JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Gangguan


Jaka Umbaran sedikit kaget mendengar perkataan yang baru saja diucapkan oleh Prabhaswara. Sekalipun itu mengatasnamakan keadilan dan kebenaran, tetapi pemberontakan atau tindakan makar terhadap pemerintah tetap saja dianggap sebagai salah satu tindakan menyimpang dari aturan. Ini bisa saja menimbulkan kesalahpahaman di tata pemerintahan Kerajaan Panjalu. Pemberontakan Prabhaswara bisa dianggap merongrong kewibawaan Maharaja Panjalu karena mengganggu ketenteraman masyarakat Panjalu yang lain.


"Mengapa harus memberontak pada Adipati Lokawijaya, Paman Prabhaswara?


Apakah sudah tidak ada jalan lain yang lebih baik? Melaporkan masalah ini pada Pemerintah Kotaraja Daha misalnya..", ucap Jaka Umbaran sembari menatap wajah sepuh sang ayah kandung Dewi Rengganis itu.


"Masalah itu memang pernah terpikirkan oleh ku, Pendekar Gunung Lawu. Namun sejauh ini, Lokawijaya dan para punggawa Istana Kadipaten Paguhan yang mendukungnya memiliki citra baik di hadapan Prabu Bameswara. Akan sangat sulit untuk meyakinkan mereka bahwa Paguhan sekarang ini sedang bermasalah. Aku takut, bukannya aku mendapatkan keadilan tapi malah mendapat kecurigaan dari Istana Kotaraja Daha.


Jadi lebih baik aku memberontak lebih dulu. Setelah berhasil menyingkirkan kakak tiri ku Lokawijaya, baru aku akan pergi ke Kotaraja Daha untuk menjelaskan tentang duduk persoalannya pada Gusti Prabu Bameswara sendiri", ucap Prabhaswara dengan penuh semangat berapi-api.


"Saya masih belum memahami apa yang dimaksud dengan politik istana, Paman Prabhaswara..


Mungkin saja peperangan akan menjadi jalan keluar terakhir jika kata sepakat tidak dicapai. Tapi sebagaimana yang pernah saya alami beberapa waktu yang lalu, perang hanya akan menimbulkan penderitaan rakyat", ucap Jaka Umbaran kemudian.


"Aku juga tidak suka dengan peperangan, Umbaran..


Tapi aku juga tidak akan mundur dari perebutan tahta Kadipaten Paguhan yang telah diambil secara tidak sah dari ku dan anak keturunan Kanjeng Romo Adipati Lokananta.


Oh iya, pada hari ketiga bulan ke delapan ini, tepat pada hari Hanggara Kasih, aku akan berkumpul dengan saudara seperjuangan ku untuk menghadapi para penjahat yang sudah menduduki Istana Kadipaten Paguhan. Jika kau tidak keberatan, aku minta kamu ikut bergabung dengan ku mengambil hak milik ku", Prabhaswara menatap ke arah pemuda tampan itu.


"Aku perlu waktu untuk berpikir, Paman Prabhaswara..


Masih ada waktu sekitar sepekan ke depan sebelum rencana besar paman dilakukan, bukan? Ku harap paman mengerti", ucap Jaka Umbaran dengan sopan.


Prabhaswara yang hendak menanggapi omongan pendekar muda ini, langsung menutup mulutnya rapat-rapat kala dia melihat Rengganis dan Nyai Larasati melangkah masuk ke serambi kediaman perempuan cantik itu. Bagaimanapun juga, ini belum saatnya Dewi Rengganis tahu apa yang akan dilakukan oleh sang ayahanda.


Malam itu, mereka berkumpul bersama sembari berbagi cerita tentang kehidupan yang telah mereka jalani.


Hari hari berikutnya, Jaka Umbaran yang telah menyelesaikan topo ngrame dari sang guru Maharesi Siwamurti, tinggal di Lembah Anggrek Jingga bersama dengan Resi Simharaja, Nyai Larasati dan Dewi Rengganis. Hubungan antara dia dan Dewi Rengganis pun semakin dekat. Sedangkan Prabhaswara berulang kali pergi saat pagi hari untuk menyelesaikan urusannya namun selalu kembali ke tempat itu menjelang sore hari.


Menjelang hari yang dijanjikan yaitu hari ketiga, Prabhaswara kembali menemui Jaka Umbaran untuk menanyakan kesanggupan pemuda tampan itu tentang bantuan nya merebut kembali tahta Kadipaten Paguhan.


Meskipun sedikit enggan, namun akhirnya Jaka Umbaran bersedia untuk membantu ayah kekasihnya itu dengan syarat bahwa tidak ada peperangan jika tidak terpaksa. Prabhaswara menyanggupinya dengan penuh sukacita. Bagaimanapun juga, tambahan kekuatan dari seorang pengatur wilayah tengah dunia persilatan Tanah Jawadwipa tentu bukanlah hal yang bisa dianggap enteng.


Dewi Rengganis sendiri akhirnya mengetahui rencana besar ayahnya. Bersama dengan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan, dia pun ingin menggabungkan diri dengan para pendukung ayahnya yang telah bersiaga di selatan Kota Paguhan yang terletak di selatan Gunung Agung ( Gunung Slamet sekarang ) tepatnya di hutan kecil bernama Alas Wuluh.


Pagi hari itu, hari keempat Jaka Umbaran dan Resi Simharaja tinggal di kediaman Nyai Larasati, bersama dengan Dewi Rengganis dan Si Bidadari Angin Selatan, mereka meninggalkan Lembah Anggrek Jingga menuju ke arah Utara tepatnya daerah Alas Wuluh. Prabhaswara telah lebih dulu meninggalkan Lembah Anggrek Jingga untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dengan menggunakan kuda, mereka bergerak cepat ke arah tempat pertemuan yang disiapkan itu. Mereka menyusuri tepian Kali Serayu. Menjelang tengah hari, mereka memasuki Kota Pakuwon Menganti yang merupakan salah satu daerah penyangga Kota Kadipaten Paguhan.


Kota kecil ini cukup ramai dikunjungi. Banyak orang berlalu lalang di kawal oleh beberapa orang prajurit mengangkut barang dengan gerobak kayu. Sepertinya mereka adalah orang-orang Kadipaten Paguhan yang sedang membawa upeti dan hasil bumi dari Pakuwon Menganti.


Di sebuah warung makan yang ada di tepi jalan raya, bau harum masakan yang mengepul bersama asap tungku memancing perhatian Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Perut mereka yang keroncongan setelah berkuda setengah hari, membuat Jaka Umbaran segera menarik tali kekang kudanya.


"Kita berhenti dulu disini.. Waktunya untuk mengisi perut", ucap Jaka Umbaran yang disambut dengan anggukan kepala dari kawan-kawannya.


Mereka lalu turun dari kudanya dan mengikat tali kekang kudanya pada geladakan kuda di samping halaman warung makan ini. Terlihat beberapa orang juga sudah mengisi beberapa tempat di ruangan warung makan itu. Semua orang yang ada, langsung menoleh ke arah rombongan Jaka Umbaran yang baru masuk ke dalam ruangan warung makan itu. Beberapa orang kembali memusatkan perhatian nya pada makanan mereka masing-masing, sedangkan sepasang mata lelaki bertubuh tinggi besar langsung melebar tatkala ia melihat siapa yang datang.


"Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar, akhirnya aku bertemu dengan mu huhuhuhu..."


Lelaki muda bertubuh tinggi besar yang tak lain adalah Gendol, langsung bergegas menyambut kedatangan Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Jaka Umbaran langsung tersenyum lebar.


"Aku sudah bersumpah setia pada Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar..


Waktu surat dari Tabib Sakti Bertangan Satu sampai di Perguruan Golok Sakti, para murid Padepokan Bukit Katong memutuskan untuk pulang lebih dulu. Bersama dengan Niluh Wuni dan Sekar Kantil, mereka langsung pulang ke Gunung Pamarihan. Aku tidak mau ikut dengan mereka dan memilih untuk mencari keberadaan Ndoro Pendekar. Aku sudah berkelana mencari Ndoro Pendekar ke seluruh penjuru Kadipaten Paguhan. Ah Dewata Yang Agung masih bermurah hati pada ku dengan mempertemukan kita", Gendol mengusap sisa air mata yang sempat menetes dari mata nya saking terharunya dengan pertemuan dengan Jaka Umbaran.


"Hehehehe begitulah saya, Ndoro Pendekar..


Eh macan tua, kau menjaga Ndoro Pendekar selama aku tidak ada dengan baik bukan?", Gendol mengalihkan perhatian nya pada Resi Simharaja yang diam saja di belakang Jaka Umbaran.


"Huh siapa yang kau sebut macan tua, gigi jarang?!


Tidak ada kau, di samping Ndoro Umbaran terasa sangat tenang. Belum genap sepenanak nasi kau disini, sudah memancing keributan. Dasar biang kerok!", gerutu Resi Simharaja sembari membuang muka ke arah lain.


"Eh eh eh, belum genap 2 purnama tidak bersama dengan ku, kau mulai pintar bicara rupanya macan tua..


Sekarang aku sudah tidak takut lagi dengan mu. Kalau kau mau mencoba jurus baru ku yang ku pelajari dari Perguruan Golok Sakti, sini ayo sini.. Tak gebuk kepala mu pakai gada kembar ku", ucap Gendol tak mau kalah.


"Kau...."


"Heh, sudah cukup! Jangan ribut sendiri di warung makan. Perut ku lapar dan paling tidak suka jika melihat ada keributan saat seperti ini. Diam kalian berdua dan kita makan siang dulu", Jaka Umbaran segera melangkah menuju ke arah seorang pelayan tua yang sedang berdiri di samping pintu dapur. Melihat itu, Gendol dan Resi Simharaja berebutan untuk mengejar majikannya. Sedangkan Dewi Rengganis dan Nyai Larasati hanya geleng-geleng kepala melihat ulah dua orang itu.


"Pelayan, berikan makanan yang paling enak di warung ini. Masalah harga tidak masalah", ucap Jaka Umbaran segera.


"Baik Ndoro. Segera kami siapkan. Silahkan duduk di tempat manapun yang Ndoro suka", jawab sang pelayan dengan ramah.


Kelompok Jaka Umbaran memilih untuk duduk di meja makan yang berada di sudut ruangan warung makan. Sembari menunggu kedatangan pesanan mereka, masing-masing meneguk air minum dalam kendi. Air dingin itu cukup menyegarkan tubuh mereka yang lelah setelah seharian berkuda.


Tak berapa lama, pelayan warung makan itu datang dengan membawa nampan yang berisi 5 ekor ayam panggang berikut sebakul nasi putih. Tak lupa pula ada acar timun dan daun kemangi sebagai pelengkap hidangan bersama dengan sambal terasi yang masih panas. Bau harum makanan ini langsung membuat mereka segera menyantap makanan mereka yang memang sedang kelaparan.


Saat Jaka Umbaran dan kawan-kawan sedang asyik menikmati makanan mereka, dari arah pintu masuk warung makan seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan pakaian bagus layaknya seorang bangsawan masuk bersama dengan beberapa orang pengikutnya. Salah seorang diantara mereka ada seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan satu mata ditutup dengan penutup mata dari kulit lembu.


Lelaki muda itu segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Saat melihat Dewi Rengganis yang begitu cantik sedang mengunyah paha ayam panggang sambil bercanda ria dengan Jaka Umbaran dan Gendol, lelaki muda itu menyeringai kecil. Dia segera melangkah mendekati meja makan Jaka Umbaran dan kawan-kawan.


"Wah wah wah, ternyata ada bidadari dari kahyangan sedang makan siang di warung makan ini.


Nisanak, bolehkah aku berkenalan dengan mu?!"


Mendengar ucapan itu, semua orang langsung menghentikan acara makan mereka. Semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan mata tidak senang.


"Maaf aku tidak ingin berkenalan dengan siapapun. Silahkan pergi..", ucap Dewi Rengganis sembari melanjutkan makannya.


Lelaki muda berpakaian serba mewah itu langsung mendengus dingin menahan marah. Selama ini tak satupun orang yang berani untuk bersikap seperti itu kepada nya. Dengan penuh amarah, dia menunjuk ke arah Dewi Rengganis sembari berkata,


"Dasar perempuan dusun. Apa kau benar-benar tinggal di dalam goa hingga berani merendahkan aku, Bairawa, putra Akuwu Menganti ini ha?


Kau sungguh tak tahu diri..!"