menghentikannya.
"Tahan emosi mu, Nyai Larasati..
Kalau sampai terjadi apa-apa, bisa panjang urusannya. Bersabarlah sebentar", bisik lirih Resi Guru Ekajati sembari memegangi tangan Nyai Larasati yang mengepal erat. Perempuan cantik paruh baya itu tak menjawab, hanya mendengus dingin saja sembari membuang muka ke arah lain.
"Jadi bagaimana Buyut Wangsanaya? Kapan kau ikut aku ke Kawali?
Putri Gusti Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri yaitu Gusti Putri Padmadewi sedang sakit dan butuh bantuan mu", ujar Nunangganan Siwikarma sembari menatap wajah Buyut Wangsanaya segera.
"Eh begini saja, Gusti Nunangganan Siwikarma. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya disini. Lusa kita berangkat ke Kawali.
Hanya itu yang bisa saya pastikan. Pekerjaan tabib adalah menyembuhkan orang sakit jadi saya harus menyembuhkan semua orang yang berobat sebelum berangkat ke ibukota", ucap Buyut Wangsanaya sambil menatap ke arah Nunangganan Siwikarma yang terlihat seperti kurang suka dengan jawaban itu. Namun karena ini adalah tugas dari Mangkubumi Ranayasa, terpaksa Nunangganan Siwikarma menerima jawaban itu.
Setelah mendapat persetujuan dari Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu, Nunangganan Siwikarma segera undur diri dari tempat itu. Buyut Wangsanaya menghela nafas berat usai kepergian sang pejabat tinggi Kerajaan Galuh Pakuan.
Setelah itu ia menoleh ke arah rombongan Resi Guru Ekajati. Lelaki tua bertubuh gempal cenderung gemuk itu pun segera berkata,
"Ekajati kawan ku. Aku minta maaf sebelumnya. Bukan aku tidak mau membantu mu tapi Racun Penghancur Hati itu telah menyebar ke seluruh tubuh gadis ini. Hanya keajaiban saja yang bisa menyelamatkan nyawa nya", mendengar ucapan Buyut Wangsanaya, semua orang terkejut bukan main.
"Ti-tidak adakah cara lain untuk menyelamatkan nyawa murid ku ini, Tabib Sakti Bertangan Satu?", tanya Nyai Larasati dengan suara terbata. Kekhawatiran akan nasib Dewi Rengganis lah yang menjadi penyebabnya.
Hemmmmmmm..
"Ada satu cara yang masih mungkin dilakukan tapi itu kemungkinannya sangat kecil sekali", ucap Buyut Wangsanaya segera.
"Tolong katakan saja, Tabib Sakti..
Kami pasti akan berusaha keras untuk mendapatkan nya", sahut Jaka Umbaran yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Mendengar pernyataan Sang Pendekar Gunung Lawu, Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu segera menghela nafas berat sembari bicara,
"Di dekat tempat ini ada sebuah goa yang berisi sebuah benda pusaka yang bisa menyembuhkan segala penyakit bahkan juga bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati jika masih belum waktunya. Jik bisa mendapatkan nya maka nyawa gadis ini pasti akan tertolong. Pusaka itu bernama,
Kembang Wijayakusuma.."