
"Konon katanya, dahulu eyang mu Gusti Prabu Jayengrana yang dikatakan oleh sebagian besar dari masyarakat Kerajaan Panjalu sebagai titisan Dewa Wisnu, mampu menaklukkan Butha Agni hingga mampu menguasai Ajian Triwikrama yang membuat wujudnya seperti itu dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Saat Prabu Jayengrana murka, maka saat itulah dunia diambang kehancuran. Maharaja Mapanji Garasakan dari Jenggala yang terkenal sakti mandraguna, tidak mampu menaklukkan kesaktian eyang mu yang memiliki kekuatan Butha Agni. Kau harus bisa mendapatkan kekuatan nya", lanjut Begawan Mpu Narada segera.
"Lantas apa yang harus aku lakukan, Begawan Mpu Narada?", tanya Jaka Umbaran sembari terus menatap ke arah Butha Agni yang masih nampak duduk bersila di tengah pulau kecil itu.
"Bangunkan dan kalahkan dia..
Jika kau tidak bisa membangunkannya, cabut rambut pada jempol kakinya. Dia pasti akan segera bangun, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya..", ucap Begawan Mpu Narada sembari tersenyum.
"Aku hanya manusia biasa seperti umumnya, Begawan Mpu Narada. Bagaimana mungkin bisa mengalahkan raksasa berwarna merah itu?", Jaka Umbaran sama sekali tidak percaya diri.
"Pasrahkan diri mu pada sang pencipta. Ucapkan mantra Om Namo Bhagavate Vasudevaya sebanyak 7 kali dan kau sebagai titisan Dewa Wisnu akan memperoleh kekuatan yang luar biasa. Percayalah padaku", ujar Begawan Mpu Narada penuh keyakinan.
Mendengar itu dari Begawan Mpu Narada, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera melesat cepat kearah Butha Agni yang masih tertidur pulas. Begitu sampai di tempat sang raksasa berkulit merah itu, Jaka Umbaran terlihat sedikit ragu-ragu lalu menoleh ke arah Begawan Mpu Narada yang ada di kejauhan. Seperti paham dengan apa maksud dari pandangan Jaka Umbaran, Begawan Mpu Narada mengangguk sebagai tanda untuk meyakinkan hati sang pangeran muda.
Jaka Umbaran pun segera mendekati sang raksasa berkulit merah yang masih tertidur. Dia dengan cepat menepuk kaki makhluk besar ini.
Plllaaaakkkkk!!!
Dengan penuh kewaspadaan, Jaka Umbaran segera melompat mundur dari dekat tempat Butha Agni berada. Namun ternyata, Butha Agni sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tidurnya yang lelap. Melihat itu, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah Butha Agni sembari melayangkan pukulannya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ke kaki sang raksasa.
Blllaaaaaarrr..!!!!
Tetap saja Butha Agni tidak ada pergerakan, meskipun hantaman Jaka Umbaran yang di lapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi mengenai kakinya. Hantaman keras yang sanggup menghancurkan sebuah batu besar itu bahkan tidak bisa menggores kulit merah sang raksasa.
Jaka Umbaran segera mengernyitkan dahinya dalam-dalam sambil berpikir keras bagaimana cara membangunkan Butha Agni. Tiba-tiba saja ia menepuk dahinya sendiri.
"Ya Dewa, bagaimana aku bisa lupa...??"
Setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah jempol kaki kanan Butha Agni. Lalu dengan sekuat tenaga, dia mencabut rambut yang tumbuh di jempol kaki sang raksasa.
Brrreeeeeeetttt...
HOOOAAARRRRRRGGGGGHHHHH!!!
Butha Agni meraung keras dan langsung bangkit dari tempat duduknya. Matanya nyalang menatap ke sekelilingnya dan melihat Jaka Umbaran yang sedang memegang bulu kakinya. Dari itu dia tahu bahwa pemuda tampan itu adalah pelaku pencabut bulu jempol kakinya.
"Hoooaaarrrrrrggggghhhhh..
Kurang ajar!! Siapa kau ha? Kenapa berani membangunkan aku dalam semedi ku?!!", bentak Butha Agni sambil mendelik murka kepada Jaka Umbaran. Taringnya yang besar dan memanjang terus mengeluarkan air liur yang menakutkan.
"Aku Mapanji Jayabaya. Aku perintahkan kepada mu untuk tunduk pada ku dan aku berjanji akan membimbing mu menuju jalan kebenaran", ucap Mapanji Jayabaya lantang.
"Membimbing ku? Huahahahahahaha..
Kalau kau bisa mengalahkan ku, maka aku akan tunduk pada perintah mu, heh manusia. Sekarang matilah kau keparat..!!", setelah berkata demikian, Butha Agni langsung mengayunkan telapak tangannya yang besar kearah Jaka Umbaran.
Whhhuuuuuggggghhhh!!!
Jaka Umbaran segera melompat mundur dari jangkauan Butha Agni hingga tepukan telapak tangan sang raksasa berkulit merah hanya menghantam tanah bekas tempat Jaka Umbaran berdiri.
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!
Jaka Umbaran segera bersalto dua kali lalu mendarat di lengan kanan Butha Agni. Secepat kilat dia melesat ke arah wajah sang raksasa dengan menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin. Begitu sampai di bahu sang raksasa, Jaka Umbaran segera melayangkan pukulan keras berlapis tenaga dalam tingkat tinggi dari Ajian Bandung Bondowoso miliknya ke arah rahang sang raksasa.
Bhhhuuuuuuggggh...
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh...
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm !!!
Butha Agni meraung keras saat hantaman tangan kanan Jaka Umbaran yang dilapisi dengan Ajian Bandung Bondowoso sanggup membuat nya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Meskipun itu tidak sanggup melukai nya, namun harga diri nya telah di jatuhkan oleh Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya.
"Hoooaaarrrrrrggggghhhhh...
Keparat kau Jayabaya! Akan ku hancurkan tubuh mu hingga menjadi debu!!"
Butha Agni yang murka, langsung melayangkan hantaman bertubi-tubi kearah sang pangeran muda. Namun kelincahan Pangeran Mapanji Jayabaya yang mampu bergerak cepat dengan bantuan Ajian Langkah Dewa Angin miliknya, membuat sang pangeran mahkota ini dengan mudah menghindari serangan raksasa yang besarnya kira-kira setinggi Bukit Penampihan ini.
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm..
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm..
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!!
Pulau kecil di tengah samudra luas ini bergetar hebat kala hantaman bertubi-tubi dari Butha Agni terus menghujaninya. Seluruh tempat itu langsung porak poranda akibat amukan sang raksasa berkulit merah.
Jaka Umbaran yang mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya, mesti berjumpalitan kesana kemari menghindari hantaman sang raksasa merah yang mengamuk. Ini semakin membuat Butha Agni marah besar.
Saat Jaka Umbaran berhasil menghindari hantaman Butha Agni, sang pangeran muda melenting tinggi ke udara bermaksud untuk melayangkan pukulan cepat kearah wajah raksasa merah itu. Namun, sepertinya Butha Agni menyadari kalau sang pangeran muda hendak menyerangnya dari arah kiri. Dengan cepat, Butha Agni membuka mulutnya lebar-lebar untuk menelan Jaka Umbaran bulat-bulat.
"Aku makan kau, manusia busuk...!!!"
Tak sempat lagi merubah gerakan tubuhnya, mulut Butha Agni telah mengepung tubuh Jaka Umbaran. Hingga dalam sekejap mata, Jaka Umbaran telah berada dalam mulut sang raksasa. Namun sang pangeran muda langsung menyambar gigi taring milik Butha Agni sebagai pegangan sebelum dia tertelan oleh raksasa itu. Dengan cepat, ia berusaha keras untuk menahan mulut raksasa itu agar tidak menutup.
Butha Agni sekuat tenaga berusaha untuk menutup mulutnya rapat-rapat namun Jaka Umbaran tak mau kalah. Sang Pendekar Gunung Lawu berusaha keras mempertahankan agar mulut itu tetap terbuka agar dia bisa keluar.
Perlahan, mulut Butha Agni menutup dan terus bergerak menutup. Tubuh Jaka Umbaran sudah mandi keringat akibat banyaknya tenaga yang dia keluarkan. Dalam keadaan terjepit itu, sang pangeran muda dari Kadiri ini merapal mantra Ajian Guntur Saketi lalu dengan cepat menusukkan tangannya ke gusi Butha Agni yang hendaknya menelannya bulat-bulat.
Jlllaaaaaaaaarrrrr!!
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!
Butha Agni kembali meraung keras. Mulutnya langsung terbuka lebar. Jaka Umbaran tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera saja dia melesat keluar dari dalam mulut sang raksasa berkulit merah yang masih merasakan sakit pada gusi nya.
Lolos dari jebakan maut itu, Jaka Umbaran mendarat di tanah dengan cepat. Melihat Butha Agni masih terhuyung-huyung mundur dari tempatnya berdiri, Jaka Umbaran mengusap wajah nya yang penuh keringat bercampur air liur Butha Agni. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Segera Sang Pendekar Gunung Lawu menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan dada sembari merapal mantra pujian kepada sang Pencipta.
Om Namo Bhagavate Vasudevaya..!!
Setelah mantra itu tujuh kali diucapkan, cahaya kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuh Jaka Umbaran. Perlahan tubuh sang pangeran mahkota ini berubah menjadi biru cerah dengan dandanan layaknya sosok agung yang selama ini ada di dalam tubuhnya.
Melihat perubahan wujud Jaka Umbaran, Butha Agni langsung menghentikan langkahnya. Dia pun terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Siapa kau sebenarnya, hai manusia?", tanya Butha Agni segera.
"Aku adalah sang pemelihara perdamaian alam semesta ini. Tugas ku adalah menjaga ketentraman dunia dari segala pengaruh jahat yang akan menghancurkan tatanan dunia.
Butha Agni..
Kau adalah wujud dari hawa amarah ku pada dunia. Selama ini, aku sengaja memisahkan diri mu dari ku karena belum waktunya kita menata ketentraman dunia. Sekarang sudah saatnya kita bersatu kembali dengan wadah baru ku ini", ucap Jaka Umbaran segera.
"Hemmmmmmm...
Aku mengerti sekarang. Kau datang ke Kahyangan Utarasegara ini untuk membawa ku kembali ke Arcapada. Baiklah, aku akan bersatu kembali dengan mu, Sanghyang Wisnu..", setelah berkata demikian, Butha Agni menutup mata nya sedangkan Jaka Umbaran segera terbang ke arah dahi sang raksasa berkulit merah. Lalu dia menekan tengah dahi Butha Agni yang kemudian membuat tubuh raksasa berkulit merah itu hancur menjadi butiran kecil cahaya kuning keemasan. Perlahan butiran kecil cahaya kuning keemasan itu masuk ke dalam pusar Jaka Umbaran hingga habis tak bersisa.
Perlahan tubuh Jaka Umbaran bergerak turun ke bawah bersamaan dengan semakin menghilangnya cahaya kuning keemasan yang menutupi tubuhnya. Tepat saat kaki sang pangeran muda menjejak tanah, seluruh cahaya kuning keemasan itu menghilang.
Begawan Mpu Narada pun segera mendarat di samping sang pangeran muda sambil tersenyum lebar.
"Selamat Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya..
Kau telah menaklukkan Butha Agni yang sebenarnya merupakan salah satu bagian dari mu sendiri. Mulai dari sekarang, kau telah bisa menggunakan Ajian Triwikrama yang membuat mu menjadi seorang raksasa berkulit merah. Gunakan kemampuan ini dengan bijak. Dan kendalikan nafsu amarah mu karena jika kau marah, maka kau akan menjadi Butha Agni. Camkan itu baik-baik", ucap Begawan Mpu Narada segera.
"Aku akan patuh pada semua petuah mu, Guru Begawan ", Jaka Umbaran menghormat pada sang guru.
"Sudah waktunya kita kembali ke Arcapada. Kawan-kawan Gusti Pangeran telah menunggu di sana", mendengar ucapan Begawan Mpu Narada itu, Jaka Umbaran mengangguk mengerti. Begawan Mpu Narada segera menggandeng tangan Jaka Umbaran dan dalam sekejap mata, mereka telah sampai di tepian Sungai Harinjing. Waktu pun kembali berjalan seperti sedia kala.
Jaka Umbaran segera membuka matanya. Dia melihat sekeliling tempat duduknya. Nampak Baratwaja telah berdiri dengan wajah berseri-seri. Bagaimanapun juga, putra Mapatih Mpu Baprakeswara ini telah menerima turunan Ajian Langkah Kilat dari Mpu Sapuangin. Kini dia mampu menyempurnakan ilmu Hujan Pisau Dewa Kematian yang dia miliki.
Di lain sisi, Gendol nampak menghela nafas panjang sebelum membuka mata nya. Lelaki bertubuh tinggi besar itu baru saja menerima turunan Ajian Gada Petir dari Mpu Anggara. Kini dia bisa menggunakan keahlian nya memainkan gada kembar dengan sempurna berkat ajian ini.
Di ujung tepian Sungai Harinjing, Resi Simharaja masih mengawasi Besur yang sedang menerima ilmu dari Mpu Kerta. Berulang kali, lelaki paruh baya yang merupakan penjelmaan macan putih besar itu berdecak kesal karena Besur paling lama menyerap ilmu kanuragan yang diberikan.
"Sulit.. Sungguh sulit..."
Hingga lepas malam, baru Besur dengan sempurna menyerap ilmu turunan dari Mpu Kerta yang bernama Ilmu Pedang Pemecah Langit. Resi Kerta sampai mandi keringat akibat susahnya menanamkan ilmu kanuragan tingkat tinggi ini dalam otak Besur yang bebal.
Begitu semua nya selesai menerima ilmu dari para sesepuh Pertapaan Harinjing, mereka pun pulang ke pertapaan.
Suara riuh kokok ayam jantan terdengar bersahutan menandakan bahwa sebentar lagi pagi hari akan segera tiba. Perlahan, langit timur yang semula gelap, berubah menjadi jingga yang semakin lama semakin terang.
Jaka Umbaran menggosok matanya sebelum bangkit dari tempat tidurnya. Sembari memutar tubuhnya ke kiri dan kanan, sang pangeran muda melangkah menuju ke pintu kamar tidur nya.
Krriiieeeeeettttthhhh..!!
Begitu pintu kamar terbuka, Jaka Umbaran segera melihat sesosok lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan janggut lebat pendek. Dia mengenali lelaki itu sebagai Senopati Naratama, perwira tinggi prajurit Panjalu.
"Mohon ampun bila kedatangan hamba tidak tepat, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya", ucap Senopati Naratama sembari menyembah pada Jaka Umbaran.
Hemmmmmmm..
"Memangnya ada apa hingga Paman Senopati Naratama sepagi ini datang ke Harinjing?", tanya Jaka Umbaran segera.
Senopati Naratama kembali menghormat sebelum mulai berbicara lagi,
"Mohon ampun Gusti Pangeran. Kedatangan hamba kemari,
Karena perintah Gusti Prabu Bameswara.."